Mata Kivia mulai terpejam menikmati setiap bait yang mengalun lembut dalam lagu ini. “Lagunya bagus, gue suka.”
Kiev tersenyum tipis memandangi Kivia. “Iya, gue juga suka.”
Kembali senyap. Sebab lalu lintas yang lancar dan kecepatan mobil Kiev yang stabil menit demi menit terus berjalan, hingga kemudian mereka mulai memasuki daerah tujuan Kivia.
“Yang mana rumahnya? Di pinggir jalan aja?”
“Iya, di pinggir jalan aja.” Kivia menatap kertas kecil berisikan alamat lengkap tempat tujuannya. “Bener kan kita?”
“Iya bener, nih. Nomor rumahnya udah urut,” kata Kiev sambil melihat nomor-nomor rumah yang dilewatinya. Kiev tampak terkesima dengan rumah-rumah besar yang ada di kanan-kiri jalan. Bukan hanya besar, tapi arsitektur deretan rumah itu juga begitu indah.
“Kiev-Kiev-Kiev, stop.” Kivia panik bukan kepalang. Beberapa meter di depan mereka, ada 3 buah van yang dikenalnya di luar kepala.
“Kiev, kayaknya kita harus putar balik. Tempat tujuan gue udah ketahuan.” Kivia mencengkram bahu Kiev. Tangannya sampai gemetar karena rasa takut.
“Oke-oke.” Tanpa protes, Kiev dengan tanggap menjalankan mobilnya untuk putar arah dan keluar dari area itu.
Celakanya, salah satu mata tajam pasukan Tirex melihat mobil Kiev, dan ia tahu persis plat nomor mobil itu adalah mobil yang sama dengan mobil mencurigakan yang ada di lampu merah. Pria botak nan kekar itu lantas memerintahkan anak buahnya untuk melakukan pengejaran.
“Kalian tunggu di sini. Awasi wanita ini.” Tunjuknya pada seorang wanita tua yang terus meronta dalam sekapan anak buahnya. Kemudian ia bersama puluhan jongos-jongosnya itu keluar dan melompat dalam van yang langsung melesat dengan gila.
Di sisi lain, Kivia menggigit bibir dengan perasaan sangat cemas. Berapa kali dia menoleh ke arah belakang. “Perasaan gue nggak enak, Kiev.”
“Tenang, Ya. Tenang. Tarik napas, keluarkan. Tarik napas ... keluarkaaan.” Kiev berusaha menenangkan Kivia sekaligus dirinya sendiri.
Waktu-waktu darurat pun tiba, Kiev dan Kivia dapat melihat dua buah van di belakang mereka. “Kita diikutin.”
“Aduuuh. Mati gueee, Kieeev. Matiii!” jerit Kivia histeris.
Kiev menggeleng kuat. “Belum, lo belum mati, Yaaa!”
“Hwaaa, maafin gue, Kiev. Gue nggak tau bakal begini akhirnyaaa!” racau Kivia yang panik tingkat nasional.
Kiev menambah laju mobilnya. Baru kali ini ia menjelma sebagai pembalap di jalanan. “Buseeet, gue bisa ikutan casting Fast Furious kalau gini ceritanyaaa!”
“Apaan tuuuh?!” tanya Kivia dengan nada frustrasi. Tangannya kini menggenggam kuat bagian tepi jok yang ia duduki.
“Nggak bisa jelasin sekarang, Yaaaa. Intinya film balapaaan!” seru Kiev sambil menghapus keringat dingin yang melintas di jidatnya.
Perasaan keduanya campur aduk. Bunyi dua mobil besar di belakang itu benar-benar membuat nyali mereka ciut.
“Sekarang lo bisa jelasin siapa merekaaa? Selain pasukan tireeex? Mereka orang jahat yang sesungguhnya mau jual ginjal lo apa gimana, Yaaa?!”
Kivia mengacak rambutnya. “Mereka itu anak buah bokap gueee. Tapi gue nggak mauuu sama mereka!”
“Kenapa woooy?!” tanya Kiev tidak santai.
“Gue baru aja kabur dari perjodohan gue yang ke 12!”
Kiev langsung terbatuk, keduanya membelalak. “Whaaat? Seriuuus lo?!”
“Iyaaaa. Basi banget kan? Gue masih tujuh belas tahun dan ini bukan zaman Siti Nurbaya lagiii. Tapi bokap gue entah kenapa ***** banget jodohin gueee. Gue nggak mau nikah sekarang, Kiev. Gue nggak mauuu! Gue nggak bisa bayangin gue jadi istri om-om kayak Datuk Maringgih!” seru Kivia, hampir menangis dia.
Kiev mencoba mencerna permasalahan yang ada. “Lo nggak bisa nolak dengan baik-baik gitu ke bokap lo?!”
“Ya kalau bisa nolak dengan damai aman sentosa mah gue nggak pakai acara kabur-kaburan dan dikejar-kejar kayak gini, Kiev Bhagaskaraaa!”
“Ya iya bener juga yaaak!”
Karena panik beribu panik, keduanya dari tadi bicara dengan nada ngegas. Berseru sampai menjerit.
Tensi semakin meningkat ketika ternyata satu dari mobil besar itu berhasil membalap Kiev dan Kivia. Makian terdengar dari luar menodai telinga keduanya. Kiev semakin terhimpit ketika mobil komplotan yang lainnya itu bermain-main menabrak bagian belakang mobilnya.
“Yaa, siap-siap. Berdoa yang banyaaak!” Kiev memberi aba-aba.
Belum sempat dan mungkin tidak akan pernah siap, jantung Kivia makin berpacu cepat ketika Kiev membelokkan mobilnya keluar dari badan jalan dan meluncur tak terkendali ke daerah ilalang-ilalang yang menjulang.
*Kedua remaja itu berteriak histeris seiring gerak mobil yang membelah belukar ilalang ini. Sungguh, kedatangan Rembulan Kivianisya mengaktifkan genre* action dalam kehidupan Kiev Bhagaskara.
Kiev menginjak rem kuat-kuat, menimbulkan bunyi decitan dan berhenti tepat di pinggir aliran sung ai landai yang dipenuhi bebatuan besar. Kedua insan di dalam mobil itu menghela napas bersamaan dan buru-buru keluar. Kivia langsung duduk bertumpu lutut dan muntah habis-habisan. Sebagai sohib (baru) siaga, Kiev langsung merapikan rambut Kivia ke arah belakang dan memijat tengkuk gadis itu.
“Gimana, Ya? Udah mendingan?” Kiev mengulurkan botol air mineral pada Kivia yang langsung berkumur-kumur.
Kiev lalu membantu Kivia berdiri. Gadis itu menyandarkan tubuh pada bagian depan mobil. “Thanks, Kiev.”
“Lo masih kuat lari?” tanya Kiev memastikan.
Gadis di depannya itu langsung mengangguk. “Gue kuat kok, tapi mobil lo gimana?”
“Nanti bisa diurus belakangan.” Dengan gerakan tergesa Kiev melepas jasnya dan menyampirkan jas berwarna biru dongker itu pada bahu Kivia. “Pake ini, dress lo nggak mendukung buat lari-larian.”
Kivia menuruti permintaan Kiev dengan segera mengenakan jas itu dan mengaitkan satu kancingnya. Rambut Kivia yang menggantung di bawah leher ikut sembunyi dalam balutan jas milik Kiev.
Tak menunggu waktu lagi, Kiev lantas meraih jemari Kivia, meninggalkan padang ilalang itu dan mereka berdua lari di sepanjang tepian sungai.
Kiev menyipitkan mata, hanya cahaya bulan yang menyinari langkah kaki mereka saat ini. Matanya menangkap sebuah tempat yang bisa dijadikan markas persembunyian. “Kita naik ke sana.”
Suara derap-derap langkah kaki yang terdengar brutal jauh dari belakang sana membuat Kiev dan Kivia dilanda rasa panik berlebih. Pasukan tirex memang benar-benar ahli dalam urusan seperti ini. Sosok mereka belum terlihat saja sudah berhasil membuat target terintimidasi. Apalagi jika sosok-sosok menakutkan itu menampakkan diri.
*Kivia terpaksa melepas high* heels pemberian Kiev dan menentengnya di satu tangan. Mereka kembali berlari sekuat tenaga. Kedua remaja itu jatuh bangun berlari, bergantian menopang satu sama lain. Medan yang tak terduga, kadang menurun kadang menanjak, berbatu dan rumput-rumput liar yang menerpa permukaan kulit.
“Ayo, Ya. Naik.” Kiev yang sudah lebih dulu ada di atas mengulurkan tangannya.
Kivia menyambut tangan Kiev dan naik ke atas jalan beraspal meski tak ada lampu yang menerangi jalanan. Tenaga mereka hampir terkuras habis. Kivia merasa lututnya tak mampu lagi bertahan.
Tak jauh di depan mereka, terdapat sebuah bangunan kecil dari bata yang menjulang, mirip benteng pertahanan zaman dulu. Tersamarkan dengan pohon besar dan tanaman merambat. Tanpa banyak pikir, Kiev dan Kivia memutuskan untuk bersembunyi di sana. Keduanya meluruh, duduk berselonjor dengan punggung yang tersandar pada tembok kusam itu.
Napas mereka tersengal. Keringat yang tercucur berlebihan dan jantung yang perlu dikendalikan agar kembali berdetak secara normal.
“Thanks banget, Kiev. Gue nggak tau harus gimana lagi ngungkapin rasa maaf dan terima kasih buat lo untuk hari ini.”
“Gue juga. Seharusnya gue nggak ajak lo ke prom. Gue salah, Ya. Maafin gue,” tutur Kiev dengan rasa menyesal yang teramat sangat.
Kivia menggelengkan kepalanya. “Nggak, Kiev. Lo nggak salah. Itu acara lo. Gue seneng bisa datang ke prom dan ketemu teman-teman lo. Itu salah satu hal bahagia yang bisa gue kenang ke depannya.”
“Ya....”
Di bawah taburan bintang, Kivia menghadap ke arah Kiev dan tak bisa menahan air matanya yang luruh. Melihat tangis Kivia, hati Kiev serasa dipatahkan menjadi dua.
*“Lo orang baik, Kiev. I'm so lucky to meet* you.”
catatan:
aku boleh minta bantuan agar cerita ini dapat lebih banyak ditemukan oleh pembaca lain? caranya mudah, cukup dengan kasih vote dan komentar di setiap babnya. jangan lupa rekomendasi ke teman kamu ya!
tolong kasih panggung untuk cerita ini bisa menjangkau pembaca baru. it will help me a lot. terimakasih ❤️
menikmati cerita ini? update tentang The Celebrity CEO di instastory kalian dan tag aku @inkinaoktari 💓
salam, Inkina Oktari.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Indah
seru bangettt
2021-09-28
0
Anonymous
amazinggg story
2021-07-15
1
Sri Widjiastuti
maksudnya??!!
2021-03-17
2