...PORTAL SHIELD...
...(sumber : google image)...
Candrasa pulang ke Akademi sihir bersama Air dan Guru Wija.
Sesampainya disana Guru Wija menatap Tabir pelindung dengan Khawatir.
"Tabir ini tidak akan bertahan lama," Kata Guru Wija sambil menoleh ke arah Air dan Candrasa.
"Maksud guru?" Candrasa masih kebingungan, padahal tabir ini adalah bukti Kekuatan yang dimiliki Ibunya.
"Karena Ibumu sudah tiada, Tabir ini akan semakin melemah" Guru Wija menepuk pundak Candrasa lalu berjalan melalui nya.
Air menatap Candrasa, Ekspresinya tidak bisa dibohongi. Dia terlihat masih terpukul atas kepergian ibu nya.
"Mari ke Asrama," Air mengajak Candrasa untuk pergi ke Asrama Pria.
Mereka memasuki Akademi Sihir, Lalu segera menuju Asrama Pria. Ditengah perjalanan, Hanada berlari menghampiri mereka.
"Kau baik-baik saja?" Hanada mengkhawatirkan Candrasa.
"Tentu tidak," Candrasa menatap Hanada datar.
"Maaf kan aku," Hanada mencoba menghirup udara disekitar nya, dia kehabisan nafas karena berlari mengejar Air dan Candrasa.
"Hanada, kembali ke Asrama Putri, Latihan memanah akan segera dimulai." Dari kejauhan terlihat Guru Manta yang berbicara kepada Hanada.
Huft guru, aku masih ingin bicara pada Candrasa.... Hanada membatin.
Candrasa tidak merespon apa-apa, dia berjalan melalui Hanada dan mendahului Air. Hanada melihat ke arah Air, Air memberikan kode agar Hanada bisa memberi Candrasa waktu. ini adalah momen tersulit bagi Candrasa , bahkan untuk Amarata, melepas kepergian Ibu Permaisuri yang mereka sayangi adalah hal mustahil.
Meninggalnya Permaisuri bagaikan kehilangan Cahaya Lentera yang paling terang. Permaisuri Dara adalah Jantung Amarata, karena kekuatan Ilmu sihir nya banyak hal telah di atasi. Seperti Tabir pelindung itu.
Candrasa pergi ke kamar tidur, dia mencoba untuk memejamkan matanya.
Matahari bahkan belum tepat di atas kepala, Air menemui Guru Wija,
Pria itu mengobrol dengan Guru Wija dan membicarakan kondisi Candrasa, Guru Wija mengerti akan hal itu, mereka harus membiarkannya untuk beberapa saat.
Candrasa kecil sangat manja terhadap ibunya, dia selalu memetik Bunga untuk dibawa pulang sebelum sampai di rumah. Bunga itu selalu untuk Ibunya.
"Ini waktu yang berat untuknya, kita biarkan saja Candrasa istirahat untuk sementara waktu."
Anggukan Air yang mengartikan dia menyetujui apa yang Guru Wija katakan,
Air kembali ke kamar, Dia melihat Candrasa duduk di tempat tidur sambil memegang pedang kecil.
"Dimana Guru Wija?"
Candrasa langsung berdiri siap untuk menemui Gurunya itu, Air berjalan mendahului Candrasa untuk mengantarnya menemui Guru Wija.
Guru Wija melihat Candrasa yang membawa Pedang Kemukus kecil.
"Apa yang akan kau lakukan dengan itu?"
"Pedang ini bercahaya tadi."
Candrasa menyerahkan pedang itu kepada Guru Wija, Cahaya meredup saat setelah Guru Wija memegangnya.
"Pedang kecil ini terbuat dari bahan utama Pedang Kemukus asli."
"Pedang ini bercahaya karena pedang ini telah memilihmu, Rupanya Ibumu memberikan Energi terakhirnya kepada mu Nak."
Candrasa masih memperhatikan ucapan Guru Wija dengan seksama.
begitupun dengan Air.
"Ibu memberiku energinya?"
"Ya, Jika kau mau membuktikannya dekatkan tangan mu ke tabir pelindung kita, telapak tanganmu akan bercahaya dan mengalirkan energi untuk memperkuat tabir sihir kita." Guru Wija tersenyum.
"Lalu, apa maksud Guru, pedang ini telah memilihku?"
"Pedang Kemukus adalah pedang sakti yang bisa mencegah datangnya malapetaka atau bahkan mengirim malapetaka itu sendiri, dulu pedang ini di buat oleh Raja yang sangat alim dan bijaksana bahkan dia membuat replika pedang kecil untuk putri semata wayangnya, yang sekarang kau pegang itu adalah replika yang dia buat. Tapi karena Godaan Ilmu Hitam , Raja yang Alim itu berubah menjadi Iblis bayangan, dia memporak porandakan negeri nya sendiri, sedangkan Putri nya berhasil lari dari kekacauan itu, tidak ada seorang pun yang tahu dimana dia sekarang."
Candrasa dan Air sangat antusias mendengar cerita menarik di balik pedang itu. Terpikirlah oleh Candrasa, Pedang itu mungkin bisa menghentikan wabah yang ada di Amarata.
"Dimana pedang itu sekarang Guru?"
"Tentu masih ada ditangan iblis bayangan itu."
"Dimana keberadaan Iblis bayangan itu?" Air bertanya setelah diam mendengarkan.
"Tidak ada yang tahu, mereka dibuat tidak terlihat, tapi yang ku dengar di Sebrang Hutan Utara sana ada sebuah bangunan di tengah laut yang dirumorkan menjadi tempat Iblis itu tinggal." Guru Wija menuangkan Secangkir teh untuk dia minum sendiri.
Candrasa belum berkomentar, dia sedang memikirkan bagaimana caranya dia bisa mencari dan mendapatkan pedang itu,
Bisa kah pedang itu menghentikan Wabah di Amarata? .... Batin Candrasa,
Dia melihat ke arah pedang kecil yang dipegang, saat ia menggenggamnya pedang itu langsung bercahaya lagi.
Dari mana Hanada mendapatkan pedang ini ? ..... itulah yang dipikir olehnya.
Candrasa, Air dan Guru Wija keluar untuk memulihkan Tabir pelindung.
Guru Tera yang melihat mereka bertiga langsung menghampiri mereka
"Ada apa?"
"Kau lihat saja!"
Guru Wija masih berjalan mendahului mereka. Semua orang yang berada diluar mulai memperhatikan.
Sesampainya di Tabir pelindung Guru Wija meminta Candrasa mendekat. Candrasa maju beberapa langkah untuk berada tepat didepan Tabir tidak kasat mata itu, hanya orang yang menguasai Ilmu sihir yang mampu melihatnya.
"Fokuslah!"
Candrasa mulai mendekatkan telapak tangannya ke tabir, dia memejamkan mata. Tabir itu mulai Bersinar terang, Cahaya pun keluar dari tangan Candrasa, dia mengalirkan energi ke tabir itu dan Tabir itu mulai terlihat menebal.
"Kenapa semakin panas," Candrasa merasa telapak tangannya kepanasan,
"Tetap Fokus!" Guru Wija meminta Candrasa untuk tetap Fokus, jika dia kehilangan Fokus dan menghentikan aliran itu, Tabir itu bisa saja menghancurkan tubuhnya.
"Tubuhku semakin Lemas Guru," Candrasa masih mengalirkan Energi sambil memejamkan matanya.
Aliran cahaya dari tangan Candrasa berhenti, Candrasa terpelanting sejauh 3 meter ke belakang. Ilmu sihirnya belum mampu menahan kekuatan Tabir itu, Air dan Guru Tera berlari meghampiri Candrasa yang terpelanting jauh, dia tidak sadarkan diri.
"Guru bagaimana ini?" Air bertanya kepada Guru Wija.
Guru Wija tersenyum lalu menoleh ke arah Air,
"Dia berhasil menggunakan Energi ibunya." Guru Wija tersenyum bangga.
"Bawa dia ke Jaroga untuk di obati, aku sendiri yang akan mengobatinya."
Semua orang yang melihat kejadian itu tercengang, begitupun Hanada.
kejadian tadi sungguh luar biasa, mereka semua terbelalak , kekuatan apa itu sebenarnya. Semua orang melihat ke Tabir pelindung yang semakin bercahaya dan tebal, Tabir itu terlihat lebih Indah.
Air dan Guru Tera membawa Candrasa ke Jaroga untuk di obati, Candrasa masih belum sadarkan diri, dia di baringkan di Dipan kayu yang ada diruangan itu.
Guru Wija membuka baju Candrasa, dia menyentuh perut pria itu, sumber energi tepat ada disana. Guru Wija bisa merasakan Energi itu berputar semakin cepat. Menandakan Energi yang diberikan ibunya telah menyatu dengan Energi yang dia miliki sebelumnya.
...****************...
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
🍭ͪ ͩ𝕸y💞🅰️nnyᥫ᭡🍁❣️
like lagi
2022-11-06
3
anggita
pedang kemukus..
2022-10-23
3
Optimuscrime 🦊
Candrasa anak kuat
2022-09-26
4