Mereka berjalan menyusuri hutan yang tidak tahu dimana ujungnya. Candrasa berjalan paling belakang sedangkan Hanada berjalan didepannya dan Air memimpin perjalanan.
Suara burung berkicauan dengan lantang, Hanada melihat ke langit biru yang terpampang di atas kepala mereka.
"Haruskah aku memanah burung-burung itu?" Hanada berjalan sambil menatap langit.
"Awas!" Air melompat menghindari ranjau ranting-ranting.
"Awww..." Hanada yang sedang fokus ke langit tersandung dan jatuh.
"Kau baik-baik saja?" Candrasa langsung menolong Hanada dan membantunya berdiri.
Hanada berdiri lalu membersihkan dedaunan yang ada di celanannya, dia menatap Air tajam. Dia mengangkat sudut bibir atas nya. Air pun menoleh ke belakang.
"Kenapa? Aku sudah memperingatimu! " Air kembali berjalan sambil menyeringai.
"Awas..... disaat ranjau itu 2 jengkal didepanku itu bukan peringatan Air!" Hanada mengejar Air ingin memukulnya.
Air berlari menjauhi Hanada, dia tertawa kecil. Candrasa yang masih tenang seperti air hanya bisa tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu. Dia berjalan perlahan, sambil melihat ke kanan kirinya.
"Aiiir.... Hanadaa....." Candrasa memanggil Air dan Hanada yang masih bercanda.
Mereka menoleh berbarengan, kebingungan melihat Candrasa.
"Diam ditempat!" kata Candrasa.
"Ada Apaaaaa?" Air berteriak.
Seekor Harimau lewat di antara Candrasa dan Air, untuk beberapa saat harimau itu masih menoleh ke kanan kiri. Itu Harimau putih tercantik yang pernah mereka lihat. Hanada spontan menahan nafas, Air menoleh ke arah Hanada menahan tawanya.
"Huuu haaa...." Air menggoda Hanada supaya dia bernafas dengan normal.
Harimau itu pun berhasil melewati mereka, Candrasa segera berjalan cepat menyeimbangi sahabat-sahabatnya itu. Candrasa mengeratkan kedua pedang yang ada di pinggangnya, Lalu mengecek keberadaan replika kecil pedang kemukus. Pedang kecil itu masih ada disana dia kantong koin yang ia bawa.
Matahari sudah hampir di atas kepala mereka, tapi mereka belum minum dan makan apapun hari itu. Bekal yang tersisa sedikit membuat mereka berhemat dan memutuskan untuk makan di sore hari saja. Tapi hari itu hanada sudah sangat lapar, dia merasa lemas sekali.
"Bisakah kita istirahat dulu?" Hanada bernafas agak berat.
"Ya tentu."
Hanada duduk di pepohonan yang tumbang, Candrasa langsung menghampiri Hanada lalu berlutut di depannya. Dia membuka kan bekal dan memberi sisa airnya untuk Hanada.
"Makanlah!"
Air berjaga sambil menoleh ke kanan kiri. Hanada melahap semua makanannya sampai habis tak tersisa, tapi kenapa perutnya masih terasa lapar? Tidak biasanya dia seperti itu.
"Aku masih lapar," Hanada memegang perutnya.
"Aku merasa makin lemas."
Candrasa dan Air bertukar pandangan, merasa aneh.
"Baiklah kau tunggu disini, aku akan mencarikanmu makanan," Candrasa berjalan ke arah kiri melewati hutan.
"Airrr aku lapar, kau tidak mencarikanku makanan juga?" Suara yang di dengar oleh Air.
"Kau benar-benar merepotkan!" Air berjalan menjauh dari Hanada dan mencari makanan sambil mengibaskan pedangnya untuk membuka jalan dari rumput yang menghalangi.
Hanada keheranan, kenapa pria itu menjauh darinya?
"Air jangan pergi! Jangan tinggalkan aku sendiri Air!" Hanada berteriak sebisa mungkin tapi Air tetap tidak menjawab apapun, dia masih terus berjalan menjauh. Rupanya Air tidak mendengar suaranya.
"Ada apa dengannya?" Hanada berpikir keras, tiba-tiba perutnya semakin terasa lapar. Dia memutuskan untuk berjalan disekitar situ mencari makanan.
Pandangannya langsung terfokus pada suatu tumbuhan yang berkilauan, dia mendekat dan mencium aroma yang sangat harum.
"Apa ini tumbuhan ajaib?" Hanada memetik tumbuhan itu lalu memakannya dengan satu suapan, dia keheranan karena ras laparnya langsung hilang hanya karena tumbuhan kecil tadi.
Tapi kenapa tenggorokannya terasa tercekik, Hanada memegang leher nya kuat. Mencoba menghentikan rasa sakit yang ia rasakan. Candrasa yang membawa beberapa Berry menghampiri Hanada, pria itu melihat Hanada seperti tercekik.
"Hanada!" dia berlari ke arah Hanada.
"Hanada ada apa?" Tubuh Hanada mulai membiru, dia sesak nafas. Candrasa dengan segala kekuatannya mencoba mengambil apapun itu yang ada di tubuh wanita itu, dia menyerap separuh racunnya. Hanada mulai kembali bernafas, tapi dia masih sangat lemas dan tubuhnya pun masih membiru.
Air yang sudah merasa terlalu jauh baru sadar, kenapa dia ada di tengah hutan sendirian dan meninggalkan Hanada. Dia menoleh ke kanan kiri, lalu melihat sebuah rumah kayu yang di sekelilingnya terdapat pohon sayuran dan buah-buahan. Air mendatangi rumah itu, dia mengambil beberapa Buah dan sayur sembarangan.
Sebuah teko pun melayang ke arahnya, tapi dengan sigap dia langsung menepis itu dengan pedangnya sehingga terbelah menjadi beberapa pecahan. Seseorang bertepuk tangan dari dalam rumah itu, Air baru saja berniat untuk masuk kesana tapi pria paruh baya itu sudah lebih dulu keluar dan menemuinya.
"Kau pintar sekali anak muda hahaha," Pria tua itu tertawa lantang.
Air menatap pria tua itu penuh curiga, tapi pria itu langsung menepuk pundak Air.
"Ada apa gerangan datang kesini?"
"Uh- itu.... Temanku butuh makanan!" Air menunjukan beberapa buah berry dan sayur yang dia petik sembarangan.
"Temanmu sudah tidak kelaparan lagi," Pria tua itu tertawa lagi.
Air mengangkat alisnya dan bertanya apa maksud kakek itu,
"Apa maksudmu? Dia sudah tidak kelaparan lagi huh?" Air menatap pria itu tajam.
Pria tadi masih tertawa lalu menoleh ke arah Air,
"Bawalah sahabat-sahabat mu kesini! Jika tidak, mereka akan ada dalam bahaya," Kakek tua itu menyeringai lalu masuk ke rumahnya.
Air tersontak langsung sadar bahwa dia telah pergi meninggalkan Hanada cukup lama, dia yang merasa khawatir dengan Hanada langsung kembali ke tempat Hanada berada.
Napas Air seperti diburu, dia melihat Candrasa dan Hanada yang bersandar di paha pria itu.
"Candrasa ada apa?"
"Hanada sepertinya memakan tumbuhan beracun..."
"Apa?" Air mendekati Hanada lalu mengecek nadinya.
Denyutnya melemah, tubuh wanita itu juga mulai dingin. Air merasa bersalah. Entah darimana asal suara tadi, tapi dia yakin suara itu adalah suara Hanada. Wanita itu yang memintanya pergi mencari makanan.
"Aku sudah mengambil separuh racunnya," Kata Candrasa sambil menatap Hanada yang tertidur di pangkuannya.
"Kenapa tidak semuanya?"
"Ilmu ku belum sepenuhnya bisa mengobati!" Candrasa menunduk kecewa pada dirinya sendiri.
Sahabatnya sekarang ada dalam bahaya, dia bahkan tidak bisa berbuat apa-apa. Dia kebingungan antara dia harus kembali atau melanjutkan perjalanan. Nyawa Hanada jadi taruhan
Hari berlalu begitu cepat, mereka tidak bisa kemana-mana selagi Hanada masih lemas. Jadi mereka memutuskan untuk bermalam disitu.
Hanya ada keheningan malam itu, suara Hanada yang biasanya membuat suasana jadi ceria kini tidak ada. Air menelungkupkan kepalanya, sedangkan Candrasa berjaga disamping Hanada.
Keduanya merasa kecewa dan sedih, karena mereka meninggalkannya sendiri sehingga Hanada memakan tumbuhan beracun itu. Air dan Candrasa memakan buah Berry yang Candrasa ambil. Mereka tidak menikmatinya tapi mereka harus memakan setidaknya satu biji berry itu.
...****************...
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Kangee
🥀satu
2022-12-05
2
anggita
hadiah bunga 🌹sebagai apresiasi author cerita silat lokal. 👌
2022-10-23
4