Candrasa masih terbaring lemah di Jaroga, dia masih belum sadarkan diri setelah kejadian tadi. Hanada yang tahu akan hal itu, langsung menemui pria itu disana, Dia mengkhawatirkan sahabatnya. Hanada menunggu Candrasa di Jaroga, lalu seorang alkemis wanita masuk dan melihat wanita itu.
"Kenapa kau ada disini? Kau tidak perlu menunggu nya, aku yang akan menjaga dan merawatnya!" Wanita itu mendekati Hanada.
Candrasa membuka matanya perlahan, dia pun menyadari keberadaan Hanada, dia masih merasa lemas lalu menoleh ke arah wanita itu dan memegang tangannya. Hanada agak membelalak terkejut, begitupun wanita tadi.
"Candrasa kau sudah sadar?" Hanada mendekat ke Candrasa yang masih terkulai lemas.
"Tolong panggilkan Guru Wija!" Hanada meminta tolong wanita itu memanggil Guru Wija untuk memeriksa keadaan Candrasa. Wanita tadi menatap sinis Hanada, lalu pergi memanggilkan guru Wija yang sedang ada di asrama pria, melatih murid-muridnya.
"Syukurlah kau sudah sadar," Hanada tersenyum lalu duduk di dekat Candrasa.
"Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu," Candrasa merasakan badannya yang sakit bahkan bergerak sedikit saja sudah membuatnya meringis.
"Apapun itu, ini belum saatnya, kau masih belum pulih!" Kata Hanada. Kemudian, tibalah Guru Wija, Air dan wanita tadi. Mereka menghampiri Candrasa dengan wajah gembira.
"Kau sudah sadar nak, biar aku lihat." ucap Guru Wija.
Guru Wija membuka baju Candrasa, Hanada dan Wanita tadi mundur beberapa langkah untuk menjauhkan pandangan mereka dari tubuh Candrasa. Sedangkan Air dengan sigap menjaga Candrasa dari pandangan orang lain.
"Syukurlah aku sangat mengkhawatirkan mu," Air menyeringai ke arah Candrasa. Pria itu membalas seringaian Air tipis.
"Aku baik-baik saja!" kata Candrasa, tangan guru Wija kini berada di perut pria itu, menyentuhnya dan mencari sumber energi Candrasa. Pria tua itu tersenyum lebar.
"Kau sudah sepenuhnya bisa mengendalikan energi ibumu!" ujar guru Wija, Candrasa ikut memegang perutnya lalu merasakan sesuatu berputar didalam sana, dia yakin itu adalah energinya. Dia tersenyum mengetahui bahwa Energi Ratu Dara mengalir didalam tubuhnya.
"Kau juga berhasil memperkuat tabir pelindung Maharaja, terimakasih." Guru Wija mengangguk sambil tersenyum. Air menepuk pundak Candrasa pelan.
"Aw!" Candrasa meringis. Pria itu masih merasa lemas dan badannya terasa remuk, Air meminta maaf sambil menyunggingkan senyuman.
pria itu menoleh ke arah Hanada, dia keluar dan memberi kode ke gadis itu agar mengikutinya. Hanada pun mengikuti Air dari belakang, mereka berjalan ke halaman Jaroga yang dipenuhi rumpun bambu.
"Aku senang Candrasa sudah sadar," Hanada tersenyum, perasaan khawatirnya menghilang dengan melihat keadaan Candrasa yang membaik.
Krak krak krak
Air berjalan menginjak beberapa potongan ranting yang patah dan berjatuhan, Air berhenti berjalan. "Candrasa bertanya soal pedang kemukus."
"Aku tahu, aku memberinya replika pedang itu sebagai hadiah!" Seru Hanada yang merasa senang karena Candrasa langsung mencari tahu tentang pedang yang dia berikan, sedangkan Air merasa khawatir karena sepertinya pria itu ingin sekali mendapatkan pedang utama untuk menghilangkan wabah di Amarata.
"Pedang itu berbahaya, menurut ayahku pedang itu adalah pedang terkutuk," Air berbicara seusai pengetahuannya.
"Terkutuk katamu?" Hanada mengerutkan dahi.
Air pun mengangguk, angin bertiup melewati mereka, anak rambut Hanada mengikuti arah angin itu. Sesaat, Air terpaku melihat kecantikan gadis itu.
"Dari mana kau dapat replika itu?" tanya Air.
"Dari ayahku, dia yang memberikan benda itu padaku!" jawab Hanada agak gugup.
"Ayahmu? Bagaimana mungkin dia mendapatkan itu?" Air terlihat tidak percaya, Hanada merasa bodoh karena hampir membongkar identitasnya sendiri.
Hanada hampir saja mengakui bahwa dirinya bukan rakyat biasa Nahdara melainkan Putri Kerajaan Nahdara. Dia lupa kalau Air ataupun Candrasa belum mengetahui identitas aslinya.
...KILAS BALIK...
Angin bertiup lembut, setelah beberapa tahun lamanya membangkitkan kerajaan itu kembali, akhirnya mereka mulai maju dalam setiap aspek kerajaan. Sejak peninggalan Raja sebelum-sebelumnya, mereka berusaha memperbaiki setiap hal yang kurang dari Hanada.
Saat itu, usia Hanada menginjak 10 tahun, Ayahnya Raja Nahda jatuh sakit karena rumor yang beredar selama 10 tahun lamanya. Rumor mengenai wabah yang menyerang Amarata. Wanita itu merasa sedih melihat penderitaan ayahnya, Dia ingin membuktikan bahwa rumor itu salah tapi mereka masih tidak punya bukti kuat untuk menyangkal rumor itu.
Munculah ide dari Hanada untuk mencari tahu lebih dalam mengenai penyebab rumor itu muncul dan mencari bukti langsung ke Amarata. Dia meminta restu dari ayahnya untuk pergi meninggalkan Nahdara dan pergi ke Akademi Sihir.
Saat memasuki Akademi Sihir, Hanada hanya menguasai ilmu sihir tingkat satu tapi dilengkapi dengan kemampuan Bela diri dan panah yang mumpuni. Kelak jika dia bisa menguasai ilmu sihir tingkat weda sudah dipastikan dia akan menjadi Ksatria wanita terhebat di Nahdara.
Ayahnya memberi pedang kecil itu untuk menjaganya, Raja Nahda menyampaikan pada Hanada bahwa pedang itu milik orang yang sangat dia kasihi, yang dia bahkan tidak tahu dimana keberadaannya.
Sejak saat itu Hanada tinggal di Amarata dan hidup bersama yang lain di Akademi Sihir. Hanada mulai memperdalam Ilmu Sihir dan Bela dirinya. Dia berjanji pada ayahnya bahwa dia akan menemukan bukti yang menunjukan Nahdara tidak berkaitan dengan wabah yang terjadi di Amarata.
...KILAS BALIK SELESAI...
~
Hanada menghela nafas panjang, dengan gugup dia berusaha mencari alasan pada Air, dia mencoba merangkai kata yang pas untuk berdalih pada pria itu.
"hehe maafkan aku, aku tidak ingat, itu sudah terjadi lama sekali jadi aku tidak tahu dari mana ayahku mendapatkannya." Hanada memalingkan wajahnya dari tatapan Air, dia memutuskan untuk kembali ke Asrama putri.
"Aku harus kembali, Guru Manta pasti mencariku!" Hanada menyeringai pada sahabatnya.
"Baiklah," jawab Air.
Air menatap Hanada yang berjalan menjauh darinya sampai gadis itu menghilang dari pandangan. Dia kembali ke Jaroga untuk menemui Candrasa.
tuk tuk tuk
Suara langkah kaki Air terdengar oleh Candrasa, Guru Wija sudah memeriksanya, sekarang sang pasien sedang duduk sambil bersandar ke bilik Jaroga. Dia masih mengatur nafas nya dengan pelan, badannya masih terasa sakit, belum lagi dia merasakan energi didalam tubuhnya yang sedang berputar seakan ingin di keluarkan.
Tapi tubuhnya masih lemah untuk menggunakan energi itu, Air masuk ke Jaroga lalu menghampiri Candrasa. Pemuda itupun mencari Hanada yang sudah tidak bersama Air.
"Dimana Hanada?" tanya Candrasa.
"Dia pergi ke Asrama, dia merasa senang melihatmu sudah membaik!" jawab Air.
Candrasa menaikan sudut bibirnya tersenyum, pipinya agak merah. Air pum menggoda pria itu dengan menyenggol bahunya. Candrasa langsung memasang mimik kesakitan.
"Hati-hati badanku masih sakit!" ringis Candrasa.
"Lemah!" ejek Air.
"Kya! Coba saja sana sendiri melawan tabir!" seru Candrasa.
"Baiklah, maaf-maaf." Air menyeringai.
Candrasa kini akan kembali ke asrama putra, karena energi itu dia pasti akan pulih dengan cepat. Air membantu Candrasa berjalan, sahabtanya itu sangat khawatir padanya, dia benar-benar pria yang loyal, sama seperti ayahnya Panglima Doha.
"Aku harus segera pulih dan mencari pedang kemukus itu!" seru Candrasa sambil menoleh ke arah Air yang sedang membantunya berjalan.
"Aku harus tahu dari mana Hanada mendapatkan pedang replika itu, mungkin Aku bisa mendapatkan petunjuk darinya!" Lanjut Candrasa yakin.
"Lebih baik kau pulihkan dirimu dahulu, jika tidak kau bisa saja terluka lebih parah!" ujar Air khawatir.
Candrasa setuju dengan yang Air sampaikan, dia harus segera pulih dan berlatih lebih sering agar dia bisa mengendalikan energi ibunya dengan sempurna. Setelah dia bisa mengendalikannya, dia akan meminta restu dari Raja Jira II untuk mencari pedang pusaka itu.
Pedang itu adalah satu-satunya kunci agar wabah dan penderitaan Amarata menghilang, Candrasa sudah siap dengan berbagai rintangan yang kemungkinan akan dia hadapi nantinya.
...****************...
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Sang
kalo dapat yg aslinya, yg replikanya boleh saya koleksi ya kak author 😁😁😁
2022-11-24
5