“Ayi, formasi pelindung!” teriak Xua He.
Dengan sigap, Xuan Yi mengayunkan tangannya, seperti menulis di udara. Mulutnya merapal mantra, di belakangnya, Xua He melakukan hal yang sama. Sebuah kubah emas, perak bercampur kemerahan, melingkupi kedua gadis yang berdiri saling membelakangi tersebut.
Yongzi dibuat takjub dengan pemandangan itu. Ia tidak menyangka bahwa putrinya ternyata belajar dengan baik. Saat pemuda yang kerasukan itu lengah, Yongzi memukulnya dengan pedang giok biru yang telah ia baluri dengan mantra yang ditulis dengan air.
Roh jahat terpental keluar dari tubuh pemuda itu. Xua He melempar jala gaib ke arah roh tersebut, yang berteriak marah.
Tubuh tuan muda tadi, terpelanting. Xuan Yi dengan sigap menangkapnya.
Ritual berakhir setelah Yongzi membacakan mantra untuk mengantarkan roh tersebut ke dunia bawah. Namun saat roh itu hampir lenyap, roh tersebut berkata tentang peri merah. Laki-laki itu tercekat. Ekor matanya tertuju kepada gadis yang berdiri di sebelah putrinya.
Setelah meletakkan pemuda yang tak sadarkan diri tadi, Xuan Yi memanggil seorang pelayan yang berjaga di depan ruang perlindungan. Ia berkata bahwa roh jahat sudah pergi. Penghuni rumah berhamburan keluar, mendekati putra sulung keluarga tersebut. Beberapa menit kemudian, pria muda itu siuman. Semua membuang napas, lega.
“Terima kasih, Guru Yongzi. Kami akan membalas semua jasa Guru dengan sepadan,” ucap tuan rumah saat mengantar rombongan Yongzi pulang. Sebuah kantong besar, diulurkan oleh laki-laki tersebut. Ia juga menyediakan kereta kuda untuk ketiga orang itu pulang.
Sesampainya di halaman rumah, Xua He yang berkali-kali menguap, menyeret Xuan Yi cepat-cepat masuk ke dalam.
“Ayah, kami tidur lebih dulu!” seru gadis itu.
Yongzi membiarkan kedua gadis tersebut untuk masuk ke dalam rumah terlebih dulu. Ia menunggu pelayan yang menurunkan barang-barang dari kereta.
“Apa ini tidak terlalu banyak?” tanya Yongzi pada laki-laki berpakaian sederhana di hadapannya.
“Ini atas perintah Tuan Besar, Guru.”
“Ah, baiklah. Terima kasih.”
***
Kisah epik pengusiran hantu di rumah pejabat tersebut segera tersebar ke segala penjuru wilayah. Hal itu, membuat Yongzi mendapatkan banyak panggilan untuk segala macam ritual. Dari ritual pembersihan hingga pengusiran. Xuan Yi juga ikut mendapatkan bagian dari apa yang mereka dapat.
Mempunyai beberapa kantong koin uang, membuat gadis itu teringat pada ayahnya. Ia ingin membeli satu setel pakaian yang indah untuk laki-laki tersebut.
Pagi hari, setelah Xuan Yi membantu Xua He memasak, ia mengutarakan keinginannya untuk pergi ke pasar desa. Gadis itu juga meminta ijin untuk pulang ke rumahnya sebentar. Tentu saja, Yongzi dan putrinya tidak bisa menolak. Mereka membiarkan Xuan Yi pergi sendirian. Dengan berbekal satu kantong roti kering dan buah kering, gadis itu berangkat.
Cukup lama Xuan Yi berjalan hingga tiba di pasar desa. Baru pertama kali ia melihat pasar seramai itu. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, gadis itu mulai melihat-lihat beberapa lapak dagangan. Ia membeli sebuah jepit rambut untuk Xua He. Beberapa makanan ringan untuk ia bawa pulang, dan sesampainya di toko pakaian, meminta pemilik toko untuk mengambilkan satu setel pakaian laki-laki.
“Model ini cocok untuk pria muda, tentunya jika kau ingin menghadiahkannya untuk kekasih.” Pemilik toko memperlihatkan satu setel pakaian berwarna biru pastel.
“Tetapi Paman, aku ingin membeli pakaian untuk ayahku.”
“Ah, baiklah. Bagaimana dengan ini?” Laki-laki berwajah ramah itu menyodorkan pakaian berwarna abu-abu gelap dengan bordir berwarna perak.
“Indah sekali, Paman. Tolong bungkus yang ini, untukku!”
Setelah menyelesaikan belanjanya, Xuan Yi berjalan pulang dengan beberapa bungkusan kain di tangannya. Saat perjalanan pulang, ia mendengar teriakan minta tolong. Matanya mencari ke sana ke mari, tetapi gadis itu tidak menemukan siapa pun.
Suara itu terdengar lagi, dan ia baru melihat seorang pria muda tergantung terbalik di sebuah dahan pohon. Seekor ular besar melilit kakinya.
Dalam penglihatan Xuan Yi, ular tersebut adalah jelmaan hantu perempuan yang mendiami pohon tersebut. Tanpa berlama-lama, gadis itu meletakkan barang-barang di tangannya ke tanah. Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh, gadis itu menempel kertas mantra di tubuh ular besar tadi.
Hewan jadi-jadian tersebut, menghilang. Kemudian ia menangkap tubuh laki-laki muda yang jatuh. Setelah laki-laki tadi aman, ia bergegas jalan kembali.
“Tunggu, Nona! Tunggu! Bagaimana aku harus berterima kasih?”
Tanpa menoleh, Xuan Yi melambaikan tangan.
“Tidak perlu! Cukup jaga dirimu baik-baik.”
Penasaran dengan gadis tersebut, laki-laki itu membuntutinya sampai ke sebuah rumah di tepi hutan.
Xuan Yi yang tidak sadar telah dibuntuti, langsung masuk ke bengkel kerja ayahnya. Sang ayah dan beberapa pekerja di sana, berhenti bekerja saat melihat gadis itu datang.
Dengan gembira, Xuan Yi membuka bungkusan kain yang berisi makanan kecil dan camilan yang ia beli di pasar tadi.
“Ayah dan paman sekalian, kemari! Istirahat lebih dulu.”
Semua laki-laki di bengkel tersebut segera mendekati Xuan Yi yang menyodorkan berbagai macam kudapan. Kemudian mereka mengobrol dengan santai.
Setelah berlama-lama di sana, Xuan Yi berpamitan. Ia akan kembali ke rumah Xua He.
“Bagaimana, Ayi? Ada berita tentang orang tua kandungmu?” tanya Yaosan.
Xuan Yi menggeleng perlahan.
“Tidak apa-apa. Aku yakin, kalian akan dipertemukan kelak. Oh iya, kau tidak masuk ke dalam?”
Xuan Yi menggeleng lagi. Teringat akan sesuatu, gadis tersebut menyerahkan sebhah bungkusan lain ke ayah angkatnya. Pelan-pelan, Yaosan membuka bungkusan tersebut. Laki-laki itu terharu saat mengetahui isi bungkusan tadi.
“Aku tidak bisa memberikan barang bagus untuk Ayah. Hanya itu yang mampu kubeli, Ayah.”
“Gadis bodoh! Ini sangat indah. Terima kasih, Putriku.”
Di balik semak-semak, seorang pemuda melihat pemandangan yang menghangatkan hati itu dengan senyuman.
“Apa yang sedang kau lakukan di sini? Kau mau mencuri di rumah ini?”
Suara seorang gadis, membuat pemuda itu terlonjak kaget. Laki-laki itu menoleh ke sumber suara.
Xiu Yin takjub saat melihat pemuda di hadapannya, keelokan wajah pria muda tersebut, membuatnya jatuh hati. Dalam pandangannya, laki-laki itu seperti baru saja keluar dari lukisan sang maestro.
“Tetapi, mana mungkin pencuri setampan kau?”
Kemudian, gadis itu berteriak-teriak memanggil ibunya. Terpaksa pemuda itu berdiri dan menutup mulutnya.
“Diamlah! Aku akan pergi sekarang. Rumah seperti ini, aku yakin, tidak ada yang layak dicuri dari sini.”
Xiu Yin masih terpaku di tempatnya sampai pemuda itu sudah jauh berjalan.
Mendengar suara Xiu Yin, Xuan Yi menyembunyikan diri, ia baru saja keluar dari bengkel ayahnya untuk pulang ke rumah Xua He.
“Sepertinya aku tadi merasa ada seseorang lewat di sini, tapi siapa? Ah sudahlah, lebih baik aku masuk rumah lagi,” ucap Xiu Yin.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments
Tracy Kay Gabriela
ceritanya bagus banget thor
2022-11-01
1