Bab 4 : Permaisuri ku

Malam itu setelah pertunjukan bakat selesai, semua orang pergi ke rumah hiburan untuk merayakan ulang tahun Candrasa.

Candrasa dan Air datang paling akhir.

Semua temannya sudah berkumpul dan berpesta, sebenarnya Candrasa tidak terlalu suka berpesta.

tapi karena ini perayaan untuknya dia akan menghormati itu dengan meminum bersama teman dan guru nya.

"Selamat bertambah usia nak." Kata Guru Tera.

"Terimakasih guru." Jawab Candrasa sambil mengangkat gelas berisi miras,

Candrasa bergabung untuk formalitas saja, dia langsung keluar, lalu melihat para gadis dari asrama putri sedang ikut berpesta di taman.

"Candrasa, ikut aku!" Hanada tiba-tiba saja muncul dihadapannya, dia menarik tangan Candrasa lalu membawa Candrasa ke suatu tempat.

Hanada membawa Candrasa ke pepohonan yang rimbun, tepat di atasnya , bulan purnama menerangi mereka.

"Lihatlah, bulannya sangat cantik." Hanada menunjuk Bulan itu.

sedangkan Candrasa tetap terfokus pada Hanada.

"Ya, sangat cantik." Candrasa tersenyum.

"Aku punya sesuatu untukmu, kuno sih, tapi ini barang kesayanganku." Hanada tersenyum.

"itu adalah gambaran Pedang kemukus, Kau tahu pedang itu kan?" Tanya Hanada

"Aku pernah mendengarnya, tapi tidak tahu cerita lengkapnya." Candrasa memperhatikan Pedang kecil itu.

"Kalau begitu kau boleh menanyakannya pada Guru Wija, aku yakin dia tahu betul tentang itu." Hanada tersenyum ke arah Candrasa.

"Malam ulang tahun mu begitu sejuk, terasa damai." Hanada menghirup udara segar itu.

"Kau harus kembali ke dalam, kau bisa masuk angin." Kata Candrasa.

"Baiklah, semoga kau suka hadiah dari ku, aku masuk dulu." Hanada pergi meninggalkan Candrasa yang memperhatikannya sampai masuk rumah hiburan tadi.

Dia melihat pedang kecil itu lalu tersenyum.

"Indah sekali." Dia menaruhnya di kantong uang koin

Lalu kembali berjalan menuju ruangan lain di rumah Hiburan untuk mencari Air.

Candrasa melihat Air yang mabuk berat,

"Selamat bertambah tua sahabatku," Air berjalan sempoyongan.

"Bisakah kalian membawanya ke Asrama?" Candrasa meminta kepada teman yang lain.

"Tentu kami akan membawanya." Air di bopong oleh 2 orang lain dan dibawa pulang ke Asrama, Candrasa mengikuti nya dari belakang.

Saat sampai di Asrama, Candrasa melihat Guru Wija yang sedang menatap Tabir pelindung yang bercahaya.

"Selamat Malam Guru" Candrasa memberi salam.

"Tidak biasanya Tabir pelindung ini bercahaya." Guru Wija masih fokus menatap tabir yang berkilauan.

"Apa ada sesuatu?" Candrasa khawatir.

"Tabir ini dibuat oleh Ibu mu dan Aku," Guru Wija menatap Candrasa sambil tersenyum.

"Ibu?" Tanya Candrasa.

"Ya, Ibu mu adalah salah satu wanita terkuat di Amarata, dulu dia persis sepertimu, Dia mencapai tingkat tertinggi ilmu sihir dengan cepat" Guru Wija tersenyum sambil menceritakan soal Ibu Candrasa, yaitu Permaisuri Dara.

"Kau mendapat surat dari kerajaan." Guru Wija menyerahkan selembar surat,

Candrasa membukanya perlahan, surat itu berisi tentang Permaisuri Dara yang sakit , Candrasa di minta pulang oleh Ayah dan Ibunya.

Candrasa terbelalak, Dia menatap Guru Wija, sambil menahan air matanya.

"Ibu!"

"Pulang lah besok ke Kerajaan!" kata Guru Wija.

"Bolehkah aku pulang hari ini?" tatapan sedih dan khawatir terlihat jelas dari mata Candrasa.

"Tentu, tapi tidak ada yang bisa menemanimu." Guru Wija melihat Air di bopong kedua murid lain.

"Aku akan pulang sendiri, Aku pamit dulu guru."

Candrasa langsung pergi ke kandang Kuda di asrama. Dia menunggangi kuda miliknya . Lalu dengan cepat keluar dari Asrama menuju Kerajaan. Pria itu menyempatkan diri, memetik bunga cantik dari hutan yang ia lewati untuk dia berikan kepada ibu nya.

Lalu melanjutkan perjalanannya, 40 menit berlalu, Candrasa sampai di Istana utama Amarata, tempat Ayah dan Ibu nya tinggal. Semua orang memberi hormat pada Candrasa, dia langsung masuk dan berlari ke kamar ibunya.

Kasim membuka kan pintu, Candrasa melihat Ayahnya sedang menemani Ibunya yang terkulai lemas. "Ibu!" Candrasa menghampiri ibunya lalu bersimpuh dihadapannya, pemuda itu menangis.

"Anak ku, kenapa kau menangis?" Permaisuri Dara mengusap lembut pipi anak nya itu. Candrasa masih menangis,

"Candrasa, kendalikan emosi mu!" Perintah Ayahnya, Candrasa langsung menghapus air matanya.

"Aku punya sesuatu untuk mu." Candrasa memberi Ibunya bunga.

"Cantik sekali, Terimakasih, karena setiap kau pulang kau selalu membawakan ibu Bunga yang cantik, Ibu dengar Kau sudah mencapai Hwasu, selamat sayang dan selamat bertambah usia untuk mu." Permaisuri tersenyum menatap Candrasa.

"Boleh kah aku menemani Ibu malam ini?" Candrasa meminta izin ayahnya.

"Ya tentu," Jawab ayahnya.

TENGAH MALAM..

Candrasa sudah tertidur dengan posisi duduk menjaga ibunya, Permaisuri dara bangun lalu menatap Anaknya, dia merasa waktunya sudah tidak lama lagi.

Dia mengeluarkan seluruh sisa energi yang dia miliki, lalu mengusap kepala Candrasa, Dia memberikan sisa energi itu kepada Anaknya.

Candrasa terbangun setelah ibunya selesai.

Candrasa melihat ibunya tertidur dengan Tenang. Dia meraih tangan Ibunya yang masih di atas kepalanya, tapi kenapa tangannya terasa dingin sekali.

"Bu, Ibu!" Candrasa mencoba membangunkan ibunya dengan lembut,

"Perajurit!" Candrasa memanggil penjaga.,

Raja Jira II yang baru selesai mengobrol dengan Panglima perang langsung berlari menemui Candrasa sesaat mendengar Candrasa.

"Ada Apa?" Raja mendekat ke arah permaisurinya.

"Permaisuriku, Istriku!" Raja mencoba membangunkan istrinya.

Tapi dia tetap terlelap dengan wajah yang tersenyum.

Para pengawal langsung masuk dan memberi Hormat.

"Cepat panggilkan tabib kerajaan!" Raja memerintah sambil menangis.

Candrasa yang terkejut menangisi kepergian ibunya.

"Bu!" Candrasa duduk disamping tempat tidur.

Tabib kerajaan masuk, lalu memeriksa Ratu Dara.

"Saya mohon maaf, Ratu sudah tiada." Tabib menggelengkan kepala lalu menunduk.

"Apa maksudmu tiada?" Raja sangat terpukul, dia menangisi kepergian istrinya tercinta.

"Ratu Dara sudah wafat."

Candrasa dan Ayahnya menangis dalam diam, begitupun seluruh kerajaan yang menangisi kepergian Ratu mereka yang dikenal dermawan dan baik hati.

Ratu Dara tidak akan pernah terlupakan , Beliau adalah orang yang berhati lembut dan terkenal Paling Cantik di Amarata.

Candrasa masih dalam posisi yang sama.

Keesokan Harinya.....

Semua murid akademi sihir dan para rakyat menyaksikan pemakaman Ratu mereka. Semuanya mengenakan pakaian putih. Candrasa berdiri di samping ayahnya dan guru Wija. Dia menahan tangis atas kehilangan seorang Ibu yang sangat dia cintai dan hormati.

Guru Wija menatap Candrasa yang menunduk tidak kuat menyaksikan pemakaman Ibunya. Setelah pemakaman selesai, Raja terlihat murung, dia berdiri di jendela dekat dengan tempat tidur mendiang Ratu.

Candrasa menemui ayahnya,

"Dulu, Ibumu sering berdiri disini untuk melihat rakyat kita dari kejauhan, dia sangat peduli terhadap rakyat Amarata." Raja meneteskan air matanya.

Candrasa menghampiri ayahnya lalu memeluknya, Raja yang terkenal kuat dan gagah perkasa menyandarkan kepalanya di bahu anak semata wayangnya itu.

Dia kuat dan gagah karena ada permaisuri hebat yang mendampinginya.

"Bagaimana aku akan hidup tanpanya?" Raja masih menangis.

"Ibu pasti tidak mau melihat ayah sedih, Aku harus kembali ke Asrama untuk berlatih, aku akan membantu ayah untuk mengatasi masalah di Amarata." Candrasa berusaha tegar.

"Baiklah nak, kau benar, masih ada rakyat yang ibu mu cintai, yang harus kita perhatikan." Raja menghapus air matanya.

"Selamat untuk pencapaian ilmu mu!" Raja menepuk pundak Candrasa.

"Terimakasih Ayah, Aku pamit dulu."

Hari itu juga Candrasa kembali ke Asrama Putra bersama Air dan Guru Wija yang menunggunya.

...****************...

...****************...

Terpopuler

Comments

Optimuscrime 🦊

Optimuscrime 🦊

terimakasih ciel

2022-12-05

0

※⋆«▹Ran◃»⋆※

※⋆«▹Ran◃»⋆※

saya tandain dulu disini, baru baca segini, 😅

2022-12-05

3

🍭ͪ ͩ𝕸y💞🅰️nnyᥫ᭡🍁❣️

🍭ͪ ͩ𝕸y💞🅰️nnyᥫ᭡🍁❣️

visual pedangnya keren

2022-11-06

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Dibangunnya Akademi sihir
2 Bab 2 : Tingkatan Dasa
3 Bab 3 : Tingakatan Sata
4 Bab 4 : Permaisuri ku
5 Bab 5 : Pedang Kemukus
6 Bab 6 : Jaroga
7 Bab 7 : Hari ke-1 pencarian
8 Bab 8 : Tiga Ksatria
9 Bab 9 : kelaparan
10 Bab 10 : Rumah ditengah hutan
11 Bab 11 : Jebakan lagi
12 Bab 12 : Hutan Kelaparan
13 Bab 13 : Perbatasan Laut Utara
14 Bab 14 : Kondisi Vegetatif
15 Bab 15 : Menjemput Candrasa
16 Bab 16 : Penerus Kerajaan Iblis
17 Bab 17 : Seorang Putri
18 Bab 18 : Iblis bayangan
19 Bab 19 : Kakek ku.
20 Bab 20 : Kembalinya Candrasa.
21 Bab 21 : Pria berjubah hitam.
22 Bab 22 : kesejahteraan rakyat.
23 Bab 23 : Mencari pedang itu kembali.
24 Bab 24 : menolak perjodohan.
25 Bab 25 : Nahdara vs Brahma
26 Bba 26 : Black magic.
27 Bab 27 : 6 Iblis Bayangan
28 Bab 28 : Merebut Takhta.
29 Bab 29 : Penyerangan Nahdara.
30 Bab 30 : Kesatria Wanita.
31 Bab 31 : Pernikahan Paksa.
32 Bab 32 : Menyelamatkan Hanada.
33 Bab 33 : Misi penyelamatan
34 BAB 34 : Misi penyelamatan II
35 Bab 35 : Misi penyelamatan III
36 Bab 36 : Gudang senjata
37 Bab 37 : Kerasukan.
38 Bab 38 : Mundur
39 Bab 39 : Simbol Jiwa
40 Bab 40 : Rahasia besar
41 Bab 41 : Kejadian 60 tahun lalu
42 Bab 42 : Reinkarnasi Imoogi.
43 Bab 43 : Awal mula kutukan
44 Bab 44 : Hutan Azure
45 Bab 45 : Pedang Guru Wija
46 Bab 46 : kembali ke Akademi
47 Bab 47 : Musuh sebenarnya
48 Bab 48 : Pelatihan khusus
49 Bab 49 : Air vs Candrasa
50 Bab 50 : Kediaman Panglima Doha
51 Bab 51 : Rahasia
52 Bab 52 : Pertarungan resmi
53 Bab 53 : Berjalan di atas air
54 Bab 54 : penyempurnaan energi
55 Bab 55 : Lembaran yang kosong
56 Bab 56 : Misi baru akademi
57 Bab 57 : Ke perbatasan timur
58 Bab 58 : Darkmagus
Episodes

Updated 58 Episodes

1
Bab 1 : Dibangunnya Akademi sihir
2
Bab 2 : Tingkatan Dasa
3
Bab 3 : Tingakatan Sata
4
Bab 4 : Permaisuri ku
5
Bab 5 : Pedang Kemukus
6
Bab 6 : Jaroga
7
Bab 7 : Hari ke-1 pencarian
8
Bab 8 : Tiga Ksatria
9
Bab 9 : kelaparan
10
Bab 10 : Rumah ditengah hutan
11
Bab 11 : Jebakan lagi
12
Bab 12 : Hutan Kelaparan
13
Bab 13 : Perbatasan Laut Utara
14
Bab 14 : Kondisi Vegetatif
15
Bab 15 : Menjemput Candrasa
16
Bab 16 : Penerus Kerajaan Iblis
17
Bab 17 : Seorang Putri
18
Bab 18 : Iblis bayangan
19
Bab 19 : Kakek ku.
20
Bab 20 : Kembalinya Candrasa.
21
Bab 21 : Pria berjubah hitam.
22
Bab 22 : kesejahteraan rakyat.
23
Bab 23 : Mencari pedang itu kembali.
24
Bab 24 : menolak perjodohan.
25
Bab 25 : Nahdara vs Brahma
26
Bba 26 : Black magic.
27
Bab 27 : 6 Iblis Bayangan
28
Bab 28 : Merebut Takhta.
29
Bab 29 : Penyerangan Nahdara.
30
Bab 30 : Kesatria Wanita.
31
Bab 31 : Pernikahan Paksa.
32
Bab 32 : Menyelamatkan Hanada.
33
Bab 33 : Misi penyelamatan
34
BAB 34 : Misi penyelamatan II
35
Bab 35 : Misi penyelamatan III
36
Bab 36 : Gudang senjata
37
Bab 37 : Kerasukan.
38
Bab 38 : Mundur
39
Bab 39 : Simbol Jiwa
40
Bab 40 : Rahasia besar
41
Bab 41 : Kejadian 60 tahun lalu
42
Bab 42 : Reinkarnasi Imoogi.
43
Bab 43 : Awal mula kutukan
44
Bab 44 : Hutan Azure
45
Bab 45 : Pedang Guru Wija
46
Bab 46 : kembali ke Akademi
47
Bab 47 : Musuh sebenarnya
48
Bab 48 : Pelatihan khusus
49
Bab 49 : Air vs Candrasa
50
Bab 50 : Kediaman Panglima Doha
51
Bab 51 : Rahasia
52
Bab 52 : Pertarungan resmi
53
Bab 53 : Berjalan di atas air
54
Bab 54 : penyempurnaan energi
55
Bab 55 : Lembaran yang kosong
56
Bab 56 : Misi baru akademi
57
Bab 57 : Ke perbatasan timur
58
Bab 58 : Darkmagus

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!