Membual

Tanpa diduga oleh Ya Ran sama sekali, di balik cahaya menyilaukan itu muncullah seorang pria tinggi dengan baju khas kaum berilmu sedang berjalan mendekat ke arah Song Ya Ran.

Selain rupawan, pria itu juga tampak begitu dingin. Ya Ran bisa melihat dari cara berjalan dan juga bentuk badannya yang kekar menandakan jika pria itu menjaga tubuhnya dengan ketat.

"Siapa dia? Jangan-jangan dia orang jahat yang mau menjadikan aku tumbal persembahan kepada Dewa."

Ketampanan yang terpancar itu kian mendekat ke arah Ya Ran. Hingga membuat wanita itu menutup kedua matanya karena silau akan cahaya terang benderang itu.

Bukan terpana, melainkan Ya Ran memundurkan langkahnya lagi. Gadis itu merasa jika ia datang ke tempat ini karena sebuah jebakan atau apapun namanya dan dirinya akan dijadikan tumbal persembahan untuk Dewa yang disembah di kuil ini.

Ya Ran semakin bergidik ngeri karena sosok yanh ingin menjadikan dirinya sebagai persembahan untuk dewa kian mendekat dan menatap dengan intens ke arahnya.

Nyali Ya Ran semakin ciut mana kala pria yang berada di depannya itu membawa sebuah pedang berukuran sedang.

Tidak hanya membawa sebuah pedang, pria rupawan itu juga membawa sebuah cawan tertutup. "Mungkinkah dia akan mengambil darahku dan dijadikan persembahan?"

"Siapa kau? Jangan macam-macam denganku!" Memberanikan dirinya, Ya Ran seperti menggertak agar pria berkasta tinggi itu tidak melukai diri Ya Ran.

"Aku sudah lama menunggumu, Ran er. Song Ya Ran."

Kedua alis Ya Ran menyatu, dengan perasaan heran, "Dia tahu namaku? Apa dia dukun jahat?" Bisa-bisanya Ya Ran menganggap pria yang telah menolongnya sebagai dukun jahat yang akan mengorbankan nyawa Ra Yan kepada Dewa kuil ini.

"Kau pasti heran, dan kaget karena belum sempat melihatku bukan?"

Tetapi Song Ya Ran semakin merasa terancam, kini ia mulai memasang kuda-kuda. Meski ia sama sekali tidak bisa bela diri.

"Jangan banyak alasan, kau pasti dukun jahat yang akan menjadikan aku sebagai tumbal persembahan bukan?"

Tentu saja apa yang dikatakan oleh Song Ya Ran membuat Bai Qin tak bisa lagi menahan tawanya. Untuk menjaga kewibawaannya di depan Ya Ran, Bai Qin tetap harus terlihat seolah serius di depan Ya Ran.

"Lucu sekali, untuk apa aku ingin mengorbankan dirimu? Sedangkan kau ini adalah istriku."

"Tunggu dulu! pria ini bicara apa? Istrinya?" Hal konyol apa lagi yang diucapkan untuk menggerakkan hati Ya Ran agar bersedia menjadi korban persembahan.

Ya Ran tidak bisa diam saja, meskipun tak memiliki bekal berupa ilmu bela diri, setidaknya Ya Ran bisa berteriak untuk meminta pertolongan orang lain yang kebetulan lewat.

"Bagaimana aku bisa mempercayaimu? Sedangkan kau adalah orang asing yang baru kutemui?"

Tentu saja Ya Ran menganggap Bai Qin orang lain. Selain belum pernah bertemu tatap muka. Ya Ran juga belum melihat seperti apa rupa sang suami.

Bahkan ketika jasad Bai Qin dimasukkan ke dalam peti mati, Ya Ran sama sekali tidak berani menengoknya. Hanya melalui sebuah lukisan wajah yang dipajang bersamaan di rumah duka lah Ya Ran bisa melihat seperti apa rupa Bai Qin.

Namun, Ya Ran tidak bisa mengetahui dengan jelas seperti apa rupa Bai Qin. Hingga pada malam pernikahan mereka, Bai Qin sempat mendatangi Ya Ran dengan wajah penuh luka yang berdarah.

"Kau jangan bercanda, Tuan!"

"Jika kau tidak percaya, kau bisa mengecek relik yang kubawa."

Bai Qin mengulurkan sebuah cawan itu ke hadapan Ya Ran. Tak hanya relik saja, Bai Qin juga menunjukkan sebuah pedang yang sering ia gunakan untuk bertarung.

Ya Ran lebih tertarik melihat pedang tersebut daripada memeriksa sisa abu dari hasil kremasi. Bukan hal yang mustahil bagi Bai Qin untuk mendapatkan abu sisa kremasinya, dengan kultivasi yang ia miliki, Bai Qin bisa melewati batas dimensi sesuka hatinya.

Kultivasi atau Cultivation – sebuah proses meningkatkan kesehatan, memperpanjang umur, dan bertambah kuat. Kultivasi biasanya dicapai dengan mengolah Qi atau tenaga dalam dan latihan seni bela diri & mistik. Dalam banyak novel kultivasi, tujuan akhir dari kultivasi adalah menjadi Dewa atau mencapai keilahian.

Song Ya Ran semakin membentengi dirinya dengan kewaspadaan, ia membuka penutup pedang yang dibawa oleh Bai Qin dan menghunuskan ke arah pria yang mengaku sebagai suaminya itu.

"Baiklah jika kau bersikeras mengatakan mendiang Bai Qin, mari kita uji kenyataan!"

Ya Ran menduga jika pria itu hanya membual saja, maka dari itu Song Ya Ran ingin menguji kebenaran apa yang telah dikatakan oleh pria yang mengaku Bai Qin. Jika pria itu tidak tembus dari serangan pedangnya, maka benar dia adalah Bai Qin.

Namun, jika pria itu terkena serangan pedang Ya Ran dan terluka berarti pria itu telah berbohong padanya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!