BAB 15 . KECERDASAN

Setiap orang memiliki tingkat kecerdasan masing-masing dan juga di bidang tertentu sesuai bakat nya namun bila kecerdasan itu sendiri di gunakan untuk hal kepentingan pribadi dan yang bisa merugikan orang lain hal itu lah yang menjadi kecerdasan itu tidak ada manfaat yang berarti sebab akan berdampak sangat merugikan orang lain.

Sebab di saat kita memiliki kecerdasan dalam diri kita hal itu sama hal nya seperti kita sedang memegang pisau bermata dua yang mampu melukai diri kita sendiri dan orang lain maka bijak lah dalam menggunakan kecerdasan tersebut, Orang cerdas akan berfikir terlebih dahulu sebelum bertindak untuk memasti kan apa dampak dari perbuatan nya meski hal tersebut sangat sepele sekali pun.

Namun berbeda dengan orang yang kurang cerdas yang melakukan tindakan terlebih dahulu setelah terjadi sesuatu yang fatal maka baru lah berfikir setelah semua nya hancur dan hal itu akan terkesan ke kanak-kanakan bagi orang lain yang melihat nya, Maka bijak dan berfikir lah secara cerdas dan dewasa saat di tuntut memutus kan permasalahan.

Begitu juga dengan yang di alami oleh Angel, Teresa, Jemes dan Peter pasti nya begitu banyak pertimbangan yang harus mereka ambil demi keselamatan orang banyak namun mereka juga di tuntut bergerak cepat sebab setiap detik yang sudah berlalu tidak mungkin di putar kembali dan bisa saja beberapa detik yang terlewat membawa dampak yang cukup buruk bagi populasi manusia itu sendiri.

Kali ini Teresa dan Angel sedikit berlari menuju ruang dapur untuk meracik kopi kesukaan Stevani dan juga meminjam baju kusus menjadi pelayan di rumah Profesor agar kedatangan mereka tidak menimbulkan kecurigaan bagi Profesor Simon, Profesor Brian dan juga Naomi yang pasti nya sudah mengenali wajah mereka berdua saat berada di gedung expo malam itu.

" Sa … Kita akan pergi kemana sebenar nya dan mengapa harus terburu-buru seperti ini?"

Tanya Angel sambil berlari kecil mengikuti Teresa dari belakang.

" Kita akan menuju dapur rumah nya Ferguso untuk membuat kopi,"

Jawab Teresa dengan tatapan lurus kedepan.

" Hello Sa … Bukan saat nya kita untuk bersantai saat ini lagi pula untuk apa kita meminum kopi di rumah ini lalu mengapa harus terburu-buru kalau hanya untuk membuat kopi?"

Tanya Angel sambil menghentikan langkah kaki nya di belakang Teresa.

" Husttt … Jangan berisik dan tunggu aku disini jangan pergi kemana-mana nanti kamu di culik Ferguso lagi."

Jawab Teresa sambil mengangkat tangan kiri nya isyarat agar Angel menghentikan langkah kaki nya.

Sedangkan Teresa menarik seutas kabel yang cukup besar di salah satu dinding lorong tersebut dan melangkah dengan mengendap mendekati seorang pria yang menggunakan stelan jas cukup rapi lalu setelah semakin dekat maka Teresa mengayunkan seutas kabel itu tepat di tengkut pria itu dengan kekuatan penuh alhasil pria itu pun jatuh pingsan terkapar di atas lantai, Maka dengan sigap Teresa memanggil Angel untuk meminta bantuan menarik tubuh pria yang sudah pingsan tersebut.

" Angel … Segera kemari bantu aku untuk membawa pria ini ke dalam dapur,"

Ucap Teresa sambil sedikit menunduk untuk memastikan pria itu sudah pingsan atau belum.

" Sa … Memang nya kamu ada masalah apa dengan pria jelek dan gemuk ini apakah dia putra nya Ferguso mu itu?"

Tanya Angel dengan tatapan bingung mendekati Teresa.

" Dia keponakan jauh dari Ferguso begitu jauh nya sampai aku sendiri kurang faham pria ini dari habitat apa, Ayo bantu aku menarik pria jelek ini."

Jawab Teresa menjawab sekena nya setiap pertanyaan Angel yang terlontar saat itu.

Setiba nya di dapur ternyata ada beberapa koki yang seperti nya sedang panik mendengar suara alaram yang berbunyi menandakan bahaya dan pasti nya pandangan semua yang berada di dapur tertuju kepada mereka berdua yang menarik seorang pria yang telah pingsan saat itu dan mulai lah Teresa mengeluarkan jurus agar semua yang berada di ruangan tersebut tidak panik.

Sedangkan di sisi lain ada Peter dan Jemes sedang berada di atas plapon untuk menuju ke sebuah titik di mana bahan peledak sudah terpasang di setiap titik cctv yang berada di rumah tersebut sedangkan saat ini Jemes benar-benar di uji kesabaran nya untuk menghadapi Peter yang ternyata cukup minim pemahaman nya mengenai warna dan hal itu cukup membuat Jemes terbakar emosi nya di atas plapon rumah Profesor Simon.

" Jems … Ada berapa titik peledak yang terpasang di rumah ini dan kita memiliki waktu berapa lama?"

Tanya Peter dengan tatapan serius kepada Jems.

" Waktu kita cukup lama bila peledak nya hanya 3 titik namun kali ini ada 30 titik dengan waktu 1 jam jadi bisa di simpul kan bahwa setiap titik nya waktu kita hanya kurang lebih 2 menit untuk menonaktifkan bahan peledak ini Pet,"

Jawab Jemes sambil merangkak menuju titik cctv terdekat.

" Kalau begitu kita harus membagi tugas menjadi dua dan di ujung sana ada persimpangan kamu kekiri dan aku kekanan tapi beri tahu aku kabel mana yang harus di potong,"

Ucap Peter dengan nada penuh kepastian dan keyakinan.

" Ide yang bagus Pet, Ayo kita selesaikan bersama misi kali ini."

Jawab Jemes diiringi senyum simpul kepada Peter.

Dan ternyata benar setiba nya mereka sampai di persimpangan plapon mereka berdua pun berpisah dengan misi penonaktifan bahan peledak dengan berbekal tang potong mereka berdua menuju titik yang semakin dekat di hadapan nya dan saat itu Jemes baru lah teringat bahwa Peter buta warna selama ini dan ia selalu bingung untuk membedakan warna yang ia ketahui hanya lah warna hijau, biru, merah dan kuning.

Sedangkan bisa di pasti kan saat ini mereka berdua akan di hadapkan dengan warna kabel yang beraneka warna dan yang cukup di khawatirkan oleh Jemes adalah Peter salah memotong kabel meski Jemes sudah menginstruksi kan warna kabel apa yang harus di potong mengingat Peter buta warna.

Sial aku lupa kalau Peter buta warna kalau sampai dia salah potong kabel bisa jadi rumah ini akan meledak dan akan begitu banyak korban jiwa bahkan aku dan dia pun akan terkubur di reruntuhan rumah ini, Apa yang harus aku lakukan sedangkan waktu terus berjalan dan aku tidak tahu apakah istri ku sudah berhasil untuk mendekati Stevani.

Bergumam lah dalam hati Jemes dengan tatapan dan raut wajah yang cukup panik sebab waktu terus berlalu dan bisa di pasti kan waktu mereka berdua pun semakin sempit untuk menonaktifkan peledak yang terpasang di setiap titik cctv yang tersebar di rumah Profesor Simon hingga akhir nya Jemes dan Peter tiba di titik cctv yang berbeda dan pasti nya Jemes semakin panik saat itu dengan semua pertanyaan Peter.

" Jems … Aku sudah sampai di titik paling ujung lalu kabel mana yang harus aku potong?"

Tanya Peter sambil melihat sekumpulan kabel di hadapan nya dengan serius.

" Kamu lihat yang terhubung ke detektor ada berapa kabel nya dan warna apa saja?"

Jawab Jemes dengan berbalik bertanya kepada Peter.

" Ada 4 kabel dan warna nya Merah, kuning, hijau dan biru, Lalu kabel mana yang harus aku potong?"

Tanya Peter srtelah menjawab pertanyaan Jemes.

" Pet … Kapan kamu bisa dengan benar melihat warna sebab di mana pun juga kabel untuk peledak itu warna nya putih untuk netral atau gron, hitam untuk minus, biru untuk positif dan coklat untuk pemicu nya dan yang harus kamu potong warna coklat,"

Jawab Jemes dengan nada kesal kepada Peter.

" Di sini tidak ada warna yang kamu sebut kan Jems, Jadi tidak perlu ada yang aku potong,"

Ucap Peter dengan enteng nya dan hendak pergi dari titik tersebut.

" Stop jangan pergi potong dahulu kabel yang berwarna coklat dan letak nya no 2 dari tangan kiri mu, Semoga kamu masih ingat kanan dan kiri Pet!"

Jawab Jemes dengan sedikit berteriak untuk menghentikan langkah Peter.

Dan untung nya Peter masih mengetahui arah kiri dan kanan hingga ia bisa mengetahui kabel mana yang hendak di potong untuk menonaktifkan peledak tersebut dan hal itu yang menjadi patokan bagi Peter saat ini, Sedangkan di dapur Angel dan Teresa sudah berdandan menjadi pekerja pengantar minuman dengan menggunakan baju stelan jas yang mereka ambil dari pria yang pingsan dan seorang pekerja di bagian dapur saat itu.

" Sa … Sebenar nya apa yang akan kamu lakukan saat ini dan mengapa kita harus memakai baju seperti ini, Apakah tidak ada kostum yang lebih layak untuk kita saat ini?"

Tanya Angel dengan raut wajah yang kurang nyaman mengenakan kostum yang sedikit terlalu besar di tubuh nya.

" Kostum ini paling tepat untuk kita dan jangan lupa gunakan kumis palsu mu yang baru ku buat dari lakban itu,"

Jawab Teresa sambil menata beberapa cangkir dan teko berisi kopi di sebuah troli kecil.

" Memang sejak dahulu sikap dan pola pikir mu aneh seperti suami mu,"

Ucap Angel sambil memasang kumis palsu sesuai perintah Teresa.

Saat seperti itu Teresa tidak menghiraukan apa yang di katakan oleh Angel, Ia sibuk dengan apa yang akan di bawa menuju ruangan di mana Stevani dan beberapa Profesor berada di ruangan tersebut sedangkan di ruangan tersebut saat ini kondisi nya semakin memanas sebab terjadi nya adu argumentasi antara Profesor Simon dan Stevani yang hendak meledak kan kediaman nya saat itu.

" Stev tolong dengar kan kata-kata Ayah dan pasti nya apa pun yang Ayah kata kan itu demi kebaikan mu untuk membalas dendam kepada mereka semua yang menghina mu Nak,"

Ucap Profesor Simon mencoba membujuk Stevani yang tengah duduk di sebuah kursi dengan remot di tangan nya.

" Stev dengar kan ucapan Ayah mu dan pasti nya tidak ada orang tua yang akan mencelakakan anak nya,"

Imbuh Naomi yang mencoba menenangkan Stevani yang sedang marah.

" HAI KAMU PROFESOR BRIAN KENAPA SEDARI TADI KAMU HANYA DIAM APAKAH LIDAH MU SUDAH TIDAK MAMPU UNTUK DI GERAK KAN ATAU KAMU MEMILIKI RENCANA LAIN AGAR KARIR DAN NYAWA MU SELAMAT KALI INI?"

Bentak Stevani kepada Profesor Brian yang saat itu berdiri di samping Profesor Simon.

" Bukan seperti itu Stev namun aku sedang berfikir apa yang akan kamu lakukan dan mengapa hal itu kamu lakukan sedangakan semua ini Ayah mu lakukan demi membalaskan dendam mu,"

Jawab Profesor Brian yang mencoba mengelabui Stevani yang sedang marah kepada Ayah nya.

" Alibi yang cukup konyol Profesor Brian tapi baik lah aku hanya memastikan bahwa kamu masih mampu berbicara sebelum semua ini aku ledak kan."

Ucap Stevani diiringi dengan senyum lepas dan sesekali bertepuk tangan setelah mendengar jawaban dari Profesor Brian.

Sedangkan saat itu Teresa dan Angel sudah mulai berjalan menyusuri lorong untuk menuju ke sebuah ruangan di mana Stevani dan ketiga Profesor itu berada dan di sepanjang jalan lorong Teresa berpesan kepada Angel untuk tidak banyak bertanya saat diri nya memerintahkan sesuatu dan Teresa lah yang akan mencoba mendekati Stevani agar Stevani tidak merasa ketakutan sebab bila Stevani sudah merasa ketakutan maka ia akan melakukan hal yang cukup fatal.

Dan saat itu Angel mengangguk kan kepala nya tanda bahwa ia memahami apa yang di katakan oleh Teresa kepada nya sedangkan di hati kecil nya Teresa berteriak memohon perlindungan kepada Tuhan agar ketiga profesor tersebut tidak mampu mengenali mereka berdua yang sudah menyamar menjadi pengantar minuman ke ruangan tersebut saat ini.

Di sisi lain Peter dan Jemes terus berjalan dengan merunduk menyusuri plapon untuk mendatangi setiap titik cctv di mana yang sudah terhubung dengan bahan peledak dan bila sampai bahan peledak itu meledak maka tidak hanya kediaman Profesor Simon yang akan meledak melain kan pabrik tempat produksi robotic secara masal pesanan pemerintahan itu pun turut meledak dan hal itu cukup berbahaya efek radiasi nya.

Waktu terus berjalan dan akhir nya sampai lah Teresa dan Angel di ruangan tersebut dan segera lah mereka berdua masuk kedalam ruangan tersebut dengan berpura-pura menawarkan secangkir kopi kepada mereka semua dan hal itu pasti nya menimbulkan kecurigaan mereka semua sebab mereka semua merasa tidak ada yang memesan kopi ke pelayan.

Namun dengan ke ahlian Teresa dalam bermain telenovela maka berhasil lah Teresa untuk mendekati Stevani dengan berpura-pura membawa secangkir kopi hitam yang ternyata sudah di bubuhkan obat tidur dengan dosis yang cukup tinggi dan begitu juga dengan kopi yang di berikan kepada ketiga Profesor tersebut, Alhasil dalam hitungan waktu yang sangat singkat mereka semua tertidur dengan lelap.

Lalu apa tindakan selanjut nya yang di lakukan oleh Teresa, Angel, Peter dan Jemes apakah mereka berempat akan menyerahkan Profesor Simon, Profesor Brian, Stevani dan Naomi ke pihak hukum dan apakah mereka akan mendapat hukuman dengan semua yang telah mereka perbuat sedangkan saat ini pihak pemerintahan berdiri di pihak mereka?

Jangan pernah beranjak dari kisah mereka semua dan temukan jawaban nya hanya di THE EXTINCTION OF HUMANS dan jangan pernah bosan untuk selalu dukung author agar semangat nulis nya.

Terpopuler

Comments

Calista

Calista

teresa keren bngt sllu aja punya bnyk akal nya

2024-06-11

5

Calista

Calista

angel kamu terlalu bnyk tanya, lbh baik km ikuti aja teresa nanti jg km tau apa yg teresa maksud

2024-06-11

5

Gu xi xi

Gu xi xi

Ayah sm anak nya lg adu argumen

2022-10-21

11

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!