Di Madriga, terdapat 4 tingkatan ilmu yang mereka ketahui. Ilmu ini akan bisa dipelajari setelah pintu energi dalam tubuh terbuka.
Tidak ada pintu Energi berarti tidak ada ilmu, 4 tingkatan itu adalah:
1. Tingkatan Nawa,
Tingkatan ini adalah suatu teknik penguasaan untuk bisa mengumpulkan energi air di dalam tubuh. Penyihir pemula harus menguasai tahapan pertama ini sebagai permulaan.
Di mana pada tahap ini, mereka bisa menguasai gerakan cepat. Setelah mencapai tingkatan ini setiap gerakkan yang dilakukan akan terasa ringan.
Tingkatan ini, harus dipelajari dengan cara teknik bernafas yang baik. Setiap para penyihir punya teknik nafas yang berbeda.
2. Tingkatan Dasa,
Selanjutnya ada Dasa yang merupakan teknik untuk mendapatkan kekuatan dari elemen yang telah terkumpul. Dalam tahapan ini, penyihir harus bisa mengalirkan energi keluar. Jika telah menguasai tahapan ini, maka seorang penyihir bisa menghunus pedang yang dikunci dengan ilmu sihir. (Pedang Kemukus).
Tahap ini, mereka mulai mengalirkan energi dari dalam tubuh ke telapak tangan. Biasa digunakan sebagai penyembuhan orang yang terluka maupun racun yang tidak ada obatnya.
Cara mempelajarinya, dengan mempusatkan titik energi ke telapak tangan. Sebelum mencapai ini para penyihir harus menguasai teknik pernafasan.
3. Tingkatan Sata,
Kemudian ada tingkat Sata yang merupakan teknik pengendalian. Energi bisa balik menyerangnya jika tidak bisa mengendalikannya.
Pada tingkatan ini, mereka dapat mengalirkan energi ke sebuah senjata, contohnya : Pedang, panah, apapun yang menjadi senjata mereka.
Ditingkatan ini juga, berarti mereka sudah mulai bertahap menjalarkan setiap energi keseluruh tubuh. Tapi energi tetap keluar pada telapak tangan. Tidak bisa keluar dari anggota tubuh lain.
4. Tingkatan Panca,
Tingkatan paling tinggi, untuk saat ini yang mereka pelajari dan ketahui. Pada tingkatan ini, Panca biasanya dikuasai oleh penyihir yang sudah melegenda. Penyihir dapat mengalirkan setiap energi ke seluruh anggota tubuh. Apabila memfokuskan ke seluruh titik anggota tubuh, maka energi ini akan keluar dari titik-titik yang difokuskan.
Tingkatan ini juga, berarti mereka sudah menguasai ilmu meringakan tubuh yang dapat membuat mereka berjalan di atas air.
Energi pada tingkatan Panca dapat difokuskan ke satu titik.
Contoh : Pusat titik fokus di telapak Kaki, sehingga mereka bisa menopang berat tubuh mereka untuk berdiri pada ranting pohon maupun permukaan air.
Setiap tingkatan ini, bisa mempelajari Elemen, yang terdiri dari empat. Yaitu, Elemen Air, api, angin dan tanah.
Elemen itu bisa dikuasai sesuai tingkatan yang mereka miliki.
Contoh : Seorang penyihir Panca apabila sudah bisa menguasai elemen api, maka dia bisa menjalarkan elemen itu ke seluruh tubuh. Karena pada tingkatan panca, penyihir sudah dapat memfokuskan energi ke seluruh tubuh mereka. Jadi, elemen api bisa keluar dari seluruh anggota tubuhnya. Tidak hanya pada telapak tangan saja.
Untuk menguasai elemen, mereka harus memiliki unsur alami yang ada pada tubuh mereka.
...AKADEMI SIHIR...
Bangunan kuno yang ada di Akademi sihir itu seolah menatap Candrasa dengan hening. Indahnya pemandangan di Akademi sering membuatnya lupa pulang kerumah.
Candrasa kini sudah berusia 10 tahun, Pelatihan hari ini untuk Candrasa dan temannya yang sudah menguasai Nawa adalah Ilmu Dasa.
Ilmu tingkat kedua ini sangat penting untuk kesempurnaan sihir mereka. Kali ini Guru Wija yang langsung membimbing mereka, hanya ada 30 orang dari murid yang berhasil lulus menguasai Nawa. Sisanya masih berjuang menguasai Nawa dengan benar.
Dalam tahapan ini, penyihir harus bisa mengalirkan energi keluar. Jika telah menguasai tahapan ini, maka seorang penyihir bisa menghunus pedang yang dikunci dengan ilmu sihir.
"Aku akan tunjukan," Guru Wija menadahkan tangannya sambil di pertontonkan pada murid Akademi.
Terlihat suatu cahaya biru yang di rasa adalah energi dari tubuh guru Wija menjalar dari lengannya sampai ke telapak tangan.
Dalam tahapan ini, penyihir harus bisa mengalirkan energi keluar. Jika telah menguasai tahapan ini, maka seorang penyihir bisa menghunus pedang yang dikunci dengan ilmu sihir.
"Setelah energi berputar dengan baik, kalian dapat merasakan energi itu bisa kalian alirkan ke titip telapak tangan ini." Guru Wija menoleh ke arah telapak tangannya yang mengeluarkan energi.
"Lalu, alirkan energi ini ke pedang kalian!" Guru Wija dengan talaten mengalirkan energi ke pedang yang dia miliki.
Dan pedang itupun menjadi berkilau karena energi yang tadi dia alirkan sudah menyatu dengan pedang sihir itu.
Candrasa dan temannya yang lain kini mulai mencoba.
Pemuda itu memfokuskan titik pusat energi ke telapak tangannya. Beberapa kali energi itu terlihat keluar tapi padam lagi. Dia tidak menyerah, dia terus mencobanya sampai berhasil.
Setelah percobaan ke lima, akhirnya Candrasa mampu mengalirkan energinya ke pedang itu, kini dia mengayunkan pedangnya dengan gembira, pedang itu bersinar terang.
Air menyeringai dan bahagia melihat sahabatnya berhasil, dia pun tidak mau kalah dan mencoba hal itu. Setelah lima belas kali percobaan akhirnya Air pun berhasil. Kedua pria itu saling memeluk satu sama lain, guru Wija menyeringai bangga melihat mereka berdua.
"Setelah kalian menguasai Dasa, kalian harus terus melatihnya agar energi yang di keluarkan terkendali dan tidak berbalik menyerang kalian ataupun membuat kekacauan!" Seru Guru wija.
Air dan Candrasa pun mengangguk. 2 dari 30 orang hari itu langsung berhasil melakukannya, sisanya akan terus mencoba berlatih sendiri setiap hari.
Setelah latihan selesai, Candrasa dan guru Wija pun berjalan beriringan.
"Kau anak yang berbakat," Guru Wija menepuk pundak Candrasa, Candrasa hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Dia tumbuh menjadi anak yang tidak banyak bicara, tapi kemampuannya tidak bisa diragukan.
Air datang dengan pedang ditangannya, Dia memberi salam kepada Candrasa dan Guru Wija. Di luar itu mereka bersahabat baik dan bersikap santai layaknya rekan.
"Baiklah Guru, kami akan kembali ke Asrama, terimakasih banyak atad pelatihan hari ini." imbuh Candrasa sembari memberi hormat kepada Gurunya diikuti oleh Air. setelah guru Wija mengangguk keduanya pergi dari sana.
Air mendekatkan tubuhnya ke Candrasa, "Aku harus pergi ke rumah hiburan cusak." Bisik Air, Candrasa pun menatapnya tajam.
"Untuk apa kau kesana?"
"Tenang saja aku tidak akan melakukan apapun, aku hanya mengantar makanan untuk Guru Raga. " Air tersenyum ke arah Candrasa.
"Sedang apa Guru Raga di sana?" Tanya Candrasa.
"Aku tidak tahu," mereka kembali ke Asrama Pria, dari kejauhan terlihat para murid wanita yang sedang berlatih pedang. Air dan Candrasa meluangkan waktunya untuk memperhatikan mereka, kemudian pandangan Candrasa terpusat ke salah seorang dari mereka.
"Siapa dia?" Candrasa memperhatikan Gadis itu dari kejauhan.
"Dia murid baru, kudengar dia adalah rakyat Nahdara yang kabur untuk mempelajari ilmu sihir." Air berbisik pada Candrasa, mereka memperhatikan setiap gerakannya yang indah. Liukannya saat memainkan pedang begiru terlihat sempurna.
Mengetahui Candrasa dan Air memperhatikan mereka, para wanita lain yang sedang berlatih jadi hilang fokus. Mereka mencoba mendapatkan perhatian keduanya dengan melambaikan tangan pada dua pria itu. Kecuali, wanita tadi tentunya.
Bulu kuduk Candrasa dan Air langsung berdiri. Mereka terlihat tidak biasa dengan hal itu. Kemudian, mereka pun melanjutkan perjalanan nya ke Asrama Putra dan mengabaikan para wanita tadi. Mereka bertemu dengan kepala asrama wanita bernama Guru Manta.
Sambil melihat para gadis berlatih, Candrasa dan Air memerhatikan gerak gerik mereka yang lugas. Tak lama. Suara dari seorang guru yang hampir setengah abad itu menghampiri keduanya.
"Selamat siang Pangeran," Guru itu memberi hormat kepada Candrasa, Candrasa pun balik memberinya salam.
Gadis yang Candrasa perhatikan sebelumnya, kini berjalan menghampiri mereka. Caranya berjalan jauh dari kata elok, tapi kenapa dedaunan yang dilewatinya berjoget seakan menyambut kedatangan wanita itu. Gadis itu memberi hormat kepada gurunya.
"Salam Guru," Kata gadis itu. Candrasa dan Air tertegun saat melihatnya secara dekat.
"Hanada, Perkenalkan ini Putra Mahkota Amarata dan Air." Guru Manta memperkenalkan kedua pemuda itu.
"Salam Pangeran dan Tuan Muda," Hanada menunduk.
"Salam, kalau begitu kami akan kembali ke Asrama," Candrasa merasa gugup setelah mendapat sapaan dari gadis itu, dia pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya untuk ke asrama bersama Air.
Mereka berjalan santai sampai ke asrama, lalu bergabung dengan rekan seperguruan yang lain.
"Kau lihat murid baru itu? Parasnya sangat cantik, terlihat seperti dewi dari kayangan." Juna dengan mata berbinar mengobrol bersama yang lain. Kemudian, Candrasa dan Air pun menghampiri mereka,
"Salam Pangeran," kata orang-orang itu.
"Kalian sedang membicarakan apa?" Tanya Air sambil menyeringai ke arah temannya.
"Murid baru di asrama putri itu, kau sudah melihatnya kan kemarin? Aku tidak percaya bahwa dia hanya rakyat biasa." Juna Melihat ke arah teman-temannya.
"Itu bisa saja terjadi, jika dia bukan rakyat biasa sudah pasti para pengawal Nahdara sudah memboyongnya pulang, buktinya tidak ada satupun dari mereka yang datang kesini." Ucap salah seorang lainnya dengan lugas.
"Perempuan Nahdara memang terkenal cantik-cantik bukan?" Air menepuk pundak Juna.
Guru Bela diri Tera menghampiri mereka, dia pun menjewer telinga Juna. "Tugasmu di sini belajar Ilmu Sihir dan Pedang, kenapa kau malah membicarakan seorang gadis huh?"
"Aduh ampun guru, kami hanya mengobrol saja," Juna beralasan.
"Lagi pula kalian masih anak-anak, contohlah Putra Mahkota kita. Dia tidak banyak tingkah, maka nya ilmu nya cepat naik bertahap. Kalian baru saja sampai tingkat satu itupun masih dalam pengawasan, tapi sudah membicarakan seorang gadis. Cepat sekarang pergi latihan lagi!" Guru Tera menatap mereka tajam.
Mereka langsung bubar dan pergi untuk latihan, Guru Tera menyapa Putra Mahkota dengan senyuman. Ekspresinya berubah seketika saat melihat Candrasa.
"Salam Pangeran," Guru Tera tersenyum.
"Salam guru, kau tidak harus mencaci mereka seperti itu, mereka hanya mengobrol." Kata Putra Mahkota Candrasa.
"Aku terkesima denganmu yang bijaksana, mereka harus banyak belajar dari mu. Jika tidak diawasi, mereka pasti hanya bermain-main. Padahal Yang Mulia Raja Jira II sudah menyediakan tempat ini secara sukarela." Guru Tera, memutarkan badannya untuk menunjukan tempat disekelilingnya,
Air dan Candrasa menunduk menahan tawa mereka, "Baiklah lakukanlah sesuai tugasmu, aku pamit dulu. Aku dan Air harus kembali ke asrama." Candrasa memberi salam kepada gurunya lalu mulai melanjutkan perjalanan kesana.
Sesampainya di asrama... Candrasa dan Air masuk ke ruangan dengan bilik kayu yang kokoh, kemudian mereka pun beristirahat di sana.
"Semua orang sangat mengagumi Putra Mahkota kita." Air mengganti menaruh pedangnya di samping temapt tidur. Sedangkan Candrasa merebahkan tubuhnya di tempat tidur nya sendiri.
"Kalau begitu, aku ke Cusak dulu." Air kembali pergi setelah menaruh barangnya di kamar. Sedangkan Candrasa menatap langit-langit sembari mengingat wajah wanita yang baru saja dia temui tadi.
Setiap kamar di Asrama terdapat dua tempat tidur, di isi oleh dua orang. Untuk fasilitas asrama, semuanya mendapat hak yang rata. Bahkan Candrasa tidak mendapatkan fasilitas spesial apapun. Di dalam Akademi Sihir Maharaja semua nya berstatus sebagai murid.
...****************...
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Rizky Maulana
ilustrasinya bagus
2022-12-08
1
Rizky Maulana
keren
2022-12-08
1
TK
tulisannya rapi 👍
2022-11-07
2