Sementara Alice melihat-lihat barang dagangan, aku mendekat ke arah pria Dwarf yang menyambutku semestinya seorang pedagang.
"Kau butuh sesuatu."
"Selain mencari senjata untuk rekanku aku ingin menanyakan sesuatu."
Aku meletakkan belati dewi yang selama ini selalu aku bawa, berkat mengalahkan Boar belati ini semakin tajam dibandingkan sebelumnya.
"Ini... bagaimana kau memiliki senjata seperti ini, bukannya ini sangat luar biasa."
"Aku ingin bertanya hal itu juga.. aku hanya membelinya di toko loak sepanjang jalan."
"Kau pasti bercanda, jika begitu kau sangat beruntung... aku belum pernah melihat belati seindah ini."
"Jadi gagal, aku hanya ingin tahu siapa yang membuatnya?"
"Tak biasanya seorang petualang ingin tahu siapa yang membuatnya, biasanya mereka lebih peduli dengan kegunaannya," katanya sedikit mengejek.
Aku juga akan berfikir demikian sayangnya menurut skill penilaiku belati ini bernama belati dewi jika ada seseorang yang mampu membuat senjata ini akan sangat bagus jika suatu hari aku memintanya membuat senjata yang lain.
Ketika aku memikirkannya Alice memotong pemikiranku.
"Lihat Arsel, aku terlihat keren kan."
Alice mengenakan armor berat full plate dengan pedang besar di tangannya, melihatnya sudah jelas itu tidak cocok dengannya.
Dia kehilangan keseimbangannya begitu cepat.
"Aku akan memilih ini."
"Memilih jidatmu."
Aku pada akhirnya menggunakan skill penilai dan mencoba untuk menentukan apa yang cocok pada Alice hingga pada akhirnya aku memberikan sebuah tombak padanya.
"Oh, kau punya mata bagus anak muda... itu karyaku yang paling baik."
Alice mengayunkan tombak itu di tangannya dan dia dengan lihai memainkannya tanpa kesulitan. Aku mengambil belatiku dan memberikan uang pembayaran sesuai kesepakatan.
"Jika kau masih bersikeras untuk mengetahui pembuatannya, pergilah ke kota Gordan, di sana ada pandai besi yang kemampuannya tidak diragukan lagi aku belajar banyak darinya jadi kupikir dia bisa sedikit membantumu."
"Aku mengerti, aku akan ke sana jika memiliki waktu luang."
Aku dan Alice meninggalkan toko untuk menuju toko-toko yang lainnya yang sebelumnya kami sepakati, saat kembali kediaman Eris dia tampak terkejut dengan hadiah yang kami berikan.
"Tidak, ini terlalu tidak senonoh aku tidak mau memakainya."
Itulah pendapat yang diberikan darinya, meski begitu dia memutuskan untuk menyimpannya dengan baik.
"Aku tidak tahu, tapi aku akan mengenakannya nanti jika sudah menikah."
Itu semakin membuat kami tidak enak.
"Kami akan menggantinya dengan hadiah lain."
"Tidak, aku akan menyimpannya, ini pertama kalinya ada seseorang yang memberikan sesuatu padaku."
Ah, aku tambah menyesal.
Jika demikian aku seharusnya tidak menjahilinya, diam-diam aku memikirkan untuk memberikannya sesuatu yang lain jika itu memungkinkan.
"Untuk sekarang mari nikmati makanannya, selamat makan."
Alice mengambil suapan pertama dan ia tersenyum dengan senang, aku juga tidak mau kalah darinya dengan mengambil salad bagianku hingga terjadi pertarungan kecil di sana.
Eris tertawa kecil melihat kami berdua belepotan.
"Terima kasih."
Ucapan itu membuat aku dan Alice terdiam sesaat sebelum kembali menyantap makanan.
Itu hari yang lain saat aku dan Alice baru menyelesaikan quest perburuan.
"Satu katak rawa, silahkan bayaran kalian."
Kami dapat 10 koin perak untuk setiap satu ekor. Katak ini cukup besar dan ragu untuk menyebutnya demikian dia memiliki tanduk dan tubuh hitam putih menyerupai sapi perah, bentuknya sedikit aneh menurutku.
Aku berkata kepada Elena.
"Aku ingin menanyakan soal kota Gordan, apa bisa memberitahukan kota seperti apa itu?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments