Bao Hui berjalan mengendap-endap saat malam kian larut. Ia menjelajahi istana yang ia kagumi saat pertama kali melihat. Taman yang ditata minimalis, tetapi nyaman di pandang. Tidak seperti tempat ia tinggal, suram, gelap dan membosankan, menurutnya.
Ketika berjalan-jalan, gadis itu melewati sebuah paviliun. Di sana duduk seorang anak laki-laki. Di tangannya, terdapat sebuah buku.
Di mata Bao Hui, anak laki-laki itu begitu menarik. Tanpa pikir panjang, gadis itu mendekati anak laki-laki tadi. Merasa ada seseorang yang mengamati, anak laki-laki itu menolehkan kepalanya. Ia terkejut saat melihat seorang gadis berpakaian serba hitam, berdiri tak jauh dari tempatnya duduk.
“Apa aku mengganggumu?” tanya Bao Hui.
“Siapa kau? Kenapa kau ada di sini?”
“Aku ... aku ikut ayahku ke istana ini. Aku sedang berjalan-jalan, dan aku melihatmu. Kurasa kita seumuran. Apa kau mau jadi temanku?”
Anak laki-laki itu acuh tak acuh. Ia kembali membaca buku di tangannya. Bao Hui kesal, ia bergerak cepat ke arah depan pria muda itu. Meletakkan kepala di atas kedua telapak tangannya di meja dan menatap tajam. Seolah-olah tidak ada siapa pun di sana, anak laki-laki itu tetap fokus membaca.
Bao Hui menarik buku di tangan anak laki-laki itu.
“Baru kali ini, ada yang tidak menghiraukanku. Apa kau tidak tahu bahwa aku sangat kesal?”
“Apa peduliku? Pergilah! Aku sedang belajar.” Anak laki-laki tadi bangkit dari duduknya dan berjalan pergi setelah merebut kembali bukunya.
“Akan kulaporkan sikapmu, kepada ayahku!” teriak Bao Hui.
Anak laki-laki itu hanya melambaikan tangan, tanpa berbicara satu patah kata pun lagi. Membuat Bao Hui semakin kesal. Gadis itu menjejak-jejakkan kakinya ke tanah. Kemudian berjongkok.
“Di sini kau rupanya.” Seorang laki-laki berdiri tak jauh dari gadis kecil itu.
Bao Hui menolehkan wajahnya, ia mendapati ayahnya sedang mengamati.
“Ayah, kau lihat anak laki-laki tadi?”
Laki-laki itu mengangguk.
“Hanya dia yang pertama kali menolakku.”
Laki-laki itu sekarang tertawa.
“Dia adalah pangeran dari kerajaan ini. Kau tidak lihat pakaian yang ia kenakan? Simbol Phoenix emas di kedua bahunya.”
“Aku tidak peduli, Ayah! Aku akan membuatnya sudi melihatku.”
“Sudahlah. Ayo kita pulang ke paviliun, putriku. Besok ayah harus bertemu dengan Raja kerajaan ini.”
Tanpa membantah lagi, Bao Hui mengikuti ayahnya. Kembali ke tempat di mana kerajaan Hongxiya menyediakan area beristirahat.
Di sisi lain istana, Raja Haocun sedang membicarakan beberapa poin tentang kesepakatan dengan sang penasihat. Setelah acara penyambutan selesai. Kedua laki-laki itu mulai menyusun strategi untuk meyakinkan ketua klan Heixiya, esok hari.
Aula pertemuan Phoenix sudah ramai, saat Haocun datang. Di sana, kedua perwakilan dari kedua negara sudah hadir. Raja Hantu, kerajaan Hongxiya, menjelaskan rencananya untuk melancarkan proyek penaklukan negara lain, Jinxiya. Ia mengemukakan alasan kenapa negaranya harus menekan kerajaan para peri tersebut.
“Apa kau yakin dengan ini?” tanya ketua klan Heixiya.
“Ya, aku sangat yakin. Dengan menggabungkan kekuatan kerajaan kita, aku jamin, Jinxiya bukan apa-apa untuk kita.”
“Lalu, apa yang aku dapat dari hal itu?”
Haocun menjelaskan poin-poin kesepakatan. Termasuk pembagian wilayah jika kelak Jinxiya berhasil ditekan. Ia juga menjelaskan, “upah-upah” lain setelah rencana mereka berhasil.
Setelah pembicaraan dan diskusi yang menguras pikiran, akhirnya, kedua pihak sepakat untuk bekerja sama dalam usaha membuat kerajaan Jinxiya tidak berkembang. Serangan akan dilancarkan beberapa hari ke depan. Ketua klan Heixiya, menembakkan sihir ke langit untuk memanggil semua prajuritnya. Simbol gagak yang tergambar di langit dunia bawah, adalah isyarat untuk semua pasukan agar datang ke tempat dilepaskannya simbol.
Beberapa hari kemudian, rombongan pasukan besar sudah berkumpul di sebuah padang yang luas. Puluhan ribu pasukan dari kedua kerajaan itu mulai berjalan menuju kerajaan Jinxiya. Beberapa saat kemudian, mereka sudah berkemah, tak jauh dari gerbang masuk kerajaan yang indah tersebut. Istana mengapung, terlihat dari tempat para pasukan tadi sedang berkemah.
Seorang penjaga Jinxiya, menghadap sang ratu. Ia melaporkan apa yang tadi dilihatnya. Sang ratu tidak percaya bahwa kerajaan yang mereka sokong, sekarang malah berencana memb*kong.
“Panggilkan putriku, kemari!” perintah sang ratu kepada penjaga tadi.
Setelah sang putri datang, perempuan penguasa Jinxiya tersebut membawa gadis kecil itu ke tempat kristal merah berada. Kristal yang berukuran segenggam tangan manusia dewasa itu, diambil oleh sang ratu. Ia memasang tiruannya di tempat kristal tadi berada. Perempuan itu memperkecil ukuran benda tersebut. Kemudian memasukkannya ke dada sang putri.
“Apa pun yang terjadi, kau harus selamat putriku. Jaga benda ini, seperti kau menjaga jantungmu, Liang Yi!”
“Tetapi, ibunda, ada apa? Apa yang akan terjadi?”
“Seseorang mulai tergoda oleh ketamakannya. Dan ketamakan itu akan menghancurkan segalanya."
Sang ratu memeluk erat-erat putrinya. Ia tersenyum saat gadis kecil itu menatapnya. Kemudian ia bangkit, memerintahkan beberapa peri untuk mengumpulkan para peri penjaga dan siapa pun yang bisa mengangkat senjata atau ahli sihir mana pun.
“Ratusan tahun, bangsa kita tidak pernah menginginkan pertikaian. Namun, jika ada sekelompok orang yang ingin menginjak bangsa kita. Kita harus melawan! Semua peri penjaga, sudah saatnya kita bergerak! Jaga gerbang Jinxiya dengan segala yang kita punya! Mati dengan terhormat atau lari seperti pecundang. Hanya itu pilihan kita.”
Kata-kata penyemangat sang ratu, mengobarkan hati para peri. Sayap mereka telah berkembang. Tombak, tongkat dan pedang sudah di tangan. Mereka mulai bergerak menuju gerbang kerajaan.
Sang ratu memasang dinding gaib di istana mengapung. Di sana, putri dan para pelayannya berlindung. Dinding merah keemasan transparan itu terlihat berkilauan.
Pada awalnya, Hongxiya mengirimkan kedua utusan mereka untuk berbicara secara damai dengan sang ratu. Mereka meminta kerajaan Jinxiya segera menyerahkan diri dan melebur dengan kerajaan Hongxiya. Sang ratu, dengan tegas menolak.
“Jinxiya akan membantu siapa pun yang membutuhkan. Tetapi, tunduk dan melebur dengan bangsa lain. Kami tidak bersedia. Katakan pada rajamu, Jinxiya siap dengan segala konsekuensi.”
Haocun yang secara langsung memimpin barisan, segera memerintahkan pasukannya merangsek masuk. Dengan segala perlengkapan yang mereka punya, pasukan koalisi tersebut, mulai menghancurkan gerbang Jinxiya. Beberapa ratus peri penjaga juga telah siap di posisi mereka masing-masing.
Desakan pasukan yang sangat besar, membuat peri penjaga kewalahan. Pasukan lawan sudah berhasil menghancurkan pintu gerbang. Mereka mulai membunuh dan menghancurkan apa yang mereka lewati. Beberapa penduduk Jinxiya juga sudah ditawan. Seperti kesetanan, pasukan itu melibas apa pun di hadapan mereka. Ratu dan panglima, memimpin pasukan elit Jinxiya. Mereka berusaha menghalau pasukan yang mulai berjalan menuju istana mengapung.
Karena jumlah yang tidak seimbang, pasukan elite Jinxiya pun kewalahan. Haocun merasa sudah menang, ia tertawa saat melihat ratu sudah berdiri tegak di hadapannya. Kecantikan wajah sang ratu, masih terlihat sama seperti terakhir ia melihatnya.
“Lebih baik kau bunuh kami, dari pada kami harus tunduk padamu!” teriak perempuan itu, lantang. Tanpa rasa takut sedikit pun.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments