Karena terlalu lama Ya Ran bertandang ke rumah orangtuanya, membuat gadis muda itu harus terlambat meyiapkan makan siang bagi keluarga barunya.
Tentu saja hal tersebut membuat Nyonya Lin naik pitam. Terlebih lagi, Ya Ran terus saja berlaku tidak seperti menantu pada umumnya. Ya Ran sama sekali tak pernah menanyakan seperti apa kisah masa kecil Lin Bai Qin padanya.
"Jadi kau sudah tahu di mana letak kesalahanmu, Ya Ran?" Wanita tua itu tak segan memukul Ya Ran yang notabenenya adalah menantu di rumah keluarga Lin dengan sebuah tongkat panjang berbahan kayu mahoni.
Tentu saja pemukulan seperti itu sangat menyakiti badan Ya Ran, dan gadis itu sama sekali tidak pernah mengeluh di depan ibu mertuanya.
Hanya sedikit orang yang memberi perhatian lebih pada Ya Ran. Seperti tukang bersih-bersih di rumah besar keluarga Lin.
Tidak sekali dua kali Nyonya Lin berani memarahi atau bahkan memukul tubuh Ya Ran. Terlebih lagi ia merasa berkuasa atas hak di diri Ya Ran, karena sebagai wakil Bai Qin yang telah meninggal. Nyonya Lin begitu getol memanfaatkan tenaga gadis yang telah ia perbudak dengan bayaran berupa jaminan hutang Song Yi Bo, pria yang berhutang banyak koin emas dari keluarga Lin.
**
Menjelang tujuh hari kepergian Bai Qin, keluarga Lin akan mengadakan upacara Peng Tuh atau Ki Hok. Tentu saja Nyonya Lin tidak mau repot-repot mengotori tangannya dengan pekerjaan rumah tangga. Dia dengan sifat culasnya, Nyonya Lin memerintahkan Ya Ran serta membantu di rumah keluarga Lin untuk mempersiapkan keperluan upacara tersebut.
Selain membersihkan rumah, Ya Ran juga harus menyiapkan uang dan barang-barang kertas yang nantinya akan dibakar bersama dalam prosesi persembahyangan untuk Lin Bai Qin. Bukan sekali ini saja Ya Ran harus mempersiapkan ritual demi ritual di keluarga Lin. Entah apa arti semua pekerjaan yang ia alami di kehidupan ini.
"Cepat belikan dupa aromaterapi untuk nanti malam, Ya Ran!" perintah Nyonya Lin kepada Ya Ran, menantu yang sama sekali tidak ia anggap selama ini.
Tidak ada penolakan ataupun ketidaksetujuan dari diri Ya Ran. Selain tidak berani, Ya Ran juga harus melaksanakan janji orangtuanya terhadap keluarga Lin. Oleh karena itu, Ya Ran tidak bisa mundur ataupun menghindari.
Dan jarak antara rumah dan pasar tempat Ya Ran berbelanja kebutuhan upacara lumayan jauh. Gadis itu harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki.
Deretan rumah serta perkebunan menjadi pemandangan biasa saat Ya Ran pergi berbelanja. Tetapi, dengan melihat-lihat serta menghirup udara kebebasan seperti ini, cukup bisa membuat Ya Ran bahagia. Gadis itu merasa tenang tanpa harus mendengar suara cercaan ataupun makian.
"Astaga, hari ini cukup terik!" Ya Ran sedikit mengeluh ketika sengatan matahari mulai menjilati sekujur tubuhnya.
Meski angin juga bertiup semilir, tetapi tidak bisa menghalau teriknya matahari siang ini. Dan Ya Ran harus segera bergegas sebelum ibu mertuanya akan memarahi jika dirinya pulang terlambat seperti kemarin.
Tak mengapa, meski Ya Ran kesulitan. Berbakti kepada orangtua seperti nasihat yang selalu digaungkan oleh Tuan serta Nyonya Song selalu ia pegang teguh di dalam hatinya. Bahkan hingga Ya Ran harus menerima perjodohan dengan sebujur bangkai sekalipun. Banyak hinaan serta caki maki diterima oleh gadis mungil itu. Hanya kesabaran serta kesetiaan yang bisa Ya Ran berikan.
Perjalan ke pasar memakan waktu tempuh selama kurang lebih satu jam, belum lagi Ya Ran harus melakukan tawar-menawar dengan pedagang untuk kesepakatan harga final. Karena Nyonya Lin tidak menerima kesalahan sekecil apapun bahkan masalah harga sekalipun. Menjadi menantu keluarga kaya nyatanya tidak seenak yang selama ini orang-orang kira.
Song Ya Ran terlihat melakukan transaksi dengan penjual dupa dan juga beberapa barang titipan Nyonya Lin. Tak hanya itu, gadis kecil itu juga harus membawa sendiri barang-barang itu tanpa memberikan Ya Ran teman untuk sekadar menemani dan juga membawakan barang belanjaan Ya Ran.
Sebelum matahari bergeser ke ufuk barat, Ya Ran harus segera pulang. Dan bergegas menyusun barang-barang untuk upacara tujuh hari kematian Bai Qin.
Ya Ran mempercepat langkah kakinya untuk segera pulang ke rumah keluarga Lin. Dalam perjalanan pulang kali ini, Ya Ran merasa sepertinya ada seseorang yang mengikuti dari arah belakang.
"Sepertinya ada orang jahat yang mengikuti aku," Gadis itu semakin ketakutan pada hal yang bukan-bukan ketika jalan yang ia lalui masuk ke tempat yang lebih sepi dari perkampungan warga.
Tak ada sama sekali lalu-lalang warga di sekitar sana. Hanya ada Ya Ran seorang diri. Hingga gadis itu mempercepat langkahnya dengan berlari kecil menyusuri jalanan sepi itu.
Derap kaki lain juga terdengar dari arah belakang Ya Ran. Gadis itu sama sekali tidak berani menoleh ke belakang. Takut terjadi hal yang tidak diinginkan, membuat Ya Ran terus saja berlari hingga sampai pada tikungan jalan.
Ya Ran tidak berputus asa, dengan barang bawaan yang ia beli tadi, gadis itu terus saja berlari hingga sampai pada lorong buntu.
"Bagaimana ini? Aku terpojok!' keluh Ya Ran dalam hatinya.
Pengantin baru itu pun memberanikan diri menengok ke belakang, kedua matanya menonjol seperti hendak keluar ke depan setelah Ya Ran melihat sosok tinggi besar dengan wajah penuh rambut. Tak hanya itu saja, ujung-ujung kuku panjangnya yang kehitaman menambah rasa ketakutan Ya Ran. Hingga membuat gadis itu menjerit sejadi-jadinya.
...****...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
MyRosse🥀
Ya Ran kan udah menikah otomatis bukan gadis lagi dong ,tapi wanita ,lebih tepatnya wanita dewasa.
2022-09-21
0
[AIANA]
suaminya?
aku kaget
kok visualiasinya g setampan yg kubayangkan siih
2022-09-11
5