...8 TAHUN KEMUDIAN...
Kini, usia Candrasa sudah beranjak 18 tahun. Dia dan Air sama-sama sudah melewati masa remajanya. Semakin hari, ilmu mereka bertambah tingkatan. Candrasa sudah mencapai tingkatan Sata, dimana dia bisa mengendalikan energi dengan sangat baik.
Candrasa bisa mengendalikan energi besar dalam tubuhnya. Energi itu bisa bergerak tanpa kendali dan mencelakai orang lain serta diri sendiri jika belum mencapai Ilmu Sata. Karena itulah seorang penyihir Maharaja harus sampai tahapan Sata untuk bisa menggunakan kekuatannya.
Kadang pula mereka berlatih sendiri di luar akademi bersama salah seorang murid wanita, bernama Hanada. Gadis itu adalah wanita yang mereka temui delapan tahun lalu. Kini, mereka bertiga bersahabat bagaikan kepompong.
~
Hanada sedang berjalan di pasar tradisional membeli bahan makanan untuk stok di dapur asrama wanita. Dia melihat kesekeliling, mencari bahan makanan yang akan dia beli. Hanada berhenti di pedagang wortel.
"Aku akan membeli ini," Dia menggunakan koin kerajaan Amarata untuk membayarnya.
"Kerajaan Nahdara kau terkutuk! kalian penyebab wabah ini melanda!" Seorang pria dengan kondisi kulit tubuh dan wajah yang sangat mengerikan mengutuk Kerajaan Nahdara sambil menunjuk ke arah langit.
Semua orang di sana hanya memperhatikan pria itu, Hanada menunduk, dia langsung pergi dari situ dan melanjutkan perjalananya.
Di tengah jalan, Hanada dihadang oleh sekelompok bandit berbau miras.
"Hai nona manis," Ucap salah seorang bandit itu.
Hanada mundur beberapa langkah, menjauhi mereka. Hanada bisa saja melawan mereka, tapi tingkat sihir Hanada belum mencapai yamg tertinggi sehingga dia dilarang keras untuk menggunakan ilmunya di luar Akademi.
Hanada berbalik berniat kabur, tapi tangan pria itu dengan cepat menarik pakaian Hanada.
"Berani sekali seorang Nahdara ke wilayah sini!" Pria itu berbisik di telinga Hanada.
"Lepaskan aku!" Hanada memberontak.
"Mari kita bersenang-senang, atau aku akan memberitahu semua orang bahwa seorang Nahdara ada di Amarata hahaha." Pria itu mengancam Hanada dengan melingkarkan lengannya di leher Hanada.
"Persetan dengan mu!" Hanada memukul wajah pria itu, Dia berhasil keluar dari jeratan pria itu dengan ilmu bela diri yang dia miliki.
Kemudian seseorang dengan sigap berlari menghadang preman itu dan berdiri di hadapan Hanada,
"Candrasa!" Kata Hanada.
"Menjauh darinya!" Kata Candrasa kepada preman itu, tidak lama , Air yang selalu berada di samping Candrasa pun bergabung dengannya.
"Kau yang jangan ikut campur!" Para bandit itu maju mendekati Candrasa.
Candrasa menoleh ke arah Air lalu mengangguk menandakan siap menyerang.
Candrasa dan Air maju untuk menyerang para bandit itu, para durjana itu pun balik menyerang Candrasa dan Air. Pertarungan mereka tidak bisa dihindari, Hanada yang ada di belakangnya, mundur menjauh, dia hanya memperhatikan Candrasa dan Air bertarung.
Dia melihat ke arah kakinya, dia memakai sepatu berlambang Nahdara. Pantas saja bandit-bandit itu mengetahui bahwa dia adalah orang Nahdara.
Bandit itu mengeluarkan pedangnya, Candrasa berhasil menahan serangan itu lalu mengalirkan energi ke pedangnya.
Para bandit itu pun terjungkal.
"Sialan... Siapa kau? Apa kalian komplotan kerajaan terkutuk itu?" Ketua bandit itu menunjuk Candrasa.
"Jaga ucapanmu!" Air dengan sigap mengayunkan pedangnya ke leher pria itu.
"Berani-berani nya kau menyerang Putra Mahkota dengan pedangmu!" Air maju selangkah.
"Putra Mahkota? Kenapa seorang Putra Mahkota melindungi orang Nahdara? Mereka adalah orang-orang keji yang membuat rakyat mu seperti ini!" Salah seorang bandit itu berteriak.
Air tidak segan untuk mengibaskan pedangnya, tapi Candrasa langsung menghadang Air untuk tidak melakukan itu. Dia mengangguk lalu mundur selangkah dari Candrasa, "Tidak apa-apa!" Candrasa meyakinkan Air.
"Seorang Amarata tidak boleh menuduh tanpa bukti!" Kata Candrasa.
"Wanita itu jelas-jelas memakai sepatu lambang Nahdara!" Penjahat itu menunjuk sepatu Hanada yang sedang berdiri di belakang Candrasa.
"Mana? Aku hanya memakai sepatu polos ini, mungkin penglihatan mu yang buram!" Hanada mengangkat sebelah alisnya.
"Aku yakin dia memakai sepatu berlambang Nahdara tadi !" Bandit itu tetap bersikeras.
"Minta maaf lah padanya!" Kata Candrasa kepada bandit itu.
"Minta maaf !" Tegas Air.
"Baiklah, maafkan aku nona karena udah salah paham," Para pmbandit itu menunduk, mereka tidak bisa melawan Putra Mahkota. Tapi, mereka berjanji jika ada kesempatan dan melihat wanita itu lagi, mereka akan menyerangnya.
"Jika aku mendengar kalian mengacau di sini lagi, akan kupastikan kau dikirim ke penjara!!" Air mengancam. Namun Candrasa yang tenang menepuk pundak Air. Mereka berbalik dan berjalan bersama Hanada,
Mereka langsung pergi meninggalkan tempat itu.
"Sudah kubilang, berpencar adalah ide yang buruk." kata Air.
"Aku menyarankan itu agar tugas kita cepat selesai." Hanada mendengus tapi ada rasa sesal di hatinya.
"Seharusnya kau tidak memakai sepatu itu! " Candrasa menatap Hanada.
"Sepatuku yang lain basah, jadi aku terpaksa memakai sepatu itu, aku terpaksa membeli sepatu ini diam-diam dengan uang yang guru Manta berikan." Hanada menunduk, dia pergi membeli sepatu secara diam-diam saat Air dan Candrasa bertarung.
"Aku akan menggantinya," Candrasa mengeluarkan satu kantong uang koin lalu memberikannya kepada Hanada.
"Terimakasih," Hanada tersenyum,
Air menepuk pundak Candrasa, "umtunglah kita punya Putra Mahkota hahaha." Air menggodanya.
Candrasa berjalan lebih dulu dengan pipi yang memerah, "Ya kau benar, Candrasa adalah kartu keberuntungan kita." Hanada dan Air tertawa, pria yang ada di depan mereka hanya bisa menyeringai menahan tawanya.
Mereka berjalan kembali ke asrama, saat berada di sana semua orang berkumpul menyaksikan sesuatu. Candrasa menatap tajam ke arah Guru Wija yang berjalan masuk ke dalam.,
"Ada apa?" Candrasa bertanya pada Juna.
"Iblis bayangan mencoba merusak tabir pelindung asrama." Kata Juna.
Candrasa dan Air saling bertukar pandangan, sedangkan Hanada bergabung bersama teman wanitanya dari kejauhan , mereka juga sedang menyaksikan apa yang terjadi.
Guru Wija menghampiri semuanya dan menenangkan semua orang. "Semuanya kembali ke dalam dan berlatih, kalian tidak perlu cemas , kalian sudah melihat sendiri kekuatan tabir sihir kita." Guru Wija membentangkan tangannya. Semuanya berangsur kembali ke tempat pelatihan, menyisakan Candrasa dan Air.
"Ada apa Guru?" Candrasa berjalan beriringan dengan Guru Wija dan Air.
"Iblis bayangan itu menerobos masuk." Kata Guru Wija dengan wajah khawatir.
"Untuk apa?" Tanya Air,
"Aku tidak tahu, tapi setelah beratus tahun, Aku baru melihat pasukan iblis itu mengganggu Manusia lagi, pasti ada sesuatu yang telah terjadi." Guru Wija menerangkan.
"Apa kita dalam bahaya?" Tanya Candrasa.
"Kau tidak perlu khawatir, kita akan segera menemukan penyebabnya." Guru Wija berjalan dengan tangan kebelakang.
"Mari kita berlatih." Guru Wija mengajak Candrasa dan Air kembali ke tempat pelatihan sihir.
Setelah sampai, Candrasa diminta menunjukan perkembangan ilmu sihirnya,
"Ayahmu mengumumkan pesta untuk ulang tahunmu besok." Kata Guru Wija.
"Ayah?" Tanya Candrasa.
"Iya, Yang Mulia mengirim surat padaku, meminta semua orang menikmati pestanya di rumah hiburan." Guru Wija tersenyum.
"Apa itu tanda bahwa kami sudah boleh minum??" Air sangat bersemangat.
Guru Wija mengangguk. Air pun sangat senang, dia melirik Candrasa lalu tersenyum, ada pesan tersirat dibalik lirikannya. Pangeran maju menunjukan bakatnya, Semua guru dan murid pria berkumpul untuk menunjukan perkembang Ilmu mereka.
Candrasa menjadi murid pertama yang menunjukan perkembangan sihir dan pedang, melakukan ancang-ancang sebelum menunjukan bakat bela diri dan pedangnya.
Dia memegang dua pedang lalu mengayunkan pedangnya dengan sangat apik dan luar biasa. Pemuda itu mengalirkan energi ke pedangnya dan menjadikan senjata itu bersinar dengan sihir.
BRAK
Pecahan batu besar berhamburan di sana, pria itu berhasil membelah batu besar di depan dengan kemampuan sihirnya. Semua orang terkejut dan menyoraki Candrasa, Air dan teman yang lain langsung menghampiri pria itu untuk mengucapkan selamat.
"Kau luar biasa, kau sudah mencapai tingkat Panca!" Kata Air lalu memeluk Candrasa, pemuda itu hanya tersenyum tipis lalu mengucapkan terimakasih atas ucapan selamat semua orang.
Guru Wija menghampiri Candrasa, "Selamat, ini hari yang penuh kebahagiaan, aku akan segera mengirim pesan ke Istana." Guru Wija dan yang lain berbangga melihat perkembangan itu.
Dilanjut dengan menunjukan perkembangan Air. dia sama hebatnya sekarang dia sudah mencapai Ilmu tingkat 3 Sata.
...****************...
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Optimuscrime 🦊
11 12 ya kak Andin🤣🤣🤣🤣
2022-11-26
2
⍣⃝ꉣꉣAndini Andana
oooh terjawab sudah disini baby.. 😄😄
2022-11-26
4
⍣⃝ꉣꉣAndini Andana
apa ada tanda khusus kalau dia orang Nahdara? kok bandit2 itu bisa tau..
2022-11-26
4