Pemandangan

Malam itu Martin datang ke sebuah Cafe dimana biasanya dia nongkrong bersama teman-temannya, Ia datang memesan sebuah minuman cocktail, terlihat beberapa pria mendapati Martin yang sedang duduk sendiri di sebuah kursi, kedua pria itu mendekati Martin sembari menepuk pundak pria yang baru saja melangsungkan pernikahan dengan mantan istri mendiang kakaknya itu.

"Hai Bro! Kok kamu ada di sini?" tanya Gilang sembari duduk di kursi sebelah Martin.

"Iya nih! Pengantin baru harusnya berada di rumah, waktunya first night, kan?" sambung Yudi yang juga ikut duduk bersama. Martin tidak memperdulikan ucapan kedua temannya, Ia justru sibuk meminum cocktail yang sudah disediakan.

"Aku malas di rumah!" jawabnya sembari menyalakan sebatang rokok miliknya.

"Malas? Dapat istri secantik Aira kamu malas? Wow kamu normal, kan?" celetuk Gilang sembari menatap wajah Martin yang tampak menghembuskan asap rokoknya.

Martin menatap balik wajah Gilang dan berkata, "Menurutmu dia cantik, tapi menurutku enggak! Biasa saja, nggak modis sama sekali!" ucapnya sembari menghisap kembali rokok di tangannya.

"Eh kamu jangan gitu, nanti suatu saat kamu bakal terpesona loh, jangan sampai menjilat ludah sendiri, Bro!" ucap Gilang kepada pria bertubuh tinggi tegap itu.

"Terpesona? Pada Aira! Nunggu linggis ngambang dulu!" kedua teman Martin tampak tertawa dan menggelengkan kepalanya.

"Jangan gitu Bro! Biasanya ya cinta itu datang secara perlahan, mungkin sekarang kamu ngomong enggak, tapi nanti suatu saat perlahan Kamu pasti tahu kepribadian mantan istri kakakmu itu, Aku lihat dia gadis yang baik, pantas saja mendiang Mas Panji sangat mencintainya, padahal Mas Panji orangnya pilih-pilih loh!" ungkap Yudi yang tahu betul bagaimana karakter kakak dari Martin itu, karena mereka pernah bekerja sama dalam bisnis.

Martin menghela nafasnya, Ia tetap tidak akan pernah sanggup untuk mencintai gadis itu, karena dirinya sudah terlanjur janji kepada Talita yang sekarang sedang berada di London untuk melanjutkan studinya.

"Dengar kalian berdua! Aku tidak akan pernah bisa mencintai Aira, Aku sudah berjanji kepada Lita untuk menikahinya. Meskipun pernikahan kami sah secara hukum dan agama, Aku melakukan semua ini karena Aku wajib memenuhi wasiat Mas Panji, meskipun sebenarnya Aku sangat keberatan." ungkap Martin.

"Apa kamu masih mengharapkan Talita? Ayolah Bro! Kamu aja belum tahu kapan Lita pulang, udah dua tahun lebih kamu dan dia LDR an, hubungan kalian nggak jelas harus dibawa kemana, terus! Apa dia tahu kalau kamu sudah nikah?" tanya Gilang serius.

"Tentu saja tidak, mana mungkin Aku katakan hal itu kepadanya," jawab Martin sembari memijit pelipisnya.

"Kalau menurutku ya! Mendingan Kamu udahan aja sama Lita, hubungan kalian nggak jelas banget loh, apalagi Lita ada dilingkungan yang ah kamu tahu sendiri bagaimana pergaulan si sana, Aku juga nggak mau Suudzon, tapi emang gitu kenyataannya, apalagi Lita sendirian di sana," sambung Yudi yang mencoba meyakinkan temannya itu.

"Aku tidak bisa, Aku terlalu mencintai Lita, Dia tidak mungkin berbuat macam-macam, Aku sangat percaya padanya!" Martin tetap bersikeras untuk percaya kepada kekasihnya itu.

"Terserah kamu, kita cuma berharap agar kamu tidak salah pilih, dan Aku yakin pilihan Mendiang Mas Panji tidak akan salah, Aira memang berjodoh sama kamu, eh ngomong-ngomong Aira masih ting-ting nggak sih, secara dia masih dua hari jadi istrinya Mas Panji loh," ucap Yudi sembari menatap wajah Martin. Gilang tampak tersenyum melihat raut wajah Martin yang tampak salah tingkah.

"Ya ... mana Aku tahu, Aku nggak nanya sama Dia, peduli amat dia ting-ting apa enggak, apa urusannya!" ucap Martin cuek. Kedua temannya tampak tertawa kecil mendengar ucapan Martin.

"Sungguh beruntung jika kamu mendapatkan gadis yang masih tersegel bro! Jangan di sia-siakan, kalau kamu nggak mau, biar sama Aku aja Aira!" ucapan Gilang rupanya membuat Martin sedikit kesal, Ia menggebrak meja dan sontak apa yang dilakukan Martin membuat kedua temannya kaget.

"Eh Bro! Sorry kita cuma bercanda!" ucap Gilang kepada Martin yang terlihat dengan ekspresi marah. Pria itu langsung berdiri dan pergi meninggalkan kedua temannya begitu saja.

"Loh kok malah pergi, Martin! tunggu!" Gilang tampak mengejar Martin yang tiba-tiba pergi meninggalkan mereka.

"Kamu sih!" Yudi berkata kepada Gilang yang sengaja membuat Martin tersinggung. Gilang menghadang langkah Martin, dan pria itu menatap tajam Gilang yang sudah berbicara tentang Aira kepadanya.

"Sorry Bro! Aku minta maaf jika ucapanku tadi tidak berkenan, Aku tidak bermaksud berkata seperti itu!" ucap Gilang minta maaf kepada Martin.

"Aku paling tidak suka, jika ada orang yang membicarakan Aira seperti itu, dia adalah istri Mas Panji, Aku memang tidak mencintainya, tapi bukan berarti siapa saja bisa merendahkannya, Aku memaafkanmu!" Martin segera pergi meninggalkan tempat itu, Ia pun memutuskan untuk pulang ke rumah.

"Martin memang aneh! Dia nggak sadar sebenarnya dia sudah mulai mengagumi Aira!" ucap Gilang sembari menatap punggung Martin yang meninggalkan tempat itu.

"Kamu benar Bro! Sepertinya cinta itu akan bersemi seiring berjalannya waktu, hanya saja sekarang Martin masih belum menyadarinya, dia masih terikat janji dengan Lita, semoga saja Lita tidak menjadi dinding pemisah diantara mereka." sambung Yudi mengiyakan.

Sementara di rumah, Aira tampak sedang melaksanakan Sholat Isya, setelah dirinya melepaskan semua pakaian pengantin dan segala aksesorisnya. Gadis itu tampak polos dengan wajah yang natural tanpa make up, masih terlihat kecantikannya yang alami.

Tiba-tiba saja terdengar suara pintu dibuka oleh seseorang, Aira tampak sedang sholat di rokaat terakhir, Martin sejenak melihat Aira, gadis berbalut mukena putih yang kini menjadi teman sekamarnya itu. Kemudian Martin langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang, Ia tampak tidak melepaskan sepatunya, pria itu langsung memejamkan matanya karena seharian ini acara resepsi pernikahannya terasa begitu melelahkan.

Setelah Aira mengucapkan salam, seketika dirinya melihat sang suami yang sudah pulang, dirinya segera berdiri dan beranjak untuk melepaskan sepatu Martin yang belum dilepas.

Sontak apa yang dilakukan oleh Aira membuat Martin terkejut, pria itu langsung bangun dan menatap Aira yang sedang melepaskan sepatunya.

"Apa yang kamu lakukan?" tanya pria itu.

"Sepatumu belum dilepas, sebelum beranjak tidur, alangkah baiknya Mas ambil wudhu dan kemudian Sholat Isya, agar Syaitan tidak mengikuti kita sebelum tidur!" ucap Aira sembari meletakkan sepatu Martin.

Aira tidak berani menatap wajah sang suami, Ia hanya menundukkan kepalanya sembari berkata, "Apa Mas mau di ambilkan makan dulu?" tanyanya.

"Tidak! Aku mau ke kamar mandi!"

"Baiklah! Aku akan menyiapkan air hangat untuk Mas!" tawar Aira sembari pergi ke kamar mandi dengan mukena yang masih menempel pada tubuhnya.

"Tidak usah! Aku tidak suka air hangat, pergi sana!" Martin tampak berjalan mendahului Aira yang berhenti melangkah. Pria itu segera menutup pintu kamar mandinya.

Aira menghela nafasnya, sembari menunggu suaminya keluar dari kamar mandi, Ia pun segera melepaskan mukena yang sedari tadi belum Ia lepaskan, karena dirinya masih malu jika Martin melihatnya, meskipun Ia sudah halal jika harus memperlihatkan rambutnya kepada sang suami.

Sembari menengok ke arah kamar mandi, dengan cepat Aira membuka mukenanya. Namun sayang, tiba-tiba saja mukena yang berhias renda itu nyangkut pada anting-anting Aira, alhasil Aira merasa kesusahan melepaskan benang yang tersangkut pada anting-antingnya.

"Aduh ... pakai nyangkut lagi, duh Mas Martin pasti lihat nih, ih mana susah banget lepasnya!" ucapnya sembari mencoba melepaskan benang yang terkait pada anting-antingnya.

Tiba-tiba saja terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, Aira yang masih sibuk melepaskan benang yang tersangkut itu, tiba-tiba saja dirinya membalikkan badan ke arah Martin.

"Deg"

Untuk kali pertama Martin melihat Aira tanpa menggunakan penutup kepala sama sekali. Gadis yang biasa berhijab itu kini sedang menampakkan rambut hitam panjangnya.

"Mas Martin!" Aira membelalakkan matanya melihat Martin yang tampak sedang memandangi nya.

" Shiiit ... haruskah Aku melihat pemandangan ini?" Martin tampak mengusap wajahnya kasar.

Terpopuler

Comments

ʚHernYuntaɞ

ʚHernYuntaɞ

Hayo loohh...linggismu ngambang kan Martin?? 🤣🤣🤣

2022-12-22

1

Enung Samsiah

Enung Samsiah

aduuuh martin siap siap Inggris ngambanggg😂😂😂

2022-12-01

1

Yusni Ali

Yusni Ali

Terpesona kan kamu Martin....

2022-10-06

1

lihat semua
Episodes
1 Wasiat
2 Qodarullah
3 Pemandangan
4 Minggat ke sofa
5 Dia masih perawan
6 Sabar ini ujian
7 Terserah
8 Berkunjung ke panti
9 Lemparan bola
10 Mulai menyukai
11 Aku minta maaf
12 Merapikan peci
13 Kepala pusing
14 Surga istri ada pada suaminya
15 Kenapa kamu lepas hijabmu
16 Ibadah terbaik
17 Mandi
18 Peraturan baru
19 Baru Nyemplung
20 Menerima Kenyataan
21 Kedatangan Lita
22 Apa kabar kamu, Mas?
23 Sangat istimewa
24 Alesha Zahra
25 Panah cinta
26 Bidadari hatiku
27 Makan malam
28 Kebetulan
29 Hampir tergoda
30 Belum sholat Isya
31 Jangan lupa berdoa
32 Bangun setengah lima
33 Berita buruk
34 Berkunjung ke restoran
35 Mencari bukti
36 Istri idaman
37 Kedatangan Tirta
38 Hadiah dari Tirta
39 Hamil
40 Mendapat keringanan
41 Hamba menyesal
42 Belanja sayur
43 Buah kedondong
44 Penyesalan Hilda
45 Kekecewaan Lita
46 Apakah Aku yang bersalah?
47 Dugaan Martin
48 Golongan darah AB-
49 Astagfirullahal adzim
50 Kedekatan emosional
51 Tes DNA
52 Kebahagiaan yang berlipat ganda
53 Sujud sepertiga malam
54 Tidak ada kata terlambat
55 Aira kakak kandung Lita
56 Sapu tangan Tirta
57 Kesebelasan
58 Jangan nakal
59 Halalkan aku
60 Pertemuan Kakak beradik
61 Pertemuan Aira dan kedua orang tuanya
62 Bertemu kedua bayi ku
63 Sepasang bayi kembar
64 Pernikahan Tirta dan Lita
Episodes

Updated 64 Episodes

1
Wasiat
2
Qodarullah
3
Pemandangan
4
Minggat ke sofa
5
Dia masih perawan
6
Sabar ini ujian
7
Terserah
8
Berkunjung ke panti
9
Lemparan bola
10
Mulai menyukai
11
Aku minta maaf
12
Merapikan peci
13
Kepala pusing
14
Surga istri ada pada suaminya
15
Kenapa kamu lepas hijabmu
16
Ibadah terbaik
17
Mandi
18
Peraturan baru
19
Baru Nyemplung
20
Menerima Kenyataan
21
Kedatangan Lita
22
Apa kabar kamu, Mas?
23
Sangat istimewa
24
Alesha Zahra
25
Panah cinta
26
Bidadari hatiku
27
Makan malam
28
Kebetulan
29
Hampir tergoda
30
Belum sholat Isya
31
Jangan lupa berdoa
32
Bangun setengah lima
33
Berita buruk
34
Berkunjung ke restoran
35
Mencari bukti
36
Istri idaman
37
Kedatangan Tirta
38
Hadiah dari Tirta
39
Hamil
40
Mendapat keringanan
41
Hamba menyesal
42
Belanja sayur
43
Buah kedondong
44
Penyesalan Hilda
45
Kekecewaan Lita
46
Apakah Aku yang bersalah?
47
Dugaan Martin
48
Golongan darah AB-
49
Astagfirullahal adzim
50
Kedekatan emosional
51
Tes DNA
52
Kebahagiaan yang berlipat ganda
53
Sujud sepertiga malam
54
Tidak ada kata terlambat
55
Aira kakak kandung Lita
56
Sapu tangan Tirta
57
Kesebelasan
58
Jangan nakal
59
Halalkan aku
60
Pertemuan Kakak beradik
61
Pertemuan Aira dan kedua orang tuanya
62
Bertemu kedua bayi ku
63
Sepasang bayi kembar
64
Pernikahan Tirta dan Lita

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!