Bulu mata lentik berwarna hijau itu kelihatan bergerak seiring pergerakan dari bola mata yang masih tertutup kelopak mata. Pemilik mata indah itu adalah Felix, memang tidak sesuai dengan image dan ekspresi wajahnya yang judes.
Perlahan mata Felix dibuka, hal pertama yang dilakukannya adalah langsung menutupi dan melindungi matanya untuk menghindari sinar bulan dari jendela kamar yang bersinar begitu terang menyilaukan lebih dari matahari pagi.
Sejenak, Felix memang mengira kalau sedang ada di Mundclariss tapi setelah sepenuhnya sadar. Barulah Felix melihat sekeliling, "Aku di Mundebris?! kukira aku di Rumah Banks ...." Felix masih melihat ada sedikit butiran seperti debu berwarna hijau disekitarnya karena terkena cahaya bulan. Kamar itu terasa begitu asing bagi Felix.
Felix mulai bangun dari tempat tidurnya, memindahkan selimut yang entah berapa lapis karena begitu tebal dan menumpuk banyak seakan Felix tenggelam dibawah selimut tadinya. Felix duduk di pinggir tempat tidurnya dan merasakan nyeri yang menggelitik dikepalanya secara tiba-tiba.
Keadaan Felix yang dirasakan saat ini seperti komputer yang baru saja dinyalakan tapi sudah dipaksa melakukan banyak hal dan akhirnya semua proses melambat.
Jantung Felix dirasakan memompa begitu cepat, mengalirkan darah keseluruh tubuh seperti sedang lomba lari padahal jelas-jelas Felix sedang duduk. Napas Felix yang keluar terasa panas tapi keringatnya terasa dingin jika disentuh. Felix berpikir itu karena tangannya saja yang dingin.
Walau dengan keadaan yang tidak normal bagi Felix untuk rasakan, tetap saja dipaksakan untuk berdiri. Felix tidak mau menunggu dirinya terbiasa dengan tubuh barunya itu. Lebih memilih memaksa dirinya untuk praktek langsung tanpa latihan terlebih dahulu. Seakan bayi yang langsung sudah berjalan tanpa melewati tahap merangkak terlebih dahulu.
"Ini dimana?!" Felix masih belum bisa mengetahui dimana sekarang dirinya berada menjadi masalah utama baginya dibanding tubuhnya yang terasa asing.
Saat berjalan keluar kamar, Felix kesusahan menahan kakinya berjalan begitu cepat. Felix tidak tahu kalau untuk berjalan normal seperti biasanya begitu sulit dilakukan sekarang. Matanya juga tidak melihat seperti biasanya, seperti kamera berkualitas tinggi untuk memperbesar semua yang dilihatnya seketika itu juga. Tapi karena itu juga Felix merasakan pusing yang luar biasa dan sulit menjaga keseimbangan.
Rumah itu begitu besar dari yang dibayangkan Felix, untuk mencari jalan keluar saja dirinya kesusahan. Karena begitu banyak lorong dengan pencahayaan yang minim khas Mundebris. Tidak seperti di Mundclariss jika lampu menyala di malam hari begitu terang sehingga apapun bisa terlihat jelas disegala sudut tempat.
Mundebris yang hanya menggunakan batu permata yang bersinar atau Stelumina tanpa listrik tentunya sangat berbeda dengan Mundclariss yang serba menggunakan teknologi. Di Mundebris lebih memilih apa yang sudah tersedia di alam untuk digunakan.
Felix sudah mulai kehilangan kesabarannya, daritadi mengitari lorong dan belum menemukan jalan keluar juga. Seperti hanya terus berputar-putar di tempat yang sama dan Felix tidak suka perasaan itu. Menyesali diri kenapa tadi tidak melompat saja turun dari jendela kamarnya dan sekarang untuk pulang ke kamarnya juga dia sudah tidak tahu haru ke arah mana. Hingga akhirnya kaki Felix menabrak sesuatu, Felix kehilangan kesabarannya dan menendang dinding yang ada disampingnya.
Jalan keluar terlihat, Felix berhasil walau dengan cara yang salah dan juga tidak diduganya itu. Menghancurkan hampir setengah rumah hanya untuk menemukan jalan keluar menurut Felix itu berlebihan. Tidak menyangka kalau kekuatannya meningkat begitu pesat.
...****************...
Cain dengan baju tanpa lengan menenteng keranjang berisi buah-buahan tidak serasi dengan otot lengannya yang terekspos. Rambut pirangnya juga yang sudah mulai panjang terurai bagaikan perempuan kalau dari belakang tapi kalau dari samping, ototnya langsung merusak pemandangan. Usia tubuh fisiknya itu sangat tidak cocok dengan otot yang sekarang didapatnya.
"Bayar!" kata Pohon dengan nada dingin dan mengangkat tinggi-tinggi dahannya agar tidak disampai oleh tangan Cain.
"Cuma satu untuk dijadikan kipas juga, pelit ...." kata Cain mau mengambil satu daun yang ada di sebuah pohon karena kepanasan.
"Ambil yang jatuh saja!" kata Pohon itu tidak mau tahu.
"Mana bisa?! basah dan hancur tidak berbentuk begini?!" teriak Cain protes meninju batang pohon itu.
"Membujuk saja tidak akan menyelesaikan masalah apalagi kekerasan!" kata Pohon itu masih tidak mau mengalah.
"Hahh ...." Cain kesal bukan main, merasa sangat tidak adil. Kalau di Mundclariss bebas melakukan apapun pada tanaman dan hewan sesuka hati. Tapi di Mundebris, mereka hidup dan menentukan hak mereka sendiri juga seperti layaknya Quiris lainnya.
"Oh, itu ...." Pohon itu kelihatan teralihkan oleh sesuatu dan menurunkan pengawasannya hingga Cain menarik daunnya tanpa disadari oleh Pohon karena masih terpesona dengan apa yang dipandanginya itu.
Cain begitu senang bisa mendapatkan kipas yang diinginkannya dan melihat arah pandang Pohon itu. Penasaran apa yang membuatnya teralihkan begitu. Tapi setelah Cain melihat apa yang Pohon itu juga lihat. Daun yang tadi sangat diinginkannya itu dibuang begitu saja dan mulai berlari. Membuat buah-buahan di keranjangnya berjatuhan di jalan. Anaevivindote merasa mendapat keberuntungan karena melihat buah-buahan berjatuhan di jalan. Buah-buahan yang menggelinding di jalan itu segera menjadi rebutan oleh Anaevivindote. Disaat Cain masih terus berlari dengan kecepatan tinggi dan wajah yang berseri-seri. Sedangkan Plaevivindote mengeluh karena buah-buahan besar itu mengenai mereka.
Bulan purnama yang tadinya memiliki cahaya begitu redup kini terlihat begitu cerah dan bersinar begitu terang. Entah bagaimana Cain bisa melewatkan moment bersejarah itu. Terbangunnya Felix sebagai Caelvita Resmi setelah peperang besar pertamanya.
"Aku akan memeluknya sampai dia tidak bisa bernapas ...." kata Cain sudah tidak sabar karena melihat Rumah sudah ada di depan matanya.
Tapi ledakan terjadi dari dalam rumah, kepingan bangunan dari bagian rumah terlempar kesegala arah. Memperlihatkan Felix yang berada di pusat terjadinya ledakan itu. Tanpa diselidikipun, sudah bisa ditebak kalau Felix lah yang menyebabkan hal itu.
Cain membuang keranjang yang buahnya tinggal sedikit, "Tidak, aku akan membunuhnya saja!" Cain kesal bukan main melihat Felix baru bangun sudah menghancurkan rumah setengah, "KUBUNUH KAU!!!" teriak Cain terbang menuju tempat Felix berada.
Felix tidak bisa menolak ataupun melawan karena pada dasarnya dirinya memang bersalah, "Tunggu ... aku bisa jelaskan!"
"Jelaskan?!" Cain sudah melayangkan pukulan pada pipi Felix dan menarik kerah baju Felix untuk dilemparkan keluar rumah dimana bagian rumah banyak berserakan akibat ulah Felix sendiri.
"Cain ... aku tidak sengaja!" Felix mencoba meminta maaf tapi Cain tidak memberi kesempatan. Kali ini Cain melayangkan tendangannya pada perut Felix.
"Kau mau membuatku pingsan padahal baru saja sadar?!" Felix dengan suara menahan sakit.
"Ini rumah yang dibuat sendiri oleh ayahku untukku! bagaimana bisa kau merusaknya sementara baru saja bangun, hahh?!" Cain dipenuhi emosi.
"Ah, ini rumah ... pantas saja aku tidak kenali." Felix tidak bisa merangkai kalimatnya dengan baik antara masih menahan sakit dan baru memperhatikan rumah itu dengan baik dari luar, "Tapi tidak ada unsur Aluiasnya sama sekali ...."
"Sekarang kau malah mengomentari dan menilainya?!" Cain makin kesal saja.
Felix tidak ada niat seperti yang dipikirkan Cain. Tapi sepertinya Cain tidak akan mendengarkan apapun alasan dari Felix. Bahkan memberi waktu untuk Felix menjelaskanpun sepertinya mustahil. Tiap mulut Felix akan dibuka, Cain sudah melayangkan serangan.
"Apa-apaan ini?!" Ayah Cain datang ditengah-tengah mereka dan memukul mundur mereka berdua hanya dengan menggunakan ayunan tangan ringan di masing-masing dahi Felix dan Cain.
"Lihat apa yang telah dia lakukan?!" Cain heboh menunjuk rumah yang kelihatan hancur seperti rumah yang tidak layak huni lagi.
"Bisa diperbaiki juga ... apanya yang jadi masalah?!" kata Ayah Cain heran dengan sikap berlebihan Cain.
"Ayah memihak Felix?!" Cain berteriak heboh.
"Kalau iya memangnya kenapa? kau mau mengajakku berkelahi?!" tanya Ayah Cain melihat Cain yang begitu dipenuhi emosi dan tidak terkendali seperti sedang menantangnya tanpa takut sama sekali dengan tatapan dan suara yang tidak main-main.
...-BERSAMBUNG-...
Selamat datang kembali pembaca UNLUCKY!🤗
Seminggu menunggu, semoga terbayarkan dengan chapter pertama ini ya☺️
Kembali lagi deh perjuangan untuk kontrak dimulai, tapi rasanya bukan lagi mulai dari 0. Sudah terbiasa dengan menulis tiap hari. Seperti sudah menjadi kebiasaan, hobby yang menjadi healing dikala stres mengerjakan skripsi.
Walau kadang stuck juga sih, kehabisan ide. Tapi sudah tidak sesulit saat UNLUCKY dulu. Kali ini sudah lebih mudah, memang yang pertama itu yang sulit dan memulai juga yang sulit. Tapi setelah yang kedua dan sudah lama dijalani, semuanya terasa sudah menjadi kebiasaan.
Lagi-lagi, sepertinya menulis memang adalah jalan ninjaku🤣✌️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 415 Episodes
Comments
🤒
keren ceritanya. 👍👍👍
2023-12-29
1
💕NARA༄𝑓𝑠𝑝⍟
hayoloh felix si cain ngamuk
2023-07-26
1
🦋 Pika 🦋
felix jadi ingat tokoh kartun kucing 🤔
2023-07-15
2