Chapter 4 : Cintalah Keajaiban Itu

Bunyi berdebum keras terdengar dari kamar Xuan Yi. Gadis itu terpaku, menatap lemari berukir kecil di hadapannya. Pintunya lepas, merosot ke bawah. Beruntung benda berat itu tidak mengenai kaki kecilnya. Yaosan tergopoh-gopoh menghampiri sang putri.

"Apa kamu tidak apa-apa, putriku?"

Xuan Yi yang masih bergeming, hanya menganggukkan kepala cepat-cepat.

"Syukurlah!"

Yaosan mendekati lemari kecil yang rusak tersebut. Ia memeriksa di beberapa tempat.

"Sepertinya, lemari ini sudah terlalu tua. Maafkan ayah yang belum sempat menggantinya."

Lagi-lagi, gadis itu mengangguk.

"Ah, ya! Ayah ingat sesuatu. Ayah masih punya beberapa kayu yang bagus di gudang depan. Mungkin bisa dibuat menjadi lemari kecil untukmu. Apa kau mau membantu ayah, Xuan Yi?"

"Tentu saja, Ayah!"

Xuan Yi membuntuti sang ayah menuju sebuah ruangan kecil di bagian depan rumah mereka. Kemudian Yaosan sudah terlihat sibuk memeriksa kayu-kayu yang dimaksud tadi.

"Kamu beruntung, anakku. Kayu ini masih bagus."

Xuan Yi tersenyum lebar.

Yaosan menggotong kayu-kayu tadi di pundaknya satu per satu. Xuan Yi berinisiatif membantu laki-laki tersebut dengan membawakan keranjang berisi perkakas. Alat-alat pertukangan milik Yaosan.

Kedua ayah anak tersebut begitu riang dan gembira. Mengubah lembaran-lembaran kayu tadi menjadi sebuah furnitur. Tawa kadang terdengar dari mulut keduanya.

"Ayah yakin bisa membuat lebih lemari yang lebih bagus?" tanya Xuan Yi mengonfirmasi.

"Tentu saja. Ayah dulu hebat dalam hal ini! Hanya saja, Ayah tidak bisa seperti jaman masih perjaka. Berjalan ke hutan untuk mencari kayu seperti ini."

"Oh, Baguslah Ayah. Itu artinya, aku akan punya sebuah lemari baru yang bagus." Mata Xuan Yi berbinar.

Tak terasa, hari semakin sore. Mengetahui suami dan anak angkatnya sibuk seharian di samping rumah, Yen Yui merasa kesal. Meski begitu, ia harus bisa menahan emosinya.

Sementara, Xuan Yi benar-benar menikmati kebersamaannya dengan sang ayah.

"Xuan Yi, ayah lupa membawa alat pahat untuk mengukir ini. Lemarimu akan semakin indah dengan ukiran. Apa yang kamu inginkan untuk gambarnya?"

Xuan Yi meletakkan jari-jemarinya di dagu. Matanya membesar. Berpikir. Ia juga terlihat makin menggemaskan.

"Aku suka kupu-kupu, Ayah. Maukah Ayah mengukir itu di sudut sini?" Jari-jari lentik Xuan Yi menyentuh sudut lemari kecil yang setengah jadi.

"Tentu, kenapa tidak? Itu akan sangat indah untuk benda ini."

Setelah menceritakan detail ukiran yang diinginkan, Xuan Yi berlari menuju ruangan penyimpanan tadi. Ia sangat gembira, bakal mendapatkan lemari baru dengan gambar kesukaannya. Namun gadis itu tidak tahu, dari arah berlawanan, Yen Yui berjalan pelan-pelan dengan menyangga perut yang makin buncit.

Xuan Yi terkejut dengan munculnya Yen Yui di hadapannya. Ia tidak bisa menghentikan laju larinya. Hingga gadis tersebut menabrak ibu angkatnya itu, tepat di bagian perut. Perempuan tersebut pun oleng, lalu jatuh terduduk.

Terkejut dan kesakitan, Yen Yui berteriak-teriak. Ia memanggil-manggil suaminya. Ketakutan melihat air dan darah yang mengalir dari bagian bawah tubuhnya.

Yaosan meletakkan alat yang ada di tangan. Kemudian berlari ke arah suara. Ia juga panik saat melihat istrinya yang jatuh terduduk menangis kesakitan. Di sisi lain, Xuan Yi terdiam, ia tak kalah terkejutkan.

"Tunggu, kamu tunggu di sini istriku. Aku akan mencari tabib." Tanpa menolong istrinya terlebih dulu, Yaosan berlari ke luar rumah.

"Kalau saja ada apa-apa dengan bayiku. Aku tidak akan pernah memaafkanmu!" jerit Yen Yui pada Xuan Yi. Tentu saja, hal itu membuat Xuan Yi ketakutan.

"Bantu aku berdiri! Ayo, cepat!" perintah perempuan itu, masih meringis kesakitan. Ia meminta Xuan Yi memapahnya masuk ke dalam rumah.

Xuan Yi berdiri di pojok ruangan kamar, meremas tangan sendiri, melihat sang ibu kesakitan dan berteriak-teriak. Air mata membanjiri pipi gadis itu. Ia tidak takut dengan hukuman ibunya, ia hanya takut jika ia harus kehilangan adiknya atau sang ibu atau mungkin keduanya.

Beberapa menit berlalu, Yaosan baru saja tiba dengan seorang tabib. Tabib itu segera masuk ke tempat Yen Yui berbaring. Peluh membasahi wajah dan tubuh perempuan tersebut.

" Aku akan memeriksanya sebentar." Tabib itu berbicara dengan Yaosan. Perempuan bergaun warna cerah tadi, juga menyuruh sang tuan rumah untuk keluar ruangan.

Yaosan berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar. Pria itu benar-benar terlihat khawatir. Xuan Yi merasa sangat bersalah melihat ayahnya seperti itu. Ia duduk memeluk lutut di lantai, lalu menangis.

Yaosan berjongkok di hadapan Xuan Yi, mengelus kepalanya dengan lembut.

"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja," hiburnya.

"Tapi Ayah ... bagaimana kalau ada hal buruk yang akan menimpa ibu dan adikku yang masih di dalam sana? Semua ini salahku!" Tangis Xuan Yi makin keras.

Yaosan memeluk anak gadisnya yang ketakutan. Pria itu mengelus punggung Xuan Yi.

"Tidak, itu bukan salahmu. Semua yang terjadi, sudah jadi kehendak Sang Dewa, Anakku."

Beberapa saat kemudian, Tabib sudah keluar dari kamar. Wajah tenang dan lembutnya tersenyum.

"Semua sudah berlalu. Istrimu sungguh beruntung, bayinya tidak apa-apa. Belum waktunya lahir. Aku sudah menuliskan beberapa bahan ramuan untuk menguatkan kandungan istrimu. Besok pagi, pergilah ke toko obat tuan Ling. Semua bahan ini ada di sana." Tabib Hua berbicara dengan Yaosan yang masih terlihat khawatir.

"Baik. Baik Nyonya. Saya akan membeli ini semua," jawab Yaosan.

"Oh iya, istrimu harus beristirahat di ranjang. Untuk sementara, jangan biarkan ia melakukan pekerjaan rumah." Perempuan paruh baya berwajah lembut itu mengangguk, berpamitan. Yaosan mengantarkannya sampai ke depan rumah.

Sejenak, Tabib Hua berhenti saat melewati Xuan Yi. Ia mengamati wajah sembab gadis kecil itu. Ia seperti baru menyadari sesuatu.

"Putrimu cepat tumbuh dewasa. Aku kira, terakhir ke sini, aku melihatnya masih begitu kecil," ucap Tabib tersebut.

"Benarkah? Aku tidak merasa seperti itu. Putriku masih sama seperti biasanya."

"Baiklah. Mungkin aku salah mengira saja."

Di sisi lain, Xuan Yi berjalan masuk ke dalam kamar tempat Yen Yui terbaring. Perempuan itu terlelap.

Dengan tangan yang gemetaran, Xuan Yi meraih tangan ibunya. Air mata mulai mengalir kembali di sudut mata gadis itu.

"Maafkan aku ibu, aku harap, ibu baik-baik saja. Hidup lama bersama kami. Dan adik dapat lahir ke dunia." Xuan Yi berbisik penuh harap sambil memejamkan mata.

Pendar cahaya, keluar dari genggaman tangan Xuan Yi. Kilauan cahaya itu mengalir ke tangan Yen Yui. Yaosan yang baru saja kembali, takjub melihat kejadian yang tidak masuk akal di hadapannya. Hatinya diliputi kebahagiaan, kegembiraan. Kali ini, pria itu merasa bahwa ia telah membesarkan seorang Dewi di rumahnya.

Bersambung ....

Terpopuler

Comments

Tracy Kay Gabriela

Tracy Kay Gabriela

keren

2022-11-01

0

Mega

Mega

Semangat, kak, aku bantu doa dari sini.

2022-09-14

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!