Chapter 3 : Manusia atau Bukan?

Sepasang suami-istri baru saja pulang dari rumah kerabatnya. Mereka singgah ke rumah tersebut setelah pulang dari kuil di atas bukit. Kuil Dewi Kesuburan. Ya, pasangan tersebut sudah menikah beberapa tahun, tetapi belum dikaruniai seorang anak pun.

Setiap pagi, kedua orang tersebut berjalan ke kuil. Kemudian, saat perjalanan pulang, mampir ke rumah beberapa kerabat mereka meminta restu setelah memohon kepada Dewa.

Sore itu, tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras. Terpaksa, suami-istri tadi berjalan cepat mencari tempat berlindung. Namun langkah mereka terhenti karena mendengar tangisan bayi.

“Tunggu, istriku! Apa kau dengar itu?”

“Ya, aku mendengarnya, suamiku.”

Kedua manusia tadi mencari ke arah sumber suara. Mereka terkejut saat melihat keranjang rotan mengapung di pinggir sungai. Benda itu tersangkut akar tanaman dan mulai tenggelam karena air hujan yang membasahi bagian atas keranjang. Sementara itu, aliran sungai juga semakin deras.

“Aku akan mengambilnya, istriku, kamu tunggu di bawah pohon ini saja!”

Sang istri mengangguk patuh.

Dengan susah-payah, pria itu berhasil mengambil keranjang tadi dengan bantuan batang kayu yang diambilnya dari tepi sungai. Hatinya merasa iba sekaligus senang saat melihat bayi yang masih merah di dalam keranjang tersebut. Ia buru-buru membawa bayi tersebut ke istrinya.

Seperti tahu bahwa dirinya sudah aman, bayi yang menggemaskan tadi menghentikan tangisnya. Menggeliat-geliat lucu mencari perhatian. Di tangan kanannya yang mungil, terlihat sebuah tanda lahir berwarna merah dengan bentuk kupu-kupu. Gelang giok indah melingkar di sana juga.

“Suamiku, ayo cepat pulang! Kasihan anak ini, kedinginan.” Dengan bergegas, kedua orang itu membawa pulang bayi mungil tersebut. Suami-istri itu sangat bahagia, mendapatkan bayi yang mereka idamkan selama ini.

Sesampainya di rumah, bayi tadi dibungkus dengan kain yang kering dan hangat. Kebetulan, di rumah itu pernah ada baju bayi yang tertinggal. Milik putri dari salah satu kerabat mereka.

“Kau kuberi nama Xuan Yi, karena kau adalah hadiah pertama yang cantik dari para Dewa.” Yaosan berkata lembut pada bayi yang terlelap di tangannya. Rasa sayang kepada makhluk mungil itu semakin besar.

“Suamiku, bagaimana dengan gelang giok ini? Apa kita bisa menjualnya?”

“Jangan istriku. Gelang itu milik Xuan Yi. Biarkan itu jadi satu-satunya tanda dan identitas lahirnya. Bisa jadi, ia putri dari keluarga yang berada.”

“Jadi, namanya Xuan Yi? Nama yang indah.”

“Ya, Yen Yui. Mau bagaimana pun. Dia adalah putri pertama kita yang cantik. Seperti kupu-kupu yang tumbuh dari seekor ulat yang mungkin biasa saja. Seperti itulah kelak ia saat tumbuh besar.”

“Tidak, putri kita adalah kupu-kupu sejak lahir, Suamiku!”

***

Semenjak Yaosan dan Yen Yui merawat bayi itu, keberkahan seperti terus mengelilingi keluarga kecil mereka. Panen dari ladang dan kebun meningkat. Hasil ternak juga makin banyak. Hidup keluarga itu mulai berkecukupan. Xuan Yi pun tumbuh menjadi gadis kecil nan lincah. Wajahnya dan tingkahnya sangat menggemaskan.

Namun, ada kekhawatiran yang terbesit di hati Yaosan tatkala melihat gadis kecil itu bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain. Bahkan saat anak itu terluka, perlahan luka itu segera menutup. Kejanggalan tersebut ia tutupi dari istrinya juga.

Yaosan benar-benar memperlakukan Xuan Yi seperti putri kandungnya sendiri. Hingga tanpa sadar, ia sering tidak memedulikan istrinya. Ada rasa cemburu yang mulai tumbuh di hati Yen Yui. Kecondongan hatinya makin terlihat saat ia berhasil mengandung bayi di dalam rahimnya.

Yaosan tentu bahagia, saat tahu bahwa ia akan mendapatkan bayi lagi. Tabib baru saja pulang saat memeriksa perut Yen Yui yang semakin membuncit. Suami-istri yang berbahagia itu sedang mengobrol santai di kamar.

“Suamiku, apa kau juga akan menyayangi anak ini seperti kau menyayangi Xuan Yi?”

“Jangan konyol! Tentu saja aku akan berusaha menjadi ayah yang baik untuk semua anak-anakku.”

Tiba-tiba terdengar bunyi benda pecah karena terjatuh dari ruang tamu. Selang beberapa saat kemudian, terdengar tangisan anak kecil. Suami-istri tadi bergegas melihat apa yang telah terjadi.

Kali ini, Yen Yui murka, ketika melihat gadis kecil itu memecahkan guci yang baru dibelinya di ibukota Kerajaan. Andai saja Yaosan tidak menahan tangannya, mungkin tangan itu akan mendarat di tubuh Xuan Yi.

“Kau tahu? Benda ini mahal! Setara dengan dua karung beras! Aku sudah bilang, jangan berlarian di dalam rumah. Kenapa kau masih saja tidak menurut?” omel Yen Yui saat membantu suaminya membereskan pecahan guci.

Xuan Yi kecil yang ketakutan, sembunyi di belakang tubuh Yaosan.

“Sudahlah, Istriku. Dia masih kecil, belum tahu akibat dari segala tindakannya.”

“Tetapi, Suamiku ... bagaimana jika itu menjadi kebiasaan sampai dia dewasa?”

Yaosan tersenyum lalu menggelengkan kepala. Sementara Xuan Yi, ia berlari ke luar rumah.

Seorang gadis dengan sebuah kertas kuning di tangannya, menatap dengan takjub ke arah Xuan Yi yang baru saja berlari dari dalam rumah. Aura berwarna merah keemasan melingkupi gadis kecil tersebut.

“Hei, kamu. Siapa kamu? Kenapa kamu terlihat seperti itu?”

Xuan Yi kecil menghentikan langkah kaki kecilnya. Ia menoleh ke arah gadis dengan “baju khas” tadi.

“Kamu berbicara denganku?”

“Tentu saja! Tidak ada orang lain di sini selain kita berdua.”

“Kau salah, ada seseorang yang berdiri di balik pohon itu.” Xuan Yi menunjuk sebuah pohon besar tak jauh dari halaman rumahnya.

Gadis tadi sangat antusias saat mendengar jawaban Xuan Yi. Ia mengulurkan tangan kecilnya.

“Hebat! Artinya, kau sama sepertiku! Aku Xua He, putri seorang Wudang yang tinggal di desa teratai putih.”

“Wudang?” Xuan Yi mengerutkan dahinya.

“Ah, sudahlah! Ayo ikut aku!”

Xuan Yi menurut saja ketika Xua He menuntunnya ke tepi sungai. Kemudian kedua gadis kecil itu duduk di sebuah batu besar, mereka melepas alas kaki lalu mencelupkan kaki ke dalam air sungai yang jernih.

Xua He membuka sebuah kantong yang terbuat dari kain rami, lalu mengulurkan ke hadapan gadis kecil yang baru ia jumpai tadi. Bola mata Xuan Yi yang berwarna madu, mengerling pada benda itu.

“Ini ... aku punya beberapa anggur yang aku keringkan sendiri. Kau pasti suka. Cobalah!”

Masih sedikit ragu-ragu, Xuan Yi hendak mengambil makanan kecil di telapak tangan Xua He. Perlahan, ia menggigit benda bulat kusut berwarna kecokelatan tersebut. Mata Xua He berbinar saat melihat reaksi gadis kecil di hadapannya.

“Sudah kuduga! Itu pasti enak! Besok aku akan membawakanmu buah kering yang banyak. Kau tahu? Sebenarnya aku lebih suka membuat berbagai makanan di rumah ketimbang harus ikut ayahku menangkap hantu.”

“Kau membuat makanan sendiri? Ke mana ibumu?”

“Ibuku ... kata Ayahku, ia dibunuh oleh hantu pendendam yang dikejar oleh ayahku.”

“Oh ....”

Seorang laki-laki dengan pakaian berwarna kuning dan topi yang aneh di kepalanya, memanggil Xua He dari kejauhan.

“Itu Ayahku. Aku harus pulang. Jika besok aku ke desa ini lagi, maukah kau bermain denganku lagi? Aku akan membawa banyak makanan buatanku sendiri.” Xua He berlari ke arah ayahnya lalu melambaikan tangan pada Xuan Yi.

“Sudah ayah bilang, jangan berbicara dengan orang asing. Kau bisa saja tidak tahu dia hantu atau manusia.”

“Tapi Ayah ... dia manusia, tangannya hangat dan pipinya bersemu merah. Dan bagusnya lagi, ia bisa 'melihat' sepertiku.”

“Sungguh?”

Ayah Xua He memandangi Xuan Yi yang masih berdiri di posisi tadi. Wajah gadis kecil itu memang terlihat lain daripada gadis lainnya. Kulitnya yang sangat putih bersih, rona merah di pipinya yang alami, rambutnya panjang berwarna hitam legam. Terlihat seperti peri kecil tanpa sayap. Ada beberapa roh yang menunggu di sungai itu, tetapi mereka tidak bisa mendekati gadis kecil tersebut. Hal itu tentu saja membuat laki-laki tersebut heran.

“Kau yakin dia itu manusia, Xua He?”

Bersambung ....

Terpopuler

Comments

Tracy Kay Gabriela

Tracy Kay Gabriela

semangat thor

2022-11-01

0

[AIANA]

[AIANA]

ayo mak lanjut

2022-09-13

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!