Chapter 14 : Kekhawatiran, Awal Mula Nasib Buruk

Seorang pria dengan jubah dan pakaian hitam, duduk di singgasana. Sulaman Phoenix dari emas, menghiasi kedua bahunya.

Laki-laki itu terlihat sangat gelisah. Ia seperti terganggu dan terusik oleh suatu hal. Jari-jemarinya terus mengusap jenggot yang tumbuh panjang di dagunya. Di hadapannya, terdapat sebuah meja besar yang panjang. Gulungan-gulungan kertas bertumpuk rapi di sana. Beberapa saat kemudian, seorang punggawa istana, menghadap sang raja, mengabarkan kedatangan seorang petinggi kerajaan.

“Suruh dia masuk!” perintahnya pada laki-laki di depannya.

Tak berapa lama, seorang laki-laki paruh baya datang. Ia mengenakan pakaian berwarna biru gelap dengan jubah berbahan tipis warna hitam. Simbol Phoenix pun dibordir di bagian punggung. Pria itu bersoja pada seseorang yang duduk di singgasana tadi.

“Ada apa, Penasihat Fang?”

“Semoga kesehatan dan kejayaan melingkupi, Baginda! Penguasa kerajaan Hongxiya nan makmur gemilang.” Pria tua tadi mengucap salam penghormatan.

“Terima kasih.”

“Baginda, apa Baginda sudah mendengar ramalan dari nyanyian Phoenix emas?”

“Tentu saja, hanya orang tuli yang tidak bisa mendengarnya.”

Suara penguasa Hongxiya itu memang terdengar kesal. Banyak tugas yang harus ia kerjakan, tetapi akhir-akhir ini, ia harus diganggu dengan ramalan yang meresahkan itu.

“Menurut hamba, kita harus mengadakan pertemuan kerajaan cepat dan terbatas untuk membahas ramalan ini, Baginda.”

“Ya, kau atur saja semuanya. Aku masih banyak urusan dengan Dewa Akhirat.”

Setelah penasihat Fang pamit undur diri, Haocun, Raja Hantu itu meneruskan pekerjaannya memeriksa daftar catatan roh dan hantu. Ia sering menggelengkan kepala saat melihat beberapa alasan manusia meninggal dunia.

“Aku tidak mengerti, apa kemiskinan begitu mengganggu manusia, hingga menghabisi diri sendiri untuk melarikan diri,” gumam laki-laki tersebut. Ia terhenti lagi saat mendengar nyanyian burung Phoenix kembali menggema.

Haocun berjalan keluar istana, ia melihat burung berwarna keemasan itu masih terbang mengelilingi istananya. Para punggawa kerajaan berkumpul mendengarkan nyanyian burung itu. Hanya pendeta kuil kerajaan Hongxiya yang bisa memahami syair yang dinyanyikan oleh burung pusaka mereka. Meski semua warga bisa mendengar suara itu.

Seketika orang-orang di sana berlutut saat melihat raja mereka hadir di sana. Setelah orang-orang itu bangkit, sang raja melambaikan tangan, memanggil seorang kasim kerajaan.

“Tolong panggilkan penasihat Fang, dan kumpulkan semua pejabat! Aku menunggu mereka di ruang aula Phoenix!” perintahnya.

“Baik, Yang Mulia!”

Haocun sudah duduk di ruang aula pertemuan yang ia sebutkan tadi. Beberapa menteri dan pejabat sudah datang. Beberapa di antaranya masih dalam perjalanan menuju istana dengan tergesa-gesa. Setelah semua berkumpul, seorang kasim memukul gong, tanda dimulainya pertemuan.

“Kalian kumpulkan pada waktu selarut ini, pastinya bukan tanpa alasan. Aku sungguh-sungguh terganggu dengan nyanyian burung itu,” keluh raja hantu itu kepada anak buahnya.

Seorang utusan baru saja datang, ia meminta ijin untuk melapor.

“Yang Mulia, hamba melihat bahwa kerajaan Jinxiya sedang mempelajari sebuah sihir baru. Mereka mencoba menumbuhkan kembali tanaman yang sudah mati.”

“Apa istimewanya? Bukankah mereka memang sudah ahli dalam sihir itu? Kalau tidak ada laporan darurat, lebih baik kau tidak perlu membuang-buang waktuku!”

Haocun menganggap laporan dari utusan itu seperti lelucon. Kekesalannya makin menjadi, ia memerintahkan prajurit untuk menyeret keluar laki-laki tadi.

“Tunggu dulu, Yang Mulia! Hamba mohon!”

Haocun mengangkat tangannya, menghentikan prajurit tadi. Kemudian, ia membiarkan laki-laki tadi untuk berbicara kembali.

“Hal yang hamba laporkan, bukan sekadar menumbuhkan tanaman, Yang Mulia. Yang hamba dengar, itu baru permulaan. Bukan tidak mungkin jika sihir itu digunakan untuk membangkitkan kekuatan leluhur-leluhur mereka yang sudah wafat? Yang Mulia bisa bayangkan, betapa besarnya kekuatan mereka kelak?”

Haocun tertawa, semua menteri dan pejabat saling berpandangan dengan kebingungan.

“Mana ada yang bisa mengalahkan kekuatan kerajaan Hongxiya? Kau tak perlu khawatir, mereka tidak lebih dari sekedar makhluk penjaga kebun! Sudahlah! Hari ini, kita hanya akan berkonsentrasi untuk membahas ramalan Phoenix. Panggilkan pendeta penjaga kuil istana!”

Semua orang di dalam aula pertemuan Phoenix terdiam, saat pendeta penjaga kuil menjabarkan arti nyanyian yang sesungguhnya.

“Ijin memotong diskusi, Yang Mulia!” Seorang laki-laki maju di samping pendeta.

“Katakan, Penasihat!”

“Laporan dari utusan kita tadi, setelah hamba pikir-pikir, bisa jadi, ada kaitannya dengan makna ramalan.”

“Coba terangkan dengan jelas, Penasihat!”

Sang penasihat menjelaskan hubungan dari kedua hal tadi dengan logika yang miliki. Beberapa orang terlihat mengangguk-angguk setuju saat ia memaparkan semuanya. Ia juga menyinggung tentang benda pusaka Kerajaan Jinxiya yang sangat dahsyat. Batu kristal merah yang terletak di dalam istana mengapung. Menurutnya, bukan hal yang tidak mungkin, kelak kerajaan peri itu akan berkembang pesat. Kemudian, semua menteri mengemukakan pendapatnya masing-masing.

Waktu bergerak sangat cepat, tetapi pertemuan itu belum menghasilkan keputusan apa pun. Raja Haocun memerintahkan untuk menghentikan pertemuannya dan melanjutkan esok hari.

Setelah semua menteri dan pejabat pulang ke kediaman masing-masing, Haocun berdiri di teras aula Phoenix. Ia memandangi burung Phoenix yang masih terbang berputar di atasnya. Ia memikirkan semua pendapat menteri di pertemuan tadi.

Kemudian ia teringat saat muda, ia pernah bertemu dengan ratu penguasa Jinxiya. Sangat cantik dan memukau, begitu juga dengan wilayah kekuasaannya. Laki-laki itu juga menyadari, bahwa kerajaan yang ia pimpin sekarang juga disokong oleh kerajaan itu.

Bukan hal yang mustahil, jika kerajaan Jinxiya membangkitkan kekuatan militernya, maka mereka akan lebih kuat dari Hongxiya.

Malam-malam berikutnya, saat tidur, Haocun mulai dihantui dengan segala kekhawatirannya dengan kemajuan Kerajaan Jinxiya. Ia mulai mengalami gangguan tidur dan makan. Ia menghabiskan waktu di perpustakaan setelah selesai memeriksa gulungan-gulungan catatan roh. Para selir yang tidak pernah lagi dikunjungi, merasa heran dengan perubahan sang raja. Hongxiya memang sudah tidak mempunyai permaisuri atau ratu setelah kelahiran putera mahkota.

Permaisuri meninggal setelah melahirkan putra pertamanya, sedangkan sanga raja, enggan mengangkat permaisuri lagi. Dengan pertimbangan, belum ada yang bisa mengimbangi kemampuan dan keahlian permaisuri terdahulu.

Dalam tekanan kekhawatiran yang berlebihan, muncul pemikiran gila Haocun. Ia ingin menaklukkan kerajaan Jinxiya. Itu artinya, ia harus berperang. Namun pertama-pertama, ia ingin membangun kekuatan militer yang kuat.

Apa yang dipikirkan Haocun, ia kemukakan pada penasihat. Ia memanggil laki-laki paruh baya itu ke istana. Kemudian, meminta para pelayan, menyediakan arak bunga mawar. Setelah penasihat datang, mereka berdua saling bertukar pikiran di perpustakaan kerajaan. Sambil menikmati arak yang lezat bagi mereka.

“Arak ini sungguh nikmat. Kelak jika aku menaklukkan kerajaan itu, aku akan mempunyai banyak simpanan minuman semacam ini,” ucap Haocun sambil terkekeh.

“Ya, Yang Mulia. Itu bisa saja terjadi. Yang terlintas dalam pikiran hamba saat ini adalah, bagaimana kalau kita mengadakan perjanjian dengan Heixiya?”

“Ah, para hantu kuburan itu?”

“Ya, Yang Mulia.”

“Kau yakin? Apa mereka tidak akan meminta aneh-aneh?”

“Hamba yakin, Yang Mulia. Lagi pula, orang-orang Heixiya, lebih suka tinggal di sekitar pemakaman. Mana mungkin mereka meminta kekuasaan pada kita?”

Sang raja tertawa dengan keras, begitu pula penasihatnya. Rencana jahat tentang merusak keseimbangan, dimulai sejak malam itu. Mereka tidak tahu, akan ada akibat buruk yang akan mereka terima jika mengusik macan yang tidur.

Bersambung ....

Terpopuler

Comments

Rommy Wasini Khumaidi

Rommy Wasini Khumaidi

baru ketemu novel yang beginian...bagus banget critanya,marton bacanya,walaupun novelnya banyak yang belum tamat

2023-12-17

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!