Bagian 2

Ralen menghentikan motornya dengan guratan emosi yang masih tercetak jelas di wajahnya, tak menyangka bahwa tadi dia berurusan dengan makhluk berjenis laki-laki dan sangat menyebalkan.

"Dasar cowok songong! jangan sampai gue ketemu dia lagi ih amit-amit amit-amit," cerocos Ralen menepikan motornya lalu turun dari kendaraannya itu.

Di tepi jalan yang lebih sepi wanita dengan tampilan cuek itu memeriksa kembali motor kesayangannya yang ia jadikan tunggangan sehari-hari untuk mencari uang.

Ia yang tahun ini berusia 20 tahun seharusnya duduk di bangku kuliah seperti yang sangat ia impikan dulu, namun apa yang menjadi mimpinya harus ia kesampingkan karena setelah lulus SMA ia harus menjadi tulang punggung setelah Ayahnya mengalami kecelakaan hingga tak lagi bisa bekerja untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga serta biaya adiknya yang masih duduk di bangku SMP.

Terkadang merasa iri dengan teman-temannya yang bisa hidup senang dan bebas pergi ke sana-sini tanpa harus repot memikirkan apakah besok ia akan mendapatkan uang untuk kebutuhan sehari-hari.

Ralen harus menahan keinginannya untuk kuliah, mengalah demi orang tua serta Adik laki-lakinya yang baru saja masuk SMP.

Setelah memeriksa motornya Ralen pun mengambil handphone dari dalam kantong jaket yang dia pakai, menghubungi satu nomor di dalam handphone android berharga murah itu.

"Lo masih lama kan?" Ralen langsung saja bertanya begitu panggilannya di jawab.

"Lumayan sih, kenapa memangnya?"

Tanya balik wanita yang Ralen hubungi.

"Gue ke bengkel dulu ya, motor gue lecet sama pecah ini spakbor depannya," jelas Ralen menyentuh spakbor motornya yang ternyata lumayan parah rusaknya.

"Ya udah gue matiin ya, gue masih harus rapiin barang yang baru datang soalnya," sahut wanita yang biasa di panggil Riska.

Antika namanya, dia adalah teman dekat Ralen, mereka dulu satu kelas dari SD sampai SMP sedangkan saat SMA sekolah mereka berbeda tapi masih tetap bertemu sebab rumah mereka yang tetanggaan.

Antika bekerja di sebuah minimarket di sebuah mall yang padahal Ralen juga sempat menitipkan surat lamaran di tempat sang teman tapi keberuntungan belum mau berpihak padanya, sampai saat ini ia belum juga mendapatkan panggilan dari tempat Antika bekerja.

Ah mengingat itu rasanya Ralen ingin menangis, terasa sangat sulit mencari pekerjaan di kota besar ini dengan berbekal ijazah SMA saja, rasanya sudah banyak surat lamaran yang Ralen titipkan di berbagai macam tempat yang katanya tengah membutuhkan karyawan tapi nyatanya ia masih saja kalah saing dengan para pencari kerja lainnya yang mungkin pendidikannya lebih tinggi diatasnya.

Dan sambil mengisi waktu serta mencari pekerjaan dengan gaji yang lumayan Ralen pun memilih untuk bekerja di sebuah usaha catering makanan yang kadang mendapat pesanan dari berbagai macam acara mulai untuk acara pengajian, pesta pernikahan, arisan sampai untuk catering kantor-kantor, lebih sering mendapat pesanan dari kantor dan tugas Ralen hanya mengantarkan makanan yang sudah di pesan itu, hampir setiap hari ada saja pesanan dari kantor untuk para karyawan atau untuk bos-bos besar yang sedang rapat.

Tidak mengapa, Ralen menjalaninya dengan senang hati asal ada gaji di akhir bulan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Sebenarnya ibu Ralen pun sempat menjadi buruh cuci di rumah tetangganya tapi sudah Ralen larang ketika ibunya mulai sering sakit-sakitan karena kelelahan.

Meski lelah dan kadang ingin mengeluh namun Ralen selalu berusaha melupakan semua isi hatinya itu, baginya tidak guna meratapi takdir yang sudah tuhan gariskan untuknya, tidak ada cara lain selain menghadapinya.

Ralen melajukan motornya mencari bengkel untuk memperbaiki motornya dan langsung masuk ke dalam satu bengkel yang ia lihat segera mengatakan kondisi motornya pada seorang montir yang menghampirinya.

Menunggu lama sampai akhirnya Ralen membayar motor yang sudah selesai di perbaiki dengan mengganti spakbor yang pecah tadi, wanita itu segera membayar jumlah yang ada di struk pembayaran dengan uang yang ia dapatkan dari pria yang sudah menyerempet motornya.

"Iiissh kurang 50," keluh Ralen menghitung uang yang tadi ia ambil dari si pria songong, sejenak langsung menyesal kenapa malah mengembalikan sebagian uang tadi.

"Berkurang 50ribu duit bensin gue," sungut Ralen sambil merogoh saku celananya untuk menambah kekurangan.

Selesai sudah dengan urusan bengkel Ralen pun kembali menaiki motonya dan melajukan nya di jalanan yang semakin lama malah jadi padat.

"Tumben macet banget," ucap Ralen merasa tak biasanya sebab ia yang biasanya mondar-mandir di jalanan ketika harus mengantar pesanan catering ke pelanggan.

Setelah salip sana sini akhirnya Ralen berhasil keluar dari kerumunan kendaraan dengan didominasi roda empat, bergerak kepinggir lalu mematikan mesin motornya ketika sudah mendapatkan tempat yang pas untuk menunggu Antika yang akan keluar dari mall di seberang jalan depan sana.

Oh apakah Ralen lupa kalau ia berada di pusat kota dengan gedung-gedung tinggi menjulang yang pastinya di huni oleh orang-orang pekerja keras dan akan serentak keluar jika urusan mereka sudah selesai membuat jalanan menjadi jauh lebih ramai lagi.

"Hah, eh apa-apaan nih!?" di saat sedang melamun memikirkan dunia yang padahal bukan kewajibannya Ralen merasakan ada yang menduduki motornya.

"Antar gue ke bandara gue bayar berapapun yang Lo minta."

Pinta pria yang Ralen belum melihat wajahnya.

"Eh gue bukan ojek, gue lagi nunggu temen gue!" menoleh ke belakang lalu matanya membulat lebar melihat wajah yang berada dekat dengannya, "Elo!?" seru Ralen terkejut.

"Ck, cepetan gue udah terlambat!" malah tetap memaksa yang rupanya sudah tahu siapa pemilik motor yang dia naiki sekarang tadi dia sangat mengingat plat nomor yang motornya dia serempet hingga jatuh di pinggir jalan.

Wanita yang mengajaknya ribut dengan suara cempreng bahkan wajah judesnya pun masih Ipul ingat dengan jelas, jadi jangan salahkan jika dia yang sudah sangat terjepit ini memanfaatkan tumpangan dari si pemilik motor.

"Ogah! turun nggak Lo!" Ralen menolak marah dan memaksa Ipul setelah tahu siapa pria yang sudah duduk di jok belakang.

"Mau antar gue atau gue teriakin maling?!"

Luar biasa! Ipul sudah berani mengancam orang lain yang tidak dia kenal bahkan yang lebih parahnya itu adalah seorang wanita, astaga teganya.

"Lo tuh.."

"Dengan penampilan Lo dan gue yang berbeda jauh menurut Lo siapa yang akan di percaya kali ini?" kata Ipul dengan senyum sinis nya.

Ralen meniti penampilannya yang hanya memakai celana jeans robek serta kaos dan jaket masih dengan pakaian yang tadi saat bertemu dengan Ipul, sedangkan Ipul memakai pakaian sangat rapi dan wangi parfumnya pun sudah mencirikan bahwa pria itu bukan orang biasa, jangan di bandingkan! jelas orang-orang akan lebih percaya pada orang kaya dibelakangnya ini.

Ipul menyingkirkan jari Ralen yang tadi menunjuk tepat di depan wajahnya.

"Pakai helm!" kata Ralen yang akhirnya memilih untuk selamat ketimbang harus masuk kantor polisi dengan tuduhan palsu.

"Hari sial!" sungutnya.

"Gue aja yang bawa," kata Ipul lalu turun dari motor.

"Cepat pindah, gue udah telat," celetuk Ipul meminta Ralen menggeser ke belakang.

Dengan terpaksa Ralen menurut membiarkan pria songong mengambil alih motor maticnya.

Ipul pun menyalakan mesin motor dan melajukan nya.

"Woi Raleeen." suara teriakan dari teman Ralen yang tadi minta di jemput olehnya, wanita itu bersungut-sungut saat motor Ralen malah semakin menjauh dan tak terlihat.

"Sialan Ralen, malah kabur sama Om-om," gerutunya karena sekilas tadi dia melihat bahwa yang membawa motor temannya seorang pria.

Kemacetan masih terus menjalar sepanjang jalan seakan tidak ingin memberi kesempatan orang-orang untuk bisa segera sampai di rumah dan beristirahat setelah seharian lelah bergulat dengan kesibukan mereka masing-masing.

Sedangkan dua orang yang tidak saling mengenal namun sudah dua kali dalam sehari ini dipertemukan masih berada di atas kendaraan yang membawa mereka ketujuan sang pengendara, tidak ada pembicaraan hanya tangan sang penumpang yang tampak berpegangan pada baju sang pengendara yang tidak dia kenal.

Laju motor yang kencang membuat takut akan terjatuh, meskipun dia sudah sering membawa motor tapi tidak dipungkiri nyalinya akan diuji ketika duduk di boncengan.

Sang pengendara merasakan tangan yang memegang bajunya hanya melirik laku kembali fokus pada jalanan yang perlahan semakin lengang, harapannya untuk sampai tepat waktu pun akan segera terlaksana sebentar lagi.

Sesungguhnya Ralen merasa sangat kesal tapi laju motor yang kencang membuat ia harus memilih untuk menyelamatkan nyawanya ketimbang harus meluapkan emosi yang bertumpuk.

Mereka sempat mampir ke pom bensin untuk mengisi bahan bakar motornya yang memang tinggal sedikit lalu kembali menuju bandara tempat yang menjadi tujuan si pria yang dari penampilannya terlihat kaya tapi bisa-bisanya melakukan pembegalan pada seorang wanita dan memaksanya mengantar ketujuan nya.

Begitu sampai Ipul langsung turun dan menyerahkan helm pada Ralen, dia sudah hampir terlambat membuatnya langsung bergegas tanpa mengucapkan terimakasih sedikitpun pada si wanita.

"Boro-boro bayar, bilang makasih aja nggak!" sungut Ralen yang dongkol.

Mulutnya masih terus menggerutu sampai akhirnya matanya menangkap benda warna hitam di dashboard motornya, perlahan Ralen menepikan motornya.

"Dompet?" kata Ralen mendapati dompet milik pria songong yang tadi memang sempat diletakkan di dashboard setelah mengisi bensin.

Tangannya pun bergerak untuk membuka lipatan dompet dan melihat isinya, "Wow," dalam sekejap matanya berbinar melihat lembaran-lembaran berwarna merah yang cukup banyak, pikiran demi pikiran mulai menggoda tapi kemudian menepis setan-setan yang ingin mendominasi, hingga akhirnya iapun membuka lipatan demi lipatan guna mendapatkan identitas pria songong yang ia tak tahu namanya.

Niatnya ingin mengembalikan dompet itu jika memang ada identitas di dalam dompet, tapi nyatanya tidak ada apa-apa selain uang rupiah serta beberapa lembar uang asing.

"Orang kaya macam apa yang pergi kemana-mana tidak membawa identitas, ckckck," Ralen berdecakan seraya menggelengkan kepala.

Setelah berpikir lama akhirnya Ralen mengantongi dompet itu memutuskan untuk membawanya sambil memikirkan bagaimana caranya untuk mengembalikan benda itu pada pemiliknya.

Sekalipun orang itu sangat menyebalkan kenyataannya Ralen masih berbaik hati ingin mengembalikannya, tidak berniat curang untuk memiliki barang yang bukan miliknya.

\*\*\*\*\*\*

******

Terpopuler

Comments

Triple R

Triple R

lumayan ambil aja lah kalo ketemu lagi bilang dwitnya aku pake gt

2022-10-21

0

Masfaah Emah

Masfaah Emah

mungkin Ipul sengaja ninggalin dompet nya d motor Ralen sebagai bayarannya untuk nganterin k bandara cuman Ipul ga bilang gengsi x karena dia udah marah -marah k Ralen nya 🤣🤣🤣

2022-09-14

2

Halisa Fauzan

Halisa Fauzan

wowww
sembunyiin aj len biar si ipul tau rasa 😅
orang kaya mah ra popo

2022-09-08

0

lihat semua
Episodes
1 Bagian 1
2 Bagian 2
3 Bagian 3
4 Bagian 4
5 Bagian 5
6 Bagian 6
7 Bagian 7
8 Balikin Dompet Gue!
9 Mata Gue Mengawasi
10 Anggap Hiburan
11 Gue Nggak Nafsu!
12 Jebakan Hujan
13 Satu Minggu
14 Satu Bulan
15 Mama Kepo..
16 Gue Di Terima Kerja
17 Kehebohan Di Pagi Hari
18 Tak Bisa Diam
19 Taruhan
20 Semangat!
21 Oh OB Baru?
22 Lo Blokir Nomor Gue!
23 Tidak Semangat
24 Mencoba Kabur?
25 Ini Sudah Satu Bulan
26 Ruang Istirahat
27 Terjebak Dengan Jelita
28 Saipul Gunawan!!
29 Mimpi Buruk Kah?
30 Meriang
31 Ini Peringatan?
32 Pelecehan!
33 Masuk Sini
34 Gue Belum Setuju!
35 Tampil Cantik
36 Air Putih
37 Terjebak Kesalahan
38 Tentang Kecewa
39 Sendu Seorang Ralen
40 Yang Terjadi Sebenarnya
41 Melihatnya Dengan Wanita
42 Tanggung Jawab!
43 Berhadapan
44 Malas Merespon
45 Gue Minta Maaf
46 Apa Ini Yang Terbaik?
47 Hampir Ketahuan
48 Bahagia Dan Duka
49 Menyesal
50 Sakit
51 Ceraikan
52 Gue Bisa Tidur Di Bawah
53 Layaknya Orang Asing
54 Gue Titip Mama
55 Kuliah?
56 Dia Yang Manis
57 Terpaksa Berbohong
58 Blokir Sekian Kalinya
59 Jangan Kayak ABG!
60 Bertemu Lagi
61 Mereka Memang Mirip
62 Galak!!
63 Drama Cuci Piring
64 Daftar Kuliah
65 Tidak Mau Kuliah
66 Sudah Sepakat
67 Ratu Bergosip
68 Seorang Yang Jauh
69 Mulai Mencari Tahu
70 Setitik Harapan
71 Ganas Tidak?
72 Kamu Tidak Pernah Membelikan
73 Jalan Menuju Cemburu
74 Ini Aku
75 Pergi Lagi
76 Kita Akan Sering Bertemu
77 Mimpi Buruk
78 Kebencian
79 Mimpi Yang Berulang
80 Kembar?
81 Tidak Jawab Telepon
82 Hanya Spontanitas
83 Jelita
84 Ingin Kamu
85 Aku Sudah Menikah
86 Gambar Yang Membuat Gaduh
87 Rasa Penasaran
88 Menerjang Wanita Yang Mengamuk
89 Kita Punya Kakak?
90 Tidak Sengaja Bertemu
91 Wanita Dalam Mimpi
92 Diam Kamu!
93 Kamu, Sebenarnya Apa Rencana mu?
94 Kenyataan Yang Angga Ketahui
95 Wanita Cantik
96 Kerjain Saja Sekalian
97 Kamu Mau Mabuk?
98 Kamu Cinta Siapa?
99 Yang Kamu Ketahui
100 Pamer Hasil Karya
101 Punya Mobil Baru
102 Adik Perempuan
103 Jatuh Miskin Kah?
104 Ribet Sekali
105 Situasi Tak Termaafkan
106 Mereka Masih Berhubungan?
107 Mama Tahu Dari Mana?
108 Ternyata Kamu Sangat Kaya
109 Salah Tingkah
110 Bakso Setan
111 Mual Tidak Tahu Diri!
112 Istri Sendiri Tidak Kenal!
113 Minta Pertolongan
114 Tidak Mungkin Kan?
115 Masih Tentang Mobil
116 Mimpi Kan?
117 Sikap Tenang Menyebalkan
118 Dia Pria Yang Dani Suka
119 Minum Obaaat!
120 Kemeja Suamiku
121 Nyatanya Kamu Tak Berotak
122 Hanya Ciuman
123 Caramu Melihat
124 Tidak Pernah Berhubungan!
125 Kabar Bahagia
126 Akhirnya Kita Bertemu
127 Bunuh Diri
128 Apa Menyesal?
129 Pembicaraan Menyebalkan
130 Peelaaan-peelaaan..
131 Ibu Tidak Sayang Ralen?
132 Jalan Hidup Hendak Kemana
133 Tidak Berhak Bahagia?
134 Angga Yang Banyak Tahu
135 Pilihan Ada Padamu
136 Asah Ilmu
137 Tidak Makan Sampai Dipenuhi
138 Kembali Pada Dani
139 Saya Menghormati Ibu
140 Alergi Miskin
141 Bosan Mengurus Suami?
142 Tidak Mau Di Tinggal
143 Sindiran Arda
144 Ini Kan..
145 Mertua Sayang Menantu
146 Jangan Ganggu
147 Kebahagiaan Palsu
148 Ibu Mau Ralen Mati?
149 Apa Yang Terjadi?
150 Dia Jauh Lebih Baik
151 Jelita Sudah Pulang Belum Ma?
152 Senyum Mencurigakan
153 Bawa Pulang Ralen!!
154 Belum Juga Pulang
155 Ralen Sudah Pulang..
156 Kamu Balas Dendam?
157 Semua Tidak Menginginkan..
158 Cari Orangnya!!!
159 Kamu Tidak Usah Kuliah
160 Karena Dia Lebih Cantik
161 Kasihan Kamu Mas
162 Kamu Jahat!!
163 Ini Akhir Hidupku?
164 Suami Bajingan!
165 Suami Bajingan Istri Juga Bajingan
Episodes

Updated 165 Episodes

1
Bagian 1
2
Bagian 2
3
Bagian 3
4
Bagian 4
5
Bagian 5
6
Bagian 6
7
Bagian 7
8
Balikin Dompet Gue!
9
Mata Gue Mengawasi
10
Anggap Hiburan
11
Gue Nggak Nafsu!
12
Jebakan Hujan
13
Satu Minggu
14
Satu Bulan
15
Mama Kepo..
16
Gue Di Terima Kerja
17
Kehebohan Di Pagi Hari
18
Tak Bisa Diam
19
Taruhan
20
Semangat!
21
Oh OB Baru?
22
Lo Blokir Nomor Gue!
23
Tidak Semangat
24
Mencoba Kabur?
25
Ini Sudah Satu Bulan
26
Ruang Istirahat
27
Terjebak Dengan Jelita
28
Saipul Gunawan!!
29
Mimpi Buruk Kah?
30
Meriang
31
Ini Peringatan?
32
Pelecehan!
33
Masuk Sini
34
Gue Belum Setuju!
35
Tampil Cantik
36
Air Putih
37
Terjebak Kesalahan
38
Tentang Kecewa
39
Sendu Seorang Ralen
40
Yang Terjadi Sebenarnya
41
Melihatnya Dengan Wanita
42
Tanggung Jawab!
43
Berhadapan
44
Malas Merespon
45
Gue Minta Maaf
46
Apa Ini Yang Terbaik?
47
Hampir Ketahuan
48
Bahagia Dan Duka
49
Menyesal
50
Sakit
51
Ceraikan
52
Gue Bisa Tidur Di Bawah
53
Layaknya Orang Asing
54
Gue Titip Mama
55
Kuliah?
56
Dia Yang Manis
57
Terpaksa Berbohong
58
Blokir Sekian Kalinya
59
Jangan Kayak ABG!
60
Bertemu Lagi
61
Mereka Memang Mirip
62
Galak!!
63
Drama Cuci Piring
64
Daftar Kuliah
65
Tidak Mau Kuliah
66
Sudah Sepakat
67
Ratu Bergosip
68
Seorang Yang Jauh
69
Mulai Mencari Tahu
70
Setitik Harapan
71
Ganas Tidak?
72
Kamu Tidak Pernah Membelikan
73
Jalan Menuju Cemburu
74
Ini Aku
75
Pergi Lagi
76
Kita Akan Sering Bertemu
77
Mimpi Buruk
78
Kebencian
79
Mimpi Yang Berulang
80
Kembar?
81
Tidak Jawab Telepon
82
Hanya Spontanitas
83
Jelita
84
Ingin Kamu
85
Aku Sudah Menikah
86
Gambar Yang Membuat Gaduh
87
Rasa Penasaran
88
Menerjang Wanita Yang Mengamuk
89
Kita Punya Kakak?
90
Tidak Sengaja Bertemu
91
Wanita Dalam Mimpi
92
Diam Kamu!
93
Kamu, Sebenarnya Apa Rencana mu?
94
Kenyataan Yang Angga Ketahui
95
Wanita Cantik
96
Kerjain Saja Sekalian
97
Kamu Mau Mabuk?
98
Kamu Cinta Siapa?
99
Yang Kamu Ketahui
100
Pamer Hasil Karya
101
Punya Mobil Baru
102
Adik Perempuan
103
Jatuh Miskin Kah?
104
Ribet Sekali
105
Situasi Tak Termaafkan
106
Mereka Masih Berhubungan?
107
Mama Tahu Dari Mana?
108
Ternyata Kamu Sangat Kaya
109
Salah Tingkah
110
Bakso Setan
111
Mual Tidak Tahu Diri!
112
Istri Sendiri Tidak Kenal!
113
Minta Pertolongan
114
Tidak Mungkin Kan?
115
Masih Tentang Mobil
116
Mimpi Kan?
117
Sikap Tenang Menyebalkan
118
Dia Pria Yang Dani Suka
119
Minum Obaaat!
120
Kemeja Suamiku
121
Nyatanya Kamu Tak Berotak
122
Hanya Ciuman
123
Caramu Melihat
124
Tidak Pernah Berhubungan!
125
Kabar Bahagia
126
Akhirnya Kita Bertemu
127
Bunuh Diri
128
Apa Menyesal?
129
Pembicaraan Menyebalkan
130
Peelaaan-peelaaan..
131
Ibu Tidak Sayang Ralen?
132
Jalan Hidup Hendak Kemana
133
Tidak Berhak Bahagia?
134
Angga Yang Banyak Tahu
135
Pilihan Ada Padamu
136
Asah Ilmu
137
Tidak Makan Sampai Dipenuhi
138
Kembali Pada Dani
139
Saya Menghormati Ibu
140
Alergi Miskin
141
Bosan Mengurus Suami?
142
Tidak Mau Di Tinggal
143
Sindiran Arda
144
Ini Kan..
145
Mertua Sayang Menantu
146
Jangan Ganggu
147
Kebahagiaan Palsu
148
Ibu Mau Ralen Mati?
149
Apa Yang Terjadi?
150
Dia Jauh Lebih Baik
151
Jelita Sudah Pulang Belum Ma?
152
Senyum Mencurigakan
153
Bawa Pulang Ralen!!
154
Belum Juga Pulang
155
Ralen Sudah Pulang..
156
Kamu Balas Dendam?
157
Semua Tidak Menginginkan..
158
Cari Orangnya!!!
159
Kamu Tidak Usah Kuliah
160
Karena Dia Lebih Cantik
161
Kasihan Kamu Mas
162
Kamu Jahat!!
163
Ini Akhir Hidupku?
164
Suami Bajingan!
165
Suami Bajingan Istri Juga Bajingan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!