Chapter 16

"Selidiki keluarga Amara," titah Sean pada Daren.

"Baik tuan!" Jawab Daren.

"Malam ini juga aku mau mendengar laporan mu."

Daren hanya mengangguk kemudian pergi.

"Ada barang bagus," ucap Leon memberitahu. "Dia sudah terbaring di meja operasi."

"Apa masalahnya?" Tanya Sean.

"Pencandu,...!!' Jawab Leon singkat.

"Barang rongsokan kau berikan pada ku. Untuk apa?"

"Buat latihan!" Jawab Leon dengan santainya menghidupkan sebatang rokok.

"Aku tidak bisa pulang larut malam lagi," ujar Sean memberitahu Leon.

"Kenapa?"

"Amara terus mengomel tadi malam. Telinga ku panas mendengarnya!"

"Baguslah, itu artinya dia peduli pada mu. Ngomong-ngomong, kenapa kau tiba-tiba ingin menyelidiki keluarga Amara?"

Sean pun menceritakan pada Leon apa yang di ceritakan Amara padanya. Di siksa, tidak di sekolahkan bahkan nyaris di bunuh ibu tirinya.

Setelah menceritakan tentang Amara, Sean pergi ke salah satu tempat yang paling belakang di dalam markas ini. Hanya melihat dengan senyum sinisnya kemudian pergi begitu saja.

"Hai,....!!" Panggil Sean pada salah satu anak buahnya.

"Iya tuan, ada yang bisa di bantu?"

"Beri dia makan dua hari sekali. Buat sedingin mungkin ruangan itu jika malam!" Titah Sean.

"Baik tuan....!!''

Sean masuk ke dalam ruangan pribadinya, pria ini menatap dua bola mata yang sengaja di awetkan sejak empat tahun yang lalu.

"Suatu saat, kau akan melihat dengan mata mu di saat aku membunuh orang yang sudah membunuh mu," ucap Sean penuh dendam.

Entah bola mata siapa yang di awetkan Sean tapi, sampai ia belum menemukan pelaku pembunuhan pada adik perempuannya, Sean akan tetap menyimpan bola mata adik satu-satunya.

Sean kembali ke mansion, di carinya Amara di kamar dan ternyata ia sedang duduk di balkon kamar sambil memandang ke arah danau.

Bergejolak rasa penasaran dalam hati Amara untuk melihat secara langsung danau tersebut.

"Kenapa melamun?" Tegur Sean.

"Tidak kenapa-kenapa." Jawab Amara.

"Aku ada perjalanan bisnis ke luar kota selama tiga hari. Apa kau mengizinkan ku pergi?"

Untuk yang pertama kalinya Sean meminta izin pada sang istrinya.

"Tentu saja, suamiku pergi untuk mencari rezeki. Aku selalu mendukung mu, sayang!" Jawab Amara dengan tingkah centilnya.

"Kau sudah mencintaiku?" Tanya Sean.

"Mau tidak mau aku harus mencintai suamiku," ucap Amara lalu tertawa.

Sean memeluk Amara dari belakang.

"Kita tidak akan bertemu selama tiga hari. Mari saling memuaskan untuk malam ini," bisik Sean membuat Amara merinding.

"Sepertinya kau pria kesepian," ucap Amara.

"Alena memang istri ku tapi, rumah tangga kami begitu hampa."

"Kenapa begitu?" Tanya Amara penasaran.

"Hari kedua aku menikah, Alena dengan terang-terangan meminum obat penunda kehamilan bahkan dia mengatakan tidak ingin memiliki anak. Sejak hari itu lah hati ku mendadak mati di tambah lagi dia sudah membohongi selama beberapa tahun ini."

"Tapi, ku lihat kau dan dia sangat mesra!"

"Aku tidak bisa menceritakan semuanya pada mu, Amara. Cukup kau tahu jika kau sekarang satu-satunya istri ku," ucap Sean.

"Aku benar-benar tidak mengerti apa maksud dan tujuan mu," ujar Amara.

"Tetaplah menjadi istri yang polos. Aku suka kau apa adanya!"

"Entah kenapa aku begitu geli mendengar kata-kata mu," ucap Amara.

"Hai, kenapa begitu?" Tanya Sean melepaskan pelukannya.

"Aku belum pernah menjalin hubungan dengan laki-laki mana pun. Sekalinya ada, langsung menikah dengan mu!"

"Apa kau sudah mencintai ku?" Tanya Sean lagi.

"Kau suami ku, sudah kewajiban ku mencintai mu." Jawab Amara.

Sean kembali memeluk Amara dari belakang, menikmati senja dari kamar mereka. Sean terus mengingatkan agar Amara tidak pergi ke danau sana tapi, hal tersebut semakin membuat Amara penasaran.

Malam pun datang, selesai makan malam Sean pergi ke ruang kerja miliknya sebentar. Sesuatu yang selama ini di cari Alena, ternyata lantai di dalam ruangan tersebut bisa di buka.

Tidak ada yang tahu selain Sean dan Leon. Di dalam sana tersimpan harta benda milik Sean bahkan ada beberapa senjata api paling mahal dan bagus tersimpan di sana.

Tumpukan emas, uang dalam jumlah besar tersimpan rapi di dalam ruangan bawah tanah tersebut.

"Ini yang di cari Alena selama ini. Berkas kepemilikan beberapa perusahaan dan rumah sakit. Sumber uang yang paling utama dari keluarga ku," ucap Sean dengan tawa kecilnya.

Terus melihat-lihat sampai puas pada akhirnya Sean kembali ke kamar. Tidak ada yang tahu bagaimana cara membuka tempat itu selain Sean dan Leon. Bahkan pintunya pun terletak tepat di bawah meja kerjanya.

"Sudah selesai pekerjaannya?" Tanya Amara.

"Iya, apa kita bisa mulai sekarang?" Sean bertanya balik.

"Mulai apa?" Tanya Amara lupa.

Sean menarik nafas panjang kemudian membuangnya kasar.

"Bikin anak, apa lagi....!" Jawab Sean yang langsung menindih tubuh istrinya.

"Geli.....!!" Kata Amara saat Sean menggesekkan wajahnya di perut Amara.

"Aku mau anak kembar!" Ujar Sean.

Pria ini langsung melepas semua pakaian istrinya dan dirinya. Tidak ada pemanasan karena Sean yang sudah tidak tahan langsung memasukan mamasukan tongkat baseball miliknya ke dalam sawah lembab.

Aaaaaarh.......

Desaah Sean dan Amara terdengar begitu nikmat. Pak Pet dan Daren saling toleh tanpa suara.

"Pelan-pelan.....!!'' Ucap Amara.

"Iya sayang....!!" Jawab Sean yang langsung menggoyangkan pinggulnya.

Tak...tak...tak.....

Bunyinya sedikit menghentak memekik telinga. Pak Pet dan Daren menempelkan kuping mereka ke dinding serapat mungkin.

"Dari pada di remas, aku lebih suka di hisap!" Ucap Amara terdengar begitu jelas di telinga Pak Pet dan Daren.

"Seperti ini?"

Plok...plok....plok....

"Aku hampir keluar," ucap Sean.

Plok...plok...plok....

Amara merapatkan kedua kakinya.Tangannya mulai menjambak rambut suaminya.

Aaaaaaarh........

Desaah Sean dan Amara bersama-sama. Suara erangan terdengar menembus dinding kamar lagi.

Pak Pet dan Daren hanya bisa menelan ludah mereka kasar.

"Bangunkan lagi,....!!" Titah Sean pada istrinya.

Bagaimana tidak terdengar, dinding tempat mereka mengintip sangat mepet dengan ranjang milik Amara.

"Tuan sudah menemukan kembali ladang cintanya. Kita kapan ya pak Pet?" Tanya Daren berbisik.

"Ayo pergi, jangan ganggu mereka. Bahaya, bisa mati kita nanti." Ujar pak Pet.

Bergegas mereka berdua turun kebawah. Kepala yang panas, dada yang sesak tak bisa tersalurkan. Daren mulai memikirkan untuk mencari seorang istri.

Begitu juga dengan pak Pet yang sudah menduda sejak lima tahun yang lalu. Mendengar suara cinta sang tuan membuat jiwa muda pak Pet kembali berkobar.

Terpopuler

Comments

yuiwnye

yuiwnye

cie mafia minta ijin sama bininya yg kepala batu /Facepalm/

2025-01-31

0

Note 2

Note 2

wong loro ki kok yo panggah penarasan ae/Grin//Grin/

2025-01-04

0

Fitrianinaim_queen03

Fitrianinaim_queen03

kasihan pak Pet /Joyful//Joyful/

2025-01-14

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 01
2 Chapter 02
3 Chapter 03
4 Chapter 04
5 Chapter 05
6 Chapter 06
7 Chapter 07
8 Chapter 08
9 Chapter 09
10 Chapter 10
11 Chapter 11
12 Chapter 12
13 Chapter 13
14 Chapter 14
15 Chapter 15
16 Chapter 16
17 Chapter 17
18 Chapter 18
19 Chapter 19
20 Chapter 20
21 Chapter 21
22 Chapter 22
23 Chapter 23
24 Chapter 24
25 Chapter 25
26 Chapter 26
27 Chapter 27
28 Chapter 28
29 Chapter 29
30 Chapter 30
31 Chapter 31
32 Chapter 32
33 Chapter 33
34 Chapter 34
35 Chapter 35
36 Chapter 36
37 Chapter 37
38 Chapter 38
39 Chapter 39
40 Chapter 40
41 Chapter 41
42 Chapter 42
43 Chapter 43
44 Chapter 44
45 Chapter 45
46 Chapter 46
47 Chapter 47
48 Chapter 48
49 Chapter 49
50 Chapter 50
51 Chapter 51
52 Chapter 52
53 Chapter 53
54 Chapter 54
55 Chapter 55
56 Chapter 56
57 Chapter 57
58 Chapter 58
59 Chapter 59
60 Chapter 60
61 Chapter 61
62 Chapter 62
63 Chapter 63
64 Chapter 64
65 Chapter 65
66 Chapter 66
67 Chapter 67
68 Chapter 68
69 Chapter 69
70 Chapter 70
71 Chapter 71
72 Chapter 72
73 Chapter 73
74 Chapter 74
75 Chapter 75
76 Chapter 76
77 Chapter 77
78 Chapter 78
79 Chapter 79
80 Chapter 80
81 Chapter 81
82 Chapter 82
83 Chapter 83
84 Chapter 84
85 Chapter 85
86 Chapter 86
87 Chapter 87
88 Chapter 88
89 Chapter 89
90 Chapter 90
91 Chapter 91
92 Chapter 92
93 Chapter 93
94 Chapter 94
95 Chapter 95
96 Chapter 96
97 Tamat
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Chapter 01
2
Chapter 02
3
Chapter 03
4
Chapter 04
5
Chapter 05
6
Chapter 06
7
Chapter 07
8
Chapter 08
9
Chapter 09
10
Chapter 10
11
Chapter 11
12
Chapter 12
13
Chapter 13
14
Chapter 14
15
Chapter 15
16
Chapter 16
17
Chapter 17
18
Chapter 18
19
Chapter 19
20
Chapter 20
21
Chapter 21
22
Chapter 22
23
Chapter 23
24
Chapter 24
25
Chapter 25
26
Chapter 26
27
Chapter 27
28
Chapter 28
29
Chapter 29
30
Chapter 30
31
Chapter 31
32
Chapter 32
33
Chapter 33
34
Chapter 34
35
Chapter 35
36
Chapter 36
37
Chapter 37
38
Chapter 38
39
Chapter 39
40
Chapter 40
41
Chapter 41
42
Chapter 42
43
Chapter 43
44
Chapter 44
45
Chapter 45
46
Chapter 46
47
Chapter 47
48
Chapter 48
49
Chapter 49
50
Chapter 50
51
Chapter 51
52
Chapter 52
53
Chapter 53
54
Chapter 54
55
Chapter 55
56
Chapter 56
57
Chapter 57
58
Chapter 58
59
Chapter 59
60
Chapter 60
61
Chapter 61
62
Chapter 62
63
Chapter 63
64
Chapter 64
65
Chapter 65
66
Chapter 66
67
Chapter 67
68
Chapter 68
69
Chapter 69
70
Chapter 70
71
Chapter 71
72
Chapter 72
73
Chapter 73
74
Chapter 74
75
Chapter 75
76
Chapter 76
77
Chapter 77
78
Chapter 78
79
Chapter 79
80
Chapter 80
81
Chapter 81
82
Chapter 82
83
Chapter 83
84
Chapter 84
85
Chapter 85
86
Chapter 86
87
Chapter 87
88
Chapter 88
89
Chapter 89
90
Chapter 90
91
Chapter 91
92
Chapter 92
93
Chapter 93
94
Chapter 94
95
Chapter 95
96
Chapter 96
97
Tamat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!