Setelah keluar dari ruangan kepala sekolah dede berjalan melewati lorong yang sudah sepi. Hanya beberapa petugas kebersihan saja yang terlihat disana sedang menyapu daun kering yang berjatuhan dari pohon beringin.
Sesampainya didekat gerbang sekolah dede melihat Yuna dan kakaknya Isti sedang asik berbincang di bangku panjang sebelah pos scurity.
"Hai kak, hai Yuna. Maaf ya lama menunggu" kata dede basa basi.
"Udah? kepala sekolah bicara apa padamu? dia tidak menghukum mu kan?" tanya Isti menatap lekat adiknya.
"Ya gak lah, memangnya aku salah apa sampai harus dihukum segala?" celetuk dede.
"Eh itu pin apa yang kamu pakai dede?" tanya Yuna wajahnya mendekat kearah dada dede sambil mengerutkan keningnya.
Tentu Isti juga jadi penasaran dia juga ikut mendekat kearah pin yang dede pakai di dada kirinya. Sebuah pin berwarna emas disana bertuliskan MURID TELADAN.
"Wih hebat kamu dapat darimana pin ini?" tanya Isti penasaran.
"Tentu saja kepala sekolah yang memberikannya, itu sebagai tanda terimakasih karena telah membantu sekolah mencegah bencana kebakaran" kata dede tersenyum bangga.
"Yeah hidup dede" Isti dan Yuna mengangkat tangan mereka seperti para pemandu sorak. Kemudian mereka bertiga tertawa bersama-sama.
"Baiklah ayo kita pulang sekarang" kata Isti memimpin mereka berdua berjalan paling depan. Ketiganya berjalan melewati jalan raya yang dipenuhi kendaraan berlalu lalang.
Jarak sekolah kerumah mereka cukup dekat sekitar setengah jam waktu yang diperlukan untuk sampai kerumah mereka. jadi mereka memilih berjalan kaki saja. Saat sedang asyik berjalan tiba-tiba suara sistem terdengar kembali di kepala dede
[ Ding ]
[ Misi darurat diterima, segera tolong seorang nenek tua yang akan tertabrak mobil ]
[ Anda akan mendapatkan satu poin keselamatan jika berhasil menjalankan misi ]
[ Apakah anda akan menerima misi Ya atau Tidak ]
"Ya tunjukan lokasinya"
Kemudian sebuah peta pada layar hologram terlihat didepan dede memperlihatkan anak panah dan titik merah berkedip-kedip yang menandakan posisi korban.
Letak kejadian tidak jauh dari tempat dede berjalan, tepatnya berada diarah belakang. Tanpa bicara sepatah katapun dede segera berbalik arah dan berlari meninggalkan Yuna dan Isti.
Tentu saja mereka berdua dibuat terkejut oleh kepergian dede yang tiba-tiba.
"dede kamu mau kemana?" teriak Yuna karana dede sudah jauh dari mereka.
"Ayo kita ikuti dia" kata Isti sambil berlari mengejar dede diikuti Yuna dibelakangnya. Rambut hitam panjang mereka berkibar-kibar diterpa angin berdebu.
Sekarang dede sudah berada tepat beberapa langkah dari korban. Seorang nenek tua beruban sedang menyebrang jalanan tidak pada tempatnya.
Dari kejauhan mobil berjenis kijang melaju dengan kencang mengarah pada nenek itu. Dia sudah membunyikan klakson beberapa kali. Namun nenek itu tetap santai tidak sadar bahwa dirinya sedang diintai bahaya.
"Wah gawat sepertinya rem mobil ini blong". Supir mobil itu beberapa kali menginjak pedal rem tapi mobilnya tidak kunjung berhenti. Dia terlihat panik, begitupun dengan istrinya yang sedang duduk disampingnya.
"Pa cepat rem" wanita itu takut mereka akan menabrak nenek tua yang sedang menyebrang.Semua orang yang melihat kejadian itu tidak sempat bereaksi, mereka hanya bisa berteriak.
"To ganjel to !! " teriak seorang pria yang melihat kejadian itu.
Saat jarak mobil sudah satu meter dengan nenek tua tiba-tiba seorang anak laki-laki bergerak cepat menghadang membelakangi mobil yang akan menabrak nenek itu.
"Brak" Suara benturan keras mengagetkan semua orang. Mobil itu seketika berhenti, bagian belakang mobil itu sampai terangkat keatas lalu jatuh lagi ke bawah.
Sedangkan bemper depan mobil itu penyok menabrak sesuatu benda keras. Semua orang kemudian berdatangan mendekat kearah nenek tua itu. Termasuk pak polisi lalu lintas yang berada tidak jauh dari tempat kejadian ikut mendekat.
Si nenek tua beruban itu perlahan kepalanya menengok kesamping, seketika matanya membulat karena kaget melihat seorang anak berseragam SD yang sedang merentangkan kedua tangannya menahan mobil yang akan menabrak dirinya.
"Nak kau sedang apa disana?" tanya nenek itu seakan tidak punya dosa.
"Apa nenek gak lihat aku sedang menyelamatkan nenek?" kata dede yang masih tidak luka sedikitpun setelah tertabrak mobil dari belakang.
"Nak sebaiknya anak kecil sekecil kamu tidak boleh bermain dijalan. Bagaimana jika ada mobil yang menabrak kamu. Orang tuamu pasti sedih" si nenek malah menasehati dede yang sudah menyelamatkan hidupnya.
"Wah ini parah, sepertinya si nenek budek dan rabun" pikir dede tersenyum kecut.
Kedua suami istri yang mengendarai mobil segera turun dan menghampiri dede. "Nak kau tidak apa-apa kan? apa ada yang terluka?" istri supir itu meraba-raba tubuh dede yang tidak luka sedikitpun.
Si supir melihat bemper mobilnya penyok langsung menjambak rambutnya sendiri. Orang-orang berdatangan lalu mengecek keadaan dede. Jelas mereka melihat dede tertabrak mobil dengan sangat kencang, tapi malah mobilnya yang rusak.
"dede" teriak dua anak SD menerobos kerumunan, mereka takut dede kenapa-kenapa. Isti langsung memeluk adiknya yang masih berdiri tenang dan kokoh seperti gunung.
"Sudah-sudah semuanya kepinggir, jangan sampai mengganggu arus lalu lintas, dan untuk pak supir ikut saya sekarang. Saya butuh keterangan kenapa mobil bapak bisa menabrak orang" kata polisi membawa pak supir kepinggir jalan.
"Nenek dan juga kamu juga ikut saya sebagai saksi kejadian" si nenek, dede, Isti dan Yuna pun mengikuti polisi kepinggir jalan.
Semua orang pun menepi, begitupun mobil yang tadi menabrak dede langsung diangkut kekantor polisi dijadikan barang bukti. Karena tidak ada korban jiwa, orang-orang yang tadi berkerumun langsung membubarkan diri.
[ Ding ]
[ Selamat anda telah berhasil menyelesaikan misi ]
[ Anda berhak mendapat 1 poin keselamatan ]
[ Apakah anda akan memakainya sekarang Ya atau Tidak ? ]
"Tidak" dede berkata dalam hatinya,.
[ Selamat satu poin keselamatan berhasil disimpan dalam inventori ]
Setelah dimintai keterangan beberapa lama, akhirnya pak polisi mempersilahkan dede dan si nenek tua pergi karena mereka tidak bersalah.
Sedangkan untuk supir dan istrinya dibawa kekantor polisi untuk mempertanggung jawabkan kesalahannya karena lalai dalam berkendara.
Saat dede dan yang lainnya akan pergi terdengar suara wanita paruh baya yang memanggilnya dari arah belakang.
"Nak tunggu" kata suara wanita itu.
dede dan kedua anak gadis itupun menghentikan langkah mereka, kemudian berbalik kebelakang. Mereka melihat seorang wanita yang sedang menggandeng si nenek tadi.
Wanita dan si nenek lalu bergegas menghampiri dede. Setelah dekat wanita itu langsung memegang tangan dede.
"Nak terimakasih ya telah menyelamatkan ibu saya, tadi beliau saya tinggal untuk pergi ke ATM. Setelah keluar dari tempat ATM saya langsung melihat kamu sedang menyelamatkan ibu saya dengan menghadang mobil tadi.
Saya sangat berterimakasih banyak, kalau tidak ada kamu entah bagaimana nasib ibu saya. Sebagai rasa terimakasih saya mau kamu menerima pemberian yang tidak seberapa ini" wanita paruh baya itu memberikan amplop berwarna coklat pada dede.
Isti buru-buru mengambil amplop itu, karena dede malah terdiam memandangi wanita itu. "Sekali lagi terimakasih, maaf telah merepotkan kamu" kata wanita itu membungkuk kearah dede.
"Ah iya tidak apa-apa" jawab dede sambil tersenyum.
"Kalau begitu kami pamit" kata wanita itu sambil menuntun tangan ibunya.
"Ayo dik kita juga pulang" kata Isti menarik tangan dede. Kemudian mereka pun melanjutkan pulang kerumah bersama Yuna.
bersambung....
Silahkan like, komentar, hadiah, dan vote.
Jangan lupa pijit tombol Favorit agar tidak ketinggalan up date selanjutnya.
Terimakasih sampai jumpa lagi bos ku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Taufik Hidayat
bjir ngakak gw asw thor TO GANJEL TO🤣🤣🤣
2023-04-09
0
Makmur Djajamihardja
menanam kebaika berbuah duit 2 amplop.mantap
2023-01-24
1
kardita
terlalu mencolok thor si mcnya
2022-09-27
3