Bab 3 : Tingakatan Sata

...8 TAHUN KEMUDIAN...

Kini, usia Candrasa sudah beranjak 18 tahun. Dia dan Air sama-sama sudah melewati masa remajanya. Semakin hari, ilmu mereka bertambah tingkatan. Candrasa sudah mencapai tingkatan Sata, dimana dia bisa mengendalikan energi dengan sangat baik.

Candrasa bisa mengendalikan energi besar dalam tubuhnya. Energi itu bisa bergerak tanpa kendali dan mencelakai orang lain serta diri sendiri jika belum mencapai Ilmu Sata. Karena itulah seorang penyihir Maharaja harus sampai tahapan Sata untuk bisa menggunakan kekuatannya.

Kadang pula mereka berlatih sendiri di luar akademi bersama salah seorang murid wanita, bernama Hanada. Gadis itu adalah wanita yang mereka temui delapan tahun lalu. Kini, mereka bertiga bersahabat bagaikan kepompong.

~

Hanada sedang berjalan di pasar tradisional membeli bahan makanan untuk stok di dapur asrama wanita. Dia melihat kesekeliling, mencari bahan makanan yang akan dia beli. Hanada berhenti di pedagang wortel.

"Aku akan membeli ini," Dia menggunakan koin kerajaan Amarata untuk membayarnya.

"Kerajaan Nahdara kau terkutuk! kalian penyebab wabah ini melanda!" Seorang pria dengan kondisi kulit tubuh dan wajah yang sangat mengerikan mengutuk Kerajaan Nahdara sambil menunjuk ke arah langit.

Semua orang di sana hanya memperhatikan pria itu, Hanada menunduk, dia langsung pergi dari situ dan melanjutkan perjalananya.

Di tengah jalan, Hanada dihadang oleh sekelompok bandit berbau miras.

"Hai nona manis," Ucap salah seorang bandit itu.

Hanada mundur beberapa langkah, menjauhi mereka. Hanada bisa saja melawan mereka, tapi tingkat sihir Hanada belum mencapai yamg tertinggi sehingga dia dilarang keras untuk menggunakan ilmunya di luar Akademi.

Hanada berbalik berniat kabur, tapi tangan pria itu dengan cepat menarik pakaian Hanada.

"Berani sekali seorang Nahdara ke wilayah sini!" Pria itu berbisik di telinga Hanada.

"Lepaskan aku!" Hanada memberontak.

"Mari kita bersenang-senang, atau aku akan memberitahu semua orang bahwa seorang Nahdara ada di Amarata hahaha." Pria itu mengancam Hanada dengan melingkarkan lengannya di leher Hanada.

"Persetan dengan mu!" Hanada memukul wajah pria itu, Dia berhasil keluar dari jeratan pria itu dengan ilmu bela diri yang dia miliki.

Kemudian seseorang dengan sigap berlari menghadang preman itu dan berdiri di hadapan Hanada,

"Candrasa!" Kata Hanada.

"Menjauh darinya!" Kata Candrasa kepada preman itu, tidak lama , Air yang selalu berada di samping Candrasa pun bergabung dengannya.

"Kau yang jangan ikut campur!" Para bandit itu maju mendekati Candrasa.

Candrasa menoleh ke arah Air lalu mengangguk menandakan siap menyerang.

Candrasa dan Air maju untuk menyerang para bandit itu, para durjana itu pun balik menyerang Candrasa dan Air. Pertarungan mereka tidak bisa dihindari, Hanada yang ada di belakangnya, mundur menjauh, dia hanya memperhatikan Candrasa dan Air bertarung.

Dia melihat ke arah kakinya, dia memakai sepatu berlambang Nahdara. Pantas saja bandit-bandit itu mengetahui bahwa dia adalah orang Nahdara.

Bandit itu mengeluarkan pedangnya, Candrasa berhasil menahan serangan itu lalu mengalirkan energi ke pedangnya.

Para bandit itu pun terjungkal.

"Sialan... Siapa kau? Apa kalian komplotan kerajaan terkutuk itu?" Ketua bandit itu menunjuk Candrasa.

"Jaga ucapanmu!" Air dengan sigap mengayunkan pedangnya ke leher pria itu.

"Berani-berani nya kau menyerang Putra Mahkota dengan pedangmu!" Air maju selangkah.

"Putra Mahkota? Kenapa seorang Putra Mahkota melindungi orang Nahdara? Mereka adalah orang-orang keji yang membuat rakyat mu seperti ini!" Salah seorang bandit itu berteriak.

Air tidak segan untuk mengibaskan pedangnya, tapi Candrasa langsung menghadang Air untuk tidak melakukan itu. Dia mengangguk lalu mundur selangkah dari Candrasa, "Tidak apa-apa!" Candrasa meyakinkan Air.

"Seorang Amarata tidak boleh menuduh tanpa bukti!" Kata Candrasa.

"Wanita itu jelas-jelas memakai sepatu lambang Nahdara!" Penjahat itu menunjuk sepatu Hanada yang sedang berdiri di belakang Candrasa.

"Mana? Aku hanya memakai sepatu polos ini, mungkin penglihatan mu yang buram!" Hanada mengangkat sebelah alisnya.

"Aku yakin dia memakai sepatu berlambang Nahdara tadi !" Bandit itu tetap bersikeras.

"Minta maaf lah padanya!" Kata Candrasa kepada bandit itu.

"Minta maaf !" Tegas Air.

"Baiklah, maafkan aku nona karena udah salah paham," Para pmbandit itu menunduk, mereka tidak bisa melawan Putra Mahkota. Tapi, mereka berjanji jika ada kesempatan dan melihat wanita itu lagi, mereka akan menyerangnya.

"Jika aku mendengar kalian mengacau di sini lagi, akan kupastikan kau dikirim ke penjara!!" Air mengancam. Namun Candrasa yang tenang menepuk pundak Air. Mereka berbalik dan berjalan bersama Hanada,

Mereka langsung pergi meninggalkan tempat itu.

"Sudah kubilang, berpencar adalah ide yang buruk." kata Air.

"Aku menyarankan itu agar tugas kita cepat selesai." Hanada mendengus tapi ada rasa sesal di hatinya.

"Seharusnya kau tidak memakai sepatu itu! " Candrasa menatap Hanada.

"Sepatuku yang lain basah, jadi aku terpaksa memakai sepatu itu, aku terpaksa membeli sepatu ini diam-diam dengan uang yang guru Manta berikan." Hanada menunduk, dia pergi membeli sepatu secara diam-diam saat Air dan Candrasa bertarung.

"Aku akan menggantinya," Candrasa mengeluarkan satu kantong uang koin lalu memberikannya kepada Hanada.

"Terimakasih," Hanada tersenyum,

Air menepuk pundak Candrasa, "umtunglah kita punya Putra Mahkota hahaha." Air menggodanya.

Candrasa berjalan lebih dulu dengan pipi yang memerah, "Ya kau benar, Candrasa adalah kartu keberuntungan kita." Hanada dan Air tertawa, pria yang ada di depan mereka hanya bisa menyeringai menahan tawanya.

Mereka berjalan kembali ke asrama, saat berada di sana semua orang berkumpul menyaksikan sesuatu. Candrasa menatap tajam ke arah Guru Wija yang berjalan masuk ke dalam.,

"Ada apa?" Candrasa bertanya pada Juna.

"Iblis bayangan mencoba merusak tabir pelindung asrama." Kata Juna.

Candrasa dan Air saling bertukar pandangan, sedangkan Hanada bergabung bersama teman wanitanya dari kejauhan , mereka juga sedang menyaksikan apa yang terjadi.

Guru Wija menghampiri semuanya dan menenangkan semua orang. "Semuanya kembali ke dalam dan berlatih, kalian tidak perlu cemas , kalian sudah melihat sendiri kekuatan tabir sihir kita." Guru Wija membentangkan tangannya. Semuanya berangsur kembali ke tempat pelatihan, menyisakan Candrasa dan Air.

"Ada apa Guru?" Candrasa berjalan beriringan dengan Guru Wija dan Air.

"Iblis bayangan itu menerobos masuk." Kata Guru Wija dengan wajah khawatir.

"Untuk apa?" Tanya Air,

"Aku tidak tahu, tapi setelah beratus tahun, Aku baru melihat pasukan iblis itu mengganggu Manusia lagi, pasti ada sesuatu yang telah terjadi." Guru Wija menerangkan.

"Apa kita dalam bahaya?" Tanya Candrasa.

"Kau tidak perlu khawatir, kita akan segera menemukan penyebabnya." Guru Wija berjalan dengan tangan kebelakang.

"Mari kita berlatih." Guru Wija mengajak Candrasa dan Air kembali ke tempat pelatihan sihir.

Setelah sampai, Candrasa diminta menunjukan perkembangan ilmu sihirnya,

"Ayahmu mengumumkan pesta untuk ulang tahunmu besok." Kata Guru Wija.

"Ayah?" Tanya Candrasa.

"Iya, Yang Mulia mengirim surat padaku, meminta semua orang menikmati pestanya di rumah hiburan." Guru Wija tersenyum.

"Apa itu tanda bahwa kami sudah boleh minum??" Air sangat bersemangat.

Guru Wija mengangguk. Air pun sangat senang, dia melirik Candrasa lalu tersenyum, ada pesan tersirat dibalik lirikannya. Pangeran maju menunjukan bakatnya, Semua guru dan murid pria berkumpul untuk menunjukan perkembang Ilmu mereka.

Candrasa menjadi murid pertama yang menunjukan perkembangan sihir dan pedang, melakukan ancang-ancang sebelum menunjukan bakat bela diri dan pedangnya.

Dia memegang dua pedang lalu mengayunkan pedangnya dengan sangat apik dan luar biasa. Pemuda itu mengalirkan energi ke pedangnya dan menjadikan senjata itu bersinar dengan sihir.

BRAK

Pecahan batu besar berhamburan di sana, pria itu berhasil membelah batu besar di depan dengan kemampuan sihirnya. Semua orang terkejut dan menyoraki Candrasa, Air dan teman yang lain langsung menghampiri pria itu untuk mengucapkan selamat.

"Kau luar biasa, kau sudah mencapai tingkat Panca!" Kata Air lalu memeluk Candrasa, pemuda itu hanya tersenyum tipis lalu mengucapkan terimakasih atas ucapan selamat semua orang.

Guru Wija menghampiri Candrasa, "Selamat, ini hari yang penuh kebahagiaan, aku akan segera mengirim pesan ke Istana." Guru Wija dan yang lain berbangga melihat perkembangan itu.

Dilanjut dengan menunjukan perkembangan Air. dia sama hebatnya sekarang dia sudah mencapai Ilmu tingkat 3 Sata.

...****************...

...****************...

Terpopuler

Comments

Optimuscrime 🦊

Optimuscrime 🦊

11 12 ya kak Andin🤣🤣🤣🤣

2022-11-26

2

⍣⃝ꉣꉣAndini Andana

⍣⃝ꉣꉣAndini Andana

oooh terjawab sudah disini baby.. 😄😄

2022-11-26

4

⍣⃝ꉣꉣAndini Andana

⍣⃝ꉣꉣAndini Andana

apa ada tanda khusus kalau dia orang Nahdara? kok bandit2 itu bisa tau..

2022-11-26

4

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Dibangunnya Akademi sihir
2 Bab 2 : Tingkatan Dasa
3 Bab 3 : Tingakatan Sata
4 Bab 4 : Permaisuri ku
5 Bab 5 : Pedang Kemukus
6 Bab 6 : Jaroga
7 Bab 7 : Hari ke-1 pencarian
8 Bab 8 : Tiga Ksatria
9 Bab 9 : kelaparan
10 Bab 10 : Rumah ditengah hutan
11 Bab 11 : Jebakan lagi
12 Bab 12 : Hutan Kelaparan
13 Bab 13 : Perbatasan Laut Utara
14 Bab 14 : Kondisi Vegetatif
15 Bab 15 : Menjemput Candrasa
16 Bab 16 : Penerus Kerajaan Iblis
17 Bab 17 : Seorang Putri
18 Bab 18 : Iblis bayangan
19 Bab 19 : Kakek ku.
20 Bab 20 : Kembalinya Candrasa.
21 Bab 21 : Pria berjubah hitam.
22 Bab 22 : kesejahteraan rakyat.
23 Bab 23 : Mencari pedang itu kembali.
24 Bab 24 : menolak perjodohan.
25 Bab 25 : Nahdara vs Brahma
26 Bba 26 : Black magic.
27 Bab 27 : 6 Iblis Bayangan
28 Bab 28 : Merebut Takhta.
29 Bab 29 : Penyerangan Nahdara.
30 Bab 30 : Kesatria Wanita.
31 Bab 31 : Pernikahan Paksa.
32 Bab 32 : Menyelamatkan Hanada.
33 Bab 33 : Misi penyelamatan
34 BAB 34 : Misi penyelamatan II
35 Bab 35 : Misi penyelamatan III
36 Bab 36 : Gudang senjata
37 Bab 37 : Kerasukan.
38 Bab 38 : Mundur
39 Bab 39 : Simbol Jiwa
40 Bab 40 : Rahasia besar
41 Bab 41 : Kejadian 60 tahun lalu
42 Bab 42 : Reinkarnasi Imoogi.
43 Bab 43 : Awal mula kutukan
44 Bab 44 : Hutan Azure
45 Bab 45 : Pedang Guru Wija
46 Bab 46 : kembali ke Akademi
47 Bab 47 : Musuh sebenarnya
48 Bab 48 : Pelatihan khusus
49 Bab 49 : Air vs Candrasa
50 Bab 50 : Kediaman Panglima Doha
51 Bab 51 : Rahasia
52 Bab 52 : Pertarungan resmi
53 Bab 53 : Berjalan di atas air
54 Bab 54 : penyempurnaan energi
55 Bab 55 : Lembaran yang kosong
56 Bab 56 : Misi baru akademi
57 Bab 57 : Ke perbatasan timur
58 Bab 58 : Darkmagus
Episodes

Updated 58 Episodes

1
Bab 1 : Dibangunnya Akademi sihir
2
Bab 2 : Tingkatan Dasa
3
Bab 3 : Tingakatan Sata
4
Bab 4 : Permaisuri ku
5
Bab 5 : Pedang Kemukus
6
Bab 6 : Jaroga
7
Bab 7 : Hari ke-1 pencarian
8
Bab 8 : Tiga Ksatria
9
Bab 9 : kelaparan
10
Bab 10 : Rumah ditengah hutan
11
Bab 11 : Jebakan lagi
12
Bab 12 : Hutan Kelaparan
13
Bab 13 : Perbatasan Laut Utara
14
Bab 14 : Kondisi Vegetatif
15
Bab 15 : Menjemput Candrasa
16
Bab 16 : Penerus Kerajaan Iblis
17
Bab 17 : Seorang Putri
18
Bab 18 : Iblis bayangan
19
Bab 19 : Kakek ku.
20
Bab 20 : Kembalinya Candrasa.
21
Bab 21 : Pria berjubah hitam.
22
Bab 22 : kesejahteraan rakyat.
23
Bab 23 : Mencari pedang itu kembali.
24
Bab 24 : menolak perjodohan.
25
Bab 25 : Nahdara vs Brahma
26
Bba 26 : Black magic.
27
Bab 27 : 6 Iblis Bayangan
28
Bab 28 : Merebut Takhta.
29
Bab 29 : Penyerangan Nahdara.
30
Bab 30 : Kesatria Wanita.
31
Bab 31 : Pernikahan Paksa.
32
Bab 32 : Menyelamatkan Hanada.
33
Bab 33 : Misi penyelamatan
34
BAB 34 : Misi penyelamatan II
35
Bab 35 : Misi penyelamatan III
36
Bab 36 : Gudang senjata
37
Bab 37 : Kerasukan.
38
Bab 38 : Mundur
39
Bab 39 : Simbol Jiwa
40
Bab 40 : Rahasia besar
41
Bab 41 : Kejadian 60 tahun lalu
42
Bab 42 : Reinkarnasi Imoogi.
43
Bab 43 : Awal mula kutukan
44
Bab 44 : Hutan Azure
45
Bab 45 : Pedang Guru Wija
46
Bab 46 : kembali ke Akademi
47
Bab 47 : Musuh sebenarnya
48
Bab 48 : Pelatihan khusus
49
Bab 49 : Air vs Candrasa
50
Bab 50 : Kediaman Panglima Doha
51
Bab 51 : Rahasia
52
Bab 52 : Pertarungan resmi
53
Bab 53 : Berjalan di atas air
54
Bab 54 : penyempurnaan energi
55
Bab 55 : Lembaran yang kosong
56
Bab 56 : Misi baru akademi
57
Bab 57 : Ke perbatasan timur
58
Bab 58 : Darkmagus

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!