Sebuah kereta kuda mewah berhenti di depan rumah kayu bergaya sederhana yang terletak tak jauh dari tepi hutan. Seorang laki-laki berpakaian indah, turun dari kereta tersebut. Mendengar suara kereta berhenti di depan rumahnya, Yaosan berjalan cepat keluar dari bengkel kerjanya. Ia tersenyum saat melihat siapa yang datang. Kemudian mempersilakan sang tamu istimewa, masuk ke dalam rumah.
“Kedatanganku kemari, membawa sebuah berita yang mungkin bisa membuatmu senang sekaligus lelah.” Laki-laki berpakaian indah tadi menikmati teh lavender buatan Xuan Yi.
“Berita apa itu?”
“Beberapa kawanku di pemerintahan, mampir ke rumahku. Mereka melihat furnitur buatanmu dan tertarik. Mereka memesan beberapa benda kepadaku, ini daftarnya.” Pria tadi mengulurkan sebuah gulungan kertas.
Dengan cermat, Yaosan membaca tulisan yang tertera di gulungan tersebut.
“Ini ... berjumlah sangat banyak, aku membutuhkan bahan baku lebih banyak dari biasanya dan tenaga juga,” papar Yaosan.
“Itulah, mengapa aku juga akan menawarkan kerja sama denganmu. Kita sudah saling mengenal begitu lama, bukan? Aku dan orang-orangku akan menyediakan bahan baku untukmu. Setelah semua siap, kau bisa datang ke tempatku untuk mengambilnya. Untuk pekerja, kau juga bisa meminjam beberapa pekerjaku. Bagaimana?”
Yaosan menggaruk dagunya. Ia berpikir keras.
“Lalu, bagaimana pembagian keuntungannya?” tanyanya kemudian.
Setelah beberapa lama pembicaraan di antara keduanya, tercapai sebuah kesepakatan dagang yang menguntungkan kedua pihak. Yaosan lega, itu artinya, untuk beberapa saat ke depan, perekonomian keluarga kecilnya akan stabil.
Yaosan mulai disibukkan lagi dengan pesanan-pesanan furnitur. Ia juga membuat bengkel kerja yang lebih luas lagi. Meski tidak terlalu perlu, Xuan Yi masih pergi ke ladang. Menanam sayuran dan tanaman lain untuk konsumsi keluarga sendiri. Sedangkan Yen Yui, ia masih tidak mau membantu pekerjaan rumah. Sibuk menemani Xiu Yin main atau malah ikut Yaosan ke ibukota kerajaan. Berbelanja untuk dirinya sendiri dan putri kandungnya.
Kehidupan keluarga Yaosan memang mulai stabil. Mereka mulai memperkerjakan asisten rumah tangga. Namun, tetap saja, saat ada kesalahan yang terjadi, Xuan Yi yang selalu menjadi sasaran atau kambing hitam. Seberapa pun beratnya hidup gadis itu, ia tidak pernah mengeluh dan hanya diam. Baginya, itu sebagai bentuk baktinya kepada kedua orang tua.
Xuan Yi tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik, begitu pula Xiu Yin. Meski sama-sama cantik, garis wajah dan karakter keduanya, sungguh jauh berbeda. Xuan Yi semakin terlihat bagai peri yang anggun meski di waktu yang lain, ia akan terlihat sangat tangguh. Khususnya saat mengejar hantu bersama Xua He dan ayahnya, Yongzi.
Berbeda dengan Xiu Yin, ia tumbuh menjadi gadis yang manja, egois dan malas. Ia bahkan selalu menyuruh orang lain untuk menyelesaikan segala pekerjaannya. Bahkan untuk urusan makan, ia hanya mau jika Xuan Yi yang membawakan nampan makannya. Sama seperti ibunya, ia suka menindas Kakak perempuannya. Sementara itu, Yaosan tidak peduli dengan urusan domestik rumah tangga, sejak sibuk dengan pekerjaannya. Namun terkadang, ia akan menyapa dan membeli barang untuk kedua putrinya saat pulang dari perjalanan bisnis.
Suatu hari, Yaosan pulang dengan membawa oleh-oleh untuk kedua putrinya. Dua kotak kayu berbungkus kain beludru halus. Satu berwarna biru, satu marun. Seperti biasanya, Xuan Yi akan mendapatkan kotak dengan kain berwarna marun. Namun kali ini, Xiu Yin meminta kotak itu terlebih dulu. Sang kakak hanya bisa tersenyum dan mengalah, karena rasa kasih dan sayangnya.
Saat kotak kayu dibuka, masing-masing kotak berisi satu set pakaian dan aksesoris. Terlihat sama cantiknya. Namun, Xuan Yi mendapatkan jepit rambut kupu-kupu yang lebih indah. Bahkan saat kotak sudah ditukar. Merasa kesal, Xiu Yin merebut milik Xuan Yi.
“Bukankah kotak itu kau yang pilih sendiri, Ayin?”
“Tapi itu ... lebih indah milikmu.”
“Kau harus menerima apa yang kau pilih, Adikku.”
“Tidak, Kak. Aku mau yang kau pegang itu!”
Mendengar perdebatan kedua putrinya yang semakin memanas, Yen Yui merasa geram. Ia menarik jepit rambut dari tangan Xuan Yi. Ada luka yang tergores di tangan gadis itu. Namun, dengan cepat ia menggenggam luka itu, menutupinya.
“Kenapa kau tidak mau mengalah dengan adikmu sedikit pun? Kalau dipikir-pikir, harusnya semua ini milik Ayin. Karena dia adalah putri kandung keluarga ini, bukan anak pungut sepertimu!” Yen Yui segera membungkam mulutnya sendiri, tanpa sengaja, ia telah membocorkan identitas Xuan Yi yang sebenarnya.
Di sisi lain, Xuan Yi tertegun, air mata menetes dari kedua sudut matanya. Ia menangis dalam diam. Tidak pernah menyangka dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Apa yang Ibu katakan tadi benar?” tanya gadis itu dengan suara bergetar.
“Aku sudah terlanjur berbicara, buat apa aku berbohong padamu?” jawab Yen Yui ketus, meski sebenarnya ia juga merasa bersalah.
Pintu ruangan yang terbuka, membuat Yaosan yang baru saja masuk, mendengar ucapan lantang istrinya. Seketika, ia menoleh ke sisi Xuan Yi duduk. Mengamati wajah putrinya yang terdiam, mematung. Benda cair berkilauan mengalir di pipi anak gadisnya itu. Hatinya ikut hancur saat melihat hal tersebut.
“Yui! Kenapa kau harus berbicara seperti itu? Begitu teganya kau ....”
“Aku tidak sengaja, Suamiku. Gadis ini yang memancing amarahku. Aku ....”
Xuan Yi menoleh ke arah ayahnya. Dengan suara yang lebih tenang, gadis itu bertanya pada sang ayah.
“Ayah, aku mohon! Benarkah perkataan ibu tadi? Si-siapa orang tuaku sebenarnya kalau kalian bukan orang tuaku?”
Yaosan berjalan cepat mendekati Xuan Yi, ingin memeluknya, menenangkan gadis itu. Namun, tangan putrinya terangkat. Meminta laki-laki itu berhenti.
“Tolong jawab aku, Ayah!”
Dengan mata berkaca-kaca, Yaosan mengangguk, lalu laki-laki itu menunduk dalam.
Xuan Yi bangkit dari duduknya, meski sempoyongan, ia berusaha untuk berdiri tegak. Ia meletakkan kembali baju yang tadi diterimanya ke dalam kotak. Kemudian gadis itu terhuyung, berjalan keluar dari ruangan tadi, menuju ruang tamu dan keluar dari rumah. Ia tidak menghiraukan panggilan Yaosan. Ia tidak peduli semuanya, terus berlari dan berlari hingga ke tepi sungai. Teriakan-teriakan frustasi keluar dari bibirnya yang kemerahan alami.
Seperti langit telah runtuh menimpanya, kenyataan bahwa keluarga Yaosan memungutnya. Gadis itu menangis sejadi-jadinya, angin berpusar menderu-deru. Air sungai bergelombang, beriak-riak. Hantu-hantu dan roh penghuni pohon di sekitarnya, merasakan tarikan energi begitu kuat dari tubuh gadis tersebut. Aura merah keemasan melingkupi gadis itu. Kemudian ia bersujud, tersedu hebat.
Xua He yang kebetulan melewati sungai itu, melihat fenomena alam tak biasa, segera mencari tahu sumbernya. Ia terkejut saat didapatinya, sahabatnya, Xuan Yi menangis di tepi sungai. Ia melihat kubah merah keemasan melingkupi gadis tersebut. Melawan angin, ia berjalan mendekati temannya itu. Dengan gerakan meringankan tubuh yang ia pelajari dari ayahnya, gadis itu melompat lalu memeluk Xuan Yi.
“Apa yang terjadi, Ayi? Tolong jangan begini!”
Suara Xua He dan pelukan hangatnya, berhasil menghentikan badai amarah Xuan Yi. Putaran angin menghilang. Air sungai kembali seperti biasanya. Gadis itu menjatuhkan diri dalam pelukan Xua He dan menangis lagi.
Xua He mengusap punggung gadis dalam pelukannya. Menentramkan dengan kata-kata lembutnya. Setelah tenang, ia mengajak bicara kawan baiknya itu.
“Bolehkan aku ikut pulang ke rumahmu, Ahe?”
Xua He terkejut dengan permintaan Xuan Yi, ia tidak menolak.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments