Setelah lima hari beristirahat dan meminum ramuan, akhirnya Candrasa pulih dengan sempurna. Dia sudah bisa berlatih dengan guru wija dan juga temannya yang lain. Candrasa memperdalam ilmu bela diri dan teknik pedangnya,
Trang trang
Bunyi gesekan antar pedang Air dan Candrasa berdentum, mereka sedang berlatih teknik pedang. Keduanya sama-sama kuat jadi pertahanan mereka sulit di hancurkan satu sama lain.
...(sumber : google Alchemy of souls drama '22)...
Mereka menjadi contoh bagi yang lain, dua pria luar biasa ini saling menyerang. Candrasa memegang dua pedang, keduanya di gunakan dengan teknik yang sempurna, caranya menghindar bahkan caranya berputar untuk ancang-ancang sangat mengagumkan semua orang yang melihatnya. Begitupun dengan Air, keduanya memiliki cara yang berbeda, Air lebih banyak menyerang, sedangkan Candrasa lebuh banyak bertahan, dia hanya sesekali menyerang saat Air lengah.
Air bukan orang yang suka bertele-tele, sebagai pria dia lebih berani untuk menunjukan emosi dan sisi lain dari dirinya. Maka dari itu dia sangat cocok menjadi penjaga Candrasa yang dikenal sabar dan tidak gampang mengambil tindakan. Segala keputusan yang Candrasa ambil selalu dalam pemikiran yang matang. Bahkan dia bisa tidak tidur berhari-hari hanya memikirkan satu hal.
Pertarungan selesai dan tetap di menangkan Candrasa. Air menghampiri Candrasa lalu menepuk pundak sahabatnya itu.
"kurasa... Ini saatnya!" kata Candrasa sambil mengangguk pada Air, dia langsung mengejar guru Wija.
"Guru..." panggil Candrasa.
"Ada apa nak?" sahut gurunya.
"Aku memutuskan untuk mencari pedang itu," Candrasa menatap guru Wija dengan yakin.
Guru Wija pun terkejut, Dia tidak menyangka anak ini penuh dengan kegigihan, dia juga merasa khawatir dengan keselamatan Candrasa. Iblis bayangan bukanlah lawan yang bisa dengan mudah dia kalahkan, mengapa Iblis itu disebut iblis bayangan karena mereka membuat tipu daya dari bayangan atau dari halusinasi yang keluar dari pikiran kita.
"Apa kau sudah memikirkannya dengan matang?" Guru Wija mencoba melihat keyakinan Candrasa.
"Tentu guru, aku sudah memikirkannya dengan matang, aku ingin rakyatku segera bebas dari wabah ini!" Candrasa masih memegang kedua pedangnya.
"Aku akan ikut dengan nya guru," Air berdiri disamping Candrasa.
"Tidak!" kata Guru Wija dan Candrasa bersamaan.
"Memangnya kenapa? Aku ingin menemanimu!" Air menatap Candrasa, dia harap sahabatnya mau ditemani.
"Air, ini tugas yang sangat berbahaya, lagipula sihir mu belum mencapai panca, kau tidak boleh keluar dari asrama!" Guru Wija menjelaskan.
"Benar apa yang dikatakan Guru!" seru Putra Mahkota. Air kecewa dan khawatir pada sahabatnya, kenapa dia tidak diizinkan ikut? Candrasa bisa saja dalam bahaya. Tapi dia juga tidak bisa melanggar aturan Maharaja.
"Tapi nak, iblis bayangan bukan lawan yang mudah dikalahkan!" Guru Wija menatap Candrasa Khawatir.
"Aku tahu guru, aku siap" ujar Candrasa. Guru Wija tidak tega meruntuhkan semangat anak ini jadi dia meminta Candrasa untuk pergi ke Kerajaan dan minta restu ayahnya, Raja Jira II.
Hari itu Candrasa langsung pergi menemui Ayahnya di kerajaan.
tuk tuk tuk
Suara langkah Candrasa terdengar mendekat ke singgasana megah milik sang ayah. Candrasa memberi hormat dengan menekuk lututnya dan menunduk. Para petinggi kerajaan, panglima perang dan semua orang menatap Candrasa.
"Bangunlah nak!" Raja Jira II menyambut kedatangan anaknya.
Candrasa berdiri tegak layaknya Ksatria.
"Aku ingin meminta izin pada ayah," pemuda itu menatap ayahnya agak lama.
"Izin apa wahai anakku?" Ayah Candrasa menatap putranya heran.
"Izinkan aku mencari pedang kemukus baginda!"
Semua orang langsung ramai dan bergerumuh, mereka membicarakan pedang sakti yang dipegang Iblis bayangan itu.
"Semuanya diam!" Raja Jira berjalan menghampiri anaknya.
"Untuk apa kau mencari pedang terkutuk itu nak?" Raja Jira II sangat kebingungan dengan ide putranya.
"Untuk menghilangkan wabah yang ada di Amarata, aku yakin pedang itu akan berhasil menghilangkan wabah ini!" Seru Candrasa dengan sorot mata penuh keyakinan.
"Bagaimana jika pedang itu malah menimbulkan malapetaka yang lebih buruk?" petinggi kementerian pajak kerajaan berkomentar.
"Percayalah padaku ayah!" Candrasa menatap wajah ayahnya yang semakin hari semakin terlihat lelah. Pria itu tahu bahwa ayahnya harus berusaha tegar demi Amarata.
"Ayah percaya padamu, ayah memberi restu untukmu!" Raja Jira II mengusap lembut rambut anaknya.
"Terimakasih ayah," Candrasa menunduk memberi hormat.
Beberapa orang terlihat tidak setuju dengan ide itu, mereka takut pedang itu malah membawa petaka yang lebih buruk lagi seperti yang terjadi pada kerajaan dongeng itu.
Ayahnya memberi kepercayaan penuh kepada Putra Mahkota Candrasa, dia yakin anaknya mampu melakukan tugas itu. Hari itu juga tanpa didampingi siapapun Candrasa pergi menuju laut utara. Dia menunggang kuda hitamnya yang gagah.
Candrasa sedang menyiapkan bekal dan kudanya,
"Kau yakin?" Panglima perang bediri di belakang Candrasa.
"Tentu paman," Candrasa tersenyum.
"Yang ku tahu iblis bayangan tidak akan membiarkan orang lain masuk ke wilayahnya!" kata panglima.
Candrasa hanya tersenyum sambil mengelap kuda nya. Tak lama dia memutuskan untuk berangkat. Ayahnya hanya bisa mendoakan Candrasa, tapi ternyata, tanpa sepengetahuan Candrasa, Ayahnya memerintahkan Panglima Perang untuk mengikuti Candrasa dari kejauhan.
Candrasa memacu kudanya dengan perlahan, berita mengenai Candrasa telah tersebar keseluruh pelosok. Semua rakyat yang dia lewati memberi salam dan juga mendoakannya
"Semoga berhasil pangeran" Kata seseorang.
Candrasa tersenyum lalu melanjutkan perjalanannya, hari sudah semakin gelap namun Candrasa masih sangat jauh dari tujuan.
Di Akademi Sihir Maharaja.....
"Airrrr kau sendiri, Candrasa dimana?" Hanada menemui Air di depan kolam ikan.
"Dia pergi mencari Kemukus." jawab Air singkat.
"Apaaa? Pantas saja dia bertanya, kenapa dia tidak memberitahuku tentang itu?" Hanada menyilangkan lengannya didada.
"Mungkin dia tidak ingin kau khawatir.
Kilas Balik....
Candrasa berjalan ke wilayah Asrama Putri, dia melihat Hanada yang sedang menyapu halaman. Mereka saling berkontak mata, Hanada mengerti pasti ada yang ingin Candrasa bicarakan, dia mengikuti Candrasa ke taman bunga di dekat pintu utama.
"Hanada!" panggil pria itu.
"Kau sudah sembuh? Maaf aku belum menjengukmu lagi," Hanada menyeringai tidak enak.
"Tidak apa-apa, aku sudah pulih dengan cepat. Oh iya...." Candrasa mengeluarkan kemukus kecil.
"Ini..... Darimana kau dapatkan ini?"
"Ah....hmm i-itu pemberian ayahku," Hanada gelagapan.
"Apa ayahmu tahu dimana dia mendapatkan ini?"
Hanada menggeleng,
"Memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa, pedang ini bersinar saat ku genggam!" Candrasa menunjukannya pada Hanada.
"Wow benar, aku tidak menyangka, selama ini pedang itu tidak bereaksi apa-apa padaku." Mulut Hanada sedikit terbuka.
"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu!"
Kemudian, Candrasa kembali ke Asrama putra. Dia meninggalkan Hanada dengan begitu saja.
Lalu apa tujuannya kesini? Hanada bergumam.
Kilas Balik selesai.
Candrasa mulai memasuki hutan terlarang, konon katanya Pohon dan tumbuhan disana hidup dan bisa memakan manusia. Kuda yang candrasa tunggangi tiba-tiba terkejut. Membuat Candrasa jatuh dari kuda itu lalu Candrasa menoleh kebelakang, Pria itu melihat kudanya lari terbirit-birit meninggalkannya.
"Ah yaampun" Candrasa bangun dan melihat kesekeliling, Hari sudah mulai gelap, dia terus menyusuri jalan tanpa penerangan sambil membersihkan dedaunan di bajunya.
Dia menginjak sesuatu, akar itu langsung mengikat kaki nya dan menggantungnya di atas.
"Astaga" Candrasa mencoba menebas akar itu dengan pedangnya tapi dia kesulitan.
Terdengar suara kuda mendekat, Candrasa menoleh ke arah orang-orang itu.
"Air, Hanada!" Candrasa membelalak.
...****************...
...****************...
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
anggita
iblis bayangan..
2022-10-23
3