Chapter 11 : Berusaha Bangkit

“Kamar ini mungkin tak senyaman kamarmu, Ayi. Tetapi aku hanya punya kamar ini dan Ayah juga hanya tidur di ruang depan.” Xua He meletakkan peralatannya dan mempersilakan Xuan Yi masuk ke kamarnya.

“Tidak, Ahe. Ini lebih dari cukup untukku. Aku bahkan biasa tidur di bawah pohon persik, dulu.”

“Ah, benarkah?”

Xuan Yi mengangguk.

Setelah membereskan sedikit barang-barang miliknya di kamar, Xua He pergi ke dapur. Ia menyeduh teh bunga krisan untuk Xuan Yi dan menyiapkan aneka macam buah kering.

“Apakah kau sudah makan? Jika mau menunggu sebentar, aku akan memasak sup untukmu, Ayi. Aku hanya punya ini, sekarang.”

“Ahe, tidak perlu repot-repot. Aku hanya akan tidur di sini malam ini. Setelah ini, aku akan pergi mencari orang tuaku.”

“Orang tua? Memangnya Paman Yao dan Bibi Yui ke mana?”

Xuan Yi menggelengkan kepala, lalu menunduk.

“Mereka bukan orang tua kandungku.”

Mata Xua He membesar. Ia terkejut dengan perkataan gadis yang duduk di hadapannya.

“Kau yakin, Ayi?”

“Ibuku yang mengatakan itu semua tadi. Dan Ayah membenarkannya.” Bulir-bulir air mata kembali membasahi pipi Xuan Yi.

Merasa tidak enak dengan obrolan itu, Xua He berusaha mengalihkan tema pembicaraan. Namun, respon Xuan Yi tidak seperti biasanya. Gadis itu masih larut dalam kesedihan. Wajahnya terus-menerus tertunduk. Tidak ada binar seperti biasanya di bola mata berwarna madu tersebut. Ia bagaikan bunga yang sedang layu, ditiup angin.

“Ayolah, Ayi! Jika kau ingin mencari orang tua kandungmu, baiklah! Tidak masalah! Aku akan menemanimu ke akhirat pun. Tetapi, tolong tegakkan kepalamu, tersenyumlah seperti Xuan Yi yang kukenal biasanya! Aku benci melihatmu seperti ini!”

Perlahan, Xuan Yi mengangkat kepalanya. Ia memandang ketulusan dari sahabat karibnya itu. Ia teringat dengan ajakan gadis itu, dulu. Senyum pun mulai melengkung di bibirnya.

“Ahe, aku mau mempelajari kitab ‘Sembilan Aturan Tiga Dunia’ juga, dan biarkan aku ikut saat kau dan ayahmu bertugas.”

Masih belum percaya dengan hal yang didengar, Xua He mengarahkan telinganya ke bibir Xuan Yi. Namun, gadis itu malah menjewer lembut telinga itu.

“Sungguh! Aku tidak bercanda, Ahe!”

“Baiklah, kalau begitu.”

Matahari sudah mendekati ufuk barat, burung-burung mulai pulang kembali ke sarang. Sementara itu, Yongzi baru saja meletakkan peralatannya dan melepas jubah khas yang dipakainya. Ia terkejut saat mendengar dua suara, bersahutan, merapal mantra yang ia kenal. Laki-laki itu berjalan menuju kamar putrinya lalu mengetuk pintu kayu yang mulai lapuk tersebut.

Setelah pintu dibuka, wajah Xua He muncul dari balik pintu.

“Apa yang kau lakukan, Ahe?”

“Seperti yang Ayah lihat, aku belajar kitab ‘itu’.”

“Benarkah?”

“Ya, dan dia sekarang patnerku, Ayah.” Xua He menggerakkan kepalanya, isyarat, menunjuk ke arah Xuan Yi. “Bolehkah ia juga ikut kita saat bertugas, Ayah?”

Xuan Yi mengangguk hormat kepada Yongzi saat melihat pria itu melongok ke dalam kamar.

“Terserah kau saja, Ahe.” Yongzi berbalik dan pergi menjauhi ruangan tersebut.

Yongzi merasa heran dengan putrinya akhir-akhir ini. Selama hidup berpindah-pindah sebagai wudang, ia baru melihat, kali ini Xua He mau berteman dengan gadis lain. Sebelumnya, jangankan berteman, berkumpul dengan teman sebayanya saja, ia enggan. Di mata laki-laki itu, teman putrinya itu juga bukan gadis sembarangan. Auranya dan energi yang melingkupinya, serta beberapa kejanggalan lain, membuat gadis itu berbeda. Ia bukannya takut, hanya waspada. Karena belum tahu, sebenarnya gadis itu kawan atau sebenarnya lawan.

Keesokan harinya, Xuan Yi berpamitan untuk pulang terlebih dulu. Ia ingin memberitahukan keluarga angkatnya, bahwa ia memutuskan untuk mengikuti Xua He dan ayahnya, sambil mencari orang tua kandungnya.

Yaosan bahagia saat melihat kepulangan putrinya, tetapi tidak dengan Yen Yui dan Xiu Yin. Laki-laki itu memeluk Xuan Yi dan meminta maaf. Ia juga meminta maaf atas nama istri dan anaknya.

“Ayah, aku ingin berkelana bersama Xua He dan Paman Yongzi. Siapa tahu, takdir akan membawaku kepada kedua orang tua kandungku.”

“Tetapi Ayi ....” Yaosan tidak bisa menolak keputusan sang putri, karena ia tahu betul bagaimana perasaan gadis tersebut. Ia berjalan menuju kamarnya, lalu keluar dengan sebuah kotak kayu kecil. Setelah kotak itu terbuka, di sana terlihat gelang giok dengan liontin berbentuk kupu-kupu. “Ini ada saat kami menemukanmu, Ayi. Mungkin ini bisa jadi petunjuk untuk menemukan orang tua kandungmu. Saat kau merasa ingin pulang, tidak apa-apa, pulanglah ke sini. Ayah akan selalu membukakan pintu untukmu,” lanjutnya.

Xuan Yi menunduk, ia menggigit bibir menahan tangis. Sejujurnya, ia begitu mencintai ayah angkatnya tersebut. Bahkan, ia berharap bahwa laki-laki itu benar-benar ayahnya. Namun, saat ini, ia ingin tahu identitas dirinya yang sejati. Entah seorang bangsawan atau budak orang tuanya, kelak, ia tidak peduli. Apabila hidup ia akan berbakti jika diminta, dan bila sudah wafat, ia akan sering datang untuk menyembahyangi mereka.

Yaosan mengusap sudut matanya yang basah saat Xuan Yi keluar dari rumah, membawa sedikit pakaiannya. Di sisi lain, kedua anak dan ibu, tertawa bahagia melihat situasi tersebut.

Selama tinggal di rumah Xua He, Xuan Yi terus belajar untuk menjadi partner kerja temannya itu. Ia tipikal gadis yang cepat belajar, hingga dalam sekejap, beberapa gerakan dan mantra dari kitab pegangan keluarga wudang itu ia kuasai. Xua He senang bukan main, ia tidak merasa kesepian atau malas saat bertugas setelah ada Xuan Yi. Kebetulan, hari ini seseorang utusan dari keluarga pejabat, datang untuk meminta mereka mengadakan ritual pengusiran hantu dan roh jahat.

Malam telah tiba, ketiga orang itu berjalan menyusuri jalanan pegunungan. Mereka dipanggil oleh seorang pejabat dari desa di balik gunung. Sebuah roh jahat mendiami gudang belakang rumah mereka. Hingga membuat putra sulung keluarga tersebut jatuh sakit. Tiap tengah malam, pemuda itu akan berteriak, ia seperti kerasukan sesuatu.

Hampir tengah malam, mereka bertiga saat tiba di tempat yang dituju. Tuan rumah sudah menyiapkan tempat ritual, lengkap dengan altarnya. Xuan Yi berbisik pada Xua He, “Bau busuk apa ini, Ahe?”

“Ini bau roh jahat. Eh, tunggu! Kau menciumnya juga?”

Xuan Yi mengangguk.

“Bagus!” seru Xua He masih dengan berbisik.

Yongzi mulai memegangi loncengnya yang sedari tadi bergerincing. Laki-laki itu mulai merapal mantra dengan pedang giok yang ia tebaskan ke udara kosong. Kertas-kertas mantra disebar oleh Xuan Yi dan Xua He.

Sementara itu, pemilik rumah, diperintahkan untuk menunggu di sebuah ruangan yang sekelilingnya telah dipasangi mantra pelindung.

Suara teriakan dari kamar tuan muda terdengar, dengan gerakan cepat, pemuda itu sudah menjebol pintunya dan menantang Yongzi.

“Kau pikir, kau bisa mengalahkanku, manusia bodoh?” Suara pemuda tadi terdengar sangat berat, seperti bukan suara aslinya.

“Dunia manusia dan duniamu berbeda. Kembalilah ke asalmu, jangan ganggu manusia. Atau aku ....”

“Kau? Mau apa? Mengusirku? Coba kalau bisa!”

Pemuda tadi melayang dan melesat menyerang Yongzi. Ia tertawa-tawa saat laki-laki itu kewalahan menghadapinya.

Namun, saat roh jahat yang ada di dalam tubuh pemuda tadi melihat Xuan Yi. Ia berhenti, melayang di udara.

“Aroma wangi ini ... sudah ratusan tahun aku tidak pernah menghirupnya!” Kemudian laki-laki itu melesat cepat ke arah Xuan Yi.

Bersambung ....

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!