Bab 5

Di tempat lain, seorang pemuda yang kini terlihat semakin lusuh karena pekerjaannya yang mengharuskan dirinya menentang terik matahari yang sangat menyengat.

Dia tak lagi pernah memperhatikan penampilannya, 2 tahun terakhir dia memilih hidup menyendiri di tengah hutan.

Bermalam di kebun tanpa seorang pun yang menemaninya. Hari-hari dilaluinya dalam rasa penuh kesepian.

Hanya bekerja dan bekerja menjadi pengusir rasa sepi yang merasuk jiwanya.

Rambutnya kini mulai panjang dan tak terurus. Kumis serta bulu-bulu halus di wajahnya tak terawat sama sekali.

Dia sama sekali tidak peduli dengan kondisi dirinya meskipun dia kini sudah memiliki harta yang melimpah.

Rama sang pemuda desa nan tampan itu, kini tak sama seperti dulu. Ketampanannya sirna setelah kepergian Diska yang membawa cintanya.

Pemuda yang tampan itu memilih menyendiri setelah kegagalan pernikahannya dengan Annisa.

Flash back on.

Pernikahan Annisa dan Rama baru saja usai, kediaman pak Didin terlihat ramai di datangi para tamu serta warga yang ikut membantu perayaan acara pernikahan mereka.

Resepsi pernikahan yang megah diselenggarakan pak Didin sebagi ungkapan syukur dapat menikahkan putrinya dengan pria yang selama ini diincarnya menjadi menantunya.

"Rama," panggil Uci Desmi saat acara resepsi baru saja selesai.

Uci Desmi membawa Rama menjauh dari keramaian.

"Ada apa, Uci?" tanya Rama.

"Selama kamu berada di sini, berhati-hatilah, kamu harus tetap berwaspada," pesan Uci Desmi pada Rama.

Rama menautkan kedua alisnya, dia heran mendengar ucapan Uci Desmi.

"Memangnya ada apa, Uci?" tanya Rama penasaran.

"Tidak apa-apa, Nak. Uci cuma meminta kamu untuk hati-hati saja," ujar Uci Desmi.

"Iya, Uci. Aku akan berusaha untuk tetap waspada," ujar Rama menenangkan Uci Desmi yang sangat mencemaskan dirinya.

"Uci ingin sekali menggagalkan pernikahanmu dengan Annisa, tapi Uci tak punya daya sama sekali," tutur Uci Desmi mengungkapkan isi hatinya.

"Kenapa, Uci?" tanya Rama semakin penasaran.

"Uci juga tidak tahu bagaimana cara memberitahukan kamu alasan kekhawatiran Uci," ujar Uci Desmi lagi.

"Yang jelas, Uci curiga dengan gerak gerik pak Didin." Uci Desmi pun pergi meninggalkan Rama.

Uci Desmi tidak berani menyampaikan apa yang selama ini dipendamnya.

Setelah kepergian Uci Desmi, Rama pun masuk ke dalam rumah Pak Didin melalui pintu dapur.

"Bapak senang sekali, Buk. Akhirnya Rama menjadi menantu kita, jika suatu saat Rama mendapatkan harta yang disimpan oleh kedua orang tuanya maka kita akan ikut kaya," ujar Pak Didin Yangs Edang berbicara dengan istrinya.

"Iya, Pak. Ibu juga ikut senang. Seandainya bapak enggak ceroboh waktu itu langsung membunuh kedua orang tuanya mungkin kita sudah tahu keberadaan benda berharga itu," ujar Bu Yuyun.

Mereka berdua asyik membicarakan tentang Rama dan masa lalu.

Rama kaget saat mendengar penuturan dari sepasang suami istri itu, dia tak menyangka kedua orang tua yang kini sudah sah menjadi mertuanya adalah pelaku pembunuhan kedua orang tuanya sendiri.

Rama mengepalkan tangannya menahan amarah yang memuncak di hatinya.

Hari itu juga, Rama pergi dari kediaman pak Didin. Dia meninggalkan Annisa yang sudah berharap akan memadu kasih dengan orang yang sangat dicintainya.

Rama langsung melangkah menuju rumah Uci Desmi. Kelihatannya wanita paruh baya itu baru saja hendak masuk ke dalam rumahnya.

"Uci," panggil Rama.

"Uci Desmi menghentikan langkahnya yang hendak membuka pintu rumah.

Dia heran melihat kedatangan Rama ke rumahnya.

"Ada apa kamu ke sini?" tanya Uci Desmi heran.

Rama tak mengacuhkan pertanyaan wanita paruh baya itu.

"Uci, bukalah pintunya aku mau masuk," pinta Rama memohon pada Uci Desmi.

Uci Desmi pun membukakan pintu rumahnya, lalu mengajak Rama untuk duduk di ruang tamu.

"Ada apa, Ram?" tanya Uci Desmi heran.

Dia menangkap wajah gelisah dan kesedihan yang terpancar dari raut wajah pemuda yang sudah dianggapnya sebagai putranya.

Tiba-tiba Rama menangis, dia meluapkan rasa kesedihan yang tak terbendung lagi.

Uci Desmi membiarkan Rama menangis terlebih dahulu.

"Katakan apa yang terjadi," ujar Uci Desmi setelah Rama selesai menangis.

"Ternyata, Pak Didin adalah orang yang sudah membunuh kedua orang tuaku," ujar Rama mengadukan apa yang baru saja didengarnya.

"Apa?" Uci Desmi kaget dengan apa yang dikatakan oleh Rama.

"Dari mana kamu tahu kalau Pak Didin adalah pembunuh kedua orang tuamu?" tanya Uci Desmi.

Jantung Uci Desmi berdegup kencang.

Rama pun menceritakan apa yang baru saja terjadi pada Uci Desmi.

Uci Desmi mendengarkan dengan seksama penjelasan Rama.

"Akhirnya kamu tahu juga siapa pembunuh kedua orang tua mu," ujar Uci Desmi.

"Apa maksud, Uci?" tanya Rama.

Rama melihat dengan jelas Uci Desmi sudah tahu tentang berita yang dibicarakannya saat ini.

"Sejak awal Uci sudah yakin bahwa dia adalah pelaku pembunuhan terhadap kedua orang tuamu, tapi Uci tidak memiliki bukti yang kuat, karena setahu Uci dia ingin mencari sesuatu berharga yang dimiliki oleh kedua orang tuamu," ujar Uci Desmi menceritakan kejadian di beberapa tahun yang lalu.

"Beruntung aku tahu semua ini sekarang, sebelum semuanya terlambat," lirih Rama.

Uci Desmi senang Rama sudah mengetahui semuanya.

"Aku akan menceraikan Annisa secepatnya," ujar Rama penuh penekanan.

Rama tidak sudi memiliki istri yang merupakan putri dari pembunuh kedua orang tuanya.

Di kediaman Pak Didin semua orang tengah mencari Rama yang pergi tanpa kabar.

Terlihat Annisa merasa hidupnya hancur karena suaminya pergi meninggalkan dirinya pada malam pertama.

"Bang Rama! Aakh!" teriaknya.

"Pak, Pak Didin!" Seorang pria yang hampir seumuran dengan Pak Didin datang menghampiri sang Kepala Desa.

"Ada apa, Pak?" tanya Pak Didin menghampiri warga tersebut.

"Ada yang lihat kalau Rama berjalan menuju rumah Uci Desmi," ujar salah satu warga itu pada Pak Didin.

"Apa? Rama pergi ke rumah Uci Desmi?" tanya Pak Didin memastikan perkataan sang warga benar.

"Iya, Pak," sahut di warga itu.

Annisa mendengar apa yang dikatakan oleh sang warga yang menghampiri ayahnya.

"Yah, ayo kita ke rumah Uci Desmi," ajak Annisa tidak sabar ingin bertemu dengan sang suami.

Akhirnya, Pak Didin dan Annisa berangkat menuju rumah Uci Desmi untuk melihat keberadaan Rama di sana.

Pak Didin penasaran dengan alasan menantu tega meninggalkan sang putri pada malam pertama.

Pak Didin diikuti oleh 2 orang warga menuju rumah Uci Desmi. Sesampai mereka di rumah Uci Desmi, Annisa hendak berlari menuju pintu rumah Uci Desmi.

Tok tok tok.

Annisa mengetuk pintu rumah Uci Desmi.

"Uci, Uci Desmi." Annisa memanggil-manggil Uci Desmi dari luar rumah.

Uci Desmi yang masih mengobrol dengan Rama langsung menoleh pada Rama.

Uci Desmi dan Rama pun melangkah keluar, dia membuka pintu rumahnya.

"Bang Rama," ujar Annisa saat melihat sosok pria yang baru saja sah menjadi suaminya.

Annisa hendak melangkah mendekati sang suami.

"Stop! Jangan sentuh aku!" ujar Rama.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

ArgaNov

ArgaNov

Hai Kak, aku singgah sampai bab lima dulu ya, nanti aku singgah lagi.

Aku tunggu kedatangannya di Tukar Jiwa🥰

2022-11-05

0

Cici Azhaa

Cici Azhaa

sudah kuduga mertua Rama pasti mengejar sesuatu darinya

2022-10-02

1

Agung Andria

Agung Andria

apa sesuatubyang berharga yang dimiliki kedua orangbtua rama???

2022-10-02

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!