Senja yang mendung mulai menitikkan air mata. Abimanyu melangkah dalam penyesalan.
"Apa yang terjadi padaku?" pikir Abimanyu, ia merasa aneh sendiri. Dulu rasa yang ia miliki untuk Gita hanya sebatas suka, tapi sekarang suka yang ia rasakan menjadi getaran halus yang menyelusup di setiap inci darahnya. Desiran-desiran aneh, yang sangat berbahaya.
Kadang emosinya tidak terkendali saat melihat Gita berbincang dengan lawan jenis 'Cemburu'
Senja hari ini muram. Langit hitam! Susana seram menyelimuti bukit baris. Angin berhembus kencang menggoyangkan pohon -pohon.
Bagaimana bisa Abimanyu bernafsu dengan wanita yang telah mengasuhnya selama ini. Pemuda dengan rambut gondrong itu menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Lalu mengacak-acak rambutnya.
"Kacau!" Dihempaskan nafasnya dengan keras.
Byar....
Lampu-lampu dinyalakan. Abimanyu masih ada di luar rumah, dari balik jendela dia bisa melihat Gita duduk di meja yang biasanya ia duduki untuk membaca buku.
Sebenarnya pemuda ini penasaran, buku apa yang di baca Gita, apa isinya? Mungkinkah di sana ada banyak rahasia?
Gita seperti wanita yang tidak normal? Selama tinggal bersama, belum pernah terlihat Gita memiliki pasangan.
Mondar-mandir orang datang melamarnya, namun di tolak dengan halus.
Wajah Gita tergolong Cantik, tidak mungkin tidak ada yang mau, tapi, apa yang membuat Gita seperti pesakitan? pertanyaan yang selalu hadir dihati Abimanyu, namun belum bisa di jawabnya.
Hidup seperti apa yang sudah di lewati seorang Sagittarius? dan ada kenangan apa pada senja? Mengapa itu seperti sesuatu yang sangat berarti baginya.
Di ujung senja, Gita selalu kesana mengadukan semua keluh kesahnya, atau sekedar menikmati kopi, sepertinya di sudut senja wanita tercantiknya itu memiliki kisah nyata yang tak bisa di uraikan dengan kata-kata.
Seperti wajah senja yang mendung, akhirnya malam ini turun hujan yang sangat deras, semakin deras tanpa kompromi, menghujam atap rumah seperti anak panah.
Entah apa yang ada di otak remaja itu. Matanya tak bisa beralih dari wanita yang duduk menyendiri di sudut ruangan. Di bawah temaramnya lampu bohlam, wanita cantik itu sedang menulis.
Dia sedang menulis sesuatu, Apa itu?
Abimanyu hanya bergumam dari kejauhan. Dia tidak tau mengapa Gita selalu terlihat terluka dan berduka, tatapan matanya selalu kosong.
Selalu seperti itu setiap hari, duduk diam menikmati buku, menulis, sepertinya itu cara terbaik baginya untuk meluruhkan resah dan gundah hatinya atau saat dia dalam masalah.
“Tidurlah bi,” Abimanyu yang sendiri tadi diam memperhatikan, memberanikan diri untuk menghampiri.
Wanita ini hanya menoleh sedikit dengan terkejut, sempat terlihat ada bulir bening air mata mengenang disudut matanya cepat-cepat ia seka, dengan ujung jari.
“Ada apa bi? Tidakkah Bibi ingin bercerita padaku?” tanya Abimanyu pelan dan hati-hati. Namun Gita diam saja dan memilih untuk meninggalkan Abimanyu.
Malam gelap, berjalan bersama hujan. Dalam hiruk-pikuk suara air yang saling mendahului sampai bumi, Abimanyu menyendiri, membayangkan banyak hal dalam diamnya.
"Jika aku sampai pergi, dengan siapa Bibi akan tinggal? Apakah Bibi akan menua disini sendirian?"
Apa sebenarnya yang terjadi padanya? Abimanyu menatap punggung indah melenggang memasuki kamar. Tapi lagi-lagi pemuda itu diserang rasa aneh. Jantungnya berdetak lebih kencang, seluruh urat nadinya berdenyut aneh, dengan buru-buru remaja itu membuang wajahnya jauh ke hamparan langit-langit ruang tamu yang berwarna putih.
Desiran aneh selalu hadir seperti sengatan listrik berkekuatan kecil, namun sengatan itu menghentak seluruh persendian, dia merasa seperti lumpuh seketika. .
Hujan tak rela mereda hingga tengah malam. Abimanyu masih terjaga, membolak-balik buku mata pelajaran matematika.
Biasanya Gita akan duduk di depannya dan ngomel atau marah atau memukul kepalanya, tapi hari ini ini Gita berbeda. Gita lebih banyak diam, atau jangan-jangan dia tau jika Abimanyu nge-fly dengan melihatnya.
Gawat!
"Ini bisa membuatku menanggung malu sepanjang usia."
Suara Derik binatang malam mewarnai Kesunyian. Suasana gelap langit sepertinya sangat khas berdampingan dengan cerahnya bintang gemintang. Hujan yang seolah tumpahan air mata kesedihan mengikis mendung dan menghadirkan malam yang indah.
Setiap malam Abimanyu melihat Gita mendesah gelisah berulang-ulang, wajah ayunya tertimpa cahaya listrik bervolume lima watt, dan wanita itu terlihat sangat cantik.
Cklek...
Pintu kamar terbuka, wanita bergaun tidur berwarna pink keluar.
Oh, my God! Penampakan bidadari tak bersayap. Abimanyu langsung palingkan wajahnya, Dia berpura-pura mengambil bolpoin yang terjatuh.
Dug dug dug!
Detak jantungnya seolah mau meledak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
maharastra
g koment ahh😎
2022-10-13
1
Sisil Az Zahra
jiwa laki" yg meronta" 😅😅😅😅
2022-10-12
1
❤little girl♥
jiwamu bergejolak y by😁😁
2022-10-12
1