Chapter 17 : Pilihan

Seorang peri penjaga tingkat tinggi yang menjaga kediaman putri kerajaan Jinxiya, berjalan mondar-mandir di halaman. Ia ditugaskan untuk melindungi beberapa keluarga kerajaan di istana mengapung.

Liang Yi berjalan pelan-pelan ke halaman. Matanya menangkap tanda berbentuk kupu-kupu kecil di leher peri penjaga yang berjalan mondar-mandir tadi.

“Tuan Putri, ada apa? Apakah Anda membutuhkan sesuatu?” tanya peri penjaga tadi.

“Tidak, aku hanya ingin mencari udara segar. Oh, iya, apa kau peri penjaga yang baru naik tingkat itu? Aku baru melihatmu, hari ini.”

“Ya, Tuan Putri. Hamba memang baru beberapa hari lalu diangkat. Peri penjaga tingkat tinggi utama, semua turun ke medan pertempuran.”

“Siapa namamu?”

“Nama hamba, Peiyu.”

“Apa kau takut, Kak Peiyu?”

“Untuk apa hamba takut? Baginda ratu adalah peri terhebat, semua akan baik-baik saja, Tuan Putri.”

“Aku juga berharap begitu.”

Obrolan kedua orang tua tadi terhenti saat mereka menyadari, bahwa kubah pelindung telah terbuka. Peri penjaga tersebut jatuh berlutut. Ia mulai menangis. Kemudian ia mengepalkan kedua tangannya. Dari kepalan tangan tersebut, muncul belati yang berkilauan, terbuat dari cahaya.

Merasa kebingungan, Liang Yi menghampiri perempuan tadi.

“Ada apa Kakak peri penjaga?”

“Ratu ... Baginda Ratu ....”

Halaman istana mengapung mulai ramai. Beberapa peri penjaga mulai membentuk barikade. Meski mereka sedih, tetapi mereka harus tetap menjalankan tugas hingga titik darah penghabisan. Sesuai perkiraan, pasukan koalisi dua kerajaan sudah bergerak masuk ke istana mengapung. Peiyue juga bertempur dengan kedua belati andalannya.

Saat mulai terdesak, Peiyu menyambar Liang Yi, lalu menggendongnya.

“Tuan Putri harus selamat,” ucap perempuan itu.

Suasana istana mengapung mulai kacau, beberapa peri penjaga telah terbunuh. Begitu pula keluarga kerajaan, kecuali mereka yang masih anak-anak, dijadikan tawanan. Sementara itu, Peiyu masih berlari, ia mengelak dari lemparan-lemparan tombak atau pisau prajurit Heixiya. Dengan tubuhnya, ia melindungi Liang Yi dalam gendongan.

Setelah sampai di tepi istana mengapung, peri penjaga tersebut dengan sekuat tenaga membentangkan sayapnya.

Peiyu terbang menukik, melewati beberapa pasukan yang masih berperang. Beberapa peri juga bertarung mengandalkan sayapnya. Perbedaan jumlah pasukan, membuat para peri penjaga di titik mana pun, banyak yang terbunuh. Peiyu terkesiap saat melihat beberapa peri penjaga dan perempuan dengan mahkota emas di kepalanya tergeletak di tanah. Ia terisak. Begitu pun Liang Yi.

“Ibunda ....” panggil gadis kecil itu.

Seseorang melihat Peiyu terbang, ia membidik salah satu sayap peri penjaga tersebut. Peri itu mulai oleng, tetapi ia tetap berusaha terbang tinggi dengan segala energi dan sihir yang tersisa di tubuhnya. Sebuah bidikan, kembali merobek sayapnya. Ia tidak bisa bertahan lagi, dengan memeluk erat Liang Yi, ia jatuh ke sebuah sungai. Dengan menahan sakit, perempuan itu bangkit, meraih putri kerajaan Jinxiya itu ke dalam pelukannya lagi, lalu berjalan terseok-seok. Aliran sungai yang deras, menguras habis energi Peiyu.

“Putri ... Tuan Putri, Anda harus selamat. Berjalanlah terus menyusuri pinggir sungai ini. Hamba ... hamba sudah tidak kuat lagi.” Peiyu menurunkan Liang Yi dari gendongannya, lalu tubuhnya ambruk, tercebur ke sungai.

“Kakak! Kakak Peri penjaga! Kak Peiyu!” teriak Liang Yi, tetapi ia teringat bahwa ia harus hidup. Gadis itu menghentikan teriakannya, membungkam mulut sendiri. Air mata masih membanjiri wajahnya.

Seperti apa yang diminta Peiyu, Liang Yi berjalan menyusuri sungai. Jubah kerajaan yang ia pakai, sudah tidak berbentuk karena tersangkut semak-semak di pinggir sungai. Ia membuang jubah koyak tersebut ke sungai, lalu terus berjalan kembali.

Tidak peduli dengan apa pun, ia tidak berhenti. Ia menyembunyikan sayapnya dengan mantra yang diajarkan ibunya beberapa waktu yang lalu.

Setelah berjalan beberapa lama, Liang Yi mulai lelah. Ia melihat sebuah danau yang luas setelah menyusuri sungai tadi. Kemudian, gadis tersebut jatuh tersungkur karena kelelahan. Ia pun kehilangan kesadaran.

Di tempat lain, penduduk Jinxiya yang tertangkap, diikat berurutan dan dipaksa berjalan menuju kerajaan Hongxiya. Beberapa yang terlihat menawan, diangkut dengan kereta kuda khusus. Nasib mereka tergantung keberuntungan. Jika tidak menjadi budak, maka mereka akan dijadikan pelayan istana, atau bahkan gadis penghibur.

Dalam perjalanan, beberapa tawanan berhasil melarikan diri, lalu menuju dunia manusia. Karena saat peri masuk ke dunia manusia tidak mempunyai wujud, mereka mencari tubuh-tubuh yang sekarat. Kemudian hidup dalam tubuh tersebut. Menjalani kehidupan seperti manusia pada umumnya.

Nasib beruntung masih berpihak pada Peiyu, ia masuk ke dunia manusia lewat sebuah celah di sungai. Saat perempuan itu sadar, ia melihat peri lain, masuk ke tubuh manusia yang sekarat. Mulai saat itu, ia berusaha mencari tubuh yang menurutnya cocok untuk dirinya.

Di dunia manusia, Peiyu berkeliaran seperti hantu. Pindah dari satu pohon ke pohon lainnya. Ia mencabut sayapnya sendiri yang telah rusak. Sejak saat itu, ia berpindah tubuh dari satu tubuh ke tubuh lain. Beberapa saat kemudian, pasukan Heixiya mengenalinya sebagai warga Jinxiya. Ketika ia keluar dari tubuh manusia yang menurutnya kurang nyaman. Ia pun harus menghindar dari kejaran klan hantu kuburan tersebut.

***

“Pangeran, Anda mau ke mana? Sebentar lagi, Baginda Raja akan pulang dari medan pertempuran.” Seorang pelayan istana, bertanya pada seorang anak laki-laki.

“Aku hanya ingin berjalan-jalan ke danau saja. Sebentar. Kau tidak perlu ikuti aku.”

“Ta-tapi, Pangeran ....”

“Diamlah, tidak perlu membantah lagi.”

Laki-laki muda itu bernama Zixin, ia adalah putra mahkota kerajaan Hongxiya. Sebenarnya, ia anak yang istimewa. Ia sangat menyukai ilmu sastra dan seni. Juga ahli bela diri dan sihir. Meski usianya masih tergolong muda di dunia bawah, tetapi kemampuannya hampir setara dengan raja hantu saat ini. Ibunya adalah seorang dewi, putri dari raja akhirat terdahulu. Saat ia lahir, Phoenix emas bernyanyi sepanjang hari.

Zixin berjalan menuju tempat yang ia sukai, di tepi danau. Perbatasan dua kerajaan. Suasana yang hening dan nyaman, membuat laki-laki muda itu betah berlama-lama di sana. Ia bahkan pernah mengabadikan tempat itu dalam sebuah lukisan.

Ketika asyik menyusuri tepi danau, Zixin dikejutkan oleh sesosok gadis kecil yang tergeletak di pinggir danau. Wajah gadis itu tertutup rambutnya yang berantakan. Pakaiannya penuh dengan noda darah. Perlahan, anak laki-laki itu mendekat ke tubuh yang tak bergerak itu. Menyibakkan rambut gadis tersebut. Sejenak, ia merasa tertarik dengan gadis tersebut. Oa terus memandangi wajah itu.

Jari-jemari gadis kecil itu bergerak-gerak. Membuat Zixin yakin bahwa gadis itu baik-baik saja. Ia berjongkok di sebelah tubuh yang masih tergeletak itu. Masih kebingungan harus melakukan apa. Sampai seorang pelayan istana datang menghampirinya.

Pelayan itu berjalan dengan menunduk, bertanya tentang apa yang telah terjadi. Zixin berkata, bahwa ia baru saja menemukan hal itu dan tidak tahu harus berbuat apa. Sementara itu, pelayan istana malah memberikan ide dan usulan.

“Jadi, aku haru pilih salah satu, begitu?”

Bersambung ....

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!