Chapter 7 : Ketabahan Gadis Kecil

Suara teriakan terdengar dari kamar. Kali ini, Yen Yui meminta Xuan Yi untuk mengambilkan makanan. Sementara ia sibuk menyusui bayinya. Sudah beberapa hari, Yaosan dalam perjalanan menuju ibukota, berdagang. Otomatis, semua pekerjaan rumah dilakukan oleh Xuan Yi sendirian. Hal tersebut membuat gadis kecil itu kadang menahan lapar, karena harus cepat-cepat menyelesaikan semua pekerjaan. Sebuah pir atau apel liar di pinggir hutan yang sering menjadi sarapan dan makan siang.

Dengan tertatih-tatih, Xuan Yi membawa sekeranjang penuh cucian basah dari sungai. Ia juga memetik beberapa buah-buahan semak di bantarannya. Xua He mengajarinya membuat beberapa buah kering. Rencananya, setelah menjemur pakaian, ia akan membuat manisan dan buah kering dari buah yang tadi dipetik.

Hati Xuan Yi begitu bahagia, saat melihat alas kaki ayahnya ada di depan pintu. Itu artinya, Yaosan sudah pulang. Ia bermaksud ingin lari menghambur, memeluk sang ayah. Namun, di dalam, Yen Yui dan Yaosan berbicara dengan bahagia. Adik perempuannya yang masih bayi, ada dalam gendongan ayahnya.

Melihat kedatangan Xuan Yi, Yen Yui mengisyaratkan pada putri angkatnya untuk menyingkir. Mengerti arti dari kode ibunya, gadis itu mundur. Ia berbalik, keluar rumah. Meletakkan buah-buahan yang terbungkus daun lotus besar, di teras, lalu mulai menjemur pakaian.

Sebenarnya, Yaosan berkali-kali menanyakan tentang Xuan Yi. Namun, Yen Yui selalu mengarang cerita untuk membuat gadis itu terkesan buruk di mata suaminya. Dalam hati, laki-laki itu tidak sepenuhnya percaya.

Setelah menyerahkan bayi yang masih kecil itu pada istrinya, Yaosan berjalan ke halaman belakang. Matanya mencari ke sana dan ke mari. Benar saja, ia menemukan Xuan Yi sedang menjemur pakaian.

“Apakah kamu tidak rindu ayah, Ayi?”

Mendengar suara sang ayah, Xuan Yi tersenyum, ia berbalik dan lari menghambur ke pelukan Yaosan.

“Mana mungkin aku tidak merindukan Ayah?”

Yaosan buru-buru melepaskan pelukannya pada anak gadisnya, lalu menyodorkan sebuah benda kecil yang terbungkus kain beludru.

“Ini untukku, Ayah?”

“Ya, bukalah, ayah melihatnya saat perjalanan pulang. Ayah rasa, itu akan sangat cantik saat kau yang memakainya.”

Sebuah jepit rambut kupu-kupu berwarna merah bersalut emas, terlihat setelah bungkusan kain beludru itu dibuka. Xuan Yi merasa sangat senang melihat benda yang dibelikan sang ayah. Gadis itu langsung memeluk laki-laki yang telah membesarkannya tersebut.

“Ini pasti mahal sekali, Ayah. Apa tidak apa-apa aku memakai ini?”

“Kenapa tidak? Itu memang untukmu, bukan?”

Xuan Yi melepaskan pelukannya, lalu memasang jepit rambut itu di atas telinganya.

“Bagaimana, Ayah?”

“Persis seperti dugaan ayah. Kau cantik sekali, putriku.”

Kedua ayah dan anak itu tidak tahu, bahwa ada sepasang mata yang marah melihat keadaan tersebut.

***

Hari-hari berikutnya, kehidupan Xuan Yi semakin tidak menyenangkan. Yen Yui benar-benar tidak mau bergerak untuk pekerjaan rumah. Perempuan itu bak seorang nyonya bangsawan yang hanya makan, tidur, lalu membuang waktu. Semua pekerjaan rumah benar-benar dilimpahkan kepada Xuan Yi.

Seolah-olah, gadis itu seorang budak miliknya.

Yen Yui akan mengomel sepanjang hari atau marah-marah jika Xuan Yi melakukan sedikit kesalahan. Seperti pagi ini, gadis bermata indah itu memasak bubur untuk sarapan. Namun, menurut Yen Yui, rasanya kurang manis. Tak bisa dihindari lagi, suara perempuan itu makin meninggi dan menceracau tidak karuan. Bahkan, ia pernah menendang meja kecil saat ia tidak suka dengan makanannya

Tiap hari, setelah memasak sarapan untuk keluarganya, Xuan Yi biasanya berada di ladang dari pagi hingga siang. Yaosan pun ikut membantu. Sore sampai malam, laki-laki itu membuat furnitur untuk kebutuhan sendiri. Beberapa hari ini, Yen Yui mengeluhkan benda-benda yang mulai keropos tersebut.

Mau tidak mau, ketika Yaosan sibuk di ruangan depan, membuat furnitur, Xuan Yi melakukan semua pekerjaan. Baik di ladang atau di rumah. Meski terasa sangat melelahkan, gadis itu tidak pernah mengeluh. Selalu tersenyum saat ayahnya bertanya kondisinya.

Saat malam menjelang, Xuan Yi membawa sebuah meja kecil dengan makan malam ke kamar ibunya. Karena kelelahan, ia terhuyung dan menumpahkan beberapa makanan ke lantai.

“Kalau kamu tidak suka, tidak usah melakukan itu! Buang-buang makanan saja! Pungut! Makan itu semua dan ambilkan yang baru untukku!” bentak Yen Yui.

Tanpa membantah, gadis itu memunguti makanan yang telah tumpah. Setelahnya, ia pergi mengambil makanan yang baru di dapur. Melihat kejadian tersebut, Yaosan merasa sedih. Ia mendekati Xuan Yi.

“Tolong maklumi ibumu itu. Ia sedang dalam tekanan karena mengasuh seorang bayi, Anakku. Jika ia berteriak atau memerintah, jangan kau bantah.”

“Dulu, waktu aku masih bayi, ibu juga merawatku seperti itu, Ayah?

Yaosan terdiam, ia menunduk.

“Ya, seperti itulah.”

“Oh, jadi begitu. Jadi, tidak ada masalah buatku sama sekali, Ayah.”

“Gadis pintar!” Yaosan mengusap lembut puncak kepala Xuan Yi penuh kasih sayang.

Begitulah setiap pagi, siang dan malam. Tidak ada kesunyian sedikit pun, kalau tidak berteriak, Yen Yui akan mengomel. Kesalahan sedikit saja yang dilakukan sang putri, ia tidak akan diam hingga puas.

Malam kian larut, Xuan Yi masih duduk di bangku yang terbuat dari bambu. Di bawah pohon persik, gadis itu memeluk lutut. Kadang, mata indahnya memandangi gugusan bintang di langit. Helaan napas juga sering terdengar dari mulutnya. Beberapa makhluk yang duduk di dahan pohon, tidak ia pedulikan. Meski kadang ia merasa aneh saat mendengar percakapan makhluk-makhluk tersebut.

Seperti percakapan dua hantu yang tinggal di pohon berbeda tak jauh dari tempat itu. Mereka berdebat tentang siapa yang lebih hebat dalam pekerjaan mengganggu manusia. Xuan Yi tersenyum ketika mereka saling melempar buah-buah busuk. Kini ia tahu, siapa dalang di balik halamannya yang berserakan setiap pagi.

“Kau lihat itu? Gadis itu tersenyum, apa dia bisa mendengar kita?” Hantu perempuan dengan rambut acak-acakan mengamati Xuan Yi.

“Tidak mungkin, ia tersenyum karena khayalannya sendiri,” ucap hantu lainnya.

“Kenapa tidak? Mau aku buktikan?”

Hantu perempuan tadi melayang turun dari dahan. Ia membuat wajahnya terlihat menyeramkan lalu menjentikkan jari di depan Xuan Yi. Gadis itu memang melihatnya, tetapi ia berpura-pura mengalihkan pandangan.

“Ya, kali ini, kau benar!”

“Sudah kubilang. Kau memang bodoh.”

Kemudian, kedua hantu tadi kembali berdebat.

Tepukan lembut di bahu, membuat Xuan Yi terkejut. Ia tidak mau menoleh, karena ia pikir, itu bisa saja pekerjaan hantu lainnya.

“Kenapa selarut ini masih di luar?”

Mendengar suara yang ia kenali, Xuan Yi tersenyum. Ia berani menoleh.

“Ayah? Ayah juga belum tidur?”

Yaosan mengangguk.

“Ayah baru saja menyelesaikan beberapa pekerjaan. Tidurlah cepat, besok kita akan ke ladang lagi.”

“Ya, Ayah.”

Xuan Yi bangkit dari duduknya setelah berpamitan. Ia berjalan menjauhi tempat tadi.

“Ayi, maafkan Ayah.”

Langkah Xuan Yi terhenti, saat mendengar kalimat terakhir ayahnya. Ia membalik badannya.

“Untuk apa Ayah?”

“Untuk semua amarah ibumu, dan ayah tidak bisa berbuat apa pun.”

“Aku sudah bilang, Ayah. Itu bukan masalah bagiku. Selamat malam, Ayah!”

Bersambung ....

Terpopuler

Comments

Tracy Kay Gabriela

Tracy Kay Gabriela

semoga sihat selalu thor

2022-11-01

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!