Seorang laki-laki paruh baya dengan pakaian berwarna hitam, bulu-bulu gagak hitam menghiasi bagian leher dan pundak, tertawa keras. Di tangannya terdapat sebuah senjata dengan kualitas terbaik. Pria yang terlihat mempunyai status tinggi itu, memeriksa setiap bagian dari senjata.
“Bagus, ini bagus. Kualitasnya tidak bisa diragukan lagi. Jadi, sebenarnya, apa yang kalian inginkan dengan pertukaran ini?” Laki-laki berwajah pucat itu bertanya penuh ketertarikan pada dua orang laki-laki yang menunduk hormat kepadanya.
“Raja kami meminta pertemanan dan kerja sama. Jika ya, kerajaan kami akan membuat senjata dengan kualitas yang sama seperti Baginda pegang, dengan jumlah banyak. Tentunya, khusus untuk prajurit terbaik Heixiya.”
Laki-laki penguasa kerajaan Heixiya itu tertawa keras, ia berdiri. Berjalan mondar-mandir di depan singgasananya.
“Sungguh, aku tidak paham masalah birokrasi atau politik. Tetapi, meminta kerja sama dengan klam kami, ini bukan sesuatu yang main-main.”
“Raja kami, meminta Tuan untuk hadir di kerajaan kami untuk mendiskusikan sebuah permasalahan. Jika Tuan berkenan.”
Lagi-lagi, pria bertubuh perkasa itu tertawa.
“Ya, sampaikan pada raja kalian, aku akan datang beberapa hari lagi ke Hongxiya. Tetapi, maafkan kami jika kami tidak bisa berpakaian baik seperti warga kalian.”
“Ah, tidak masalah. Tuanku. Saya akan pamit untuk kembali dan menyampaikan berita ini.”
Setelah menghormat beberapa kali, kedua utusan dari Hongxiya kembali pulang. Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki paruh baya, mendekati Ketua klan Heixiya.
“Tuanku, apakah Anda yakin akan datang ke kerajaan itu?”
“Ya, Paman. Aku ingin tahu, apa yang diinginkan laki-laki itu.”
“Anda yakin, ini bukan sebuah jebakan?”
“Jebakan? Kau tahu seperti apa diriku sebenarnya, Paman. Tidak perlu khawatir, aku akan membawa prajurit elit untuk pergi bersamaku.”
Seorang gadis kecil dengan pakaian hitam nan menggemaskan berlari mendekati kedua pria yang berbicara serius tadi.
“Ayah!” panggil gadis itu sambil memeluk laki-laki dengan bulu-bulu gagak di jubahnya.
“Hui, putriku yang paling cantik. Ada apa?”
“Ayah, aku sudah mahir dengan jurus yang Ayah ajarkan tempo hari. Apa Ayah mau lihat?”
Pria dengan kharisma itu, mengangguk.
Dengan sekejap, gadis yang ada di hadapannya tadi, bergerak cepat berwujud seperti bayangan hitam. Perempuan kecil itu mencabut sebuah bulu di jubah Ayahnya tanpa terlihat dengan jelas. Beberapa saat kemudian, gadis itu sudah berdiri di tempatnya semula. Di genggaman tangannya, terdapat sebuah bulu hitam besar. Ia memamerkan benda tersebut kepada kedua laki-laki di hadapannya.
Ketua klan Heixiya bertepuk tangan dan tertawa bahagia. Ia kagum dengan pencapaian putrinya yang masih belia itu.
“Jika kamu sudah menguasai jurus itu, artinya kau sudah siap untuk bertugas, Putriku.”
“Benarkah, Ayah?”
“Ya, benar. Beberapa tahun lagi, kau akan jadi pejuang wanita terhebat di Heixiya.”
Gadis kecil itu melonjak kegirangan.
“Kau harus memilih senjatamu, sebelum bertugas, kelak.”
Kedua laki-laki tadi baru saja akan meninggalkan ruangan tadi, tetapi gadis kecil itu menghentikan mereka.
“Ayah, bolehkah aku ikut ke Hongxiya?”
“Kenapa tidak boleh? Ikutlah dan jangan nakal!” Sang ayah menyentil ujung hidung putrinya. Setelah itu, gadis kecil tersebut berlari, menghilang.
“Besok akan menjadi perjalanan yang melelahkan bersamanya, Paman.” Laki-laki tadi, memandangi putrinya yang telah berlari cepat.
Sementara itu, di kerajaan Jinxiya, seorang putri terakhir yang terlahir, sudah mulai tumbuh menjadi gadis kecil yang berparas elok. Kecantikannya sudah terlihat meski ia belum tumbuh dewasa. Warna bola mata seperti madu, kulit putih bersih yang begitu kontras dengan rambutnya yang hitam kelam.
Senyumannya, manis, menarik hati siapa pun yang memandangnya. Sayap merah keemasan kecil, muncul di punggungnya. Namun, ia lebih suka menyembunyikan kedua sayap itu. Tanda kemerahan berlambang kupu-kupu, ada di antara ibu jari dan telunjuknya.
Kupu-kupu beterbangan, mengelilingi gadis kecil berbalut pakaian merah itu. Dengan riang gembira, ia mengejar hewan-hewan cantik tersebut.
“Liang Yi, hati-hati dengan langkahmu!”
“Ya, Ibunda.”
Baru saja gadis itu menjawab dengan senyum di bibirnya, tetapi beberapa saat kemudian, ia sudah tersungkur. Peri pelayan yang menjaganya, terbang cepat, seperti berlomba untuk menolong gadis tersebut.
“Sudah ibu katakan tadi. Tetapi kau sudah terjatuh begitu saja. Apa kau tidak apa-apa, Putriku?” Seorang wanita yang cantik dengan mahkota emas di kepalanya, mengangkat gadis kecil tadi. “Kau kemanakan sayapmu?” tanyanya lagi.
“Aku sembunyikan, Ibu.” Gadis itu segera bangkit, menggoyangkan tubuhnya. Kemudian sayap kecil merah keemasan, muncul dari punggungnya.
“Jika kau ingin bermain dengan kupu-kupu itu, kau bisa gunakan sayapmu. Tidak masalah.”
Seorang wanita dengan pelindung dada berwarna keemasan, muncul di hadapan sang ratu.
“Maaf, Yang Mulia, saya ingin melaporkan sesuatu.”
“Ada apa, Penjaga?”
“Kami melihat beberapa penduduk kerajaan Hongxiya mengendap-endap masuk ke taman bunga. Saat kami belajar sihir baru. Kami tidak bisa menangkapnya.”
“Apa mereka mengambil sesuatu?”
“Tidak Yang Mulia.”
“Lalu, bagaimana dengan rumpun bunga yang mati itu? Kau berhasil menumbuhkannya lagi?”
“Belum, Yang Mulia.”
“Baiklah. Teruskan! Untuk masalah orang-orang dari kerajaan itu, biarkan saja. Selama mereka tidak mengambil apa pun dan tidak mengganggu kita. Mengerti?”
Perempuan tadi, mengangguk hormat kepada ratunya dan pamit undur diri.
Sang ratu merasakan hal yang tidak biasa saat peri penjaga tadi melaporkan sesuatu. Namun ia tidak terlalu ambil pusing. Ia melambaikan tangan pada putrinya yang terbang mengejar kupu-kupu, lalu duduk di bangku taman, menikmati teh bunga kesukaannya.
***
Rombongan dari Heixiya, baru saja tiba. Mereka disambut dengan ramah-tamah, jamuan lezat ala Hongxiya dan hiburan. Semua orang larut dalam suka cita. Di sebuah balkon tak jauh dari tempat itu, berdiri seorang anak laki-laki. Ia tidak suka dengan keramaian, hanya memandangi hingar-bingar itu dari jauh. Beberapa pelayan berdiri tak jauh darinya, siap saat laki-laki kecil itu membutuhkan sesuatu.
“Kenapa Ayahanda harus melakukan itu?” gumamnya, menatap sinis pada keramaian di sana.
Di sisi lain, seorang gadis kecil, berpakaian khas dengan lambang burung gagak, memandang takjub istana Hongxiya. Yang semuanya berwarna merah dan emas. Ia juga kagum akan bangunan-bangunan yang ia lihat sepanjang perjalanan menuju istana Hongxiya. Ini memang pertama kalinya, Bao Hui keluar dari tempat tinggalnya. Semua yang ia lihat saat ini, tentu saja membuatnya kagum.
Kekagumannya bertambah saat ia masuk ke tempat perjamuan. Banyak makanan lezat dan berbau harum. Gadis-gadis cantik yang menari dan laki-laki tampan.
Sebenarnya, laki-laki dari klan Heixiya juga tampan. Namun bagi Bao Hui, ketampanan laki-laki Hongxiya, berbeda level.
Melihat mata putrinya yang berbinar bahagia, ketua Klan Heixiya, tersenyum. Ia sedikit lega, saat melihat putrinya kali ini tidak banyak bergerak. Mata kecilnya memandang takjub ke sana ke mari. Ia juga sempat bertanya beberapa hal sewaktu rombongan mereka sampai di kerajaan bersimbol Phoenix emas tersebut.
“Ayah, apa aku bisa punya istana seperti ini?” tanya Bao Hui dengan polos.
Pertanyaan gadis kecil itu, diartikan lain oleh sang ayah.
Sebenarnya, apa yang dipikirkan laki-laki tersebut?
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments
Rommy Wasini Khumaidi
Bao Hui seperti melihat oppa korea ya thor,orang Indonesia juga banyak yang tampan tapi melihat oppa korea lebih tampan lagi dimatanya 🤣🤣
2023-12-17
0