"dede kau tidak apa-apa kan? Tadi kakak lihat kamu mendorong gerobak yang sangat berat dari bawah hingga keatas" suara cempreng Isti mengagetkan dede.
"Kakak, kenapa kakak ada disini? kenapa tadi tidak langsung pulang?" dede malah balik bertanya.
"Kakak khawatir sama kamu berlari tergesa-gesa seperti tadi. Setelah tahu kamu menolong orang lain kakak menjadi semakin bangga pada kamu" kata Isti sambil menggandeng tangan dede.
"Ayo sekarang kita pulang, ibu pasti sudah menunggu kita dirumah, karena ini sudah sore" lanjut Isti berjalan sambil menggandeng lengan adiknya.
"Baiklah kak" dede menurut saja karena dia juga tidak mau membuat ibunya khawatir.
....
Sesampainya di rumah mereka membuka pintu sambil berteriak "Ibu kami pulang" kata mereka bersamaan. Keduanya saling pandang lalu tertawa cekikikan merasa lucu karena bisa berkata bersamaan.
"Ah kalian dari mana saja? baru saja ibu akan pergi mencari kalian" kata Masitoh menghampiri kedua anaknya.
"Tadi dede main bu, secara kebetulan bertemu kakak dan kami berdua pulang bersama" kata dede menjelaskan.
"Ya sudah kalau begitu, Isti kamu ganti seragam sekolah dulu lalu kita berkumpul dimeja makan. Ibu yakin kalian berdua sudah lapar" tebak Masitoh dengan benar.
"dede ayo kita duluan duduk dimeja makan sambil menunggu kakakmu datang" ajak Masitoh berjalan mendahului dede.
dede mengikuti ibunya dari belakang. "Ibu ini aku belikan ayam krispy buat kita makan" kata dede sambil tersenyum menyimpan bungkusan kertas diatas meja makan.
"Nak kau dapat uang dari mana? kau tidak mencuri kan?" Masitoh memandang dede dengan mata menyelidik.
"Ya tidak lah bu, mana mungkin aku berani mencuri barang orang. Bukankah ibu sudah bilang mencuri itu dosa" jawab dede balas menatap ibunya.
Kemudian dede menceritakan semua kejadian yang dialaminya dari mulai menolong anak kucing sampai menolong kakek tua mendorong gerobaknya.
Tentu saja dede tidak menceritakan tentang sistem. Jika dia ceritakan siapa juga yang akan percaya dengan adanya sistem kebahagiaan. Yang ada dia akan dianggap sakit jiwa oleh ibunya.
Setalah dede menceritakan pengalamannya Isti keluar dari kamar dan berkata "benar bu apa yang dikatakan dede memang seperti itu adanya. Saya sendiri saksinya".
Masitoh terseyum lebar, dia merasa senang dan bangga mempunyai anak yang baik, mau membantu sesama. "Isti kemari dan duduklah disamping dede".
Setelah Isti duduk Masitoh berbicara. " Anakku ibu sangat bangga dan senang mempunyai anak seperti kalian. Perbuatan dede hari ini patut untuk dipertahankan bahkan dilestarikan untuk kedepannya. Karena siapapun yang menanam kebaikan maka dia akan mendapatkan kebaikan juga".
"Tetapi sebaliknya jika kita berbuat kejahatan maka hal jahat dan tidak baik akan segera menimpa kita". Masitoh diam beberapa saat melihat reaksi kedua anaknya.
"Bu mulai sekarang aku juga akan berbuat baik seperti dede. Tahu gak bu dia sekarang mempunyai uang sebesar 86 ribu rupiah dari pemberian orang-orang yang ditolongnya" kata Isti dengan mata berbinar penuh semangat juang 45.
"Isti ibu akan memberi tahu ya. Jika berbuat baik itu jangan mengharap imbalan. Karena jika kita tidak mendapatkan imbalan yang kita impikan. Kita akan merasa kecewa. Maka bisa jadi kita akan kapok berbuat kebaikan lagi. Oleh karena itu jika kita berbuat baik harus didasari sifat ikhlas. Mengerti?" Masitoh memandang Isti dengan senyum lembutnya.
"Iya bu sekarang Isti mengerti" Isti menganggukan kepalanya beberapa kali.
"Ibu ini uang 86 ribu dari pemberian orang yang dede tolong, buat ibu semua" kata dede menyodorkan semua uangnya pada Masitoh.
"Tidak nak itu uang mu, rezeki mu ibu tidak berhak mengambilnya darimu. Simpan saja uang itu pakai buat mu sendiri. Ibu sudah merasa cukup dengan pemberian tuhan pada ibu" kata Masitoh memandangi kedua anaknya.
"Memangnya tuhan memberikan apa pada ibu? bolehkah aku melihatnya?" tanya Isti penasaran.
Masitoh tertawa pelan kemudian berkata "tuhan telah memberikan sesuatu yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun, sesuatu yang sangat istimewa yaitu kalian".
"Yah aku kira apa" kata dede polos. Begitupun dengan Isti dia yang tadinya penasaran pada pemberian tuhan hanya bisa menghela nafas pelan.
"Sudahlah mari kita makan sekarang, kita harus bersyukur atas pemberian tuhan hari ini. Karena jika pandai bersyukur rezeki kita akan bertambah berkali-kali lipat" kata Masitoh sambil menyediakan nasi pada masing-masing piring dihadapan mereka.
Kemudian makan sengit pun dimulai. Setelah beberapa waktu berlalu tidak terasa jam sudah menunjukan pukul 8 malam. Sebelum tidur Isti dan dede belajar bersama. Mereka mengulangi pelajaran yang tadi siang guru sekolah mereka berikan.
Sesudah merasa cukup kemudian mereka tertidur. Pada pagi harinya dede terduduk setelah bangun tidur. Dia bertanya pada sistem.
"Sistem apakah jika aku bicara lewat hati kau bisa mendengarnya?" dede berpikir jika dia berbicara dengan sistem lewat mulut dia seperti sedang bicara sendiri. Maka orang yang melihatnya akan menganggap dia tidak sehat atau gila.
[ Bisa tuan, sebab sistem telah menyatu sepenuhnya dengan jiwa yang tuan miliki ]
"Baguslah kalau begitu. Satu lagi apakah aku bisa memberikan poin sistem kepada orang lain?" tanya dede penasaran.
[ Bisa tuan, anda tinggal sebutkan nama orang yang akan beri poin sistem kemudian katakan poin sistem apa yang akan anda beri ]
"Baiklah akau akan mencobanya sekarang. Ibu Masitoh beri satu poin kekuatan" kata dede mantap. Saat ini dia hanya punya satu poin kekuatan untuk diberikan pada ibunya.
[ Ding ]
[ Selamat anda telah berhasil memberikan satu poin kekuatan kepada manusia bernama Masitoh ]
Tepat pukul 6 pagi dede dan Isti sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah. Begitupun dengan ibu mereka sudah siap dengan peralatan dines nya yaitu bertani di sawah pak haji Darman.
Sebelumnya mereka sudah sarapan pagi dengan telur ceplok. Kemarin sore dede sesudah makan bersama dia pergi ke warung untuk belanja telur satu kilo untuk cadangan mereka makan sehari-hari.
Kini uangnya tinggal 50 ribu, karena harga telur sekarang sedang naik mencapai 36 ribu perkilogramnya.
Kemudian mereka bertiga keluar rumah bersama-sama. "Ibu kami berangkat dulu" kata mereka sambil mencium tangan Masitoh secara bergantian.
"Iya hati-hati dijalan ya nak, ibu juga akan berangkat membanting tulang di sawah pak haji Darman" kata Masitoh.
"Bu cangkul ibu yang seharusnya dibanting, jangan tulang ibu. Nanti ibu sakit loh membanting tulang sendiri" kata dede polos. Dia tidak mengerti ungkapan membanting tulang.
"Membanting tulang itu kata ungkapan Ferguso" kata Isti sambil mengacak-acak rambut dede.
"Kakak rambutku sudah disisir rapih nih" kata dede memperlihatkan wajah lucunya.
bersambung....
Silahkan like, komentar, hadiah, dan vote.
Jangan lupa pijit tombol Favorit agar tidak ketinggalan up date selanjutnya.
Terimakasih sampai jumpa lagi bos ku
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Abbie Jard
kasih juga point kesehatan buat ibu nya.biar sehat terus ga gampang lelah
2024-08-31
0
Iik Iik
ceritanya seru thor tapi maaf,harusnya kata Tuhan awal katanya huruf besar 🙏😊
2023-08-15
0
Nazrul
telur per kilo ya thor,bkn perbiji🤔🤔🤔..maaf sebab sye org Malaysia xtau sistem jual disana
2022-10-13
1