Bab 9 : kelaparan

Mereka berjalan menyusuri hutan yang tidak tahu dimana ujungnya. Candrasa berjalan paling belakang sedangkan Hanada berjalan didepannya dan Air memimpin perjalanan.

Suara burung berkicauan dengan lantang, Hanada melihat ke langit biru yang terpampang di atas kepala mereka.

"Haruskah aku memanah burung-burung itu?" Hanada berjalan sambil menatap langit.

"Awas!" Air melompat menghindari ranjau ranting-ranting.

"Awww..." Hanada yang sedang fokus ke langit tersandung dan jatuh.

"Kau baik-baik saja?" Candrasa langsung menolong Hanada dan membantunya berdiri.

Hanada berdiri lalu membersihkan dedaunan yang ada di celanannya, dia menatap Air tajam. Dia mengangkat sudut bibir atas nya. Air pun menoleh ke belakang.

"Kenapa? Aku sudah memperingatimu! " Air kembali berjalan sambil menyeringai.

"Awas..... disaat ranjau itu 2 jengkal didepanku itu bukan peringatan Air!" Hanada mengejar Air ingin memukulnya.

Air berlari menjauhi Hanada, dia tertawa kecil. Candrasa yang masih tenang seperti air hanya bisa tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu. Dia berjalan perlahan, sambil melihat ke kanan kirinya.

"Aiiir.... Hanadaa....." Candrasa memanggil Air dan Hanada yang masih bercanda.

Mereka menoleh berbarengan, kebingungan melihat Candrasa.

"Diam ditempat!" kata Candrasa.

"Ada Apaaaaa?" Air berteriak.

Seekor Harimau lewat di antara Candrasa dan Air, untuk beberapa saat harimau itu masih menoleh ke kanan kiri. Itu Harimau putih tercantik yang pernah mereka lihat. Hanada spontan menahan nafas, Air menoleh ke arah Hanada menahan tawanya.

"Huuu haaa...." Air menggoda Hanada supaya dia bernafas dengan normal.

Harimau itu pun berhasil melewati mereka, Candrasa segera berjalan cepat menyeimbangi sahabat-sahabatnya itu. Candrasa mengeratkan kedua pedang yang ada di pinggangnya, Lalu mengecek keberadaan replika kecil pedang kemukus. Pedang kecil itu masih ada disana dia kantong koin yang ia bawa.

Matahari sudah hampir di atas kepala mereka, tapi mereka belum minum dan makan apapun hari itu. Bekal yang tersisa sedikit membuat mereka berhemat dan memutuskan untuk makan di sore hari saja. Tapi hari itu hanada sudah sangat lapar, dia merasa lemas sekali.

"Bisakah kita istirahat dulu?" Hanada bernafas agak berat.

"Ya tentu."

Hanada duduk di pepohonan yang tumbang, Candrasa langsung menghampiri Hanada lalu berlutut di depannya. Dia membuka kan bekal dan memberi sisa airnya untuk Hanada.

"Makanlah!"

Air berjaga sambil menoleh ke kanan kiri. Hanada melahap semua makanannya sampai habis tak tersisa, tapi kenapa perutnya masih terasa lapar? Tidak biasanya dia seperti itu.

"Aku masih lapar," Hanada memegang perutnya.

"Aku merasa makin lemas."

Candrasa dan Air bertukar pandangan, merasa aneh.

"Baiklah kau tunggu disini, aku akan mencarikanmu makanan," Candrasa berjalan ke arah kiri melewati hutan.

"Airrr aku lapar, kau tidak mencarikanku makanan juga?" Suara yang di dengar oleh Air.

"Kau benar-benar merepotkan!" Air berjalan menjauh dari Hanada dan mencari makanan sambil mengibaskan pedangnya untuk membuka jalan dari rumput yang menghalangi.

Hanada keheranan, kenapa pria itu menjauh darinya?

"Air jangan pergi! Jangan tinggalkan aku sendiri Air!" Hanada berteriak sebisa mungkin tapi Air tetap tidak menjawab apapun, dia masih terus berjalan menjauh. Rupanya Air tidak mendengar suaranya.

"Ada apa dengannya?" Hanada berpikir keras, tiba-tiba perutnya semakin terasa lapar. Dia memutuskan untuk berjalan disekitar situ mencari makanan.

Pandangannya langsung terfokus pada suatu tumbuhan yang berkilauan, dia mendekat dan mencium aroma yang sangat harum.

"Apa ini tumbuhan ajaib?" Hanada memetik tumbuhan itu lalu memakannya dengan satu suapan, dia keheranan karena ras laparnya langsung hilang hanya karena tumbuhan kecil tadi.

Tapi kenapa tenggorokannya terasa tercekik, Hanada memegang leher nya kuat. Mencoba menghentikan rasa sakit yang ia rasakan. Candrasa yang membawa beberapa Berry menghampiri Hanada, pria itu melihat Hanada seperti tercekik.

"Hanada!" dia berlari ke arah Hanada.

"Hanada ada apa?" Tubuh Hanada mulai membiru, dia sesak nafas. Candrasa dengan segala kekuatannya mencoba mengambil apapun itu yang ada di tubuh wanita itu, dia menyerap separuh racunnya. Hanada mulai kembali bernafas, tapi dia masih sangat lemas dan tubuhnya pun masih membiru.

Air yang sudah merasa terlalu jauh baru sadar, kenapa dia ada di tengah hutan sendirian dan meninggalkan Hanada. Dia menoleh ke kanan kiri, lalu melihat sebuah rumah kayu yang di sekelilingnya terdapat pohon sayuran dan buah-buahan. Air mendatangi rumah itu, dia mengambil beberapa Buah dan sayur sembarangan.

Sebuah teko pun melayang ke arahnya, tapi dengan sigap dia langsung menepis itu dengan pedangnya sehingga terbelah menjadi beberapa pecahan. Seseorang bertepuk tangan dari dalam rumah itu, Air baru saja berniat untuk masuk kesana tapi pria paruh baya itu sudah lebih dulu keluar dan menemuinya.

"Kau pintar sekali anak muda hahaha," Pria tua itu tertawa lantang.

Air menatap pria tua itu penuh curiga, tapi pria itu langsung menepuk pundak Air.

"Ada apa gerangan datang kesini?"

"Uh- itu.... Temanku butuh makanan!" Air menunjukan beberapa buah berry dan sayur yang dia petik sembarangan.

"Temanmu sudah tidak kelaparan lagi," Pria tua itu tertawa lagi.

Air mengangkat alisnya dan bertanya apa maksud kakek itu,

"Apa maksudmu? Dia sudah tidak kelaparan lagi huh?" Air menatap pria itu tajam.

Pria tadi masih tertawa lalu menoleh ke arah Air,

"Bawalah sahabat-sahabat mu kesini! Jika tidak, mereka akan ada dalam bahaya," Kakek tua itu menyeringai lalu masuk ke rumahnya.

Air tersontak langsung sadar bahwa dia telah pergi meninggalkan Hanada cukup lama, dia yang merasa khawatir dengan Hanada langsung kembali ke tempat Hanada berada.

Napas Air seperti diburu, dia melihat Candrasa dan Hanada yang bersandar di paha pria itu.

"Candrasa ada apa?"

"Hanada sepertinya memakan tumbuhan beracun..."

"Apa?" Air mendekati Hanada lalu mengecek nadinya.

Denyutnya melemah, tubuh wanita itu juga mulai dingin. Air merasa bersalah. Entah darimana asal suara tadi, tapi dia yakin suara itu adalah suara Hanada. Wanita itu yang memintanya pergi mencari makanan.

"Aku sudah mengambil separuh racunnya," Kata Candrasa sambil menatap Hanada yang tertidur di pangkuannya.

"Kenapa tidak semuanya?"

"Ilmu ku belum sepenuhnya bisa mengobati!" Candrasa menunduk kecewa pada dirinya sendiri.

Sahabatnya sekarang ada dalam bahaya, dia bahkan tidak bisa berbuat apa-apa. Dia kebingungan antara dia harus kembali atau melanjutkan perjalanan. Nyawa Hanada jadi taruhan

Hari berlalu begitu cepat, mereka tidak bisa kemana-mana selagi Hanada masih lemas. Jadi mereka memutuskan untuk bermalam disitu.

Hanya ada keheningan malam itu, suara Hanada yang biasanya membuat suasana jadi ceria kini tidak ada. Air menelungkupkan kepalanya, sedangkan Candrasa berjaga disamping Hanada.

Keduanya merasa kecewa dan sedih, karena mereka meninggalkannya sendiri sehingga Hanada memakan tumbuhan beracun itu. Air dan Candrasa memakan buah Berry yang Candrasa ambil. Mereka tidak menikmatinya tapi mereka harus memakan setidaknya satu biji berry itu.

...****************...

...****************...

Terpopuler

Comments

Kangee

Kangee

🥀satu

2022-12-05

2

anggita

anggita

hadiah bunga 🌹sebagai apresiasi author cerita silat lokal. 👌

2022-10-23

4

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Dibangunnya Akademi sihir
2 Bab 2 : Tingkatan Dasa
3 Bab 3 : Tingakatan Sata
4 Bab 4 : Permaisuri ku
5 Bab 5 : Pedang Kemukus
6 Bab 6 : Jaroga
7 Bab 7 : Hari ke-1 pencarian
8 Bab 8 : Tiga Ksatria
9 Bab 9 : kelaparan
10 Bab 10 : Rumah ditengah hutan
11 Bab 11 : Jebakan lagi
12 Bab 12 : Hutan Kelaparan
13 Bab 13 : Perbatasan Laut Utara
14 Bab 14 : Kondisi Vegetatif
15 Bab 15 : Menjemput Candrasa
16 Bab 16 : Penerus Kerajaan Iblis
17 Bab 17 : Seorang Putri
18 Bab 18 : Iblis bayangan
19 Bab 19 : Kakek ku.
20 Bab 20 : Kembalinya Candrasa.
21 Bab 21 : Pria berjubah hitam.
22 Bab 22 : kesejahteraan rakyat.
23 Bab 23 : Mencari pedang itu kembali.
24 Bab 24 : menolak perjodohan.
25 Bab 25 : Nahdara vs Brahma
26 Bba 26 : Black magic.
27 Bab 27 : 6 Iblis Bayangan
28 Bab 28 : Merebut Takhta.
29 Bab 29 : Penyerangan Nahdara.
30 Bab 30 : Kesatria Wanita.
31 Bab 31 : Pernikahan Paksa.
32 Bab 32 : Menyelamatkan Hanada.
33 Bab 33 : Misi penyelamatan
34 BAB 34 : Misi penyelamatan II
35 Bab 35 : Misi penyelamatan III
36 Bab 36 : Gudang senjata
37 Bab 37 : Kerasukan.
38 Bab 38 : Mundur
39 Bab 39 : Simbol Jiwa
40 Bab 40 : Rahasia besar
41 Bab 41 : Kejadian 60 tahun lalu
42 Bab 42 : Reinkarnasi Imoogi.
43 Bab 43 : Awal mula kutukan
44 Bab 44 : Hutan Azure
45 Bab 45 : Pedang Guru Wija
46 Bab 46 : kembali ke Akademi
47 Bab 47 : Musuh sebenarnya
48 Bab 48 : Pelatihan khusus
49 Bab 49 : Air vs Candrasa
50 Bab 50 : Kediaman Panglima Doha
51 Bab 51 : Rahasia
52 Bab 52 : Pertarungan resmi
53 Bab 53 : Berjalan di atas air
54 Bab 54 : penyempurnaan energi
55 Bab 55 : Lembaran yang kosong
56 Bab 56 : Misi baru akademi
57 Bab 57 : Ke perbatasan timur
58 Bab 58 : Darkmagus
Episodes

Updated 58 Episodes

1
Bab 1 : Dibangunnya Akademi sihir
2
Bab 2 : Tingkatan Dasa
3
Bab 3 : Tingakatan Sata
4
Bab 4 : Permaisuri ku
5
Bab 5 : Pedang Kemukus
6
Bab 6 : Jaroga
7
Bab 7 : Hari ke-1 pencarian
8
Bab 8 : Tiga Ksatria
9
Bab 9 : kelaparan
10
Bab 10 : Rumah ditengah hutan
11
Bab 11 : Jebakan lagi
12
Bab 12 : Hutan Kelaparan
13
Bab 13 : Perbatasan Laut Utara
14
Bab 14 : Kondisi Vegetatif
15
Bab 15 : Menjemput Candrasa
16
Bab 16 : Penerus Kerajaan Iblis
17
Bab 17 : Seorang Putri
18
Bab 18 : Iblis bayangan
19
Bab 19 : Kakek ku.
20
Bab 20 : Kembalinya Candrasa.
21
Bab 21 : Pria berjubah hitam.
22
Bab 22 : kesejahteraan rakyat.
23
Bab 23 : Mencari pedang itu kembali.
24
Bab 24 : menolak perjodohan.
25
Bab 25 : Nahdara vs Brahma
26
Bba 26 : Black magic.
27
Bab 27 : 6 Iblis Bayangan
28
Bab 28 : Merebut Takhta.
29
Bab 29 : Penyerangan Nahdara.
30
Bab 30 : Kesatria Wanita.
31
Bab 31 : Pernikahan Paksa.
32
Bab 32 : Menyelamatkan Hanada.
33
Bab 33 : Misi penyelamatan
34
BAB 34 : Misi penyelamatan II
35
Bab 35 : Misi penyelamatan III
36
Bab 36 : Gudang senjata
37
Bab 37 : Kerasukan.
38
Bab 38 : Mundur
39
Bab 39 : Simbol Jiwa
40
Bab 40 : Rahasia besar
41
Bab 41 : Kejadian 60 tahun lalu
42
Bab 42 : Reinkarnasi Imoogi.
43
Bab 43 : Awal mula kutukan
44
Bab 44 : Hutan Azure
45
Bab 45 : Pedang Guru Wija
46
Bab 46 : kembali ke Akademi
47
Bab 47 : Musuh sebenarnya
48
Bab 48 : Pelatihan khusus
49
Bab 49 : Air vs Candrasa
50
Bab 50 : Kediaman Panglima Doha
51
Bab 51 : Rahasia
52
Bab 52 : Pertarungan resmi
53
Bab 53 : Berjalan di atas air
54
Bab 54 : penyempurnaan energi
55
Bab 55 : Lembaran yang kosong
56
Bab 56 : Misi baru akademi
57
Bab 57 : Ke perbatasan timur
58
Bab 58 : Darkmagus

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!