“Apa hanya ini yang bisa kamu masak hari ini? Mana lainnya?”
Pagi hari yang cerah dinodai dengan teriakan dari Yen Yui. Sudah beberapa bulan, Xuan Yi memang mengolah makanan seadanya. Bahan makanan di rumah makin sedikit, bahkan panen pun tidak sebagus panen kemarin.
Hasil berdagang Yaosan pun tidak sebanyak biasanya. Namun, perempuan itu tidak mau tahu. Yang ia pikirkan hanya bagaimana mendapatkan asupan nutrisi yang baik untuk anak kandungnya, Xiu Yin. Anak itu mulai bertumbuh. Rumah pun semakin berantakan. Apa saja ia lemparkan. Bahkan terkadang, pakaian-pakaian yang sudah rapi menjadi berserakan.
Tentu saja, pekerjaan Xuan Yi makin bertambah. Gadis itu sudah mulai jarang ke ladang untuk membantu ayahnya. Ia menghabiskan waktu untuk pekerjaan rumah yang sepertinya tidak pernah selesai. Sementara Yen Yui, ia hanya duduk menemani putrinya bermain tanpa mau membantu tentang semua itu, sedikit pun.
Tidak berbeda dengan Xuan Yi, Yaosan pun bekerja dengan keras. Biasanya ia sanggup membayar seseorang untuk membantu di ladang. Namun karena pendapatan yang menurun, ia kerjakan semuanya sendiri, sedikit bantuan dari putrinya.
Xuan Yi selalu mendahulukan ayahnya untuk masalah makanan. Tak jarang pula, ia hanya makan segenggam manisan buah seharian. Pohon persik yang biasanya berbuah rimbun, pun jadi kering. Air di sumur dan sungai mulai mengering.
“Kalau seperti ini terus menerus, kita tidak punya apa-apa lagi yang dapat kita makan untuk sehari-hari.” Yaosan menyesap teh hangat di hadapannya sambil berbicara dengan Yen Yui.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan, Suamiku? Ayin membutuhkan makanan yang baik untuk pertumbuhannya,” keluh Yen Yui.
“Aku tahu. Aku dan Xuan Yi juga sudah berusaha keras di ladang. Tetapi, musim seperti tidak berpihak pada kita.”
Dari sebelah ruangan, Xuan Yi mendengarkan percakapan kedua orang tuanya. Di hadapannya, setumpuk pakaian sudah terlipat rapi. Ia juga mulai memutar otak, ingin membantu orang tuanya.
Tiba-tiba, Xiu Yin yang diletakkan di ayunan terbuat dari keranjang rotan, menangis. Gadis itu cepat-cepat mendekati adik perempuannya. Ia bermaksud menggendong dan menenangkannya.
“Kau apakan adikmu itu, Xuan Yi?” Suara bernada tinggi Yen Yui membuat Xuan Yi mundur.
“Ti-tidak, Ibu ... a-aku hanya ingin menggendong adik yang menangis.”
“Pasti kau yang telah membuatnya menangis, kan?”
Yen Yui berjalan cepat ke arah ayunan tadi, lalu mengangkat anaknya. Menepuk-nepuk punggung anak itu, penuh kasih.
“Bukan, Ibu. Sungguh!”
“Sudah! Menjauhlah! Jangan sentuh anakku!”
Xuan Yi menggigit bibirnya menahan tangis. Mendengar keributan kecil itu, Yaosan datang.
“Sudahlah, sudah istriku! Jangan diperbesar masalah itu. Kenapa tidak ada ketenangan sebentar saja di rumah ini?”
“Teganya kau membentakku karena anak itu, suamiku?” Yen Yui merajuk, ia membalikkan badan, membelakangi sang suami.
Yaosan memandang iba pada Xuan Yi, ia mendorong lembut punggung gadis itu. Isyarat menyuruhnya pergi dari tempat tersebut. Kemudian, ia merangkul pundak sang istri.
“Bukan seperti itu, Sayang. Ayi juga anak kita.”
“Tapi dia bukan darah daging kita, Suamiku.”
“Pelankan suaramu! Jangan sampai anak itu mendengarnya?”
“Kenapa? Bukankah itu kenyataannya?”
“Tapi kita berdua yang memutuskan untuk mengambil dan merawatnya.”
Ada rasa sakit di dalam rongga dada Yaosan. Ia sadar, tingkah istrinya yang berubah drastis, sedikit banyak juga karena salahnya. Sebagai kepala keluarga, ia tidak bisa memberikan yang terbaik. Meski ia sudah berusaha sebisanya. Laki-laki itu memandangi anak dalam dekapan Yen Yui. Ia merasa heran, kenapa rasa sayangnya pada gadis kecil itu tak sebesar rasa sayangnya pada Xuan Yi.
Malam itu, seperti biasanya, Xuan Yi duduk di bawah pohon persik. Menyimak percakapan makhluk-makhluk yang hadir di sana. Memandangi bintang. Ia merasa sedih saat ibunya berteriak atau marah padanya. Namun, ia juga tidak bisa membenci perempuan itu. Gadis itu merogoh kantong yang terbuat dari rami. Berry liar kering yang ia buat sendiri, menemaninya. Tiba-tiba gadis itu teringat dengan teman baiknya. Sudah lama gadis itu tidak datang.
“Ahe, apa kamu juga mengingatku?” gumamnya.
***
Matahari belum bersinar, tetapi Xuan Yi sudah sibuk di depan tungku. Memasak sarapan dari berbagai sisa bahan makanan. Umbi lotus, jagung, buah persik kering dan lainnya. Apa saja yang tersisa di dapur. Ia melihat beberapa jamur tumbuh di sudut belakang rumahnya, tepat di bawah tumpukan kayu bakar. Tangannya dengan cekatan, memilih jamur-jamur yang bisa dikonsumsi. Tentu saja, ia belajar dari seorang perempuan tua pencari jamur liar. Beberapa kali, perempuan itu mampir.
Xuan Yi tidak segan membagi apa yang dipunyai kepada perempuan pencari jamur liar. Seperti hari ini, perempuan itu lewat untuk mencari jamur di hutan.
“Selamat pagi, Bibi Pencari Jamur,” sapanya.
“Aku sudah katakan, aku punya nama! Ling namaku! Ling!”
“Ah, ya. Bibi Ling.”
Bibi Ling sangat menyukai anak gadis seperti Xuan Yi, cantik, menggemaskan dan sopan.
“Tunggu, Nak! Jamur yang sebelah itu beracun! Jangan dimasak! Kau ambil yang di sana saja.”
Dengan senang hati, Xuan Yi mengambil jamur yang dimaksud tadi. Setelah mendapatkan banyak, ia berdiri. Baru ingat jika ia masih punya sekantong berry liar kering. Bibi Ling sudah mulai berjalan. Tanpa membuang waktu, ia berlari ke dapur. Kemudian mengejar perempuan paruh baya tadi.
“Bibi, tunggu Bibi!” panggilnya.
Setelah Bibi Ling berhenti, Xuan Yi mengulurkan kantong terbuat dari rami tadi.
“Apa ini?”
“Aku tidak punya persik segar atau buah lainnya, Bibi. Aku hanya punya buah-buah kering ini. Bawalah ini untuk bekal Bibi di hutan.”
Bibi Ling tersenyum, ia mengusap lembut puncak kepala Xuan Yi.
“Terima kasih. Kau anak yang baik. Dewa pasti selalu memberikan berkah padamu.”
Xuan Yi berlari pulang ke rumah setelah melambaikan tangan pada Bibi Ling. Menyelesaikan pekerjaan memasaknya tadi. Kemudian mengantar sarapan untuk ayah, ibu dan adiknya. Sesudahnya, ia ikut sang ayah berangkat ke ladang membawa sedikit bekal.
Langit terlihat gelap saat menjelang tengah hari. Yaosan mengajak putrinya pulang. Beruntung, hujan turun setelah mereka berdua sampai di rumah. Yen Yui dan putri keduanya, terlelap di kamar.
“Ayah ingin minum teh? Aku akan membuatnya.”
“Tidak perlu putriku, kau sudah terlalu lelah di ladang tadi ....”
Suara ketukan keras dari pintu, menghentikan pembicaraan ayah dan anak tersebut.
“Biar aku yang buka pintu, Ayah”
Xuan Yi berjalan cepat ke arah pintu. Ia terkejut melihat seorang laki-laki yang dipayungi laki-laki lainnya. Dari penampilannya, pria itu terlihat dari kalangan atas. Apalagi terlihat kereta kuda di belakangnya.
“Apakah benar ini rumah Yaosan?”
“Ya, betul.”
Sejenak, laki-laki itu memandangi Xuan Yi dari ujung kepala sampai ujung kaki. Gadis itu merasa tidak nyaman. Tak berlama-lama, ia segera meminta ijin untuk memanggil ayahnya.
“Aku kira siapa, masuk! Masuklah!” perintah Yaosan setelah tahu siapa yang datang.
Laki-laki tadi adalah teman masa kecil Yaosan. Seorang pejabat desa. Dari ceritanya, laki-laki itu baru saja pulang dari perjalanan kerja di ibukota kerajaan.
Xuan Yi datang membawa meja kecil berisi teh dan buah kering. Kemudian ia kembali masuk ke ruangan lain.
“Itu putrimu?”
“Ya, dia putri sulungku, Xuan Yi.”
“Aku tidak menyangka kau memiliki anak gadis secantik itu. Aku pernah melihat putri raja, bahkan ia tidak secantik putrimu.”
“Ah, benarkah? Kau terlalu berlebihan.”
“Aku tidak berdusta.”
Obrolan ringan mengalir dari kedua laki-laki tadi. Mereka juga mengenang masa kecil. Sesekali mereka berdua menyesap teh dan memakan camilan yang tersedia. Mata laki-laki tadi seketika menangkap meja dengan ukiran di hadapannya. Ia baru sadar dan merasa takjub saat meraba benda tersebut. Kemudian mengetuk lembut.
“Di mana kau membeli furnitur sebagus ini? Ini barang yang bagus.”
“Oh ini, aku membuatnya sendiri.”
“Benarkah?”
“Kalau begitu, buatkan aku satu set furnitur seperti ini. Aku akan datang ke sini lagi dua atau tiga minggu lagi, bagaimana?”
“Tapi, itu ....”
Laki-laki di hadapan Yaosan itu merogoh sesuatu di balik jubahnya. Sebuah kantong terbuat dari satin, terlihat.
“Jangan khawatir, aku membayar uang mukanya. Aku bayar lunas setelah semua jadi.”
“Baiklah ....” Yaosan tersenyum, berterima kasih.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments