Hanada menembak anak panah nya ke arah akar yang melilit kaki Candrasa, sedangkan Air dengan sigap menghunuskan pedang ke pusat kelemahan akar itu.
Brakk
Candrasa jatuh dari ketinggian 2 meter, Dia meringis kesakitan. Air dan Hanada membantunya berdiri.
"Aw!"
"Untung ada kami!" Hanada mengeratkan Panah nya.
"Bagaimana kalian bisa disini?" Candrasa memegang bahu nya yang seperti terkilir. Air langsung menepuk pundak Candrasa yang sakit.
"Bukankah bertiga lebih baik daripada seorang diri?"
Air berjalan mendahului Candrasa, Hanada mengikuti Air dari belakang.
"Tunggu aku!" Mereka pun meninggalkan kuda mereka disana dan menepuk kuda itu agar kembali ke Amarata.
Candrasa berlari kecil mengimbangi jalan mereka, langit sudah gelap namun mereka masih mustahil sampai ke tujuan. Mereka berisitirahat sejenak sambil membuat api unggun, Hanada mendekat ke arah api unggun sambil menggosokkan tangannya.
"Aku tidak ingin kalian dalam kesulitan," Kata Candrasa sambil menatap Hanada dan Air.
"Ini berbahaya untuk kalian!" lanjutnya, Air dan Hanada tertawa sambil bertukar pandangan.
"Kau kira ini tidak berbahaya untukmu?" Hanada tertawa menggoda Candrasa.
"Aku hanya tidak ingin melihat kalian terluka!" Candrasa menatap mereka, dia tulus.
"Kami juga, kami tidak ingin melihatmu terluka, jadi kami mencarimu sampai kesini," Hanada tersenyum.
"lalu bagaimana kalian bisa keluar dari Akademi?"
"Kami kabur," Air menyeringai.
"Guru Wija pasti mencari kalian," Candrasa duduk di batang pohon yang tumbang.
"Aku yakin Guru Wija sudah tahu kami pergi kemana!" Air melirik Hanada.
"Ya benar, kau tidak perlu khawatir kami tidak akan merepotkan. Oh iya mari kita makan malam, aku lapar!" Kata Hanada.
Air dan Candrasa mengangguk semuanya mengumpulkan 3 kantong bekal yang dibawa lalu membukanya bersama. Mereka saling bertukar makanan lalu menyantap nya dengan nikmat.
"Seru sekali," Hanada melihat kesekeliling yang gelap.
"Seru? Ini berbahaya, lagipula kita kesini bukan untuk bersenang-senang!" Candrasa menatap Hanada serius.
"Aku hanya suka suasana seperti ini, dulu aku dan ayah suka berkemah bersama di hutan kerajaan kami." Hanada menyantap kue yang Air bawa.
"Kerajaan kami?" Air menaikan sebelah alisnya penasaran.
Hanada hampir tersedak, dia terdiam beberapa saat untuk merangkai kata. "Ya tentu, Nahdara adalah milik rakyat bukan? rakyat Nahdara sudah terbiasa menyebut kerajaan sebagai milik kami!"
Hanada tersenyum canggung lalu melahap lagi kuenya sambil memperhatikan wajah Air dan Candrasa. Dia harap mereka tidak curiga padanya.
Candrasa dan Air mengangguk lalu kembali makan bekal yang mereka bawa. Setelah makan malam selesai mereka memutuskan untuk tidur di tempat itu dengan alas seadanya. Besok mereka akan langsung melanjutkan perjalanannya.
4 Jam pertama Candrasa akan berjaga, dilanjut oleh Air. Candrasa memukul nyamuk yang ada ditangannya. Ini kali pertamanya pergi dan tidur ditengah Hutan. Benar kata Air dan Hanada, ini juga sangat berbahaya untuk Candrasa.
Mengerikan juga tidur ditengah hutan...
Candrasa membatin.
Pemuda itu kini mengalami kantuk yang hebat, tapi dia sekuat tenaga menahannya.
"Air Air, bergantianlah!" Candrasa memukul Air agar bangun dan bergantian dengannya. Air bangun dengan mata yang masih terpejam, duduk dan menggantikan posisi Candrasa.
Hari pun sudah pagi...
"Kenapa panas sekali, sepertinya semalam cuaca disini sangat sejuk kenapa sekarang panas seperti digurun!" Air dengan mata masih mengantuk bergumam sendiri.
Pemuda itu lalu terbangun dan duduk, matanya masih berusaha melawan kantuknya, mata Air menyipit lalu memastikan sekelilingnya, dia melihat Hanada dan Candrasa yang masih tertidur.
Setelah sepenuhnya sadar, dia heran kenapa pepohonan disini seketika hilang? dan tanah yang mereka pijak menjadi pasir coklat.
"Candrasa Hanada cepat bangun!" Air berteriak, mereka berdua sontak terkaget melihat hutan yang semalam seketika menjadi gurun pasir tidak berujung.
"Ada apa ini?" Candrasa terlihat kebingungan.
"Aku tidak tahu!" Air berdiri, keseimbangannya menghilang, pasir yang dipijak nya adalah pasir hisap.
"Air! Jangan banyak bergerak kumohon," Hanada mengulurkan satu tangannya memperingati Air.
"Baiklah lalu aku harus bagaimana? Kita harus bagaimana?" Air mulai terlihat panik. Candrasa mencoba mengeluarkan ilmu sihirnya, dia membuat udara disekitar air berputar untuk mengeluarkannya. Tapi bukan malah tertarik keluar, Air malah terdorong semakin dalam. Bekal mereka yang tergeletak di dekat Air pun ikut terhisap kedalam pasir.
Sekarang posisi setengah tubuh Air sudah terendam pasir. "Berhenti Candrasa!" Hanada menoleh ke arah Candrasa.
"Kita ada di wilayah Hutan terlarang, yang berarti iblis bayangan bisa memperdaya pikiran kita, jika kita terus bergerak dan pasir itu menghisap Air, Air akan benar menghilang!" Hanada melihat ke Candrasa serius.
"Lalu kita harus bagaimana?" tanya pria itu.
"Kau peegang tangan kanan Air dan aku memegang tangan kirinya!" Seru Hanada, Candrasa pun mengikuti saran dari wanita itu. Dia menggenggam tangan kanan Air dan Hanada menggenggam tangan kiri pria itu, lalu tangan mereka yang satu lagi mulai bertautan.
Mereka membuat seperti lingkaran sambil berusaha keras mengeluarkan Air. "Kita harus saling mengalirkan energi!" pinta Candrasa.
Mereka bertiga terpejam lalu mulai mengalirkan energi dari tangan mereka satu sama lain. Energi berputar melalui tangan itu ke tubuh mereka. Selama 10 menit seperti itu, akhirnya udara tidak lagi panas, mereka perlahan membuka mata.
"Kita berhasil!" Hanada bersorak gembira sambil menggenggam tangan kedua sahabatnya itu, Air dan Candrasa tersenyum melihat tingkahnya.
"Kau luar biasa!" Candrasa memuji Hanada.
deg
Jantung Hanada tiba-tiba saja berdegup kencang, pipinya memerah dan terasa panas. Wanita ini langsung mengalihkan pandangannya dan melepas genggamannya dari pemuda-pemuda itu .
"Bekal kita menghilang," Hanada mengerucutkan bibirnya, dia merasa kecewa karena tidak bisa menyelamatkan makanan itu.
"Jadi jika tadi aku benar-benar terhisap maka aku akan--" Air membuka mulutnya, dia terbelalak dan merasa ngeri.
"Ya , kau akan menghilang sama seperti bekal kita!" Hanada menunjuk Air sambil.mengerucutkan bibirnya. Sedangkan, Putra Mahkota sedang memikirkan apa yang sebenarnya terjadi,
"Apa itu halusinasi?" Katanya bertanya pada Hanada.
"Bisa dibilang seperti itu, tapi halusinasi yang nyata!" jawan Hanada singkat.
"Maksudmu?" Candrasa memang tidak banyak tahu tentang iblis bayangan.
"Itu memang tipu daya, tapi jika kau salah langkah saat berada didalamnya kau bisa saja tidak bisa keluar dari sana selamanya!" Hanada menjelaskan sambil mengambil panahan dan busur panah yang tergeletak di tanah.
Hanada juga mengambil dua pedang Candrasa lalu memberikan itu padanya. "Tolong sekalian punya ku!" Air melirik Hanada sambil menyeringai.
"Ya ya!" Hanada mengambil pedang itu lalu melempar ke Air, Air sontak langsung menangkapnya dengan sigap.
"Luar biasa!" Hanada tertawa melihat wajah Air yang panik.
Mereka melanjutkan perjalanan ke tengah hutan, menyusuri pohon-pohon yang menjulang tinggi. Bekal makanan hanya tersisa satu kantong yang dibawa oleh Hanada. Itu pun hanya tersisa makanan ringan saja. Mereka harus segera menemukan sumber air dan juga ladang makanan agar mereka tak kelaparan.
"Sampai kapan kita akan berjalan seperti ini, aku lelah!" Hanada membungkuk dan menopang tubuh dengan tangan yang berada di lutut.
"Inilah alasanku tidak mengatakanya padamu," Candrasa menoleh ke arah Hanada dibelakangnya.
"Mari aku gendong!" Air dengan sigap membungkuk didepan Hanada tanpa basa basi. Hanada langsung tersenyum gembira.
"Terimakasih Air!" Dia naik ke punggung Air sambil menjahili sahabatnya., sedangkan Candrasa hanya melihat itu dengan tersenyum kecil.
...****************...
...****************...
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Sang
kesempatan dalam keanuAn 🤔🐸
2022-11-24
3