"Sungguh, Kak! Aku hanya menemaninya minum dan duduk mendengarkan apa yang ia rasakan. Tidak lebih."
Liang Yi duduk bersila di ranjang tempatnya biasa beristirahat. Sedangkan Ranran, ia berbaring tengkurap dan menyangga kepala dengan kedua telapak tangannya. Ia terus tersenyum, terus-terusan menggerakkan kedua alisnya, meledek temannya tersebut.
"Kita tidak tahu, tentang masa depan kita, Yiyi. Bisa jadi, kau memang berjodoh dengan pangeran. Siapa tahu. Tetapi nasibmu bakal kurang baik jika benar seperti itu." Ranran mengemukakan pendapatnya.
"Kenapa nasibku kurang baik, Kak?"
"Gadis bod*h! Pangeran mahkota adalah laki-laki tertampan dan paling berbakat di kerajaan ini. Banyak gadis dunia bawah yang akan bersedia melakukan apa pun untuk mendapatkan hatinya. Termasuk menyingkirkan saingannya."
Liang Yi bergidik ngeri saat membayangkan, banyak gadis yang mengejarnya untuk menyingkirkan dirinya.
"Ah, lebih baik aku menghindar saja, Kak. Menyeramkan! Lalu, bagaimana dengan Kak Ranran? Apa Kakak juga mendambakan pangeran itu?"
Ranran bangkit lalu mengetuk dahi Liang Yi dengan ujung jari telunjuknya.
"Meski Pangeran hampir sempurna seperti itu, dia bukan tipeku!" Kemudian, gadis itu menyilangkan tangan di depan dadanya. "Aku sadar dengan posisiku, Yiyi," lanjutnya.
Malam makin larut, Ranran menyuruh Liang Yi untuk membersihkan diri dan beristirahat. Kemudian, gadis itu kembali ke kamarnya.
Setelah membersihkan diri, Liang Yi membaringkan tubuhnya. Kantuk mulai menyerang, tetapi ia masih belum bisa tidur. Sebenarnya, ia tidak menyukai orang-orang Hongxiya karena kejadian di masa kecilnya. Ia hanya ingin bertahan dan menyusun rencana untuk membalas perbuatan orang-orang tersebut. Meski harus susah payah menyembunyikan segala kemampuan khas peri merah yang ia miliki.
Berguling ke sana ke mari, Lian Yi terus mencoba untuk tidur. Mencari posisi yang nyaman. Namun, saat ia mulai terlelap, peristiwa yang memporak-porandakan kerajaannya, Jinxiya, tergambar di mimpinya.
Seseorang memegang tangan Liang Yi dan menepuk pipinya dengan lembut saat ia berteriak-teriak dalam tidurnya. Tangannya pun menggapai-gapai.
"Yiyi, buka matamu! Apa kau tidak apa-apa?" seru Ranran dengan ekspresi kekhawatiran di wajahnya.
Ia terus-menerus memanggil nama temannya itu.
Setelah beberapa menit berlalu, Liang Yi tersentak bangun. Ia menangis. Meski Ranran tidak tahu apa yang terjadi, ia memeluk gadis tersebut, menepuk punggung dengan lembut, menenangkannya. Ia juga mengulurkan secangkir air.
Setelah isak tangis tidak terdengar dari mulut Liang Yi, Ranran bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku bermimpi saat aku kehilangan orang tua dan saudaraku, Kak Ranran. Aku ... aku tidak tahan, hingga menangis. Maafkan aku telah mengganggu istirahatmu."
Tanpa berbicara sepatah kata pun, Ranran mengangguk. Mengelus puncak kepala Liang Yi dengan lembut. Mereka berdua terdiam cukup lama.
"Kau tahu? Kita sama, tadinya aku sangat kesepian. Tetapi setelah kau datang, aku merasa aku punya adik yang sangat menggemaskan. Tidurlah lagi, esok kita harus bertugas seperti biasanya." Ranran mencubit lembut kedua pipi Liang Yi.
Ranran beranjak dari kamar Liang Yi, saat gadis itu sudah terlelap kembali. Pada awalnya, ia iri saat melihat keelokan ragawi temannya itu. Namun, entah kenapa, saat menatap kedua bola mata berwarna madu itu, hatinya luluh. Setidaknya, Ranran masih punya keluarga yang menunggunya di kampung halaman.
Kerajaan Hongxiya mulia terlihat sibuk setelah pagi menjelang. Gadis pelayan, prajurit, berjalan hilir-mudik menjalankan tugasnya. Dapur istana sudah mulai mengepul. Dari arah lain, dua orang gadis berseragam gadis pelayan, berlari-lari menuju dapur.
"Maafkan aku, Kak. Karena aku, kita kesiangan," sesal Liang Yi masih berjalan cepat di sebelah Ranran.
"Tidak masalah. Ayo, kita harus cepat!"
Kali ini, Liang Yi dan Ranran, bisa lolos dari hukuman Dayang istana di dapur. Meskipun mereka sedikit terlambat.
Setelah malam perayaan itu, Zixin masih sering meminta Liang Yi untuk menemaninya. Tidak hanya saat keadaan sedih, tetapi bahagia juga. Seperti belajar atau sekedar minum teh dan camilan. Rasa cinta sepertinya sudah mulai tumbuh di hati laki-laki itu. Namun tidak dengan Liang Yi. Banyak gadis pelayan yang mulai iri kepadanya.
Pada suatu malam, saat perjalanan pulang dari paviliun, Liang Yi melewati sebuah taman. Menurut apa yang ia ketahui, taman itu tepat di depan kediaman mendiang permaisuri. Tentu saja, di sana banyak tumbuh tanaman bunga Peony.
Liang Yi melihat serumpun Bunga Peony yang layu. Atas dorongan dari hatinya, ia mendekati rumput bunga tersebut. Menyentuh dengan lembut. Tanpa sengaja, sihirnya menyegarkan kembali bunga tersebut.
Zixin tidak memercayai apa yang ia lihat kali ini. Tadinya, ia berpikir bahwa gadis pelayan kesukaannya berasal dari tempat lain. Namun saat Bunga Peony layu itu kembali segar saat disentuh gadis tersebut, ia paham sekali, dari mana gadis itu berasal.
Suara langkah kaki di belakangnya, sontak membuat Zixin bergegas menyembunyikan diri. Ia melihat seorang gadis pelayan menyeret Liang Yi. Gadis itu melihat apa yang dilakukan Liang Yi.
Tanpa pikir panjang, Zixin keluar dari persembunyiannya. Ia menghadang gadis tersebut.
"Hormat hamba, Yang Mulia," sapa gadis itu.
"Hmm. Ada apa kalian malam-malam berada di kawasan ini?"
"Ampun, Yang Mulia. Hamba menangkap seorang budak dari Jinxiya yang menyamar." Gadis itu menarik Liang Yi hingga berlutut di hadapan sang pangeran mahkota.
Zixin terdiam, ia berpikir sebentar.
"Kau pulanglah! Biar aku urus gadis ini," perintahnya kepada gadis pelayan tadi. "Oh, iya. Ambil ini! Dan jangan berkata pada siapa pun tentang kejadian ini. Mengerti?" lanjutnya sambil melempar sebuah kantong dengan tatapan mengancam.
Liang Yi menunduk, ia menyesal telah bertindak konyol saat menyentuh tanaman tadi. Ia mendesah kesal. Pasrah dengan apa pun yang akan terjadi.
"Bangun, ikut aku!" perintah Zixin.
Laki-laki itu berjalan menuju kediaman almarhum ibunya. Membuka sebuah pintu, lalu meminta Liang Yi masuk ke dalam. Ruangan kecil yang diterangi temaram lilin.
"Celaka! Matilah kau sekarang, Liang Yi!" Liang Yi bermonolog. Gadis itu membayangkan bahwa sang pangeran akan menghabisinya di tempat itu sekarang juga.
"Kenapa berdiri? Duduklah!"
Liang Yi duduk bersimpuh di hadapan Zixin. Kepalanya menunduk.
"Kau benar-benar berasal dari Jinxiya?" Tolong, katakan sejujurnya!"
Liang Yi mengangguk.
Zixin mengambil tempat lilin di hadapannya. Mendekatkan ke wajah Liang Yi.
"Angkat wajahmu!"
Laki-laki itu menyadari bahwa kecantikan yang dimiliki gadis pelayan di hadapannya adalah kecantikan dari Jinxiya.
"Pantas saja, aku tidak bisa menolak pesonamu!" gerutu Zixin.
Mendengar perkataan laki-laki itu, Liang Yi terkejut. Ia menautkan kedua alisnya yang juga terlihat indah tetapi tersamar debu jelaga.
"Aku akan berpura-pura tidak tahu dan tetap menganggapmu, gadis pelayan istana barat. Mengerti?"
"Tetapi ...."
"Aku juga sudah membungkam mulut gadis pelayan tadi, kau tak perlu khawatir."
Meski merasa lega, tetapi Liang Yi merasa aneh dengan sikap Zixin. Memang selama ini, pria itu begitu baik padanya. Ia tidak pernah diperlakukan buruk meski seorang gadis pelayan.
"Tetapi, kau harus memenuhi persyaratan dariku!"
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments
Santuy gaming
cpt up thor
2022-10-02
0