Bab 2. Keluarga Zhang

Pagi hari itu di halaman depan kediaman utama keluarga Zhang, terlihat seorang pria tua yang sedang mengawasi latihan dua orang pemuda dan pemudi. Pria tua itu bukan lain adalah Zhang Jun, seorang yang telah menyelamatkan hidup Lin Tian dan sekaligus menjadi guru bagi Lin Tian dan Zhang Qiaofeng.

Pemuda dan pemudi yang diawasinya saat ini adalah Lin Tian dan Zhang Qiaofeng, mereka berdua sedang menjalani hukuman hari ini karena kelakuan mereka berdua yang membuat seluruh keluarga gempar. Hal ini terjadi karena kemarin ketika Lin Tian dan Zhang Qiaofeng pergi bersama ke hutan belakang wilayah keluarga Zhang belum juga kembali hingga malam tiba, akhirnya mereka harus rela mendengarkan ceramah selama lebih dari satu jam yang isinya hanya maki makian tentang kesembronoan mereka dari Zhang Anming, ayah Zhang Qiaofeng dan juga pemimpin keluarga Zhang saat ini.

Sebenarnya hukuman ini dilakukan atas perintah langsung dari Zhang Anming yang merasa kesal kepada putri dan pengawalnya itu kepada Zhang Jun. Karena itu, untuk mentaati perintah pemimpin keluarga, Zhang Jun memberi hukuman kepada Lin Tian untuk memukul batang pohon yang berada di dekat situ dan Zhang Qiaofeng, gadis ini dihukum untuk merapihkan setiap pohon hias yang ada di sana dengan menggunakan kedua belati yang menjadi senjatanya. Mereka tak boleh berhenti hingga matahari tepat berada di atas kepala.

"Hah...hah...hah Guru aku lelah, berikanlah sedikit waktu untukku beristirahat. Apakah boleh?" Teriak Zhang Qiaofeng dari kejauhan kepada Zhang Jun.

Zhang Jun menolehkan kepalanya, terlihat diwajah kakek ini banyak sekali kerutan dalam yang menandakan bahwa ia sudah amat tua. Jika ditaksir kira kira umurnya tak kurang dari 70 tahun, di atas matanya tampak alis yang sudah memutih senada dengan warna rambutnya, jenggot kakek ini menjuntai kebawah begitu panjangnya hingga menyentuh dada.

Sambil membungkukkan badan memberi hormat dia berkata "Maaf Nona Muda, saya tidak bisa mengabulkan permintaan Nona.

Sesungguhnya saya terpaksa melakukan semua ini bukan sekali kali karena hendak mencelakakan Nona, melainkan karena kewajiban saya untuk melakukan setiap perintah pemimpin keluarga. Sekali lagi maaf Nona."

Zhang Qiaofeng mengerucutkan bibirnya kesal, lalu ia kembali melanjutkan hukuman sambil mulutnya tak henti-hentinya melantunkan makian dan umpatan.

Zhang Jun hanya mampu menggelengkan kepala dan menghela nafas panjang, kembali ia tolehkan kepalanya kearah Lin Tian. Terlihat anak itu terus memukul batang pohon didepannya dengan sungguh-sungguh tanpa memperlihatkan rasa terpaksa atau keberatan atas hukuman yang diberikan.

Lin Tian sadar akan kesalahannya lagipula dia menganggap bahwa hukuman itu sebagai sarana latihan untuknya agar menjadi lebih kuat dari sebelumnya.

Keahlian Zhang Qiaofeng dan Lin Tian memang berbeda, Zhang Qiaofeng memusatkan latihannya pada ilmu meringankan tubuh sedangkan Lin Tian lebih memusatkan latihan pada kekuatan fisik. Karena memang ketika ia dahulu menerima pelajaran ilmu silat dari mendiang ayahnya, kebanyakan dari ilmu itu lebih memfokuskan ilmu penguatan tubuh dibanding dengan ilmu meringankan tubuh. Walaupun begitu bukan berarti Lin Tian tidak mempunyai keahlian ilmu meringankan tubuh, hanya saja kemampuan meringankan tubuhnya masih lebih rendah daripada Zhang Qiaofeng.

Karena itulah hukuman yang dijatuhkan untuk mereka berdua jauh berbeda, Lin Tian dihukum untuk memukul batang pohon yang lebih membutuhkan kekuatan fisik dibanding kecepatan. Sedangkan Zhang Qiaofeng mendapat hukuman untuk merapihkan tanaman hias yang lebih membutuhkan kecepatan dan kelincahan.

Mengingat banyaknya tanaman hias di halaman itu, Zhang Qiaofeng tidak akan bisa menyelesaikan hukuman tepat waktu jika ia tidak menggunakan ilmu meringankan tubuh, karena itulah mau tidak mau gadis ini mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk mempersingkat waktu.

Setelah sekian lama akhirnya matahari sudah berada tepat di atas kepala, hal ini menunjukkan bahwa hukuman mereka berdua telah usai. Zhang Qiaofeng pergi ke bawah pohon besar yang dijadikan tempat hukuman Lin Tian, gadis ini lalu langsung merebahkan tubuhnya di atas rumput tebal yang berada tepat di bawah pohon itu. Lin Tian juga sudah menghentikan pukulannya dan ia lalu duduk di samping Nona mudanya.

Sambil terengah-rengah karena kelelahan Zhang Qiaofeng kembali mengomel "Huh...huh...hmph!! Dasar ayah tak punya hati, teganya dia memperlakukan putrinya sekejam ini!!"

"Sabarlah Nona, dengan hukuman ini saya yakin secara tidak langsung akan meningkatkan kepandaian Nona dan Tian'er, saya juga yakin bahwa Pemimpin melakukan semua ini adalah karena memang untuk tujuan tersebut. Jadi Nona, jika diperhatikan hukuman ini sebenarnya banyak sekali manfaatnya untuk Nona dan Tian'er." Ucap Zhang Jun yang juga sudah sampai di tempat itu dengan lembut sambil tersenyum penuh kesabaran.

Diam-diam Lin Tian membenarkan perkataan gurunya tersebut, karena itulah ia melakukan hukuman tadi dengan penuh semangat. Memang dalam hal ilmu silat, untuk anak seumurannya Lin Tian terbilang cukup kuat, hal ini dibuktikan dengan hasil pukulan tangan anak ini yang menyebabkan batang pohon besar dan tebal itu berlubang kurang lebih sedalam 20 cm.

Berbeda dengan Nona muda satu ini. Setelah ia mendengarkan nasehat dari gurunya itu, makin panaslah hatinya karena gadis ini menganggap bahwa gurunya lebih membela ayahnya ketimbang dirinya. Dia tidak sadar jika lelaki yang duduk di sebelahnya itu terlihat kulit tangannya telah mengelupas dan mengeluarkan darah, dibanding dengan dirinya yang hanya mengalami kelelahan tentu saja sekali lihat orang akan tahu kalau anak laki-laki itu telah mengalami hukuman yang jauh lebih berat dan keras.

"Karena Nona bersama Tian'er telah menjalani hukuman dari pagi hingga sekarang tanpa istirahat sedikitpun, maka saya rasa sudah cukup untuk hari ini dan selamat beristirahat Nona." Ucap Zhang Jun sambil memberi hormat kepada Zhang Qiaofeng lalu membalikkan tubuh pergi dari situ.

Kini hanya tinggal Zhang Qiaofeng dan Lin Tian yang masih berada di bawah pohon rindang itu. Karena terlalu kelelahan, rasa kantuk tanpa sadar menyerang meraka. Akhirnya mereka tertidur di bawah pohon dengan posisi Zhang Qiaofeng yang rebah terlentang di atas rumput dan Lin Tian tidur bersandar pada pohon besar tersebut.

Terlihat di kejauhan berdiri seorang wanita dan seorang pria yang terbilang masih cukup muda, yang pria kira kira berumur tiga puluh lima tahun sedangkan wanita di sebelahnya kira-kira berumur tiga puluh tahun. Mereka berdua mengenakan setelan baju mewah dari jahitan kain sutra sama seperti pakaian yang selalu dikenakan oleh Zhang Qiaofeng. Dari jauh terlihat mereka tersenyum menyaksikan kedekatan Zhang Qiaofeng dan Lin Tian.

*******

Ketika Zhang Qiaofeng bangun dari tidur nyenyaknya, dia menolehkan kepala dan terlihat di sampingnya duduk seorang pria yang tangannya sedang di balutkan perban oleh salah satu pelayan wanita.

Pria itu adalah Lin Tian pengawalnya sendiri, dia lalu bangkit duduk sambil mengucek matanya. Pelayan itu menyadari bahwa Nona mudanya sudah bangun maka langsung saja dia berkata "Selamat sore Nona, saya diutus kemari oleh tetua Zhang Jun untuk mengantar minuman Nona dan Tuan Lin Tian, juga saya diperintah oleh pemimpin untuk menyampaikan pesan bahwasannya jika Nona sudah bangun beliau berharap agar Nona segera datang menghadap ke ruangannya." Ucap pelayan itu dengan hormat, lalu kembali melanjutkan aktivitasnya mengobati tangan Lin Tian.

Zhang Qiaofeng hanya menganggukkan kepalanya yang masih terasa berat, lalu ia baru sadar bahwa pelayan itu daritadi masih sibuk untuk membalutkan perban ke tangan Lin Tian.

Ia terkejut melihat keadaan kedua tangan pengawalnya itu. "Lin Tian, apa yang terjadi dengan tanganmu sampai jadi seperti itu?"

"O-oh...Nona, mungkin ini terjadi karena saya terlalu keras saat memukul pohon tadi." Lin Tian menjawab sambil sedikit mengerang akibat menahan rasa sakit di tangannya.

Tiba-tiba Zhang Qiaofeng langsung mendekati mereka berdua dan tanpa basa-basi ia lalu mendorong pelayan wanita itu sampai membuatnya hampir tesungkur.

"N-Nona!?" Ucap Lin Tian dan pelayan wanita itu hampir berbareng.

"Biar aku yang mengobati lukanya." Kata Zhang Qiaofeng kepada pelayan itu. "Dia terluka karena kesalahanku, biarlah aku yang urus sisanya, kau boleh kembali." Lanjutnya.

Pelayan itu jelas terkejut dan heran akan sikap Zhang Qiaofeng yang aneh ini, namun dia tidak membantah dan tetap menuruti perkataannya.

"N-Nona...kenapa tiba-tib-"

"Hmm...?"

Belum selesai Lin Tian bicara, perkataannya sudah dipotong oleh Zhang Qiaofeng dengan tatapan dingin yang menusuk. Seketika nyali Lin Tian langsung ciut dan punggungnya mengeluarkan keringat dingin, dia juga heran mengapa Nona mudanya ini tiba-tiba bersikap aneh begini? Apa karena gadis ini masih marah pada ayahnya dan ingin melampiaskan kemarahan padanya?

"Kenapa? bukankah tanganmu terluka? apa kau mengira aku tak bisa melakukan pekerjaan ini huh? ohh...atau karena kau lebih suka jika yang mengobatimu itu pelayan tadi?!!" Kembali Zhang Qiaofeng bertanya, suaranya dingin dan dia berbicara dengan menekankan setiap kalimatnya.

Lagi-lagi Lin Tian terkejut, ada apa sebenarnya dengan Nonanya ini?. "B-b-bukan begitu Nona...tapi-"

Kembali ucapan Lin Tian dipotong oleh Nona muda itu, malah sekarang dia sampai membentak "DIAAM!! Tak ada tapi tapi!! kau itu pengawalku dan aku Nonamu, jika kau seorang pengawal yang setia patuhi saja perintahku dan jangan membantah!!! Mengerti!?" Bentak gadis cilik itu sambil memelototkan matanya kearah Lin Tian.

Walau bingung dan kaget setengah mati, namun Lin Tian tetap mematuhi perintahnya dan hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.

Sebenarnya Zhang Qiaofeng sendiri tidak tahu alasannya mengapa dia sampai marah-marah seperti itu. Hanya saja ketika dia melihat pelayan tadi sedang mengobati luka Lin Tian, entah kenapa tiba-tiba dia merasa jengah dan tidak nyaman melihat pemandangan itu.

Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Zhang Qiaofeng selesai mengobati tangan Lin Tian. Dia lalu bangkit berdiri dan mengambil botol minum miliknya yang diantar pelayan tadi, tanpa banyak cakap lagi langsung saja ia meneguk habis isi botol itu.

Setelah menghabiskan minumannya ia lalu berkata "Setelah ini kau pulanglah, aku akan menemui ayah sekarang." Tanpa menunggu jawaban dari Lin Tian, dia pergi meninggalkan tempat itu.

"Ada apa dengannya?" Batin Lin Tian terheran-heran karena sikap aneh Nona mudanya.

Sementara itu, Zhang Qiaofeng yang sedang dalam perjalanan menuju ruangan ayahnya tak henti-hentinya merutuki kebodohannya sendiri. "Dasar bodoh, goblok, tolol!! Ada apa sih denganku sampai merah-marah begitu!?" Ucapnya sembari memukul-mukul jidatnya sendiri dengan botol minum tadi. Dia sebenarnya sedikit menyesal telah membentak Lin Tian seperti itu yang sama sekali tidak ada salah sedikitpun.

*******

Terlihat Lin Tian saat ini sedang duduk termenung di atas kasur dalam kamarnya. Dahinya berkerut tanda bahwa dia sedang memikirkan sesuatu , lebih tepatnya tentang kejadian beberapa menit lalu ketika dia sedang dalam perjalanan pulang menuju rumahnya sesudah dibentak-bentak oleh Zhang Qiaofeng.

Saat sedang berjalan secara tak sengaja dia berpapasan dengan seorang pria tinggi dengan membawa pedang di pinggangnya, rambutnya panjang dikuncir, kulitnya putih kekuningan, hidung mancung dan di bawah mata sebelah kiri terdapat sebuah tahi lalat.Melihat dari wajahnya, kurang lebih umurnya tak kurang dari tiga puluh tahun.

Pria ini bernama Zhang Heng adik kandung dari Zhang Anming, orang ini adalah salah satu tetua keluarga Zhang dan juga dia merupakan pendekar terkuat di keluarga setelah Zhang Anming sendiri.

Walaupun seorang tetua, namun ketika berpapasan dengannya Lin Tian sama sekali tidak menunjukkan sikap hormat sedikitpun seperti kebanyakan orang, malah anak ini melemparkan tatapan tidak suka kepada orang itu.

Zhang Heng sadar akan hal itu, namun dia tidak marah malah orang ini menyapa Lin Tian dengan ramah, memang setiap kali bertemu dengan Lin Tian selalu saja anak itu memandangnya dengan pandangan benci dan tidak suka, Zhang Heng sudah terbiasa akan hal itu dan tidak mempermasalahkannya.

"Oh...Lin Tian apa kabar, baru selesai latihan? eh...kenapa tanganmu itu?"

Lin Tian mendengus dan menjawab "Anda benar, saya memang baru saja selesai latihan dan tangan ini, bukankah sudah biasa jika terluka ketika sedang berlatih?" Jawabnya sopan namun dengan nada datar.

"Haha...benar juga, hanya saja aku heran, hanya karena latihan bisa sampai menimbulkan luka separah itu."

"Tetua sendiri ingin pergi kemanakah?" Tanya Lin Tian.

"Oh, aku hendak pergi ke kota sebelah untuk urusan pribadi dengan teman lama ku." Jawabnya sambil tetap memepertahankan senyum ramahnya.

"Hm...kalau begitu hati-hati dijalan dan saya mohon pamit." Tanpa menunggu balasan dari Zhang Heng, Lin Tian lalu berjalan pergi meninggalkan orang itu.

Hal inilah yang sedaritadi sedang dipikirkan Lin Tian. Dia bersikap tidak menghormat seperti itu bukan tanpa alasan, hal itu terjadi karena entah mengapa Lin Tian selalu merasa curiga kepada tetua Zhang Heng. Apalagi ketika Lin Tian sedang bersama Nona Zhang Qiaofeng dan secara kebetulan bertemu orang itu, walau mulutnya terus tersenyum namun dalam tatapan matanya, Lin Tian merasakan ada tatapan kurang ajar dari mata Zhang Heng yang ditujukan kepada Nonanya itu.

Namun saat ini melihat tetua Zhang Heng hendak pergi meninggalkan wilayah keluarga Zhang, bukan hanya rasa curiga yang dirasakannya tapi juga timbul sebuah firasat buruk. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang, yang jelas perasaannya sangat tidak enak.

"Huh...semoga saja hanya firasat dan tidak akan terjadi hal buruk di masa depan." gumamnya setelah dia pusing sendiri memikirkan rasa curiga dan firasat burukknya. Lalu dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Setelah Lin Tian mengganti pakaiannya dengan pakaian bersih, dia menghampiri sebuah rak buku yang ada di pojok kamarnya. Memang karena dia seorang pengawal Nona Muda, perlakuan keluarga terhadapnya sedikit istimewa.

Lin Tian disediakan rumah sendiri lengkap dengan kamar mandi dan dapur, walau tidak terlalu besar namun rumah itu sudah cukup mewah untuk seorang pengawal sepertinya. Salah satu diantara segala fasilitas yang diberikan adalah rak buku ini.

Buku-buku yang berada di rak bukanlah buku biasa, buku-buku itu merupakan kumpulan kitab-kitab ilmu silat keluarga Zhang dari yang tingkat rendah sampai tinggi. Lin Tian memang suka membaca, karena itulah sekarang dia hendak membaca buku untuk menenangkan pikirannya.

Namun Lin Tian menghampiri rak itu dengan tujuan bukan untuk mengambil buku namun untuk duduk di kursi yang berada tepat di depan rak tersebut.

Dia lalu mengeluarkan sebuah buku kecil sebesar telapak tangan dari saku bajunya. Sampul buku itu sudah terlihat usang dan kertasnya sudah menguning, tanda bahwa buku itu sudah tua. Zhang Anming pernah mengatakan jika buku yang sedang dipegangnya itu adalah salah satu peninggalan leluhur keluarga.

Buku itu bukanlah buku sembarangan. Pasalnya ketika buku ini ditanyakan kepada seorang ahli silat orang itu akan menjawab kalau buku ini berisi ilmu silat yang panduannya mirip dengan sajak. Namun ketika ditanyakan kepada seorang sastrawan orang itu akan menjawab kalau buku ini berisi sajak yang kalimatnya mirip dengan panduan ilmu silat.

Walaupun begitu, sampai saat ini baik seorang ahli silat maupun sastrawan tidak ada yang bisa memastikan apakah buku itu merupakan sebuah buku sajak atau ilmu silat dan tidak ada pula yang bisa memahami isi tulisan buku itu. Di sampul depan buku terdapat tulisan yang berbunyi 'Ketenangan Batin'

Lin Tian sudah hafal hampir semua buku yang ada di kamarnya itu, dan buku Ketenangan Batin inilah yang paling sering dia baca dan yang paling dia hafal isinya. Namun buku ini jugalah yang paling tidak ia pahami maknanya.

Karena saking membingungkannya buku Ketenangan Batin ini, dia selalu membawa buku ini kemanapun dia pergi agar jika ada waktu luang, dia bisa membaca dan mencoba untuk memahami maknanya.

Setelah seperempat jam Lin Tian duduk di kursi itu, dia malah makin pusing dan stres karena membaca buku tersebut. Akhirnya dia merebahkan dirinya di kasur dan memilih untuk tidur.

*******

"Feng'er ada apa dengan kepalamu itu?" Tanya Zhang Anming heran kepada putrinya setelah melihat jidat gadis itu terdapat sebuah 'tanduk' berwarna merah.

Ibunya, Zhang An juga berada di ruang tersebut. Wanita cantik ini juga menatap kearah 'tanduk' putrinya itu dengan tatapan bertanya-tanya.

"Tadi jatuh kesandung batu di jalan." Jawabnya santai.

"Huh...??"

Seketika wajah kedua orang yang sudah berkepala tiga ini menjadi bengong dengan mulut terbuka lebar seakan-akan mulut itu bisa jatuh kapan saja. Mereka terkejut dan heran bahwasannya seorang seniman beladiri seperti Zhang Qiaofeng ini seharusnya sangat sulit untuk jatuh hanya karena kesandung batu. Kalau pun sampai kesandung dan jatuh, tak mungkin pula seorang sekuat Zhang Qiaofeng ini bisa sampai keluar 'tanduk' dijidatnya.

"Kau...jatuh karena batu!? T-tapi kenapa bisa jatuh?" Sekarang giliran ibunya yang bertanya.

"Ya tentu saja karena batu itu aku jadi jatuh." Kembali dia menjawab santai tanpa memperdulikan raut wajah orang tuanya yang semakin heran dan terkejut mendengar jawaban nyeleneh itu.

|•BERSAMBUNG•|

Terpopuler

Comments

S P Lani

S P Lani

terlalu biasa ceritanya tidak ada hentakan plat aja datar datara aja ga ada yg membuat tertarik .coba bab berikutnya

2025-03-13

0

Darus Sutriatno

Darus Sutriatno

baru mulahi baca

2025-02-11

0

Viers

Viers

Banyak hah hah nya ya dari episod 1

2024-08-27

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Lin Tian
2 Bab 2. Keluarga Zhang
3 Bab 3. Tragedi Keluarga Zhang
4 Bab 4. Tragedi Keluarga Zhang 2
5 Bab 5. Tragedi Keluarga Zhang 3
6 Bab 6. Pelarian
7 Bab 7. Pelarian 2
8 Bab 8. Pegunungan Tembok Surga
9 Bab 9. Menjadi Lebih Kuat
10 Bab 10. Goa
11 Bab 11. Turun Gunung
12 Bab 12. Kota Batu
13 INFORMASI
14 Bab 13. Informasi
15 Bab 14. Keluarga Xiao
16 Bab 15. Membuat Pedang
17 Bab 16. Keluarga Xiao 2
18 Bab 17. Permasalahan Keluarga Xiao
19 Bab 18. Berlatih Bersama
20 Bab 19. Berlatih Bersama 2
21 Bab 20. Hao Yu
22 Bab 21. Dendam dan Kebencian
23 Bab 22. Pedang Dewi Salju
24 Bab 23. Pertemuan
25 Bab 24. Meninggalkan Kota Batu
26 Bab 25. Kota Sungai Putih
27 Bab 26. Pengacau
28 Bab 27. Pria Misterius
29 Bab 28. Penderitaan Sang Tuan Muda
30 Bab 29. Penderitaan Sang Tuan Muda 2
31 Bab 30. Berkunjung
32 Bab 31. Kebulatan Tekad
33 Bab 32. Pembebasan Para Tahanan
34 Bab 33. Pembebasan Para Tahanan 2
35 Bab 34. Bebas!!
36 Bab 35. Hal Yang Tak Terduga
37 Tolong Dibaca!!
38 Bab 36. Awal dari Perubahan
39 Bab 37. Lin Tian yang Sesungguhnya?
40 Bab 38. Perang Saudara
41 Bab 39. Keganasan Pedang Dewi Salju
42 Bab 40. Bantuan
43 Bab 41. Akhir Pertempuran
44 Bab 42. Pengangkatan Pemimpin Baru
45 Bab 43. Ayah dan Anak
46 Bab 44. Ayah dan Anak 2
47 Bab 45. Wajah Lin Tian
48 Bab 46. Saudara
49 Bab 47. Bajak Sungai
50 Bab 48. Pendekar Hantu Kabut
51 Bab 49. Ramalan
52 Bab 50. Musuh Lama
53 Bab 51. Penyelamat
54 Bab 52. Zhang Hongli
55 Bab 53. Mengangkat Seorang Murid
56 Bab 54. Pemimpin Keluarga Hu
57 Bab 55. Pemimpin Keluarga Hu 2
58 Bab 56. Murid
59 Bab 57. Buku Ketenangan Batin
60 Bab 58. Asosiasi Gagak Surgawi
61 Bab 59. Masalah
62 Bab 60. Masalah 2
63 Bab 61. Masalah 3
64 Bab 62. Pertandingan Perguruan Tongkat Bambu Kuning
65 Bab 63. Guru Murid Pengacau
66 Bab 64. Kekacauan
67 Bab 65. Dua Hantu dari Utara
68 Bab 66. Tokoh Tua
69 Bab 67. Masalah Baru
70 Bab 68. Asal Bicara
71 Bab 69. Kedai Makan Pelancong
72 Bab 70. Sastrawan Sakti
73 Bab 71. Desa Daun Semanggi
74 Bab 72. Kabar Yang Mengejutkan
75 Bab 73. Pertemuan Pahit
76 Bab 74. Hidup dan Mati
77 Bab 75. Berkumpul
78 Bab 76. Petualangan Baru
79 Bab 77. Rumah Baru
80 Bab 78. Kunjungan Kaisar
81 Bab 79. Tepukan Maut
82 Bab 80. Seorang Utusan
83 Bab 81. Penyerangan Orang Gunung
84 Bab 82. Kesepakatan
85 Bab 83. Tujuh Gadis Pelayan
86 Bab 84. Latih Tanding
87 Bab 85. Rahasia Ilmu Ketenangan Batin
88 Bab 86. Pria Murah Senyum
89 Bab 87. Pilar Neraka
90 Bab 88. Ujian
91 Bab 89. Perasaan Zhang Qiaofeng
92 Bab 90. Malam Kelam
93 Bab 91. Kehidupan Baru Putri Lu
94 Bab 92. Malapetaka
95 Bab 93. Firasat yang Tidak Nyaman
96 Bab 94. Salah Paham
97 Bab 95. Salah Paham 2
98 Bab 96. Kelembutan Hati
99 Bab 97. Hal di Luar Dugaan
100 Bab 98. Tujuh Pasukan Besar
101 Bab 99. Kejanggalan
102 Bab 100. Penyamaran
103 Bab 101. Kekacauan
104 Bab 102. Elang Salju
105 Bab 103. Kurang Enam Lagi
106 Bab 104. Batu Misterius
107 Bab 105. Penolong
108 Bab 106. Zhi Yang
109 Bab 107. Keputusan Nona Zhang
110 Bab 108. Musuh Lama
111 Bab 109. Kota Emas Dalam Bahaya
112 Bab 110. Dua Orang Gagah Perkasa
113 Bab 111. Sian Yang
114 Bab 112. Lolos Lagi!
115 Bab 113. Semoga Mimpi Indah Kawan
116 Bab 114. Topeng Baru
117 Bab 115. Teror
118 Bab 116. Bukit Pedang
119 Bab 117. Jebakan
120 Info
121 Bab 118. Jebakan 2
122 Bab 119. Penderitaan Zhi Yang
123 Bab 120. Pengusiran Racun
124 Bab 121. Gudang Kitab
125 Bab 122. Kemajuan
126 Bab 123. Akhir Yang Tak Begitu Buruk
127 Bab 124. Iblis Tiada Banding
128 Bab 125. Bubar!
129 Bab 126. Kelompok Baru
130 Bab 127. Penyelidikan
131 Bab 128. Sergapan Malam Hari
132 Bab 129. Orang-Orang Sakti
133 Bab 130. Orang-Orang Sakti 2
134 Bab 131. Orang-Orang Sakti 3
135 Bab 132. Kesombongan
136 Bab 133. Kakek Pengemis
137 Bab 134. Kim Chao
138 Bab 135. Tujuh Cakar Harimau
139 Bab 136. Nona Zhang Diculik
140 Bab 137. Kemarahan Lin Tian
141 Bab 138. Kemarahan Lin Tian 2
142 Bab 139. Kedatangan Golok Penghancur Gunung
143 Bab 140. Pertempuran di Gerbang Kota
144 Bab 141. Pertempuran di Gerbang Kota 2
145 Bab 142. Api Pelahap Mega dan Naga Salju Menari
146 Bab 143. Menjadi Nonaku!!
147 Bab 144. Song Qian dan Fen Lian
148 Bab 145. Perubahan Xiao Li
149 Bab 146. Markas Perkumpulan Bunga Teratai
150 Bab 147. Sebuah Rahasia
151 Bab 148. Adu Silat
152 Bab 149. Jadilah Saksi
153 Bab 150. Aku Telah Berkhianat
154 Bab 151. Kegelisahan
155 Bab 152. Keadaan Genting
156 Bab 153. Dua Orang Sahabat
157 Bab 154. Bunuh Diri
158 Bab 155. Dua Orang Pengawal
159 Bab 156. Terima Kami Nona
160 Bab 157. Neraka
161 Bab 158. Kedatangan Pasukan Musuh
162 Bab 159. Markas Iblis Tiada Banding
163 Bab 160. Pria Bercaping
164 Bab 161. Surat
165 Bab 162. Kakek Aneh
166 Bab 163. Kakek Aneh 2
167 Bab 164. Pembebasan dan Fitnah
168 Bab 165. Kesaksian
169 Bab 166. Kematian Hu Tao
170 Bab 167. Topeng Hitam
171 Bab 168. Lautan Darah
172 Bab 169. Naga Raksasa
173 Bab 170. Sepasang Naga Putih Kalah?
174 Bab 171. Sejarah
175 Bab 172. Pembalasan Song Qian dan Fen Lian
176 Bab 173. Jatuh
177 Bab 174. Keterpurukan
178 Bab 175. Gejolak Utara
179 Bab 176. Berpamit
180 Bab 177. Selamat
181 Bab 178. Berlatih Ilmu Pedang
182 Bab 179. Ilmu Pedang Teratai Putih
183 Bab 180. Pendekar Sejati
184 Bab 181. Ular dan Tanah Licin
185 Bab 182. Peti
186 Bab 183. Keluarga Ling
187 Bab 184. Nasib Xiao Niu
188 Bab 185. Orang Yang Ditunggu
189 Bab 186. Wang Ling Xue
190 Bab 187. Latihan Menghimpun Hawa Sakti
191 Bab 188. Hambatan
192 Bab 189. Kemajuan
193 Bab 190. Naga Salju Menari
194 Bab 191. Kesedihan Tak Berujung
195 Bab 192. Nona Kita Gila
196 Bab 193. Gadis Setengah Gila
197 Bab 194. Hawa Sakti Panas
198 Bab 195. Distrik Merah
199 Bab 196. Dewi Yan Cu
200 Bab 197. Rumah Mungil
201 Bab 198. Pertolongan yang Tak Terduga
202 Bab 199. Kakek Kang Lim
203 Bab 200. Apakah Itu Dirimu?
204 Bab 201. Pengintaian
205 Bab 202. Pembersihan
206 Bab 203. Bayangan Hitam
207 Bab 204. Kekuatan Asli Pendekar Sejati
208 Bab 205. Keluh Kesah
209 Bab 206. Hantu dan Kabut
210 Bab 207. Adu Tenaga
211 Bab 208. Teman Baru
212 Bab 209. Konflik Kecil
213 Bab 210. Mengunjungi Markas Para Pejuang
214 Bab 211. Kamar
215 Bab 212. Pengemis
216 Bab 213. Pertolongan Kecil
217 Bab 214. Pengemis Pembuat Onar
218 Bab 215. Adu Cepat
219 Bab 216. Meminta Bantuan
220 Ban 217. Racun Pukulan Tapak Api
221 Bab 218. Kepulangan
222 Bab 219. Pedang Lin Tian
223 Bab 220. Pemuda Aneh
224 Bab 221. Kakakku Yang Pemalu
225 Bab 222. Dua Kakakku Tersayang
226 Bab 223. Kembalinya Pendekar Hantu Kabut
227 Bab 224. Pengintai
228 Bab 225. Menyerahkan Diri
229 Bab 226. Anak Menteri
230 Bab 227. Siluman Rase
231 Bab 228. Salah Mangsa
232 Bab 229. Kebenaran Yang Disembunyikan
233 Bab 230. Lalat Pengganggu
234 Bab 231. Pendapat Zhang Qiaofeng
235 Bab 232. Rencana Zhang Qiaofeng
236 Bab 233. Nasib Sial Nona Zhang
237 Bab 234. Kepulangan Nona Zhang
238 Bab 235. Xin Kiu
239 Bab 236. Desa Nelayan
240 Bab 237. Berkunjung ke Pulau Tulang Naga
241 Bab 238. Pertemuan Setelah Sekian Lama
242 Bab 239. Awal Fitnah
243 Bab 240. Nasib Sepasang Naga
244 Bab 241. Setan Tak Berbayang
245 Bab 242. Topeng A Xin
246 Bab 243. Domba Cantik
247 Bab 244. Geger
248 Bab 245. Boneka-Boneka Lin Tian
249 Bab 246. Siasat
250 Bab 247. Tanda Pengenal Zhang
251 Bab 248. Kerja Sama
252 Bab 249. Ledakan
253 Bab 250. Sosok Bersenjata Rantai
254 Bab 251. Matinya Chan Fan
255 Bab 252. Mengambil Keuntungan Dalam Kesempatan
256 Bab 253. Surat Untuk Fu Hong
257 Bab 254. Surat Untuk Sung Hwa
258 Bab 255. Perjumpaan Dua Bidadari
259 Bab 256. Pukulan Nafas Salju
260 Bab 257. Bentroknya Dua Perkumpulan
261 Bab 258. Bentroknya Dua Perkumpulan 2
262 Bab 259. Satu Dibunuh Satunya
263 Bab 260. Matinya dua Pemimpin
264 Bab 261. Tugas Lin Tian
265 Bab 262. A Yin
266 Bab 263. Pertarungan Lin Tian
267 Bab 264. Aku Membunuhnya!
268 Bab 265. Kedok A Xin
269 Bab 266. Percakapan
270 Bab 267. Kegagalan
271 Bab 268. Ketegangan di Atas Perahu
272 Bab 269. Awal Mula dari Perang
273 Bab 270. Kepulangan Xin Kiu
274 Bab 271. Kucing-Kucingan
275 Bab 272. Rutinitas
276 Bab 273. Rindu? Benci?
277 Bab 274. Delapan Pendekar Sejati
278 Bab 275. Lima Lawan Lima
279 Bab 276. Kombinasi Serangan
280 Bab 277. Babak Terakhir
281 Bab 278. Penentuan
282 Bab 279. Saya Sudah Bangun
283 Bab 280. Lamaran
284 Bab 281. Hari Ketujuh
285 Bab 282. Murid Baru [TAMAT]
286 PENGUMUMAN
Episodes

Updated 286 Episodes

1
Bab 1. Lin Tian
2
Bab 2. Keluarga Zhang
3
Bab 3. Tragedi Keluarga Zhang
4
Bab 4. Tragedi Keluarga Zhang 2
5
Bab 5. Tragedi Keluarga Zhang 3
6
Bab 6. Pelarian
7
Bab 7. Pelarian 2
8
Bab 8. Pegunungan Tembok Surga
9
Bab 9. Menjadi Lebih Kuat
10
Bab 10. Goa
11
Bab 11. Turun Gunung
12
Bab 12. Kota Batu
13
INFORMASI
14
Bab 13. Informasi
15
Bab 14. Keluarga Xiao
16
Bab 15. Membuat Pedang
17
Bab 16. Keluarga Xiao 2
18
Bab 17. Permasalahan Keluarga Xiao
19
Bab 18. Berlatih Bersama
20
Bab 19. Berlatih Bersama 2
21
Bab 20. Hao Yu
22
Bab 21. Dendam dan Kebencian
23
Bab 22. Pedang Dewi Salju
24
Bab 23. Pertemuan
25
Bab 24. Meninggalkan Kota Batu
26
Bab 25. Kota Sungai Putih
27
Bab 26. Pengacau
28
Bab 27. Pria Misterius
29
Bab 28. Penderitaan Sang Tuan Muda
30
Bab 29. Penderitaan Sang Tuan Muda 2
31
Bab 30. Berkunjung
32
Bab 31. Kebulatan Tekad
33
Bab 32. Pembebasan Para Tahanan
34
Bab 33. Pembebasan Para Tahanan 2
35
Bab 34. Bebas!!
36
Bab 35. Hal Yang Tak Terduga
37
Tolong Dibaca!!
38
Bab 36. Awal dari Perubahan
39
Bab 37. Lin Tian yang Sesungguhnya?
40
Bab 38. Perang Saudara
41
Bab 39. Keganasan Pedang Dewi Salju
42
Bab 40. Bantuan
43
Bab 41. Akhir Pertempuran
44
Bab 42. Pengangkatan Pemimpin Baru
45
Bab 43. Ayah dan Anak
46
Bab 44. Ayah dan Anak 2
47
Bab 45. Wajah Lin Tian
48
Bab 46. Saudara
49
Bab 47. Bajak Sungai
50
Bab 48. Pendekar Hantu Kabut
51
Bab 49. Ramalan
52
Bab 50. Musuh Lama
53
Bab 51. Penyelamat
54
Bab 52. Zhang Hongli
55
Bab 53. Mengangkat Seorang Murid
56
Bab 54. Pemimpin Keluarga Hu
57
Bab 55. Pemimpin Keluarga Hu 2
58
Bab 56. Murid
59
Bab 57. Buku Ketenangan Batin
60
Bab 58. Asosiasi Gagak Surgawi
61
Bab 59. Masalah
62
Bab 60. Masalah 2
63
Bab 61. Masalah 3
64
Bab 62. Pertandingan Perguruan Tongkat Bambu Kuning
65
Bab 63. Guru Murid Pengacau
66
Bab 64. Kekacauan
67
Bab 65. Dua Hantu dari Utara
68
Bab 66. Tokoh Tua
69
Bab 67. Masalah Baru
70
Bab 68. Asal Bicara
71
Bab 69. Kedai Makan Pelancong
72
Bab 70. Sastrawan Sakti
73
Bab 71. Desa Daun Semanggi
74
Bab 72. Kabar Yang Mengejutkan
75
Bab 73. Pertemuan Pahit
76
Bab 74. Hidup dan Mati
77
Bab 75. Berkumpul
78
Bab 76. Petualangan Baru
79
Bab 77. Rumah Baru
80
Bab 78. Kunjungan Kaisar
81
Bab 79. Tepukan Maut
82
Bab 80. Seorang Utusan
83
Bab 81. Penyerangan Orang Gunung
84
Bab 82. Kesepakatan
85
Bab 83. Tujuh Gadis Pelayan
86
Bab 84. Latih Tanding
87
Bab 85. Rahasia Ilmu Ketenangan Batin
88
Bab 86. Pria Murah Senyum
89
Bab 87. Pilar Neraka
90
Bab 88. Ujian
91
Bab 89. Perasaan Zhang Qiaofeng
92
Bab 90. Malam Kelam
93
Bab 91. Kehidupan Baru Putri Lu
94
Bab 92. Malapetaka
95
Bab 93. Firasat yang Tidak Nyaman
96
Bab 94. Salah Paham
97
Bab 95. Salah Paham 2
98
Bab 96. Kelembutan Hati
99
Bab 97. Hal di Luar Dugaan
100
Bab 98. Tujuh Pasukan Besar
101
Bab 99. Kejanggalan
102
Bab 100. Penyamaran
103
Bab 101. Kekacauan
104
Bab 102. Elang Salju
105
Bab 103. Kurang Enam Lagi
106
Bab 104. Batu Misterius
107
Bab 105. Penolong
108
Bab 106. Zhi Yang
109
Bab 107. Keputusan Nona Zhang
110
Bab 108. Musuh Lama
111
Bab 109. Kota Emas Dalam Bahaya
112
Bab 110. Dua Orang Gagah Perkasa
113
Bab 111. Sian Yang
114
Bab 112. Lolos Lagi!
115
Bab 113. Semoga Mimpi Indah Kawan
116
Bab 114. Topeng Baru
117
Bab 115. Teror
118
Bab 116. Bukit Pedang
119
Bab 117. Jebakan
120
Info
121
Bab 118. Jebakan 2
122
Bab 119. Penderitaan Zhi Yang
123
Bab 120. Pengusiran Racun
124
Bab 121. Gudang Kitab
125
Bab 122. Kemajuan
126
Bab 123. Akhir Yang Tak Begitu Buruk
127
Bab 124. Iblis Tiada Banding
128
Bab 125. Bubar!
129
Bab 126. Kelompok Baru
130
Bab 127. Penyelidikan
131
Bab 128. Sergapan Malam Hari
132
Bab 129. Orang-Orang Sakti
133
Bab 130. Orang-Orang Sakti 2
134
Bab 131. Orang-Orang Sakti 3
135
Bab 132. Kesombongan
136
Bab 133. Kakek Pengemis
137
Bab 134. Kim Chao
138
Bab 135. Tujuh Cakar Harimau
139
Bab 136. Nona Zhang Diculik
140
Bab 137. Kemarahan Lin Tian
141
Bab 138. Kemarahan Lin Tian 2
142
Bab 139. Kedatangan Golok Penghancur Gunung
143
Bab 140. Pertempuran di Gerbang Kota
144
Bab 141. Pertempuran di Gerbang Kota 2
145
Bab 142. Api Pelahap Mega dan Naga Salju Menari
146
Bab 143. Menjadi Nonaku!!
147
Bab 144. Song Qian dan Fen Lian
148
Bab 145. Perubahan Xiao Li
149
Bab 146. Markas Perkumpulan Bunga Teratai
150
Bab 147. Sebuah Rahasia
151
Bab 148. Adu Silat
152
Bab 149. Jadilah Saksi
153
Bab 150. Aku Telah Berkhianat
154
Bab 151. Kegelisahan
155
Bab 152. Keadaan Genting
156
Bab 153. Dua Orang Sahabat
157
Bab 154. Bunuh Diri
158
Bab 155. Dua Orang Pengawal
159
Bab 156. Terima Kami Nona
160
Bab 157. Neraka
161
Bab 158. Kedatangan Pasukan Musuh
162
Bab 159. Markas Iblis Tiada Banding
163
Bab 160. Pria Bercaping
164
Bab 161. Surat
165
Bab 162. Kakek Aneh
166
Bab 163. Kakek Aneh 2
167
Bab 164. Pembebasan dan Fitnah
168
Bab 165. Kesaksian
169
Bab 166. Kematian Hu Tao
170
Bab 167. Topeng Hitam
171
Bab 168. Lautan Darah
172
Bab 169. Naga Raksasa
173
Bab 170. Sepasang Naga Putih Kalah?
174
Bab 171. Sejarah
175
Bab 172. Pembalasan Song Qian dan Fen Lian
176
Bab 173. Jatuh
177
Bab 174. Keterpurukan
178
Bab 175. Gejolak Utara
179
Bab 176. Berpamit
180
Bab 177. Selamat
181
Bab 178. Berlatih Ilmu Pedang
182
Bab 179. Ilmu Pedang Teratai Putih
183
Bab 180. Pendekar Sejati
184
Bab 181. Ular dan Tanah Licin
185
Bab 182. Peti
186
Bab 183. Keluarga Ling
187
Bab 184. Nasib Xiao Niu
188
Bab 185. Orang Yang Ditunggu
189
Bab 186. Wang Ling Xue
190
Bab 187. Latihan Menghimpun Hawa Sakti
191
Bab 188. Hambatan
192
Bab 189. Kemajuan
193
Bab 190. Naga Salju Menari
194
Bab 191. Kesedihan Tak Berujung
195
Bab 192. Nona Kita Gila
196
Bab 193. Gadis Setengah Gila
197
Bab 194. Hawa Sakti Panas
198
Bab 195. Distrik Merah
199
Bab 196. Dewi Yan Cu
200
Bab 197. Rumah Mungil
201
Bab 198. Pertolongan yang Tak Terduga
202
Bab 199. Kakek Kang Lim
203
Bab 200. Apakah Itu Dirimu?
204
Bab 201. Pengintaian
205
Bab 202. Pembersihan
206
Bab 203. Bayangan Hitam
207
Bab 204. Kekuatan Asli Pendekar Sejati
208
Bab 205. Keluh Kesah
209
Bab 206. Hantu dan Kabut
210
Bab 207. Adu Tenaga
211
Bab 208. Teman Baru
212
Bab 209. Konflik Kecil
213
Bab 210. Mengunjungi Markas Para Pejuang
214
Bab 211. Kamar
215
Bab 212. Pengemis
216
Bab 213. Pertolongan Kecil
217
Bab 214. Pengemis Pembuat Onar
218
Bab 215. Adu Cepat
219
Bab 216. Meminta Bantuan
220
Ban 217. Racun Pukulan Tapak Api
221
Bab 218. Kepulangan
222
Bab 219. Pedang Lin Tian
223
Bab 220. Pemuda Aneh
224
Bab 221. Kakakku Yang Pemalu
225
Bab 222. Dua Kakakku Tersayang
226
Bab 223. Kembalinya Pendekar Hantu Kabut
227
Bab 224. Pengintai
228
Bab 225. Menyerahkan Diri
229
Bab 226. Anak Menteri
230
Bab 227. Siluman Rase
231
Bab 228. Salah Mangsa
232
Bab 229. Kebenaran Yang Disembunyikan
233
Bab 230. Lalat Pengganggu
234
Bab 231. Pendapat Zhang Qiaofeng
235
Bab 232. Rencana Zhang Qiaofeng
236
Bab 233. Nasib Sial Nona Zhang
237
Bab 234. Kepulangan Nona Zhang
238
Bab 235. Xin Kiu
239
Bab 236. Desa Nelayan
240
Bab 237. Berkunjung ke Pulau Tulang Naga
241
Bab 238. Pertemuan Setelah Sekian Lama
242
Bab 239. Awal Fitnah
243
Bab 240. Nasib Sepasang Naga
244
Bab 241. Setan Tak Berbayang
245
Bab 242. Topeng A Xin
246
Bab 243. Domba Cantik
247
Bab 244. Geger
248
Bab 245. Boneka-Boneka Lin Tian
249
Bab 246. Siasat
250
Bab 247. Tanda Pengenal Zhang
251
Bab 248. Kerja Sama
252
Bab 249. Ledakan
253
Bab 250. Sosok Bersenjata Rantai
254
Bab 251. Matinya Chan Fan
255
Bab 252. Mengambil Keuntungan Dalam Kesempatan
256
Bab 253. Surat Untuk Fu Hong
257
Bab 254. Surat Untuk Sung Hwa
258
Bab 255. Perjumpaan Dua Bidadari
259
Bab 256. Pukulan Nafas Salju
260
Bab 257. Bentroknya Dua Perkumpulan
261
Bab 258. Bentroknya Dua Perkumpulan 2
262
Bab 259. Satu Dibunuh Satunya
263
Bab 260. Matinya dua Pemimpin
264
Bab 261. Tugas Lin Tian
265
Bab 262. A Yin
266
Bab 263. Pertarungan Lin Tian
267
Bab 264. Aku Membunuhnya!
268
Bab 265. Kedok A Xin
269
Bab 266. Percakapan
270
Bab 267. Kegagalan
271
Bab 268. Ketegangan di Atas Perahu
272
Bab 269. Awal Mula dari Perang
273
Bab 270. Kepulangan Xin Kiu
274
Bab 271. Kucing-Kucingan
275
Bab 272. Rutinitas
276
Bab 273. Rindu? Benci?
277
Bab 274. Delapan Pendekar Sejati
278
Bab 275. Lima Lawan Lima
279
Bab 276. Kombinasi Serangan
280
Bab 277. Babak Terakhir
281
Bab 278. Penentuan
282
Bab 279. Saya Sudah Bangun
283
Bab 280. Lamaran
284
Bab 281. Hari Ketujuh
285
Bab 282. Murid Baru [TAMAT]
286
PENGUMUMAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!