Chapter 9 : Di Bawah Pohon Persik

Suara ketukan-ketukan palu yang bertumbukan dengan besi pahat kerap terdengar di rumah yang tak jauh dari tepi hutan. Dari matahari belum terbit hingga jampir terbenam. Yaosan bekerja keras untuk menyelesaikan pesanan kawan lama yang juga seorang pejabat pemerintah. Seakan tidak ada waktu bersantai untuknya, demi menghasilkan furnitur yang berkualitas.

Ruangan depan yang tadinya hanyalah gudang, sekarang beralih fungsi menjadi sebuah bengkel kerja. Setelah selesai memasak sarapan, Xuan Yi membawa senampan makanan untuk ayahnya di tempat tersebut. Kemudian melayani keperluan ibu dan adiknya. Ketika matahari mulai bergeser ke arah barat, gadis itu akan berangkat ke ladang sendirian.

Beberapa orang menyapa Xuan Yi saat ia berjalan sendirian menuju ladang. Orang-orang di ladang, salut dengan kegigihan dan kerja kerasnya. Seperti tanpa kehilangan energi, ia terus bekerja. Menumbuhkan tanaman di ladang dengan kekuatan sihir seorang peri, pasti mudah. Namun, gadis itu masih berwujud manusia. Meski di saat tak terduga, ia bisa menggunakan kemampuannya itu.

Beberapa minggu berlalu, Yaosan selalu sibuk di bengkel kerjanya, seperti tidak menghiraukan keluarga. Laki-laki masuk ke rumah utama hanya untuk tidur setelah matahari sudah terbenam. Kumis dan janggutnya tumbuh dengan liar di wajahnya. Mata yang cekung dan keadaan yang berantakan. Hal itu membuat Yen Yui sangat kesal.

Ketika terlalu emosional, Yen Yui akan melampiaskan semuanya kepada Xuan Yi. Ranting kayu terkadang mendarat di betis gadis tersebut hanya karena ia lupa mengerjakan sesuatu. Tak jarang juga, ia tidak diizinkan untuk makan malam atau tidur di dalam rumah.

Hari-hari Xuan Yi, semakin berat. Namun, semua ia lalui dengan senyuman, demi ayahnya yang mencintainya. Sering kali, gadis itu merasa kesepian, karena Xua He pun sudah lama tidak berkunjung dan tanpa kabar. Seperti malam ini, gadis itu tidak diperbolehkan tidur di dalam rumah. Selembar pakaian Yen Yui hanyut saat gadis itu mencuci di sungai. Makan malam pun tidak ada. Beberapa buah kering yang mengisi perutnya.

Malam telah larut, tetapi Xuan Yi masih berguling ke sana ke mari di lincak bambu. Tepat di bawah pohon persik. Gadis itu membuka mata, memandangi langit. Beberapa kunang-kunang yang terbang berkelompok, menyita perhatiannya. Tangan berjari lentik itu menggapai serangga-serangga bercahaya tersebut. Beberapa di antaranya, mendarat di jemarinya.

“Kau beruntung, setidaknya, kau tidak sendiri. Teman atau keluargamu selalu bersamamu, bukan?” gumam Xuan Yi seperti berbicara dengan binatang-binatang itu. Kemudian, ia melepaskan kunang-kunang tersebut untuk kembali terbang.

Awan-awan gelap mulai berarak, menutup sebagian wajah bulan di langit. Xuan Yi menarik selimut yang terbuat dari jerami. Gadis itu mulai kedinginan.

“Ayi, kenapa kau tidur di sini?” Suara bariton yang khas, membuat Xuan Yi bangkit dari tempatnya berbaring.

“Ayah ... itu ....”

“Masuklah! Tidur di kamarmu, kenapa kau harus tidur di situ?”

“Aku ... aku ....”

Yaosan baru saja keluar dari bengkel kerjanya saat menjelang tengah malam. Ia segera menggandeng lembut putrinya untuk tidur di dalam.

“Ayah, aku takut ibu keberatan jika aku tidur di kamarku. Aku tidak sengaja menghanyutkan baju ibu, Ayah.”

“Tidak perlu khawatir, selembar baju itu tidak sepadan dengan apa yang kau tanggung. Tidurlah, maafkan ayah, Nak.” Yaosan menyelimutkan kain tebal ke tubuh gadis itu, lalu mengusap lembut kepala anak gadisnya.

Hati Xuan Yi merasa nyaman dan hangat dengan perlakuan ayahnya. Laki-laki itu alasan ia bertahan di rumah yang akhir-akhir ini bagai neraka. Ia berjanji dalam hati, apa pun yang ayahnya minta atau perintah, ia tidak akan pernah menolak. Seumur hidupnya.

Pagi hari, Yen Yui sudah berteriak lagi. Kali ini, ia bilang, masakan Xuan Yi terasa pahit. Meski dengan sekuat tenaga, diyakinkan, perempuan itu tetap memuntahkan amarahnya kepada sang putri.

“Atau ibu sedang sakit?” tanya Xuan Yi lembut, ia berusaha menyentuh dahi sang ibu. Namun perempuan yang memangku balita itu, menepis dengan kasar tangan Xuan Yi.

“Tidak perlu menyentuhku! Pergi! Masak yang lain!”

Setelah Xuan Yi pergi kembali ke dapur, Yen Yui melahap makanan tadi. Rasa pahit hanyalah sebuah alasan. Ia melihat tadi malam Yaosan membawa masuk gadis yang ia hukum, kembali. Ia begitu murka tadi malam, tetapi ia juga tidak berani secara terang-terangan melawan suami.

Xuan Yi bersandar pada dinding dapur. Ia yakin benar, masakan tadi tidak pahit. Bahkan ia mencolek belanga tempatnya memasak makanan tersebut.

Tidak ada bahan lain selain jagung di dapur. Tanpa pikir panjang, gadis itu menumbuk biji-bijian itu, memasaknya menjadi bubur dengan campuran beberapa buah kering simpanannya. Setelah dirasa manis dan sedap, ia mengambil mangkok dan mengantarkannya pada sang ibu.

“Lumayan, sudah sana pergi!” ucap Yen Yui saat memakan bubur tadi, ia juga menyuapkan pada Xiu Yin kecil.

Sebelum berangkat ke ladang, Xuan Yi membawakan sarapan untuk ayahnya.

“Kau akan berangkat sekarang?” tanya laki-laki itu penuh kasih.

Xuan Yi mengangguk.

“Maafkan ayah, ayah tidak bisa membantu akhir-akhir ini. Hari ini, orang dari teman ayah yang memesan ini, akan datang. Ayah harus menyelesaikan semuanya. Tinggal sedikit lagi.”

“Ya, Ayah. Aku tidak apa-apa. Ayah lebih baik berkonsentrasi dengan pekerjaan Ayah. Aku mungkin akan pulang terlambat Ayah. Aku ingin mencari beberapa buah liar di tepi hutan.”

“Ya, Anakku. Berhati-hatilah!”

Setelah memasukkan beberapa peralatan berladang di kantong besar, Xuan Yi memanggul benda itu lalu berangkat. Setelah beberapa langkah dari rumah, ia mendengar seseorang memanggilnya. Tahu bahwa Xua He yang memanggil, hatinya sangat gembira.

“Aku pikir, kau sudah pergi jauh meninggalkanku, Ahe.”

“Mana mungkin? Aku pergi ke ibukota kerajaan. Di istana, ada seorang selir tingkat rendah yang menggantung dirinya. Ayah mengadakan ritual pengusiran roh jahat di paviliun tempat wanita itu tinggal. Dan ayah memintaku pergi bersamanya.”

“Oh, begitu ....”

“Kau sendirian ke ladang Ayi? Mana ayahmu?”

Xuan Yi memandang langit yang semakin terang.

“Sebaiknya, ayo kita jalan lagi, Ahe! Nanti aku ceritakan semuanya.”

“Baiklah, Ayo!”

Kedua gadis tadi, berjalan dengan riang gembira. Berbicara dan tertawa bersama sepanjang perjalanan. Rasa kesepian Xuan Yi, perlahan sirna. Ia bahagia, temannya sudah kembali.

Saat selesai dengan pekerjaan di ladang, kedua gadis tadi berjalan menuju tepian hutan. Di beberapa tempat, mereka melihat banyak buah Berry liar yang sudah matang. Terkadang mereka makan langsung, sisanya mereka masukkan ke kantong rami mereka. Setelah mendapatkan banyak buah liar, mereka kembali ke ladang, mengambil peralatan berladang yang mereka tinggalkan tadi.

Matahari sudah mulai berwarna jingga saat Xuan Yi dan Xua He saling melambaikan tangan di persimpangan jalan. Dua kantong penuh buah Berry liar, dibawa pulang Xuan Yi.

Saat berjalan pulang, Xuan Yi melihat sebuah kereta kuda melewatinya. Ia melihat ayahnya melambaikan tangan dengan senyuman lebar di wajahnya. Laki-laki itu juga memberikan sebuah kantong besar kepadanya. Setelah sampai di dalam rumah, gadis itu membuka kantong yang berisi beberapa helai pakaian cantik.

“Itu memang bukan barang baru, Ayi. Tetapi, dia bilang, itu akan sangat cantik dipakai olehmu.” Yaosan baru saja masuk saat Xuan Yi mengeluarkan isi kantong.

“Ini indah, Ayah. Lain kali, aku akan berterima kasih langsung kepada kawan Ayah itu.”

“Baiklah. Ayah akan pergi menemui ibu dan adikmu.”

Xuan Yi mengangguk, lalu ia pergi ke dapur setelah memasukkan pakaian tadi ke lemari kecilnya.

“Mungkin aku akan mengeringkan sebagian, lalu membuat selai sebagian lainnya,” gumam Xuan Yi sambil memasukkan buah-buah itu ke dalam guci khusus. Benda itu hampir tergelincir dari tangan, saat Yen Yui bertanya padanya dengan nada kasar.

“Teman Ayah memberiku pakaian bekas putrinya, Ibu.”

“Ah, ya sudah. Itu memang cocok untukmu!” Tawa jahat terdengar dari mulut perempuan itu.

Bersambung ....

Terpopuler

Comments

Tracy Kay Gabriela

Tracy Kay Gabriela

iseng banget ibunya

2022-11-01

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!