Tanpa Dia, Aku Tidak Bisa

Beribu tahun yang lalu, Dewa perang Bai Qin menyelamatkan surga dalam pertempuran mematikan melawan iblis. Dalam alam Dewa ribuan tahun yang lalu.

Alam dewa sering juga disebut sebagai surga. Para Dewa tidak selalu sama dengan Bodhisattva. Para Dewa masih terikat pada karma dan samsara, meskipun dewa—seperti semua makhluk hidup lainnya—mungkin menjadi Bodhisattva tercerahkan dan mencapai kesucian.

Dewa memiliki bermacam-macam wujud, biasanya berwujud manusia atau hewan. Mereka hidup abadi dan memiliki kepribadian masing-masing. Mereka memiliki emosi dan kecerdasan seperti layaknya manusia. Beberapa fenomena alam seperti petir, hujan, banjir, badai, dan sebagainya, termasuk keajaiban dihubungkan dengan mereka sebagai pengatur alam. Mereka dapat pula memberi hukuman kepada makhluk yang lebih rendah darinya. Beberapa dewa tidak memiliki kemahakuasaan penuh sehingga mereka disembah dengan sederhana.

Menjadi seorang pahlawan di Kerajaan Langit membuat sosok Bai Qin begitu dielu-elukan baik oleh teman atau musuhnya. Para musuh di dunia Dewa, yakni Dewa lain yang iri terhadap penghargaan dari Kaisar Azura berlomba-lomba menjatuhkan Bai Qin dengan segala macam cara.

Namun, tak ada satupun yang berhasil. Hingga cobaan asmara lah yang mampu menggoyahkan hati Bai Qin. Jatuh cinta membuat Dewa perang itu kehilangan akal sehatnya. Bukan lantaran api asmara saja, kecantikan dari Dewi bintang Ya Ran telah mengalihkan dunia Bai Qin.

Hingga pada suatu hari, lawan Bai Qin memanfaatkan kelemahan sang Dewa perang itu untuk mengusir Bai Qin dari Kahyangan. Musuh Bai Qin itu melaporkan segala tindakan Bai Qin ke Yang Mulia Kaisar Azura. Hingga Kaisar Langit menjatuhkan hukuman pada keduanya.

Keduanya jatuh dari Kerajaan Langit dan menghilang dari dunia. Bai Qin terlahir ke lima kalinya di dunia yang kurang dalam enam indera yang membuatnya agak tidak mengerti dan tidak kompeten dan menjadi putra keluarga Lin. Dia berteman dengan Yu Si Feng, murid kepala Istana Lize yang masih memiliki hubungan darah dengan ayah Bai Qin, Lin Pai.

**

Hari telah berganti, kini Ya Ran akan kembali menjalankan tugasnya dan mengumpulkan setidaknya seratus roh yang akan ia bantu sebagai satu syarat untuk pulang ke dunai manusia.

Kali ini, Ya Ran ditemani seperti biasanya oleh Xiao Lan. Xiao Lan yang berwajah pucat mengulas senyum ke arah Ya Ran begitu keduanya bertemu. Selama berada di alam arwah ini, Ya Ran sama sekali tidak merasa lapar ataupun mengantuk.

"Apa Tuan tidak ikut?" tanya Xiao Lan kepada Ya Ran. Karena beberapa kali terakhir, Bai Qin sendiri yang menemani Song Ya Ran dalam menjalankan tugasnya.

"Mungkin Tuan sedang banyak urusan." jawab Song Ya Ran sembari memeriksa pedangnya sebelum digunakan di kemudian nanti.

Selama beberapa kali terakhir, seusai menjalankan misi, Xiao Lan mengajari Ya Ran belajar mengguruiku pedang agar suatu saat wanita muda itu bisa melindungi dirinya.

"Iya, mungkin benar. Bai Qin sibuk! tetapi ... " Tidak bisa dipungkiri lagi, sedetik saja Ya Ran tidak melihat wajah rupawan Bai Qin, hatinya seperti ada yang kurang.

Ya Ran dan Xiao Lan terus berjalan mencari roh yang memerlukan bantuan mereka. Meski tanpa ditemani oleh Bai Qin, tugas harus segera dikerjakan dengan segera.

Tibalah Ya Ran dan Xiao Lan di sebuah persimpangan jalan. Dari sisi kiri jalan, Ya Ran dan temannya melihat roh kakek tua tengah duduk selonjoran di bawah sebuah pohon nira. Pakaian roh kakek itu lumayan bagus, yang menandakan jika dirinya berasal dari keluarga berada.

Dalam kepala di tekuk ke bawah, kakek itu berhenti di tempatnya tanpa bersuara sama sekali.

"Ni hao?" sapa Ya Ran mendekat ke arah roh kakek yang ia rasa cukup aneh itu.

Begitu mendengar suara yang merupakan sapaan dari Ya Ran untuknya, membuat kakek itu mendongakkan kepalanya seraya melihat siapa gerangan roh yang telah menyapanya.

Sang kakek melihat ke arah Ya Ran dan bertanya,"Ada apa gadis kecil?"

Ya Ran semakin mendekati kakek tua itu, dan menanyakan permasalahan apa yang sedang dihadapi oleh kakek itu.

Namun, kakek sepertinya enggan membagi masalah yang dihadapi dengan Ya Ran.

Hingga Xiao Lan terpaksa harus ikut membantu meyakinkan kakek itu untuk bersedia membagi keluh kesahnya dan mulai terbuka agar mereka berdua bisa membantunya.

"Katakan saja, Kakek."

"Aku baru saja mati, dan tubuhku masih belum ditemukan. Aku ingin dimakamkan secara layak." Dengan suara nyaris tak terdengar, sang kakek mengatakan jika dirinya baru saja mati. Dan ia ingin dimakamkan secara layak.

"Apa kita harus memanggil Tuan?" tanya Xiao Lan tiba-tiba.

"Kenapa? Apa kita sendiri saja tidak mampu, Lan er?"

"Anda tahu sendiri bukan, dunia manusia itu sangatlah kejam. Jika Anda bersama Tuan, pasti akan jauh lebih aman."

Benar juga apa yang dikatakan oleh Xiao Lan. Selama ada Bai Qin, masalah apapun akan beres tanpa ada hambatan. Meski berwajah kaku, Ya Ran merasa jika Bai Qin sebenarnya adalah pria yang hangat dan penuh perhatian.

"Tapi ... bagaimana caranya kita memanggil Tuan?" celetuk Ya Ran tiba-tiba. Tak salah jika Ya Ran bertanya seperti itu. Karena Bai Qin sedang tidak bersama mereka sekarang ini.

"Anda panggil saja Tuan dari dalam hati, dalam hitungan ke tiga, Tuan pasti akan datang di depan Anda, Nona." Penjelasan dari Xiao Lan ini cukup menggelikan jika didengar oleh orang lain. Tetapi untung saja, di alam arwah ini tidak ada orang yang mengenal Ya Ran. Hanya Xiao Lan dan pengawal Bai Qin saja, jadi sangatlah aman dari gunjingan orang lain.

Ya Ran sedikit malu-malu ketika Xiao Lan memintanya untuk memanggil sang suami. Lantas apakah Ya Ran akan memanggil Bai Qin seperti yang dikehendaki oleh Xiao Lan.

Ehm ... Ya Ran mencoba berdehem guna melegakan tenggorokannya yang nyaris tercekat demi memikirkan Bai Qin.

Lalu, Ya Ran menarik napas dalam-dalam, kemudian mengeluarkannya dengan rileks. "Tuan Bai Qin, bisakah kau membantuku?" Ya Ran mulai memanggil nama Bai Qin.

Dalam hitungan satu hingga tiga, tak ada sama sekali tanda kedatangan Bai Qin. Hingga Ya Ran kembali memanggil nama itu lagi. Dan percobaan ke dua pun gagal.

Mungkin mereka memang harus bertugas berdua tanpa bantuan Bai Qin. Atau juga mungkin Bai Qin sedang sibuk. Jujur saja, Ya Ran juga sedikit merindukan Bai Qin hingga mengeluh dalam hati, "Andai saja kau di sini, Suamiku. Aku dan Lan er pasti tidak kesulitan.

Dua pasang kaki yang awalnya berjalan, kini bertambah satu pasang lagi berjalan beriringan dan berjejer di sebelah Song Ya Ran.

"Tuan, kau datang? Kukira kau sibuk."

"Bagaimana bisa aku sibuk? Jika kau terus saja memanggil aku."

Song Ya Ran membuang muka ke arah Xiao Lan demi menutupi rasa malunya dari Bai Qin.

Terpopuler

Comments

[AIANA]

[AIANA]

go go go !
iya e dhe. aku merasakan kegalauanmu mencari konflik

2022-09-24

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!