Bab 7 : Hari ke-1 pencarian

Setelah lima hari beristirahat dan meminum ramuan, akhirnya Candrasa pulih dengan sempurna. Dia sudah bisa berlatih dengan guru wija dan juga temannya yang lain. Candrasa memperdalam ilmu bela diri dan teknik pedangnya,

Trang trang

Bunyi gesekan antar pedang Air dan Candrasa berdentum, mereka sedang berlatih teknik pedang. Keduanya sama-sama kuat jadi pertahanan mereka sulit di hancurkan satu sama lain.

...(sumber : google Alchemy of souls drama '22)...

Mereka menjadi contoh bagi yang lain, dua pria luar biasa ini saling menyerang. Candrasa memegang dua pedang, keduanya di gunakan dengan teknik yang sempurna, caranya menghindar bahkan caranya berputar untuk ancang-ancang sangat mengagumkan semua orang yang melihatnya. Begitupun dengan Air, keduanya memiliki cara yang berbeda, Air lebih banyak menyerang, sedangkan Candrasa lebuh banyak bertahan, dia hanya sesekali menyerang saat Air lengah.

Air bukan orang yang suka bertele-tele, sebagai pria dia lebih berani untuk menunjukan emosi dan sisi lain dari dirinya. Maka dari itu dia sangat cocok menjadi penjaga Candrasa yang dikenal sabar dan tidak gampang mengambil tindakan. Segala keputusan yang Candrasa ambil selalu dalam pemikiran yang matang. Bahkan dia bisa tidak tidur berhari-hari hanya memikirkan satu hal.

Pertarungan selesai dan tetap di menangkan Candrasa. Air menghampiri Candrasa lalu menepuk pundak sahabatnya itu.

"kurasa... Ini saatnya!" kata Candrasa sambil mengangguk pada Air, dia langsung mengejar guru Wija.

"Guru..." panggil Candrasa.

"Ada apa nak?" sahut gurunya.

"Aku memutuskan untuk mencari pedang itu," Candrasa menatap guru Wija dengan yakin.

Guru Wija pun terkejut, Dia tidak menyangka anak ini penuh dengan kegigihan, dia juga merasa khawatir dengan keselamatan Candrasa. Iblis bayangan bukanlah lawan yang bisa dengan mudah dia kalahkan, mengapa Iblis itu disebut iblis bayangan karena mereka membuat tipu daya dari bayangan atau dari halusinasi yang keluar dari pikiran kita.

"Apa kau sudah memikirkannya dengan matang?" Guru Wija mencoba melihat keyakinan Candrasa.

"Tentu guru, aku sudah memikirkannya dengan matang, aku ingin rakyatku segera bebas dari wabah ini!" Candrasa masih memegang kedua pedangnya.

"Aku akan ikut dengan nya guru," Air berdiri disamping Candrasa.

"Tidak!" kata Guru Wija dan Candrasa bersamaan.

"Memangnya kenapa? Aku ingin menemanimu!" Air menatap Candrasa, dia harap sahabatnya mau ditemani.

"Air, ini tugas yang sangat berbahaya, lagipula sihir mu belum mencapai panca, kau tidak boleh keluar dari asrama!" Guru Wija menjelaskan.

"Benar apa yang dikatakan Guru!" seru Putra Mahkota. Air kecewa dan khawatir pada sahabatnya, kenapa dia tidak diizinkan ikut? Candrasa bisa saja dalam bahaya. Tapi dia juga tidak bisa melanggar aturan Maharaja.

"Tapi nak, iblis bayangan bukan lawan yang mudah dikalahkan!" Guru Wija menatap Candrasa Khawatir.

"Aku tahu guru, aku siap" ujar Candrasa. Guru Wija tidak tega meruntuhkan semangat anak ini jadi dia meminta Candrasa untuk pergi ke Kerajaan dan minta restu ayahnya, Raja Jira II.

Hari itu Candrasa langsung pergi menemui Ayahnya di kerajaan.

tuk tuk tuk

Suara langkah Candrasa terdengar mendekat ke singgasana megah milik sang ayah. Candrasa memberi hormat dengan menekuk lututnya dan menunduk. Para petinggi kerajaan, panglima perang dan semua orang menatap Candrasa.

"Bangunlah nak!" Raja Jira II menyambut kedatangan anaknya.

Candrasa berdiri tegak layaknya Ksatria.

"Aku ingin meminta izin pada ayah," pemuda itu menatap ayahnya agak lama.

"Izin apa wahai anakku?" Ayah Candrasa menatap putranya heran.

"Izinkan aku mencari pedang kemukus baginda!"

Semua orang langsung ramai dan bergerumuh, mereka membicarakan pedang sakti yang dipegang Iblis bayangan itu.

"Semuanya diam!" Raja Jira berjalan menghampiri anaknya.

"Untuk apa kau mencari pedang terkutuk itu nak?" Raja Jira II sangat kebingungan dengan ide putranya.

"Untuk menghilangkan wabah yang ada di Amarata, aku yakin pedang itu akan berhasil menghilangkan wabah ini!" Seru Candrasa dengan sorot mata penuh keyakinan.

"Bagaimana jika pedang itu malah menimbulkan malapetaka yang lebih buruk?" petinggi kementerian pajak kerajaan berkomentar.

"Percayalah padaku ayah!" Candrasa menatap wajah ayahnya yang semakin hari semakin terlihat lelah. Pria itu tahu bahwa ayahnya harus berusaha tegar demi Amarata.

"Ayah percaya padamu, ayah memberi restu untukmu!" Raja Jira II mengusap lembut rambut anaknya.

"Terimakasih ayah," Candrasa menunduk memberi hormat.

Beberapa orang terlihat tidak setuju dengan ide itu, mereka takut pedang itu malah membawa petaka yang lebih buruk lagi seperti yang terjadi pada kerajaan dongeng itu.

Ayahnya memberi kepercayaan penuh kepada Putra Mahkota Candrasa, dia yakin anaknya mampu melakukan tugas itu. Hari itu juga tanpa didampingi siapapun Candrasa pergi menuju laut utara. Dia menunggang kuda hitamnya yang gagah.

Candrasa sedang menyiapkan bekal dan kudanya,

"Kau yakin?" Panglima perang bediri di belakang Candrasa.

"Tentu paman," Candrasa tersenyum.

"Yang ku tahu iblis bayangan tidak akan membiarkan orang lain masuk ke wilayahnya!" kata panglima.

Candrasa hanya tersenyum sambil mengelap kuda nya. Tak lama dia memutuskan untuk berangkat. Ayahnya hanya bisa mendoakan Candrasa, tapi ternyata, tanpa sepengetahuan Candrasa, Ayahnya memerintahkan Panglima Perang untuk mengikuti Candrasa dari kejauhan.

Candrasa memacu kudanya dengan perlahan, berita mengenai Candrasa telah tersebar keseluruh pelosok. Semua rakyat yang dia lewati memberi salam dan juga mendoakannya

"Semoga berhasil pangeran" Kata seseorang.

Candrasa tersenyum lalu melanjutkan perjalanannya, hari sudah semakin gelap namun Candrasa masih sangat jauh dari tujuan.

Di Akademi Sihir Maharaja.....

"Airrrr kau sendiri, Candrasa dimana?" Hanada menemui Air di depan kolam ikan.

"Dia pergi mencari Kemukus." jawab Air singkat.

"Apaaa? Pantas saja dia bertanya, kenapa dia tidak memberitahuku tentang itu?" Hanada menyilangkan lengannya didada.

"Mungkin dia tidak ingin kau khawatir.

Kilas Balik....

Candrasa berjalan ke wilayah Asrama Putri, dia melihat Hanada yang sedang menyapu halaman. Mereka saling berkontak mata, Hanada mengerti pasti ada yang ingin Candrasa bicarakan, dia mengikuti Candrasa ke taman bunga di dekat pintu utama.

"Hanada!" panggil pria itu.

"Kau sudah sembuh? Maaf aku belum menjengukmu lagi," Hanada menyeringai tidak enak.

"Tidak apa-apa, aku sudah pulih dengan cepat. Oh iya...." Candrasa mengeluarkan kemukus kecil.

"Ini..... Darimana kau dapatkan ini?"

"Ah....hmm i-itu pemberian ayahku," Hanada gelagapan.

"Apa ayahmu tahu dimana dia mendapatkan ini?"

Hanada menggeleng,

"Memangnya kenapa?"

"Tidak apa-apa, pedang ini bersinar saat ku genggam!" Candrasa menunjukannya pada Hanada.

"Wow benar, aku tidak menyangka, selama ini pedang itu tidak bereaksi apa-apa padaku." Mulut Hanada sedikit terbuka.

"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu!"

Kemudian, Candrasa kembali ke Asrama putra. Dia meninggalkan Hanada dengan begitu saja.

Lalu apa tujuannya kesini? Hanada bergumam.

Kilas Balik selesai.

Candrasa mulai memasuki hutan terlarang, konon katanya Pohon dan tumbuhan disana hidup dan bisa memakan manusia. Kuda yang candrasa tunggangi tiba-tiba terkejut. Membuat Candrasa jatuh dari kuda itu lalu Candrasa menoleh kebelakang, Pria itu melihat kudanya lari terbirit-birit meninggalkannya.

"Ah yaampun" Candrasa bangun dan melihat kesekeliling, Hari sudah mulai gelap, dia terus menyusuri jalan tanpa penerangan sambil membersihkan dedaunan di bajunya.

Dia menginjak sesuatu, akar itu langsung mengikat kaki nya dan menggantungnya di atas.

"Astaga" Candrasa mencoba menebas akar itu dengan pedangnya tapi dia kesulitan.

Terdengar suara kuda mendekat, Candrasa menoleh ke arah orang-orang itu.

"Air, Hanada!" Candrasa membelalak.

...****************...

...****************...

...****************...

Terpopuler

Comments

anggita

anggita

iblis bayangan..

2022-10-23

3

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Dibangunnya Akademi sihir
2 Bab 2 : Tingkatan Dasa
3 Bab 3 : Tingakatan Sata
4 Bab 4 : Permaisuri ku
5 Bab 5 : Pedang Kemukus
6 Bab 6 : Jaroga
7 Bab 7 : Hari ke-1 pencarian
8 Bab 8 : Tiga Ksatria
9 Bab 9 : kelaparan
10 Bab 10 : Rumah ditengah hutan
11 Bab 11 : Jebakan lagi
12 Bab 12 : Hutan Kelaparan
13 Bab 13 : Perbatasan Laut Utara
14 Bab 14 : Kondisi Vegetatif
15 Bab 15 : Menjemput Candrasa
16 Bab 16 : Penerus Kerajaan Iblis
17 Bab 17 : Seorang Putri
18 Bab 18 : Iblis bayangan
19 Bab 19 : Kakek ku.
20 Bab 20 : Kembalinya Candrasa.
21 Bab 21 : Pria berjubah hitam.
22 Bab 22 : kesejahteraan rakyat.
23 Bab 23 : Mencari pedang itu kembali.
24 Bab 24 : menolak perjodohan.
25 Bab 25 : Nahdara vs Brahma
26 Bba 26 : Black magic.
27 Bab 27 : 6 Iblis Bayangan
28 Bab 28 : Merebut Takhta.
29 Bab 29 : Penyerangan Nahdara.
30 Bab 30 : Kesatria Wanita.
31 Bab 31 : Pernikahan Paksa.
32 Bab 32 : Menyelamatkan Hanada.
33 Bab 33 : Misi penyelamatan
34 BAB 34 : Misi penyelamatan II
35 Bab 35 : Misi penyelamatan III
36 Bab 36 : Gudang senjata
37 Bab 37 : Kerasukan.
38 Bab 38 : Mundur
39 Bab 39 : Simbol Jiwa
40 Bab 40 : Rahasia besar
41 Bab 41 : Kejadian 60 tahun lalu
42 Bab 42 : Reinkarnasi Imoogi.
43 Bab 43 : Awal mula kutukan
44 Bab 44 : Hutan Azure
45 Bab 45 : Pedang Guru Wija
46 Bab 46 : kembali ke Akademi
47 Bab 47 : Musuh sebenarnya
48 Bab 48 : Pelatihan khusus
49 Bab 49 : Air vs Candrasa
50 Bab 50 : Kediaman Panglima Doha
51 Bab 51 : Rahasia
52 Bab 52 : Pertarungan resmi
53 Bab 53 : Berjalan di atas air
54 Bab 54 : penyempurnaan energi
55 Bab 55 : Lembaran yang kosong
56 Bab 56 : Misi baru akademi
57 Bab 57 : Ke perbatasan timur
58 Bab 58 : Darkmagus
Episodes

Updated 58 Episodes

1
Bab 1 : Dibangunnya Akademi sihir
2
Bab 2 : Tingkatan Dasa
3
Bab 3 : Tingakatan Sata
4
Bab 4 : Permaisuri ku
5
Bab 5 : Pedang Kemukus
6
Bab 6 : Jaroga
7
Bab 7 : Hari ke-1 pencarian
8
Bab 8 : Tiga Ksatria
9
Bab 9 : kelaparan
10
Bab 10 : Rumah ditengah hutan
11
Bab 11 : Jebakan lagi
12
Bab 12 : Hutan Kelaparan
13
Bab 13 : Perbatasan Laut Utara
14
Bab 14 : Kondisi Vegetatif
15
Bab 15 : Menjemput Candrasa
16
Bab 16 : Penerus Kerajaan Iblis
17
Bab 17 : Seorang Putri
18
Bab 18 : Iblis bayangan
19
Bab 19 : Kakek ku.
20
Bab 20 : Kembalinya Candrasa.
21
Bab 21 : Pria berjubah hitam.
22
Bab 22 : kesejahteraan rakyat.
23
Bab 23 : Mencari pedang itu kembali.
24
Bab 24 : menolak perjodohan.
25
Bab 25 : Nahdara vs Brahma
26
Bba 26 : Black magic.
27
Bab 27 : 6 Iblis Bayangan
28
Bab 28 : Merebut Takhta.
29
Bab 29 : Penyerangan Nahdara.
30
Bab 30 : Kesatria Wanita.
31
Bab 31 : Pernikahan Paksa.
32
Bab 32 : Menyelamatkan Hanada.
33
Bab 33 : Misi penyelamatan
34
BAB 34 : Misi penyelamatan II
35
Bab 35 : Misi penyelamatan III
36
Bab 36 : Gudang senjata
37
Bab 37 : Kerasukan.
38
Bab 38 : Mundur
39
Bab 39 : Simbol Jiwa
40
Bab 40 : Rahasia besar
41
Bab 41 : Kejadian 60 tahun lalu
42
Bab 42 : Reinkarnasi Imoogi.
43
Bab 43 : Awal mula kutukan
44
Bab 44 : Hutan Azure
45
Bab 45 : Pedang Guru Wija
46
Bab 46 : kembali ke Akademi
47
Bab 47 : Musuh sebenarnya
48
Bab 48 : Pelatihan khusus
49
Bab 49 : Air vs Candrasa
50
Bab 50 : Kediaman Panglima Doha
51
Bab 51 : Rahasia
52
Bab 52 : Pertarungan resmi
53
Bab 53 : Berjalan di atas air
54
Bab 54 : penyempurnaan energi
55
Bab 55 : Lembaran yang kosong
56
Bab 56 : Misi baru akademi
57
Bab 57 : Ke perbatasan timur
58
Bab 58 : Darkmagus

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!