Terimakasih atas pertolongan mu, perkenalkan, namaku Rudolff Cliver dan aku juga ingin minta maaf karena tadi sempat meragukan mu"
Rudolff adalah seorang pria berusia 38 tahun, iya mengenakan seragam Scrub yang membuatnya terlihat seperti seorang dokter, iya juga mengenakan tas ransel di punggungnya.
"Tidak apa-apa paman, tidak usah dipikirkan"
"Tapi memang sulit untuk dipercaya, seseorang tanpa Sistem Jiwa sepertimu bisa mengalahkan seekor monster"
"Itu hanya keberuntungan saja paman, kalau boleh tahu, kenapa paman bisa berada di tempat ini"
Belum sempat Rudolff menjawab pertanyaannya, tiba-tiba beberapa monster kelabang pasir muncul diluar bangunan tua itu, kemudian mencoba masuk untuk memangsa mereka.
"Sialan, monster-monster ini tidak ada habisnya, paman Rudolff tunggulah disini"
Setelah mengatakan hal tersebut, Brain lalu mengambil pipa besinya, iya berniat untuk melawan monster-monster itu sendirian.
"Brain tunggu, lebih baik kita lari saja"
"Maaf paman, ini bukan di dalam tembok, di tempat ini hanya ada dua pilihan. melawan, berjuang untuk hidup atau lari, diburuh lalu mati"
Mendengar perkataan itu, Rudolff hanya bisa terdiam sambil melihat Brain yang berjalan meninggalkannya.
Monster kelabang pasir memiliki tubuh yang panjangnya sekitar lima meter, pertahanannya sangat rendah namun walaupun begitu monster ini tidak bisa diremehkan, sebab iya dapat menyemburkan racun dari mulutnya dan itu sangatlah mematikan.
Menghadapi empat monster kelabang pasir sendirian, Brain terlihat kesulitan, dengan mengandalkan kelincahannya, iya terus menghindar sambil sesekali meluncurkan serangan dengan menggunakan pipa besinya.
Walaupun serangan yang dilesatkan oleh Brain sangatlah lemah, tidak berarti monster itu tidak dapat dikalahkan, perlahan tapi pasti, Brain akhirnya mampu mengalahkan keempat monster tersebut.
Rudolff yang menyaksikan itu, sangat dibuat terkejut, iya kemudian keluar dari bangunan tua itu
Anak ini, tidak bisa dipercaya, tanpa Sistem Jiwa iya bisa mengalahkan empat monster level 5 sendirian, aku tidak bisa membayangkan sekuat apa dia jika memiliki Sistem Jiwa
Sambil berjalan ke arah Brain, Rudolff memikirkan semua itu, iya juga kembali mengecek status informasi dari Brain menggunakan kemampuan penglihatannya dan informasi yang iya dapatkan hanyalah Ras Brian yang seorang manusia.
"Apa kau baik-baik saja, kau terluka cukup banyak"
Aku baik-baik saja paman ini tidak seberapa" Jawab Brain yang kelelahan.
Diketahui, seseorang yang memiliki Sistem Jiwa, iya tidak hanya dapat melihat informasi status dirinya sendiri, seseorang juga dapat melihat informasi status dari semua objek yang ingin dia ketahui, apakah itu makhluk hidup maupun benda mati.
Status informasi yang bisa dilihat, dibatasi dengan level penglihatannya, semakin tinggi level penglihatannya, semakin banyak informasi yang bisa didapatkan dan untuk manusia yang tidak memiliki Sistem Jiwa, Status Informasi yang bisa dilihat dari mereka hanyalah informasi mengenai Ras nya.
Namun ada beberapa kasus dimana seseorang yang level penglihatannya telah mencapai maksimal tidak dapat melihat semua status informasi dari objek yang ingin diketahui, dimana itu terjadi dengan makhluk hidup yang memiliki intelegensi yang tinggi atau terbatasi item sihir tertentu.
"Bagaiman caramu mengalahkan monster-monster itu"
"bagaimana yah, mungkin karena terlalu sering menghadapi monster itu, aku jadi tahu titik lemah nya paman"
Jadi begitu yah, kau memiliki pengalaman yang luar biasa"
Setelah Rudolff mengatakan itu, rumah tua yang menjadi tempat mereka berlindung sebelumnya tiba-tiba hancur, Brain dan Rudolff yang berada dekat bangunan tua tersebut, kemudian terhempas ke arah yang berbeda.
"Itu, itu monster level 10" Teriak Rudolff,
Mendengar suara Rudolff, monster kelabang pasir yang memiliki ukuran lebih besar daripada monster sebelumnya itu mulai bergerak mendekatinya.
"Hei monster sialan, kemari kau"
Brain yang berlari sambil meneriakkan hal tersebut, iya berharap monster itu mengalihkan target serangannya, namun semua itu sia-sia, monster tersebut telah berhasil menyerang Rudolff dengan cara menerjangnya.
Melihat hal itu, dengan kekuatannya yang bisa dikatakan sudah tidak ada lagi, Brain tetap saja berlari menuju kearah monster tersebut, namun belum sempat iya mencapainya, monster itu tiba-tiba meledak yang membuat Brain kembali terhempas.
"Apa yang terjadi, siapa yang meledakan monster itu"
Brain yang sempat kehilangan kesadaran, kemudian berjalan perlahan ke tempat Rudolff.
"Paman, hey paman, bertahanlah"
Melihat keadaan Rudolff yang sangat mengkhawatirkan, dimana kaki dan tangan kirinya telah terputus, membuat Brain terlihat sangat khawatir, iya terus mencoba membangunkannya sampai pada akhirnya Brain berhasil membuat Rudolff tersadar.
"Bertahanlah paman, aku akan mencari bantuan"
Sambil mengikat kaki dan tangan Rudolff yang terputus, Brain mencoba menghentikan pendarahannya,
"Hentikan Brain, aku sudah tidak punya kesempatan lagi"
Mendengar itu, Brain terlihat shock, iya hanya bisa terdiam sambil menatap Rudolff yang sekarat.
"Maafkan aku paman, seandainya aku lebih kuat, semua ini tidak akan terjadi"
Mendengar ucapan tersebut, Rudolff terlihat tersenyum, iya lalu mencoba untuk melihat sekelilingnya dengan maksud mencari tas ranselnya.
"Pikiranku tentang orang-orang di distrik buangan ternyata salah, kalian lebih manusiawi daripada mereka yang ada disana, maafkan aku"
Setelah mengatakan hal tersebut, Rudolff lalu meminta Brain untuk mengambil tas ranselnya, iya kemudian menyuruhnya untuk mengambil sesuatu di dalam tas ransel itu.
"Apa ini paman"
Sambil memegang sebuah botol kecil yang berisi cairan hitam, Brain menanyakan hal tersebut.
"Itu adalah hasil penelitian ku, dengan itu kau akan mendapatkan Sistem Jiwa"
"Aku tidak mengerti, apa maksudmu paman"
"Kau akan mengerti setelah kau meminumnya.. haaaa aku tidak punya waktu lagi.. dengar Brain.. didalam tas ini terdapat informasi mengenai semua kebusukan yang dilaukan para petinggi, kalau kau ingin menyelamatkan orang-orang yang ada di distrik buangan ini, gunakan semua informasi yang ada di dalam tas ini dengan sebaik-baiknya dan satu hal lagi.. jangan percaya pada.."
Belum sempat Rudolff menyelesaikan bicaranya, iya yang sudah kehabisan darah, telah menghembuskan nafas terakhirnya.
Diketahui, seseorang yang tidak memiliki Sistem Jiwa, pada dasarnya mereka mempunyai IQ yang rendah, oleh karena itu, dalam mempelajari atau mengingat suatu hal yang baru, mereka membutuhkan waktu untuk bisa memahaminya, itu juga berlaku untuk Brain, karena hal itu, iya hanya bisa terdiam dan berusaha mengulang semua perkataan Rudolff, berharap iya bisa mengingat semua informasi itu.
Satu jam telah berlalu, saat ini Brain telah selesai memakamkan jasad Rudolff, iya yang sekarang tengah duduk di samping makamnya, membuka tas ransel yang sebelumnya telah dipercayakan Rudolff untuknya.
"Dia bilang cairan hitam ini bisa membuatku mendapatkan Sistem Jiwa"
Mengamati botol kecil yang berisikan cairan hitam yang iya pegang, dengan perlahan Brain lalu membuka penutup botolnya, namun belum sempat iya membukanya, tiba-tiba suara ledakan terdengar.
Menyadari itu, Brain kemudian berdiri lalu memandangi sekelilingnya, mencari asal ledakan tersebut, Brain kemudian di buat terkejut setelah mengetahui arah ledakan itu berasal, terlihat juga kobaran api yang cukup besar disana.
"Itu, api itu"
Melihat hal itu, sambil membawa ransel di punggungnya, Brain kemudian berlari ke arah sumber api tersebut.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments