Bab 5 : Pedang Kemukus

...PORTAL SHIELD...

...(sumber : google image)...

Candrasa pulang ke Akademi sihir bersama Air dan Guru Wija.

Sesampainya disana Guru Wija menatap Tabir pelindung dengan Khawatir.

"Tabir ini tidak akan bertahan lama," Kata Guru Wija sambil menoleh ke arah Air dan Candrasa.

"Maksud guru?" Candrasa masih kebingungan, padahal tabir ini adalah bukti Kekuatan yang dimiliki Ibunya.

"Karena Ibumu sudah tiada, Tabir ini akan semakin melemah" Guru Wija menepuk pundak Candrasa lalu berjalan melalui nya.

Air menatap Candrasa, Ekspresinya tidak bisa dibohongi. Dia terlihat masih terpukul atas kepergian ibu nya.

"Mari ke Asrama," Air mengajak Candrasa untuk pergi ke Asrama Pria.

Mereka memasuki Akademi Sihir, Lalu segera menuju Asrama Pria. Ditengah perjalanan, Hanada berlari menghampiri mereka.

"Kau baik-baik saja?" Hanada mengkhawatirkan Candrasa.

"Tentu tidak," Candrasa menatap Hanada datar.

"Maaf kan aku," Hanada mencoba menghirup udara disekitar nya, dia kehabisan nafas karena berlari mengejar Air dan Candrasa.

"Hanada, kembali ke Asrama Putri, Latihan memanah akan segera dimulai." Dari kejauhan terlihat Guru Manta yang berbicara kepada Hanada.

Huft guru, aku masih ingin bicara pada Candrasa.... Hanada membatin.

Candrasa tidak merespon apa-apa, dia berjalan melalui Hanada dan mendahului Air. Hanada melihat ke arah Air, Air memberikan kode agar Hanada bisa memberi Candrasa waktu. ini adalah momen tersulit bagi Candrasa , bahkan untuk Amarata, melepas kepergian Ibu Permaisuri yang mereka sayangi adalah hal mustahil.

Meninggalnya Permaisuri bagaikan kehilangan Cahaya Lentera yang paling terang. Permaisuri Dara adalah Jantung Amarata, karena kekuatan Ilmu sihir nya banyak hal telah di atasi. Seperti Tabir pelindung itu.

Candrasa pergi ke kamar tidur, dia mencoba untuk memejamkan matanya.

Matahari bahkan belum tepat di atas kepala, Air menemui Guru Wija,

Pria itu mengobrol dengan Guru Wija dan membicarakan kondisi Candrasa, Guru Wija mengerti akan hal itu, mereka harus membiarkannya untuk beberapa saat.

Candrasa kecil sangat manja terhadap ibunya, dia selalu memetik Bunga untuk dibawa pulang sebelum sampai di rumah. Bunga itu selalu untuk Ibunya.

"Ini waktu yang berat untuknya, kita biarkan saja Candrasa istirahat untuk sementara waktu."

Anggukan Air yang mengartikan dia menyetujui apa yang Guru Wija katakan,

Air kembali ke kamar, Dia melihat Candrasa duduk di tempat tidur sambil memegang pedang kecil.

"Dimana Guru Wija?"

Candrasa langsung berdiri siap untuk menemui Gurunya itu, Air berjalan mendahului Candrasa untuk mengantarnya menemui Guru Wija.

Guru Wija melihat Candrasa yang membawa Pedang Kemukus kecil.

"Apa yang akan kau lakukan dengan itu?"

"Pedang ini bercahaya tadi."

Candrasa menyerahkan pedang itu kepada Guru Wija, Cahaya meredup saat setelah Guru Wija memegangnya.

"Pedang kecil ini terbuat dari bahan utama Pedang Kemukus asli."

"Pedang ini bercahaya karena pedang ini telah memilihmu, Rupanya Ibumu memberikan Energi terakhirnya kepada mu Nak."

Candrasa masih memperhatikan ucapan Guru Wija dengan seksama.

begitupun dengan Air.

"Ibu memberiku energinya?"

"Ya, Jika kau mau membuktikannya dekatkan tangan mu ke tabir pelindung kita, telapak tanganmu akan bercahaya dan mengalirkan energi untuk memperkuat tabir sihir kita." Guru Wija tersenyum.

"Lalu, apa maksud Guru, pedang ini telah memilihku?"

"Pedang Kemukus adalah pedang sakti yang bisa mencegah datangnya malapetaka atau bahkan mengirim malapetaka itu sendiri, dulu pedang ini di buat oleh Raja yang sangat alim dan bijaksana bahkan dia membuat replika pedang kecil untuk putri semata wayangnya, yang sekarang kau pegang itu adalah replika yang dia buat. Tapi karena Godaan Ilmu Hitam , Raja yang Alim itu berubah menjadi Iblis bayangan, dia memporak porandakan negeri nya sendiri, sedangkan Putri nya berhasil lari dari kekacauan itu, tidak ada seorang pun yang tahu dimana dia sekarang."

Candrasa dan Air sangat antusias mendengar cerita menarik di balik pedang itu. Terpikirlah oleh Candrasa, Pedang itu mungkin bisa menghentikan wabah yang ada di Amarata.

"Dimana pedang itu sekarang Guru?"

"Tentu masih ada ditangan iblis bayangan itu."

"Dimana keberadaan Iblis bayangan itu?" Air bertanya setelah diam mendengarkan.

"Tidak ada yang tahu, mereka dibuat tidak terlihat, tapi yang ku dengar di Sebrang Hutan Utara sana ada sebuah bangunan di tengah laut yang dirumorkan menjadi tempat Iblis itu tinggal." Guru Wija menuangkan Secangkir teh untuk dia minum sendiri.

Candrasa belum berkomentar, dia sedang memikirkan bagaimana caranya dia bisa mencari dan mendapatkan pedang itu,

Bisa kah pedang itu menghentikan Wabah di Amarata? .... Batin Candrasa,

Dia melihat ke arah pedang kecil yang dipegang, saat ia menggenggamnya pedang itu langsung bercahaya lagi.

Dari mana Hanada mendapatkan pedang ini ? ..... itulah yang dipikir olehnya.

Candrasa, Air dan Guru Wija keluar untuk memulihkan Tabir pelindung.

Guru Tera yang melihat mereka bertiga langsung menghampiri mereka

"Ada apa?"

"Kau lihat saja!"

Guru Wija masih berjalan mendahului mereka. Semua orang yang berada diluar mulai memperhatikan.

Sesampainya di Tabir pelindung Guru Wija meminta Candrasa mendekat. Candrasa maju beberapa langkah untuk berada tepat didepan Tabir tidak kasat mata itu, hanya orang yang menguasai Ilmu sihir yang mampu melihatnya.

"Fokuslah!"

Candrasa mulai mendekatkan telapak tangannya ke tabir, dia memejamkan mata. Tabir itu mulai Bersinar terang, Cahaya pun keluar dari tangan Candrasa, dia mengalirkan energi ke tabir itu dan Tabir itu mulai terlihat menebal.

"Kenapa semakin panas," Candrasa merasa telapak tangannya kepanasan,

"Tetap Fokus!" Guru Wija meminta Candrasa untuk tetap Fokus, jika dia kehilangan Fokus dan menghentikan aliran itu, Tabir itu bisa saja menghancurkan tubuhnya.

"Tubuhku semakin Lemas Guru," Candrasa masih mengalirkan Energi sambil memejamkan matanya.

Aliran cahaya dari tangan Candrasa berhenti, Candrasa terpelanting sejauh 3 meter ke belakang. Ilmu sihirnya belum mampu menahan kekuatan Tabir itu, Air dan Guru Tera berlari meghampiri Candrasa yang terpelanting jauh, dia tidak sadarkan diri.

"Guru bagaimana ini?" Air bertanya kepada Guru Wija.

Guru Wija tersenyum lalu menoleh ke arah Air,

"Dia berhasil menggunakan Energi ibunya." Guru Wija tersenyum bangga.

"Bawa dia ke Jaroga untuk di obati, aku sendiri yang akan mengobatinya."

Semua orang yang melihat kejadian itu tercengang, begitupun Hanada.

kejadian tadi sungguh luar biasa, mereka semua terbelalak , kekuatan apa itu sebenarnya. Semua orang melihat ke Tabir pelindung yang semakin bercahaya dan tebal, Tabir itu terlihat lebih Indah.

Air dan Guru Tera membawa Candrasa ke Jaroga untuk di obati, Candrasa masih belum sadarkan diri, dia di baringkan di Dipan kayu yang ada diruangan itu.

Guru Wija membuka baju Candrasa, dia menyentuh perut pria itu, sumber energi tepat ada disana. Guru Wija bisa merasakan Energi itu berputar semakin cepat. Menandakan Energi yang diberikan ibunya telah menyatu dengan Energi yang dia miliki sebelumnya.

...****************...

...****************...

Terpopuler

Comments

🍭ͪ ͩ𝕸y💞🅰️nnyᥫ᭡🍁❣️

🍭ͪ ͩ𝕸y💞🅰️nnyᥫ᭡🍁❣️

like lagi

2022-11-06

3

anggita

anggita

pedang kemukus..

2022-10-23

3

Optimuscrime 🦊

Optimuscrime 🦊

Candrasa anak kuat

2022-09-26

4

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Dibangunnya Akademi sihir
2 Bab 2 : Tingkatan Dasa
3 Bab 3 : Tingakatan Sata
4 Bab 4 : Permaisuri ku
5 Bab 5 : Pedang Kemukus
6 Bab 6 : Jaroga
7 Bab 7 : Hari ke-1 pencarian
8 Bab 8 : Tiga Ksatria
9 Bab 9 : kelaparan
10 Bab 10 : Rumah ditengah hutan
11 Bab 11 : Jebakan lagi
12 Bab 12 : Hutan Kelaparan
13 Bab 13 : Perbatasan Laut Utara
14 Bab 14 : Kondisi Vegetatif
15 Bab 15 : Menjemput Candrasa
16 Bab 16 : Penerus Kerajaan Iblis
17 Bab 17 : Seorang Putri
18 Bab 18 : Iblis bayangan
19 Bab 19 : Kakek ku.
20 Bab 20 : Kembalinya Candrasa.
21 Bab 21 : Pria berjubah hitam.
22 Bab 22 : kesejahteraan rakyat.
23 Bab 23 : Mencari pedang itu kembali.
24 Bab 24 : menolak perjodohan.
25 Bab 25 : Nahdara vs Brahma
26 Bba 26 : Black magic.
27 Bab 27 : 6 Iblis Bayangan
28 Bab 28 : Merebut Takhta.
29 Bab 29 : Penyerangan Nahdara.
30 Bab 30 : Kesatria Wanita.
31 Bab 31 : Pernikahan Paksa.
32 Bab 32 : Menyelamatkan Hanada.
33 Bab 33 : Misi penyelamatan
34 BAB 34 : Misi penyelamatan II
35 Bab 35 : Misi penyelamatan III
36 Bab 36 : Gudang senjata
37 Bab 37 : Kerasukan.
38 Bab 38 : Mundur
39 Bab 39 : Simbol Jiwa
40 Bab 40 : Rahasia besar
41 Bab 41 : Kejadian 60 tahun lalu
42 Bab 42 : Reinkarnasi Imoogi.
43 Bab 43 : Awal mula kutukan
44 Bab 44 : Hutan Azure
45 Bab 45 : Pedang Guru Wija
46 Bab 46 : kembali ke Akademi
47 Bab 47 : Musuh sebenarnya
48 Bab 48 : Pelatihan khusus
49 Bab 49 : Air vs Candrasa
50 Bab 50 : Kediaman Panglima Doha
51 Bab 51 : Rahasia
52 Bab 52 : Pertarungan resmi
53 Bab 53 : Berjalan di atas air
54 Bab 54 : penyempurnaan energi
55 Bab 55 : Lembaran yang kosong
56 Bab 56 : Misi baru akademi
57 Bab 57 : Ke perbatasan timur
58 Bab 58 : Darkmagus
Episodes

Updated 58 Episodes

1
Bab 1 : Dibangunnya Akademi sihir
2
Bab 2 : Tingkatan Dasa
3
Bab 3 : Tingakatan Sata
4
Bab 4 : Permaisuri ku
5
Bab 5 : Pedang Kemukus
6
Bab 6 : Jaroga
7
Bab 7 : Hari ke-1 pencarian
8
Bab 8 : Tiga Ksatria
9
Bab 9 : kelaparan
10
Bab 10 : Rumah ditengah hutan
11
Bab 11 : Jebakan lagi
12
Bab 12 : Hutan Kelaparan
13
Bab 13 : Perbatasan Laut Utara
14
Bab 14 : Kondisi Vegetatif
15
Bab 15 : Menjemput Candrasa
16
Bab 16 : Penerus Kerajaan Iblis
17
Bab 17 : Seorang Putri
18
Bab 18 : Iblis bayangan
19
Bab 19 : Kakek ku.
20
Bab 20 : Kembalinya Candrasa.
21
Bab 21 : Pria berjubah hitam.
22
Bab 22 : kesejahteraan rakyat.
23
Bab 23 : Mencari pedang itu kembali.
24
Bab 24 : menolak perjodohan.
25
Bab 25 : Nahdara vs Brahma
26
Bba 26 : Black magic.
27
Bab 27 : 6 Iblis Bayangan
28
Bab 28 : Merebut Takhta.
29
Bab 29 : Penyerangan Nahdara.
30
Bab 30 : Kesatria Wanita.
31
Bab 31 : Pernikahan Paksa.
32
Bab 32 : Menyelamatkan Hanada.
33
Bab 33 : Misi penyelamatan
34
BAB 34 : Misi penyelamatan II
35
Bab 35 : Misi penyelamatan III
36
Bab 36 : Gudang senjata
37
Bab 37 : Kerasukan.
38
Bab 38 : Mundur
39
Bab 39 : Simbol Jiwa
40
Bab 40 : Rahasia besar
41
Bab 41 : Kejadian 60 tahun lalu
42
Bab 42 : Reinkarnasi Imoogi.
43
Bab 43 : Awal mula kutukan
44
Bab 44 : Hutan Azure
45
Bab 45 : Pedang Guru Wija
46
Bab 46 : kembali ke Akademi
47
Bab 47 : Musuh sebenarnya
48
Bab 48 : Pelatihan khusus
49
Bab 49 : Air vs Candrasa
50
Bab 50 : Kediaman Panglima Doha
51
Bab 51 : Rahasia
52
Bab 52 : Pertarungan resmi
53
Bab 53 : Berjalan di atas air
54
Bab 54 : penyempurnaan energi
55
Bab 55 : Lembaran yang kosong
56
Bab 56 : Misi baru akademi
57
Bab 57 : Ke perbatasan timur
58
Bab 58 : Darkmagus

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!