Chapter 5 : Tipuan Wajah Cantik

Seorang laki-laki berperawakan kurus, duduk termenung di serambi rumah. Di hadapannya, terdapat sebuah meja kecil dengan teko dan cangkir yang masih mengepulkan uap. Sesekali, ia meniup uap tersebut dan menyesap isi cangkir di tangannya.

Selama menjadi wudang, Yongzi baru melihat gadis kecil, tinggal di desa terpencil dengan keindahan ragawi yang tidak biasa. Hal itu mengingatkannya pada mendiang istrinya. Jenis kulit dan fisiknya keduanya, hampir mirip.

Merasa penasaran dengan apa yang dibicarakan putrinya kemarin dengan gadis itu, ia memanggil sang putri, Xua He.

Xua He datang dengan celemek masih menempel di badannya.

“Ada apa, Ayah?” tanya gadis tersebut.

Yongzi memandangi putrinya, menyelidik.

“Kau habis membuat kekacauan di dapur lagi?”

“Kalau memasak disebut sebuah kekacauan. Maka, iya, Ayah. Aku sudah melakukannya dengan sukses!”

Yongzi tertawa mendengar jawaban gadis yang berdiri di hadapannya, kini.

“Duduklah sini, Ahe! Aku ingin bertanya sesuatu padamu.” Laki-laki itu menepuk lembut tempat di sebelahnya.

Tanpa membantah, Xua He duduk di tempat tadi.

“Memangnya Ayah mau bertanya tentang apa?” Xua He menautkan kedua ujung alisnya.

“Itu, gadis kecil yang kemarin bersamamu. Apa kau baru mengenalnya?”

“Mmm ... maksud Ayah, Xuan Yi?”

“Ya, dia.”

“Aku memang baru melihatnya, Ayah. Tetapi, entah kenapa, aku merasa tertarik untuk mendekat dan menjadi temannya. Terlebih lagi, ia suka dengan manisan buah yang aku buat.”

Wajah Xua He begitu bahagia saat menceritakan Xuan Yi.

“Lalu, apa yang kalian bicarakan?”

“Banyak, Ayah. Termasuk tentang keahliannya melihat makhluk-makhluk lain. Aku berpikir bahwa akan sangat menyenangkan belajar tentang wudang bersamanya.”

Yongzi terperanjat dengan kalimat terakhir anak gadisnya.

“Kau? Ingin belajar tentang mantra dan ilmu lainnya? Biasanya kau selalu membantah jika kusuruh mempelajari kitab ‘Sembilan Aturan Tiga Kehidupan’. Bahkan, kau akan menggerutu terus menerus saat aku memintamu untuk menulis beberapa kertas mantra.”

“Itu dulu, Ayah. Xuan Yi sudah berjanji akan menjadi temanku. Membantuku membuat makanan dan belajar tentang kitab tadi.”

“Baiklah, baiklah!”

Hidung Yongzi bergerak-gerak, ia mencium bau sesuatu yang terbakar. Hangus.

“Xua He. Apa masakanmu sudah matang?” tanyanya.

Gadis bercelemek itu cepat-cepat bangkit dari duduknya, lalu berlari ke dalam rumah sambil berteriak, “Astaga, kueku!”

Laki-laki berusia hampir empat puluh itu menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya. Kemudian, ia mencucup isi cangkirnya kembali. Harumnya teh yang menguar, memang selalu menenangkan hati dan pikirannya.

Ingatan Yongzi melayang ke masa lalu. Masa di mana saat ia menemukan seorang gadis yang aneh. Tubuh molek terbaring di dalam gua tempatnya berteduh saat hujan deras menghalangi perjalanan pulangnya. Saat itu, ia baru saja melakukan ritual pengusiran hantu di sebuah kota kecil.

Awalnya, Yongzi mengira bahwa gadis itu adalah patung porselen. Namun, ketika ia menyentuh wajah yang cantik itu, ia terkejut. Hampir saja berteriak. Ia pikir, seseorang meletakkan mayat begitu saja di dalam gua. Akan tetapi, dada gadis tadi yang naik turun, menandakan ada kehidupan di tubuh tersebut.

Perlahan, Yongzi memeriksa tanda-tanda vital kehidupan di titik-titik lain. Namun, pria itu terkejut saat tangan gadis tadi menggenggam erat pergelangan tangannya. Kemudian, isakan terdengar dari mulut perempuan tersebut. Meski kedua matanya masih terpejam.

“Tolong! Tolong ... aku mohon, lepaskan aku!”

Aura merah keemasan melingkupi tubuh gadis itu, lalu ia bangkit dari tempatnya terbaring tadi. Ia berteriak-teriak saat melihat Yongzi muda. Dengan tangan satumya, pemuda itu menutup mulut sang gadis.

“Diamlah, diam! Kalau seseorang mendengar teriakanmu, ia pikir aku sedang melakukan hal hina padamu. Padahal, kau yang mencengkeram tanganku terlebih dulu.

Gadis bergaun merah itu mengangguk-angguk. Kemudian Yongzi melepaskan tangan yang membungkam mulut gadis tersebut.

“I-iya, maafkan saya. Saya pikir ... Anda orang yang mengejar saya.” Gadis berkulit putih bersih itu menggeser duduknya, menjauhi Yongzi.

Yongzi tertawa saat mendengar bahasa formal meluncur dari mulut gadis tersebut.

“Tingkahmu seperti perempuan bangsawan.”

“Saya memang ... tunggu, ini tahun apa?”

“Musim semi tahun kelinci.”

“Artinya, aku sudah tertidur di sini ratusan tahun?”

“Tidak mungkin! Bercandamu sungguh keterlaluan.”

Mata pria itu menangkap simbol kupu-kupu di leher gadis yang baru saja ia temui. Tanda lahir itu berwarna merah muda.

Hujan sudah mulai reda. Yongzi berniat untuk meneruskan perjalanannya pulang menuju desa. Tiba-tiba, lonceng yang tersemat di pinggangnya berkerincing. Menandakan ada hantu di sekitar situ. Laki-laki itu bersiaga, waspada dan memerhatikan sekitarnya. Teriakan gadis dari arah belakang, membuatnya menoleh.

Gadis yang tadi Yongzi temui, berdiri ketakutan, beberapa hantu mengelilingi perempuan muda tadi. Dengan gerakan yang gesit ia berusaha mengusir hantu. Pedang giok hijau yang ia bacakan mantra, berpendar-pendar.

“Atas nama Langit dan kuasa para Dewa, aku meminta kau kembali ke tempat asalmu dengan damai!” Yongzi mengucapkan mantra “penenangan” dengan lantang. Kemudian, pedang itu ia kibaskan ke arah hantu-hantu tadi.

Setelah semua hantu pergi, Yongzi mengulurkan tangan pada gadis yang belum ia ketahui namanya.

“Aku Yongzi. Kau tidak apa-apa?”

“Sa-aku Annchi. Aku pe-” Hampir saja gadis tersebut membuka jati diri, tetapi ia berhasil menahannya. “Bolehkah aku ikut pergi ke mana Tuan pergi?” sambungnya.

“Aku sedang menuju rumah. Tidak masalah jika kau ikut, hanya saja, rumahku di tepi hutan. Perempuan tidak akan mau tinggal di tempat seperti itu.”

“Tidak masalah, Tuan.”

Entah kenapa, Yongzi tidak bisa menolak permintaan Annchi. Laki-laki itu membawa pulang gadis tersebut. Ia mengajari beberapa hal tentang mantra dan perlindungan. Lambat laun, Yongzi dan Annchi saling jatuh cinta, lalu menikah.

“Kau menikahi perempuan itu?” tanya roh suci penjaga kuil di bukit belakang rumah Yongzi.

“Ya, dua orang manusia saling cinta, kenapa tidak menikah?” jawab Yongzi.

“Kau bodoh! Dia bukan manusia. Dia peri dunia bawah yang masuk ke dalam tubuh manusia.”

Laki-laki tadi mengerutkan dahi.

“Kenapa kau berpikiran seperti itu?”

“Apa kau tidak bisa melihat aura merah keemasan yang memancar dari tubuhnya?”

“Aku melihatnya kadang kala.”

“Itulah!”

Sesampainya di rumah, Yongzi membongkar kitab-kitab di kamarnya. Annchi tak terlihat di dalam rumah. Pria itu terkulai lemas saat membaca di sebuah bagian kitab kuno, tentang peri yang tinggal di dunia bawah.

“Apakah istriku benar-benar seorang peri merah?”

Annchi pulang, saat Yongzi tertidur. Kepala pria itu tergeletak di meja. Dengan penuh kasih sayang, perempuan itu mengusap dahi dan pipi suaminya. Ia baru saja pulang dari tempat tabib. Kabar bahagia yang ia dapatkan, ingin ia bagikan dengan sang suami. Namun keduanya malah mulai jarang bertegur sapa.

Yongzi menghindari Annchi terus-menerus. Ia sering keluar kota untuk pekerjaannya. Sementara, perut Annchi semakin membesar. Berbulan-bulan, perempuan itu tidak memahami, kenapa suaminya menjauhi dirinya hingga bayi mereka lahir.

Pada suatu sore, Annchi baru saja selesai menyusui bayinya. Ia begitu terkejut setelah melihat banyak bayangan hitam di halaman rumah. Dengan bergegas, ia berlari, mencari suaminya.

Annchi menyerahkan bayi dalam dekapannya kepada Yongzi.

“Aku mungkin telah membohongimu dan menipumu. Tetapi tidak dengan anak kita. Suamiku, pergilah! Larilah yang jauh, bersama Ahe! Jika kau melihat hantu dengan jejak hitam berapi. Menghindar! Jangan coba-coba untuk melawan.”

Yongzi menuruti perkataan Annchi, ia mendekap bayinya. Tatkala melihat ke arah belakang, pria itu menitikkan air mata. Melihat istrinya dihabisi oleh bayangan-bayangan hitam yang berkelebat. Ia begitu menyesal, sempat menjauhi perempuan yang mau mengorbankan diri untuknya. Air mata menggenang di sudut mata pria itu.

“Ayah, bukankah besok Ayah akan pergi ke desa di balik bukit lagi? Bolehkah aku mengajak Xuan Yi ke rumah kita?” Ucapan Xua He membuyarkan lamunan Yongzi.

“Tentu saja!” jawab laki-laki tersebut dengan senyum di bibirnya.

Bersambung ....

Terpopuler

Comments

Tracy Kay Gabriela

Tracy Kay Gabriela

keren banget ceritanya

2022-11-01

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!