Malam itu setelah pertunjukan bakat selesai, semua orang pergi ke rumah hiburan untuk merayakan ulang tahun Candrasa.
Candrasa dan Air datang paling akhir.
Semua temannya sudah berkumpul dan berpesta, sebenarnya Candrasa tidak terlalu suka berpesta.
tapi karena ini perayaan untuknya dia akan menghormati itu dengan meminum bersama teman dan guru nya.
"Selamat bertambah usia nak." Kata Guru Tera.
"Terimakasih guru." Jawab Candrasa sambil mengangkat gelas berisi miras,
Candrasa bergabung untuk formalitas saja, dia langsung keluar, lalu melihat para gadis dari asrama putri sedang ikut berpesta di taman.
"Candrasa, ikut aku!" Hanada tiba-tiba saja muncul dihadapannya, dia menarik tangan Candrasa lalu membawa Candrasa ke suatu tempat.
Hanada membawa Candrasa ke pepohonan yang rimbun, tepat di atasnya , bulan purnama menerangi mereka.
"Lihatlah, bulannya sangat cantik." Hanada menunjuk Bulan itu.
sedangkan Candrasa tetap terfokus pada Hanada.
"Ya, sangat cantik." Candrasa tersenyum.
"Aku punya sesuatu untukmu, kuno sih, tapi ini barang kesayanganku." Hanada tersenyum.
"itu adalah gambaran Pedang kemukus, Kau tahu pedang itu kan?" Tanya Hanada
"Aku pernah mendengarnya, tapi tidak tahu cerita lengkapnya." Candrasa memperhatikan Pedang kecil itu.
"Kalau begitu kau boleh menanyakannya pada Guru Wija, aku yakin dia tahu betul tentang itu." Hanada tersenyum ke arah Candrasa.
"Malam ulang tahun mu begitu sejuk, terasa damai." Hanada menghirup udara segar itu.
"Kau harus kembali ke dalam, kau bisa masuk angin." Kata Candrasa.
"Baiklah, semoga kau suka hadiah dari ku, aku masuk dulu." Hanada pergi meninggalkan Candrasa yang memperhatikannya sampai masuk rumah hiburan tadi.
Dia melihat pedang kecil itu lalu tersenyum.
"Indah sekali." Dia menaruhnya di kantong uang koin
Lalu kembali berjalan menuju ruangan lain di rumah Hiburan untuk mencari Air.
Candrasa melihat Air yang mabuk berat,
"Selamat bertambah tua sahabatku," Air berjalan sempoyongan.
"Bisakah kalian membawanya ke Asrama?" Candrasa meminta kepada teman yang lain.
"Tentu kami akan membawanya." Air di bopong oleh 2 orang lain dan dibawa pulang ke Asrama, Candrasa mengikuti nya dari belakang.
Saat sampai di Asrama, Candrasa melihat Guru Wija yang sedang menatap Tabir pelindung yang bercahaya.
"Selamat Malam Guru" Candrasa memberi salam.
"Tidak biasanya Tabir pelindung ini bercahaya." Guru Wija masih fokus menatap tabir yang berkilauan.
"Apa ada sesuatu?" Candrasa khawatir.
"Tabir ini dibuat oleh Ibu mu dan Aku," Guru Wija menatap Candrasa sambil tersenyum.
"Ibu?" Tanya Candrasa.
"Ya, Ibu mu adalah salah satu wanita terkuat di Amarata, dulu dia persis sepertimu, Dia mencapai tingkat tertinggi ilmu sihir dengan cepat" Guru Wija tersenyum sambil menceritakan soal Ibu Candrasa, yaitu Permaisuri Dara.
"Kau mendapat surat dari kerajaan." Guru Wija menyerahkan selembar surat,
Candrasa membukanya perlahan, surat itu berisi tentang Permaisuri Dara yang sakit , Candrasa di minta pulang oleh Ayah dan Ibunya.
Candrasa terbelalak, Dia menatap Guru Wija, sambil menahan air matanya.
"Ibu!"
"Pulang lah besok ke Kerajaan!" kata Guru Wija.
"Bolehkah aku pulang hari ini?" tatapan sedih dan khawatir terlihat jelas dari mata Candrasa.
"Tentu, tapi tidak ada yang bisa menemanimu." Guru Wija melihat Air di bopong kedua murid lain.
"Aku akan pulang sendiri, Aku pamit dulu guru."
Candrasa langsung pergi ke kandang Kuda di asrama. Dia menunggangi kuda miliknya . Lalu dengan cepat keluar dari Asrama menuju Kerajaan. Pria itu menyempatkan diri, memetik bunga cantik dari hutan yang ia lewati untuk dia berikan kepada ibu nya.
Lalu melanjutkan perjalanannya, 40 menit berlalu, Candrasa sampai di Istana utama Amarata, tempat Ayah dan Ibu nya tinggal. Semua orang memberi hormat pada Candrasa, dia langsung masuk dan berlari ke kamar ibunya.
Kasim membuka kan pintu, Candrasa melihat Ayahnya sedang menemani Ibunya yang terkulai lemas. "Ibu!" Candrasa menghampiri ibunya lalu bersimpuh dihadapannya, pemuda itu menangis.
"Anak ku, kenapa kau menangis?" Permaisuri Dara mengusap lembut pipi anak nya itu. Candrasa masih menangis,
"Candrasa, kendalikan emosi mu!" Perintah Ayahnya, Candrasa langsung menghapus air matanya.
"Aku punya sesuatu untuk mu." Candrasa memberi Ibunya bunga.
"Cantik sekali, Terimakasih, karena setiap kau pulang kau selalu membawakan ibu Bunga yang cantik, Ibu dengar Kau sudah mencapai Hwasu, selamat sayang dan selamat bertambah usia untuk mu." Permaisuri tersenyum menatap Candrasa.
"Boleh kah aku menemani Ibu malam ini?" Candrasa meminta izin ayahnya.
"Ya tentu," Jawab ayahnya.
TENGAH MALAM..
Candrasa sudah tertidur dengan posisi duduk menjaga ibunya, Permaisuri dara bangun lalu menatap Anaknya, dia merasa waktunya sudah tidak lama lagi.
Dia mengeluarkan seluruh sisa energi yang dia miliki, lalu mengusap kepala Candrasa, Dia memberikan sisa energi itu kepada Anaknya.
Candrasa terbangun setelah ibunya selesai.
Candrasa melihat ibunya tertidur dengan Tenang. Dia meraih tangan Ibunya yang masih di atas kepalanya, tapi kenapa tangannya terasa dingin sekali.
"Bu, Ibu!" Candrasa mencoba membangunkan ibunya dengan lembut,
"Perajurit!" Candrasa memanggil penjaga.,
Raja Jira II yang baru selesai mengobrol dengan Panglima perang langsung berlari menemui Candrasa sesaat mendengar Candrasa.
"Ada Apa?" Raja mendekat ke arah permaisurinya.
"Permaisuriku, Istriku!" Raja mencoba membangunkan istrinya.
Tapi dia tetap terlelap dengan wajah yang tersenyum.
Para pengawal langsung masuk dan memberi Hormat.
"Cepat panggilkan tabib kerajaan!" Raja memerintah sambil menangis.
Candrasa yang terkejut menangisi kepergian ibunya.
"Bu!" Candrasa duduk disamping tempat tidur.
Tabib kerajaan masuk, lalu memeriksa Ratu Dara.
"Saya mohon maaf, Ratu sudah tiada." Tabib menggelengkan kepala lalu menunduk.
"Apa maksudmu tiada?" Raja sangat terpukul, dia menangisi kepergian istrinya tercinta.
"Ratu Dara sudah wafat."
Candrasa dan Ayahnya menangis dalam diam, begitupun seluruh kerajaan yang menangisi kepergian Ratu mereka yang dikenal dermawan dan baik hati.
Ratu Dara tidak akan pernah terlupakan , Beliau adalah orang yang berhati lembut dan terkenal Paling Cantik di Amarata.
Candrasa masih dalam posisi yang sama.
Keesokan Harinya.....
Semua murid akademi sihir dan para rakyat menyaksikan pemakaman Ratu mereka. Semuanya mengenakan pakaian putih. Candrasa berdiri di samping ayahnya dan guru Wija. Dia menahan tangis atas kehilangan seorang Ibu yang sangat dia cintai dan hormati.
Guru Wija menatap Candrasa yang menunduk tidak kuat menyaksikan pemakaman Ibunya. Setelah pemakaman selesai, Raja terlihat murung, dia berdiri di jendela dekat dengan tempat tidur mendiang Ratu.
Candrasa menemui ayahnya,
"Dulu, Ibumu sering berdiri disini untuk melihat rakyat kita dari kejauhan, dia sangat peduli terhadap rakyat Amarata." Raja meneteskan air matanya.
Candrasa menghampiri ayahnya lalu memeluknya, Raja yang terkenal kuat dan gagah perkasa menyandarkan kepalanya di bahu anak semata wayangnya itu.
Dia kuat dan gagah karena ada permaisuri hebat yang mendampinginya.
"Bagaimana aku akan hidup tanpanya?" Raja masih menangis.
"Ibu pasti tidak mau melihat ayah sedih, Aku harus kembali ke Asrama untuk berlatih, aku akan membantu ayah untuk mengatasi masalah di Amarata." Candrasa berusaha tegar.
"Baiklah nak, kau benar, masih ada rakyat yang ibu mu cintai, yang harus kita perhatikan." Raja menghapus air matanya.
"Selamat untuk pencapaian ilmu mu!" Raja menepuk pundak Candrasa.
"Terimakasih Ayah, Aku pamit dulu."
Hari itu juga Candrasa kembali ke Asrama Putra bersama Air dan Guru Wija yang menunggunya.
...****************...
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Optimuscrime 🦊
terimakasih ciel
2022-12-05
0
※⋆«▹Ran◃»⋆※
saya tandain dulu disini, baru baca segini, 😅
2022-12-05
3
🍭ͪ ͩ𝕸y💞🅰️nnyᥫ᭡🍁❣️
visual pedangnya keren
2022-11-06
2