Episode 2 Chu Pian Ran

Kediaman Penasehat Kerajaan Qin, Chu Jeong Byun

Seorang gadis yang berbaring di atas ranjang tampak sedang mengerjap-ngerjapkan matanya.

Setelah dia benar-benar tersadar dari 'tidur' nya yang lumayan panjang, tak berapa lama, perempuan itu pun memijit-mijit kepalanya yang terasa sakit dan matanya yang sayu menyapu seluruh ruangan itu.

Gadis yang berwajah pucat itu terlihat sangat bingung dengan keadaan sekitarnya yang terlihat sangat asing baginya. Dekorasi dan barang-barang yang ada di kamar itu mirip sekali dengan film-film kerajaan China kuno yang pernah ia tonton di youtube.

Terakhir kali yang dia ingat, saat itu dia sedang dirawat inap di rumah sakit, tepatnya di ruang ICU.

Waktu itu, dia merasakan tubuhnya sudah sangat melemah dan tidak ada harapan hidup lagi karena tubuhnya sedang digerogoti oleh leukimia stadium 4, penyakit yang diwariskan oleh ibunya.

Sosok yang selalu setia menemaninya saat dia merasa ada di antara hidup dan mati waktu itu hanyalah ayahnya seorang.

Tak berapa lama, terbayanglah perempuan itu akan sosok pria paruh baya yang selama ini telah membesarkannya dengan sekuat jiwa raganya.

"Aakh...," gadis itu terlihat merintih saat mencoba bangkit untuk duduk. Karena kondisi tubuhnya yang tidak memungkinkan, ia pun mengurungkan niatnya dan kembali lagi berbaring.

Aku pikir aku telah mati...

Ada apa ini sebenarnya, dimana aku, kenapa aku berada di tempat yang aneh ini...

Pikiran perempuan bertubuh ringkih itu pun berkecamuk, antara bingung, takut, ditambah lagi merasakan kepala yang sakit dan badan yang benar-benar tidak bertenaga.

"Nona muda, anda sudah sadar??" tanya seorang gadis yang berwajah cukup cantik begitu dia masuk beberapa langkah ke dalam kamar sambil membawa baskom air dan lap.

Melihat putri semata wayang majikannya sudah siuman, dengan segera dia meletakkan baskom dan lap itu di atas meja dekat ranjang.

Visual Xi'er, pelayan setia Chu Pian Ran. Usianya lebih muda beberapa bulan dari nona mudanya. Gadis ini periang, lincah, dan cerewet.

"Nona, bagaimana keadaan anda? Apanya yang sakit? Nona haus atau lapar?" pelayan perempuan itu beberapa kali melontarkan pertanyaan dari mulutnya. Sementara majikannya yang sedang berbaring di ranjang terus memperhatikannya tanpa bisa menjawab apa-apa karena masih diliputi kebingungan.

"Nona, kenapa anda diam saja? Jangan membuat saya takut nona...," terlihat jelas jika gadis pelayan itu benar-benar khawatir.

"Kamu siapa?" akhirnya gadis yang sedang berbaring di atas ranjang itu pun mengeluarkan suara yang lemah karena memang sedang sakit.

"Nona, jangan membuat saya menjadi semakin takut...," mata pelayan perempuan itu pun mulai berkaca-kaca. Rasanya tidak percaya jika nona muda yang dia layani selama 7 tahun ini tiba-tiba tidak mengenalinya sama sekali.

"Aku bertanya padamu, kamu itu siapa?" sekali lagi gadis bertubuh ringkih itu bertanya.

Tanpa memberikan jawaban, gadis pelayan itu pun langsung berlari keluar kamar sambil menangis sesenggukan.

Jiwa Song Hyu Meen yang sekarang merasuk ke dalam raga Chu Pian Ran benar-benar diliputi kebingungan. Dia mencoba menenangkan dirinya dengan beberapa kali mengambil nafas dalam-dalam.

Beberapa menit kemudian, muncullah 3 orang perempuan dengan sedikit berlari masuk ke dalam kamar karena merasa khawatir.

Yang satu adalah gadis yang ada di kamarnya tadi. Seorang perempuan lagi adalah wanita paruh baya yang penampilannya lumayan agung dan cantik. Dilihat dari pakaiannya, kelihatan jika perempuan itu dari kalangan atas. Sedangkan perempuan yang lain, sudah lumayan berumur, kira-kira usianya di atas 50 tahunan.

"Ran'er sayang, kamu kenapa naak??" tanya perempuan berpenampilan agung itu setelah duduk di tepi ranjang. Tangan kanannya menyentuh dahi Song Hyu Meen, untuk memastikan apakah gadis tersebut sedang demam atau tidak.

"Sayang, kamu jawab ibu, kamu kenapa? Tadi Xi'er bercerita sambil menangis jika kamu tidak ingat siapa dia... Kamu sedang tidak bergurau kan nak?" wanita paruh baya itu benar-benar cemas karena gadis yang adalah putrinya tersebut hanya diam saja.

Visual nyonya Chu, istri penasehat kerajaan Chu Jeong Byun. Tipe wanita yang lemah lembut dan penyabar.

Isak tangis terdengar dalam kamar itu. Para pelayan lain, yang ada di luar kamar pun ikut-ikutan cemas karena mereka sempat melihat nyonya besar masuk ke dalam kamar putrinya dengan berlari dan wajah sangat khawatir.

"Aku benar-benar minta maaf... Aku tidak bermaksud membuat kalian khawatir seperti ini. Tapi jujur, sedari tadi aku juga bingung dengan diriku sendiri... Siapa aku dan ini ada dimana...," suara lemah gadis ringkih itu berhasil menambah kencangnya isak tangis 3 perempuan itu, terutama nyonya besar. Hati wanita paruh baya tersebut terasa sakit sekali.

🌹

"Tabib, bagaimana keadaan putriku?" tanya tuan Chu Jeong Byun dengan raut wajah cemas.

"Maafkan saya tuan, selama ini saya sudah berusaha dengan segenap kemampuan saya, tapi sepertinya takdir berkehendak lain... Benturan pada kepala nona muda sepertinya berakibat dia menjadi hilang ingatan... Saya tidak berani memastikan kapan ingatannya akan benar-benar pulih...," jawab tabib Lou dengan hati-hati sambil sedikit membungkukkan tubuhnya dan sikap tangan menghormat.

Tuan Chu Jeong Byun dikenal sebagai penasehat kerajaan yang disegani kaisar dan pejabat istana lainnya. Selain karena kemampuan kerjanya yang cakap, dia juga pejabat kerajaan yang baik, rendah hati, jujur dan suka berderma.

Namun, dibalik kesuksesannya itu, pasangan suami istri tersebut memiliki kesedihannya sendiri. Putri satu-satunya yang mereka sayangi mulai sakit-sakitan saat berumur 17 tahun. Kejadian terakhir yang menimpa putrinya adalah putrinya tergelincir dan kepalanya terantuk sudut ranjangnya sendiri. Mereka sama sekali tidak menyangka akhirnya akan seperti ini.

Sampai sekarang, para tabib belum bisa menemukan penyakit apa yang diderita oleh Nona Chu Pian Ran. Penyakit ini tergolong langka karena belum pernah ada pasien yang menderita penyakit ini sebelumnya.

Nyonya Chu Jeong Byun masih saja terisak di kursi yang ada di kamar putrinya. Dia ditemani dengan Xi'er, pelayan setia putrinya dan Bibi Chen, si kepala pelayan kediaman Chu.

Tuan penasehat kerajaan pun lalu mengantar tabib Lou hingga di depan pintu kediaman sambil membahas kondisi putrinya. Sedangkan Nyonya Chu Jeong Byun, sekarang ini sudah duduk di tepi ranjang putrinya.

"Nyonya, nyonya jangan menangis lagi. Saya tidak apa-apa, saya akan baik-baik saja...," kata Song Hyu Meen mencoba menghibur wanita paruh baya yang duduk di tepi ranjangnya tersebut yang tentu saja membuat Nyonya Chu Jeong Byun, Xi'er dan bibi Chen lumayan kaget.

"Nyonya?? Sayang, kamu memanggil ibu dengan kata nyonya?" wajah wanita paruh baya itu semakin tambah sedih dengan perubahan drastis putrinya.

"Maafkan saya nyonya, eh i ibu... Saya tidak bermaksud membuat anda sedih...," kelihatan sekali jika Chu Pian Ran begitu canggung memanggil 'ibu' pada Nyonya Chu Jeong Byun, hal itu dikarenakan jiwa Song Hyung Meen telah mengendalikan raga Chu Pian Ran. Bagaimana bisa dia langsung memanggil 'ibu' pada wanita yang baru dia kenal.

"Sudahlah, kita tidak perlu mempermasalahkan hal ini lagi... Yang penting, sekarang kamu harus semangat dan yakin bahwa kamu bisa sembuh... Ayah dan ibu akan melakukan apapun agar kamu seperti sediakala kembali sayang...," wanita paruh baya itu berusaha tegar di depan putrinya, sekalipun di dalam hatinya dia menyimpan kesedihan yang dalam.

"Terimakasih banyak ibu... Maaf, jika saya sudah terlalu sering membuat ayah dan ibu khawatir..." ucap gadis ringkih tersebut dengan nada suara yang kaku.

"Sayang, untuk apa kamu minta maaf, itu tidak perlu... Kamu adalah anak satu-satunya ayah dan ibu. Jadi apapun yang terjadi padamu, itu sudah menjadi tanggung jawab kami...," lanjut nyonya Chu Jeong Byun sambil mengelus kepala putri kesayangannya.

Beberapa saat kemudian, seorang pelayan masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan yang di atasnya terdapat 2 mangkuk.

"Nyonya, bubur dan obat untuk nona sudah siap...," kata pelayan itu sopan sambil sedikit membungkukkan badannya.

Wanita paruh baya tersebut lalu mengambil mangkuk bubur dan berniat ingin menyuapi putrinya.

"Tidak usah ibu, aku bisa melakukannya sendiri...," Chu Pian Ran merasa tidak enak jika wanita yang ada di depannya itu menyuapinya.

"Sayang, saat ini kamu sedang sakit... Sudah menjadi tugas ibu untuk merawatmu. Ayo, sekarang makanlah...," nyonya Chu Jeong Byun menyodorkan sendok yang berisi bubur di depan bibir putrinya. Mau tidak mau, gadis itu pun akhirnya menurut.

Bubur yang masuk ke dalam mulutnya itu lumayan terasa pahit. Hal itu sudah menjadi sesuatu yang wajar karena saat ini dia dalam keadaan sakit yang bisa dikatakan cukup parah.

Saat wanita paruh baya tersebut sedang menyuapi putrinya, Tuan Chu Jeong Byun masuk kembali ke dalam kamar. Tuan penasehat kerajaan itu pun lalu meminta bibi Chen dan Xi'er untuk keluar kamar.

Pria paruh baya itu kemudian duduk di sebuah kursi yang ada di dekat ranjang putrinya. Raut wajahnya terlihat jelas jika dia sedang khawatir dan sedih.

"Putriku, ayah akan melakukan apapun demi kesembuhanmu... Yang penting, sekarang kamu berusaha untuk bersabar dan bertahan menjalani ini semua...," ujar Tuan Chu Jeong Byun.

"Iya ayah, aku akan terus berjuang... Terimakasih banyak karena ayah dan ibu sudah banyak berkorban untuk kesembuhanku...," sahut Chu Pian Ran.

"Tidak nak, tidak... Kamu tidak perlu berterimakasih. Apapun yang kami lakukan, semua sudah menjadi tugas kami sebagai orang tuamu," lanjut pria paruh baya tersebut.

Setelah gadis itu meminum obat, pasangan suami istri tersebut meninggalkan kamar agar putrinya bisa beristirahat.

🌹

Malam harinya

"Xi'er, ceritakanlah tentang kehidupanmu...," pinta Chu Pian Ran pada pelayannya.

Dengan patuh pelayan itu pun mulai bercerita, sejak awal dia tinggal di keluarga Tuan Chu Jeong Byun hingga sekarang.

"Jadi, kau sudah yatim piatu sejak kecil?" tanya majikannya.

"Benar nona... Jika bukan karena orang tua nona, saya pasti sudah menjadi anak gelandangan, dan saya juga tidak tahu bagaimana jadinya saya... Untuk itu, demi membalas budi kebaikan tuan dan nyonya, saya mengabdikan seluruh hidup saya untuk keluarga ini...," terang Xi'er.

"Sekarang ceritakan tentang Chu Pian Ran, nona mudamu ini... Siapa tahu dengan ceritamu itu aku bisa ingat sedikit tentang jati diriku," sebenarnya ini hanyalah alasan agar Song Hyu Meen mengetahui siapa Chu Pian Ran sebenarnya.

Dengan semangat, gadis pelayan tersebut bercerita banyak tentang nona mudanya. Terlihat jelas jika Xi'er mengagumi majikannya.

"Rupanya nona mudamu ini salah satu gadis primadona di ibukota ya," jiwa Song Hyu Meen yang berada dalam raga Chu Pian Ran ikut kagum dengan pemilik tubuh ini.

"Tentu saja nona... Bukan hanya karena nona putri penasehat kerajaan yang terkenal. Namun juga karena nona itu gadis yang cantik, baik, ramah, dan tidak angkuh seperti kebanyakan putri pejabat kerajaan lainnya...," jelas si pelayan dengan menggebu-gebu.

"Apakah aku punya kekasih?" tanya majikannya lagi.

"Tidak nona, nona belum memiliki kekasih... Itu karena memang nona sendiri yang belum minat... Sayang sekali, padahal para tuan muda yang suka pada nona tampan-tampan dan kaya...," jelas Xi'er.

"Benarkah? Siapa saja mereka?" jiwa Song Hyu Meen sedikit terkejut dengan keterangan pelayannya.

"Tuan muda Xhu Tian Ming putra perdana menteri Xhu. Tuan muda Long Wang Ban putra bangsawan Long. Tuan muda Lee...," pelayan tersebut mulai menyebutkan satu-persatu para pemuda tampan yang menyukai nona mudanya namun tiba-tiba dihentikan.

"Cukup-cukup, tidak usah diteruskan...," Chu Pian Ran memotong perkataan Xi'er sambil memijit kepalanya yang terasa pusing.

"Nona, nona kenapa? Kepala nona sakit lagi? Apa perlu saya panggilkan tuan dan nyonya?" tanya Xi'er gadis pelayan itu cemas.

"Tidak perlu... Aku baik-baik saja," jawab majikannya singkat.

"Benar nona tidak apa-apa?" pelayan itu kembali bertanya untuk memastikan bahwa nonanya sungguh baik-baik saja.

"Aku baik-baik saja Xi'er, sungguh... Sekarang aku ingin istirahat, ini sudah malam. Kau sendiri juga tidurlah, pasti kau sangat lelah," setelah berpamitan pada majikannya, Xi'er pun meninggalkan kamar itu dan menutup pintunya.

Seperginya pelayan tadi, raga Chu Pian Ran belum bisa memejamkan matanya. Pikirannya masih memikirkan kisah hidupnya yang rumit dan tidak masuk akal. Ditambah lagi dengan cerita Xi'er tentang pemilik tubuh ini.

Kehidupan dan sifat Song Hyu Meen sangat berbeda dengan Chu Pian Ran. Jika di kehidupan modern, Song Hyu Meen menikmati sifatnya yang tergolong introvert yang lebih memilih menghabiskan banyak waktunya sendirian di ruangan sepi dengan belajar daripada harus berkumpul dan mengobrol banyak hal dengan teman-temannya.

Sedangkan Chu Pian Ran. Gadis ini tipe periang, lincah, mudah bergaul dan beradaptasi. Tidak heran jika dia disukai banyak pria tampan.

Di kehidupan modern, memang ada beberapa teman sekolah Song Hyu Meen yang menyatakan perasaan suka padanya. Namun, dia tidak menanggapi serius perasaan mereka. Dia lebih memilih menjalin pertemanan daripada pacaran. Saat itu, dia mempunyai pikiran bahwa pacaran hanyalah menjadi beban saja.

Gadis itu pun mulai menguap. Matanya sudah terasa berat. Setiap obat herbal yang dia minum memang diberi campuran yang membuat dia bisa tidur nyenyak.

Saat ini yang bisa dia lakukan hanyalah menjalani kehidupan yang ada di depannya.

🌹🌹🌹

Terpopuler

Comments

dita18

dita18

msh nyimak

2022-11-22

0

adie_izzati

adie_izzati

tetap setia

2022-11-08

0

Septi Verawati

Septi Verawati

masih menyimak 🤔🤔🤔👣👣💪💪

2022-10-31

1

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 Kepergian Song Hyu Meen
2 Episode 2 Chu Pian Ran
3 Episode 3 Tuan Muda Lee Jiang Wook
4 Episode 4 Keajaiban
5 Episode 5 Menonton Festival Lentera
6 Episode 6 Kelebihan Yang Tersembunyi
7 Episode 7 Teluh Yang Gagal
8 Episode 8 Kerinduan Song Hyu Meen
9 Episode 9 Aku Bukan Chu Pian Ran
10 Episode 10 Jarum Beracun
11 Episode 11 Kecurigaan Pangeran Qin Wu Zhu
12 Episode 12 Pangeran Qin Wu Zhu Menolak Memilih Selir
13 Episode 13 Seleksi Pemilihan Selir
14 Episode 14 Hati Lee Jiang Wook Berbunga-Bunga
15 Episode 15 Pengumuman Selir Terpilih
16 Episode 16 Menemui Jalan Buntu
17 Episode 17 Kejadian Tak Terduga
18 Episode 18 Ketakutan Chu Pian Ran
19 Episode 19 Pengakuan Yang Mengejutkan
20 Episode 20 Latihan Terang-Terangan
21 Episode 21 Gambar Bunga Mei Hwa di Bahu Chu Pian Ran
22 Episode 22 Menjadi Suka Bermeditasi
23 Episode 23 Mengembangkan Kemampuan
24 Episode 24 Panggilan Kaisar
25 Episode 25 Chu Pian Ran Berangkat Mengembara
26 Episode 26 Perang Spiritual Dengan Dukun Shie
27 Episode 27 Munculnya Pendekar Bertopeng
28 Episode 28 Menumpas Perampok
29 Episode 29 Jaringan Perdagangan Manusia (1)
30 Episode 30 Qin Wu Zhu Bertemu Dengan Pria Bertopeng
31 Episode 31 Berlatih Mematahkan Besi
32 Episode 32 Menerima Bantuan Qin Wu Zhu
33 Episode 33 Jaringan Perdagangan Manusia (2)
34 Episode 34 Kecurigaan Chu Pian Ran
35 Episode 35 Keprihatinan Chu Pian Ran
36 Episode 36 Bupati Xhin Dilengser Dan Dihukum
37 Episode 37 Siluman Harimau Gunung Yinlong
38 Episode 38 Lee Jiang Wook Mencari Keberadaan Chu Pian Ran
39 Episode 39 Kepulangan Chu Pian Ran
40 Episode 40 Tahanan Korban Fitnah
41 Episode 41 Kemunculan Tuan Song Di Penjara Istana
42 Episode 42 Rencana Pergi Ke Hanzhong
43 Episode 43 Di Hanzhong
44 Episode 44 Gubernur Lei Diadili
45 Episode 45 Wabah Penyakit Aneh
46 Episode 46 Melawan Iblis Betina
47 Episode 47 Tuan Song Adalah Nona Chu Pian Ran
48 Episode 48 Chu Pian Ran Koma Selama 3 Bulan
49 Episode 49 Chu Pian Ran Sadar
50 Episode 50 Qin Wu Zhu Menjenguk Chu Pian Ran
51 Episode 51 Mata-Mata Kerajaan Lian
52 Episode 52 Qin Wu Zhu Dan Lu Zee Sekarat
53 Episode 53 Chu Pian Ran Menyembuhkan Qin Wu Zhu Dan Lu Zee Diam-Diam
54 Episode 54 Qin Wu Zhu Dan Lu Zee Sadar
55 Episode 55 Pengakuan Qin Wu Zhu
56 Episode 56 Qin Wu Zhu Membuka Rahasia Chu Pian Ran Kepada Kaisar
57 Episode 57 Chu Pian Ran Diculik
58 Episode 58 Dukacita Keluarga Chu dan Keluarga Lee
59 Episode 59 Chu Pian Ran Dibelenggu dan Dimantrai
60 Episode 60 Kerajaan Lian Gempar
61 Episode 61 Kelereng Aneh
62 Episode 62 Jenderal Long Yuan Memperingatkan Qin Wu Zhu
63 Episode 63 Lee Jiang Wook Berangkat Ke Perbatasan
64 Episode 64 Kesedihan Hati Qin Wu Zhu
65 Episode 65 Anugerah Yang Tidak Diinginkan Oleh Chu Pian Ran
66 Episode 66 Lian Xiao Jung Mengirim Mata-Mata Ke Wilayah Qin
67 Episode 67 Putri Nanyang
68 Episode 68 Bencana Kekeringan Di Beidi
69 Episode 69 Kasus Hilangnya Seorang Anak
70 Episode 70 Lee Jiang Wook Kritis
71 Episode 71 Kesedihan Chu Pian Ran
72 Episode 72 Pembalasan Chu Pian Ran Untuk Kerajaan Lian
73 Episode 73 Kerajaan Lian Terpuruk
74 Episode 74 Sepenggal Kisah Peri Bunga Mei Hwa Lie
75 Episode 75 Lee Jiang Wook Bisa Berjalan Kembali
76 Episode 76 Kesurupan Massal
77 Episode 77 Pernikahan Lee Jiang Wook Dan Chu Pian Ran
78 Episode 78 Kebahagiaan Lee Jiang Wook dan Chu Pian Ran
79 Episode 79 Menikmati Kehidupan Berumah Tangga
80 Episode 80 Kasus Kematian Aneh
81 Episode 81 Rong Hya Membantu Chu Pian Ran Melawan Iblis
82 Episode 82 Kehamilan Chu Pian Ran
83 Episode 83 Kebahagiaan Keluarga Lee Dan Keluarga Chu
84 Episode 84 Mengungkap Pelaku Pencurian
85 Episode 85 Xi Er Dan Xio Bai
86 Episode 86 Harimau Nyasar
87 Episode 87 Keresahan Nona Kung Xhu Fei
88 Episode 88 Peri Zhin Zhuan
89 Episode 89 Si Putri Mungil Yang Cantik
90 Episode 90 Kebakaran Hutan
91 Episode 91 Keluarga Harimau Berkumpul Kembali
92 Episode 92 Kesedihan Selir Chi Min Ru
93 Episode 93 Serangan Belalang Di Mong Yan
94 Episode 94 Terusir Karena Penyakit Kusta
95 Episode 95 Berkuda Bersama
96 Episode 96 Kunjungan Dari Kerajaan Han
97 Episode 97 Kutukan Siluman Tikus
98 Episode 98 Bukan Gempa Bumi Biasa
99 Episode 99 Akhirnya Bisa Bernapas Lega
100 Episode 100 Ketertarikan Lee Chu Mian Yin Pada Prajurit
101 Episode 101 Kisah Sedih Xhi Wan Mei
102 Episode 102 Rong Hya Membawa Zhin Zhuan Ke Hutan Jinfeng
103 Episode 103 Membongkar Kelicikan Tabib Zhang (1)
104 Episode 104 Membongkar Kelicikan Tabib Zhang (2)
105 Episode 105 Malam Purnama Yang Mencekam (1)
106 Episode 106 Malam Purnama Yang Mencekam (2)
107 Episode 107 Mustika Kehidupan Dewi Bulan (1)
108 Episode 108 Mustika Kehidupan Dewi Bulan (2)
109 Episode 109 Transformasi Chu Pian Ran Menjadi Peri
110 Episode 110 Chu Pian Ran Di Istana Bulan
111 Episode 111 Gagasan Chu Pian Ran (1)
112 Episode 112 Gagasan Chu Pian Ran (2)
113 Episode 113 Penambangan Emas Besar-Besaran
114 Episode 114 Pembangunan Rumah Untuk Kaum Tunawisma
115 Episode 115 Kekaguman Han Zhuo Jin Pada Chu Pian Ran
116 Episode 116 Bangsa Kurcaci (1)
117 Episode 117 Bangsa Kurcaci (2)
118 Episode 118 Rencana Mengajari Bangsa Kurcaci Memasak
119 Episode 119 Mengajari Bangsa Kurcaci Memasak
120 Episode 120 Berlian Yang Berkilauan
121 Episode 121 Pakaian Aneh Chu Pian Ran
122 Episode 122 Telur Elang Emas
123 Episode 123 Telur Emas Menetas
124 Episode 124 Jinying Eek Emas
125 Episode 125 Lee Chu Mian Yin Tidak Rela Melepas Jinying
126 Episode 126 Jinying Bertemu Induknya
127 Episode 127 Qin Wu Zhu Menggoda Lee Chu Mian Yin
128 Pengumuman Untuk Para Readers Novel "Chu Pian Ran" Yang Setia
129 Episode 128 Ibukota Qin Gempar
130 Episode 129 Semua Anggota Keluarga Kerajaan Qin Turut Melihat Induknya Jinying
131 Episode 130 Jinying Dan Induknya Menginap Di Kediaman Chu
132 Episode 131 Dewa Shao Hao Menjemput Jinying dan Induknya
133 Episode 132 Berkunjung Ke Rumah Xhi Wan Mei
134 Episode 133 Jenderal Long Yuan Pulang Ke Ibukota
135 Episode 134 Iblis Qing Liong Lepas dari Segel
136 Episode 135 Duka Mendalam Keluarga Chu dan Keluarga Lee
137 Episode 136 Lee Chu Mian Yin Menjadi Sosok Pendiam
138 Episode 137 Para Peri Senior Memusnahkan Iblis Qing Liong
139 Episode 138 Para Peri Senior Berkunjung Ke Kediaman Chu
140 Episode 139 Lee Chu Mian Yin Mencoba Kesaktian Cincinnya
141 Episode 140 Ide Cemerlang Zhin Zhuan
142 Episode 141 Sekolah Khusus Anak Rakyat Jelata
143 Episode 142 Kehebohan Siswa Kelas A
144 Episode 143 Kecemburuan Qin Wu Dang
145 Episode 144 Kesedihan Rong Hya
146 Episode 145 Rong Hya Berkunjung Ke kediaman Chu
147 Episode 146 Rong Hya Membujuk Lee Chu Mian Yin
148 Episode 147 Nyonya Chu Jeong Byun Emosi
149 Episode 148 Keterkejutan Qin Wu Dang
150 Episode 149 Keistimewaan Lee Chu Mian Yin Diketahui Anggota Keluarga Kerajaan
151 Episode 150 Lee Chu Mian Yin Menolak Tinggal Di Istana
Episodes

Updated 151 Episodes

1
Episode 1 Kepergian Song Hyu Meen
2
Episode 2 Chu Pian Ran
3
Episode 3 Tuan Muda Lee Jiang Wook
4
Episode 4 Keajaiban
5
Episode 5 Menonton Festival Lentera
6
Episode 6 Kelebihan Yang Tersembunyi
7
Episode 7 Teluh Yang Gagal
8
Episode 8 Kerinduan Song Hyu Meen
9
Episode 9 Aku Bukan Chu Pian Ran
10
Episode 10 Jarum Beracun
11
Episode 11 Kecurigaan Pangeran Qin Wu Zhu
12
Episode 12 Pangeran Qin Wu Zhu Menolak Memilih Selir
13
Episode 13 Seleksi Pemilihan Selir
14
Episode 14 Hati Lee Jiang Wook Berbunga-Bunga
15
Episode 15 Pengumuman Selir Terpilih
16
Episode 16 Menemui Jalan Buntu
17
Episode 17 Kejadian Tak Terduga
18
Episode 18 Ketakutan Chu Pian Ran
19
Episode 19 Pengakuan Yang Mengejutkan
20
Episode 20 Latihan Terang-Terangan
21
Episode 21 Gambar Bunga Mei Hwa di Bahu Chu Pian Ran
22
Episode 22 Menjadi Suka Bermeditasi
23
Episode 23 Mengembangkan Kemampuan
24
Episode 24 Panggilan Kaisar
25
Episode 25 Chu Pian Ran Berangkat Mengembara
26
Episode 26 Perang Spiritual Dengan Dukun Shie
27
Episode 27 Munculnya Pendekar Bertopeng
28
Episode 28 Menumpas Perampok
29
Episode 29 Jaringan Perdagangan Manusia (1)
30
Episode 30 Qin Wu Zhu Bertemu Dengan Pria Bertopeng
31
Episode 31 Berlatih Mematahkan Besi
32
Episode 32 Menerima Bantuan Qin Wu Zhu
33
Episode 33 Jaringan Perdagangan Manusia (2)
34
Episode 34 Kecurigaan Chu Pian Ran
35
Episode 35 Keprihatinan Chu Pian Ran
36
Episode 36 Bupati Xhin Dilengser Dan Dihukum
37
Episode 37 Siluman Harimau Gunung Yinlong
38
Episode 38 Lee Jiang Wook Mencari Keberadaan Chu Pian Ran
39
Episode 39 Kepulangan Chu Pian Ran
40
Episode 40 Tahanan Korban Fitnah
41
Episode 41 Kemunculan Tuan Song Di Penjara Istana
42
Episode 42 Rencana Pergi Ke Hanzhong
43
Episode 43 Di Hanzhong
44
Episode 44 Gubernur Lei Diadili
45
Episode 45 Wabah Penyakit Aneh
46
Episode 46 Melawan Iblis Betina
47
Episode 47 Tuan Song Adalah Nona Chu Pian Ran
48
Episode 48 Chu Pian Ran Koma Selama 3 Bulan
49
Episode 49 Chu Pian Ran Sadar
50
Episode 50 Qin Wu Zhu Menjenguk Chu Pian Ran
51
Episode 51 Mata-Mata Kerajaan Lian
52
Episode 52 Qin Wu Zhu Dan Lu Zee Sekarat
53
Episode 53 Chu Pian Ran Menyembuhkan Qin Wu Zhu Dan Lu Zee Diam-Diam
54
Episode 54 Qin Wu Zhu Dan Lu Zee Sadar
55
Episode 55 Pengakuan Qin Wu Zhu
56
Episode 56 Qin Wu Zhu Membuka Rahasia Chu Pian Ran Kepada Kaisar
57
Episode 57 Chu Pian Ran Diculik
58
Episode 58 Dukacita Keluarga Chu dan Keluarga Lee
59
Episode 59 Chu Pian Ran Dibelenggu dan Dimantrai
60
Episode 60 Kerajaan Lian Gempar
61
Episode 61 Kelereng Aneh
62
Episode 62 Jenderal Long Yuan Memperingatkan Qin Wu Zhu
63
Episode 63 Lee Jiang Wook Berangkat Ke Perbatasan
64
Episode 64 Kesedihan Hati Qin Wu Zhu
65
Episode 65 Anugerah Yang Tidak Diinginkan Oleh Chu Pian Ran
66
Episode 66 Lian Xiao Jung Mengirim Mata-Mata Ke Wilayah Qin
67
Episode 67 Putri Nanyang
68
Episode 68 Bencana Kekeringan Di Beidi
69
Episode 69 Kasus Hilangnya Seorang Anak
70
Episode 70 Lee Jiang Wook Kritis
71
Episode 71 Kesedihan Chu Pian Ran
72
Episode 72 Pembalasan Chu Pian Ran Untuk Kerajaan Lian
73
Episode 73 Kerajaan Lian Terpuruk
74
Episode 74 Sepenggal Kisah Peri Bunga Mei Hwa Lie
75
Episode 75 Lee Jiang Wook Bisa Berjalan Kembali
76
Episode 76 Kesurupan Massal
77
Episode 77 Pernikahan Lee Jiang Wook Dan Chu Pian Ran
78
Episode 78 Kebahagiaan Lee Jiang Wook dan Chu Pian Ran
79
Episode 79 Menikmati Kehidupan Berumah Tangga
80
Episode 80 Kasus Kematian Aneh
81
Episode 81 Rong Hya Membantu Chu Pian Ran Melawan Iblis
82
Episode 82 Kehamilan Chu Pian Ran
83
Episode 83 Kebahagiaan Keluarga Lee Dan Keluarga Chu
84
Episode 84 Mengungkap Pelaku Pencurian
85
Episode 85 Xi Er Dan Xio Bai
86
Episode 86 Harimau Nyasar
87
Episode 87 Keresahan Nona Kung Xhu Fei
88
Episode 88 Peri Zhin Zhuan
89
Episode 89 Si Putri Mungil Yang Cantik
90
Episode 90 Kebakaran Hutan
91
Episode 91 Keluarga Harimau Berkumpul Kembali
92
Episode 92 Kesedihan Selir Chi Min Ru
93
Episode 93 Serangan Belalang Di Mong Yan
94
Episode 94 Terusir Karena Penyakit Kusta
95
Episode 95 Berkuda Bersama
96
Episode 96 Kunjungan Dari Kerajaan Han
97
Episode 97 Kutukan Siluman Tikus
98
Episode 98 Bukan Gempa Bumi Biasa
99
Episode 99 Akhirnya Bisa Bernapas Lega
100
Episode 100 Ketertarikan Lee Chu Mian Yin Pada Prajurit
101
Episode 101 Kisah Sedih Xhi Wan Mei
102
Episode 102 Rong Hya Membawa Zhin Zhuan Ke Hutan Jinfeng
103
Episode 103 Membongkar Kelicikan Tabib Zhang (1)
104
Episode 104 Membongkar Kelicikan Tabib Zhang (2)
105
Episode 105 Malam Purnama Yang Mencekam (1)
106
Episode 106 Malam Purnama Yang Mencekam (2)
107
Episode 107 Mustika Kehidupan Dewi Bulan (1)
108
Episode 108 Mustika Kehidupan Dewi Bulan (2)
109
Episode 109 Transformasi Chu Pian Ran Menjadi Peri
110
Episode 110 Chu Pian Ran Di Istana Bulan
111
Episode 111 Gagasan Chu Pian Ran (1)
112
Episode 112 Gagasan Chu Pian Ran (2)
113
Episode 113 Penambangan Emas Besar-Besaran
114
Episode 114 Pembangunan Rumah Untuk Kaum Tunawisma
115
Episode 115 Kekaguman Han Zhuo Jin Pada Chu Pian Ran
116
Episode 116 Bangsa Kurcaci (1)
117
Episode 117 Bangsa Kurcaci (2)
118
Episode 118 Rencana Mengajari Bangsa Kurcaci Memasak
119
Episode 119 Mengajari Bangsa Kurcaci Memasak
120
Episode 120 Berlian Yang Berkilauan
121
Episode 121 Pakaian Aneh Chu Pian Ran
122
Episode 122 Telur Elang Emas
123
Episode 123 Telur Emas Menetas
124
Episode 124 Jinying Eek Emas
125
Episode 125 Lee Chu Mian Yin Tidak Rela Melepas Jinying
126
Episode 126 Jinying Bertemu Induknya
127
Episode 127 Qin Wu Zhu Menggoda Lee Chu Mian Yin
128
Pengumuman Untuk Para Readers Novel "Chu Pian Ran" Yang Setia
129
Episode 128 Ibukota Qin Gempar
130
Episode 129 Semua Anggota Keluarga Kerajaan Qin Turut Melihat Induknya Jinying
131
Episode 130 Jinying Dan Induknya Menginap Di Kediaman Chu
132
Episode 131 Dewa Shao Hao Menjemput Jinying dan Induknya
133
Episode 132 Berkunjung Ke Rumah Xhi Wan Mei
134
Episode 133 Jenderal Long Yuan Pulang Ke Ibukota
135
Episode 134 Iblis Qing Liong Lepas dari Segel
136
Episode 135 Duka Mendalam Keluarga Chu dan Keluarga Lee
137
Episode 136 Lee Chu Mian Yin Menjadi Sosok Pendiam
138
Episode 137 Para Peri Senior Memusnahkan Iblis Qing Liong
139
Episode 138 Para Peri Senior Berkunjung Ke Kediaman Chu
140
Episode 139 Lee Chu Mian Yin Mencoba Kesaktian Cincinnya
141
Episode 140 Ide Cemerlang Zhin Zhuan
142
Episode 141 Sekolah Khusus Anak Rakyat Jelata
143
Episode 142 Kehebohan Siswa Kelas A
144
Episode 143 Kecemburuan Qin Wu Dang
145
Episode 144 Kesedihan Rong Hya
146
Episode 145 Rong Hya Berkunjung Ke kediaman Chu
147
Episode 146 Rong Hya Membujuk Lee Chu Mian Yin
148
Episode 147 Nyonya Chu Jeong Byun Emosi
149
Episode 148 Keterkejutan Qin Wu Dang
150
Episode 149 Keistimewaan Lee Chu Mian Yin Diketahui Anggota Keluarga Kerajaan
151
Episode 150 Lee Chu Mian Yin Menolak Tinggal Di Istana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!