Chapter 18 : Kehidupan Yang Tidak Adil

Liang Yi terbangun di sebuah rumah kecil. Beberapa perban membebat luka-lukanya. Pakaian yang dikenakan pun sudah berganti. Matanya memandang sekeliling. Meski tidak seluas kamarnya dulu, ruangan itu terlihat nyaman.

“Kau sudah bangun ternyata.” Suara laki-laki yang berdiri di depan pintu ruangan tersebut, sontak membuat Liang Yi terkejut. Gadis itu menoleh.

“Apakah Anda yang menyelamatkan saya dan mengganti pakaian ini?” tanyanya.

Ia menaksir usia anak laki-laki di hadapannya itu, hampir sama seperti dirinya.

“Bukan. Oh iya, bahasa yang kau pakai begitu halus. Aku rasa, kau bukan gadis sembarangan.”

“Lalu, apakah saya diperbolehkan menggunakan bahasa biasa?”

Laki-laki itu melipat tangannya di dada. Masih berdiri di depan pintu.

“Terserah kau saja,” sahutnya kemudian berbalik.

Setelah anak laki-laki itu pergi, seorang perempuan datang. Ia membawa sebuah pakaian berwarna hitam polos. Meski desainnya cantik dan jahitannya rapi, tetapi itu terlihat sangat sederhana.

“Mulai besok, kau ditugaskan menjadi pelayan di istana Barat. Pangeran mahkota adalah prioritas kita. Apa pun yang beliau perintahkan, kerjakan!”

Liang Yi melongo, tidak percaya. Ia harus menjadi pelayan orang lain. Selama ini, ia yang dilayani. Namun, teringat bahwa ia sedang menjadi pelarian. Mau tidak mau, harus tetap menjalani.

“Baik. Terima kasih. Saya akan berusaha menjalani semua perintah.”

“Aku Ranran, tidak perlu berbahasa formal denganku. Status kita sama.”

“Ah, baiklah, Kak Ranran.”

“Makanlah ini, untuk memulihkan tenagamu.” Ranran mengambil sebuah mangkok di meja yang tak jauh dari ranjang Liang Yi duduk tadi.

Di tempat lain, Zixin berjalan mondar-mandir di paviliun istana barat. Ia berharap, keputusannya menyelamatkan gadis kecil itu dan menjadikannya sebagai pelayan, sudah benar. Pemuda itu yakin, jika gadis tadi, bukan gadis sembarangan. Kulitnya yang putih bersih, pipi bersemu merah dan bibir yang merah muda alami. Ia belum pernah menemukan gadis semacam itu di negaranya.

Seorang pelayan, mendekati Zixin, menghormat.

“Bagaimana dengan gadis itu, Ranran?”

“Hamba sudah mengurus sesuai pilihan, Pangeran.”

“Baiklah.”

“Tetapi, apa tidak apa-apa jika ia jelas terlihat bukan seperti gadis Hongxiya?’

“Yang mulia tidak perlu risau. Hamba sudah memikirkan itu.”

“Ah, begitu.”

Keesokan harinya, dengan kebingungan yang menggelayuti perasaannya, Liang Yi mengikuti Ranran menuju dapur. Ia melihat seniornya itu mengusap jelaga di dinding kayu. Menggosokkannya di kedua telapak tangan dengan keras.

“Kemarilah! Oh iya, siapa namamu?”

“Liang ... eh, orang tuaku memanggilku Yiyi.”

“Cepat kemari, Yiyi!”

Setelah Liang Yi mendekat, gadis yang lebih tua darinya tadi, mengusap jelaga tipis-tipis di wajah putih bersih dengan semu merah di pipi itu.

“Nah, kalau begini, kau akan terlihat seperti gadis pelayan dari Heixiya, seperti pelayan-pelayan yang tinggal di pondok sebelah sana. Orang tidak akan mencelakaimu karena kecantikan wajahmu itu."

Liang Yi memandang wajahnya dari pantulan air di belanga tak jauh dari tempatnya berdiri. Kemudian ia tertawa. Ranran pun ikut tertawa bersamanya.

Setelah menyembunyikan kecantikan wajah yang dimiliki, Liang Yi diajak untuk masuk ke area istana barat oleh Ranran. Istana itu tidak seindah tempat yang ia tinggali dulu, tetapi desain dan tata letaknya memang tidak terlalu menyiksa mata yang memandang.

“Kak Ranran, kenapa dari tadi aku tidak melihat sekuntum bunga pun di sini?”

“Kau jangan bodoh, Yiyi. Negara ini tidak memiliki peri yang bisa menyihir bunga untuk tumbuh di sini. Hanya tanaman-tanaman yang berdaun saja atau berbuah saja, yang tumbuh di sini.”

Mendengar penjelasan tadi, Liang Yi mengangguk-angguk. Kemudian, ekor matanya, menangkap sesosok anak laki-laki yang kemarin ada di pondok yang ia tinggali bersama Ranran. Ia berjalan cepat mendekati pemuda tadi.

“An-eh, Kau. Kenapa kau ada di sini?” tanya Liang Yi saat ia sudah berdiri di hadapan laki-laki tersebut. Sementara orang yang duduk di hadapannya mendongakkan kepala dan menatapnya. Kemudian ia tertawa.

Ranran menepuk dahinya saat melihat Liang Yi dari kejauhan. Ia bergegas mendekati gadis tersebut. Setelah memberi hormat, ia menarik tangan Liang Yi menjauhi paviliun.

“Itu Pangeran mahkota, kau tahu?”

“Iya, Kak. Tetapi bukankan anak laki-laki itu yang datang ke pondok kita kemarin?”

Ranran menganggukkan kepala.

“Dia seorang pangeran?”

Ranran mengangguk kembali.

“Celaka! Aku ... aku ....”

Ranran menutup mulut Liang Yi, lalu berbisik di telinga.

“Ya, beliau yang menyelamatkanmu. Kemudian memintaku untuk merawatmu. Setelah kau pulih, beliau ingin kau jadi pelayan di istananya. Kau tidak boleh membeberkan ini. Hanya kita bertiga yang tahu tentang kejadian itu, bersikaplah seakan-akan kau adalah sepupuku.”

“Kak Ranran bukan dari Hongxiya?”

Ranran mengangguk lagi.

“Baiklah. Apa yang harus kita kerjakan hari ini, Kak?”

“Karena kau baru masuk istana. Hari ini, kau hanya melihat dan membantuku bertugas.”

“Baiklah, Kak. Tolong bimbing aku.”

Ranran dan Liang Yi berjalan menuju dapur istana. Saat itu, waktu mendekati jam makan siang keluarga istana yang tinggal di istana barat. Gadis-gadis pelayan termasuk kedua gadis tadi, berbaris membawa nampan. Berisi makanan dan minuman untuk makan siang.

Mata Liang Yi mencari-cari sosok anak laki-laki tadi. Hingga ia hampir saja jatuh bersama nampan di tangannya.

“Berjalanlah dengan kedua matamu yang fokus, Yiyi!” bisik Ranran di belakangnya.

“Setahuku, kita berjalan dengan kaki kita, Kak Ranran.”

“Gadis bodoh!”

Kedua gadis tadi, menunduk menahan tawa.

Semenjak itu, Liang Yi menjadi gadis pelayan di istana barat bersama Ranran. Kedua gadis itu juga ditunjuk sebagai pelayan khusus kediaman Pangeran Mahkota. Hal itu, membuatnya sering bertemu dengan calon penerus takhta itu.

Musim silih berganti, tahun demi tahun berlalu. Liang Yi telah tumbuh menjadi gadis yang memikat. Hal itu yang membuat Ranran semakin khawatir. Setiap pagi, ia berusaha membuat adik angkatnya itu terlihat kumal.

Bukan karena iri atau apa pun. Itu memang permintaan dari Zixin, agar Liang Yi tidak terlihat mencolok. Suatu malam, setelah seharian bekerja, Liang Yi mencuci tangan dan wajahnya untuk pergi tidur. Ranran memandangi dengan tatapan kekaguman.

“Aku semakin yakin, kau memang bukan gadis sembarangan, Yiyi. Kecantikanmu berbeda dengan gadis Heixiya atau pun Hongxiya. Sungguh! Tunggu ... kau terlihat seperti budak-budak dari kerajaan ....”

Ranran meraba punggung Liang Yi, tentunya gadis itu tertawa. Merasa geli.

“Tetapi kau tidak punya sayap yang dipotong seperti mereka.”

Liang Yi tercekat saat mendengar perkataan Ranran. Kain di tangannya jatuh ke ember kayu di hadapannya.

“Dipotong?”

“Ya, aku mendengar dari pelayan lain, seperti itu.”

Liang Yi menunduk. Ada buliran air menggenang di sudut mata cantiknya yang berwarna madu. Teringat segala peristiwa bertahun-tahun lalu saat ia melarikan diri bersama Peiyue. Kemudian, ia tidak bisa lagi menahan isak tangisnya.

“Yiyi? Kenapa menangis? Aku juga kasihan kepada mereka, tetapi seperti itulah terkadang kehidupan. Tidak adil bagi sebagian orang.”

“Tidak, Kak. Aku hanya sedang merindukan keluargaku yang telah tiada.”

Ranran menepuk bahu kawannya itu dengan lembut.

Malam itu, terlintas di pikiran Liang Yi, bahwa ia harus mencari budak-budak yang dimaksud tadi. Ia ingin melihat penduduk dari kerajaannya. Kemudian, ia pun mulai menyusun rencana.

Bersambung ....

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!