"Perusahaan Wijaya merupakan perusahaan terbesar di Indonesia, pasarnya saja sudah go internasional, bahkan hampir semua Komoditas ekspor Indonesia di pegang perusahaan itu."
Raymond duduk tertegun, tangannya sampai mengusap wajah nya dengan begitu kasar, informasi dari salah satu informan sang Mommy membuatnya hampir tidak bisa berkata kata, "Rupanya salah besar aku sempat mencurigai mereka." ucapnya pada Marquez sang informan dibalik teleponnya.
Pasalnya sebelumnya Raymond tidak percaya sepenuhnya kepada Kenzo dan Tiara, bagaimana tidak, dia bagian anggota kepolisian yang harus waspada dalam segala situasi, tidak bisa percaya begitu saja pada ucapan orang yang baru dikenalnya, terlebih orang itu tahu tentang target mereka, jika dia percaya begitu saja tanpa ada bukti sama saja kalau dia sedang memberi celah pada musuh-musuhnya.
Untungnya sang Mommy merupakan penanggung jawab keamanan kampus jadi dia bisa mendapatkan biodata Kenzo dan Tiara dengan mudah, dan pada akhirnya fakta kalau mereka adalah pewaris keluarga miliader membuatnya mengelus dada.
"Wajar kau mencurigai nya, Ray. Kabar kalau istrinya Pak Bernard merupakan Aunty dari si pewaris keluarga konglomerat itu memang tidak di ketahui banyak orang."
Marquez bicara di sebrang sana. Dia sendiri awalnya sampai tertegun, Raymond tiba-tiba mengirimkan dua biodata mahasiswa bermarga Wijaya, dan setelah dia cari tahu rupanya mereka benar-benar Wijaya si keluarga ternama dari Indonesia. Bagaimana dia tidak tahu mengenai informasi pebisnis ternama dari Indonesia itu, nama Wijaya sering wara wiri di data kepolisian sebagai eksportir terbesar dari Indonesia, bukan hanya di Inggris, di beberapa negara di Asia saja sudah terjamah oleh perusahaan mereka.
"Apa kau bisa memblokir informasi tentang mereka?" Raymond kembali bertanya, jika kabar ini di ketahui Herbert terlebih sampai di telinga keluarga Choy; si gangster London, keadaan Kenzo dan Tiara akan bahaya, "Penyelidikan kita akan semakin sulit kalau Herbert tahu siapa Kenzo dan Tiara sebenarnya." ucapnya lagi. Seharusnya bagi tim kepolisian tidak lah susah menyembunyikan identitas seseorang demi keselamatannya.
"Akan ku coba."
Panggilan berakhir, Raymond langsung bergegas keluar ruangan untuk mencari keberadaan Kenzo, karena sekarang sudah yakin sepenuhnya tentang siapa mereka, dia harus memberi tahu kalau kini Renzela adalah target utama Dominic untuk menghancurkan perusahaan Aunty mereka. "Jangan sampai aku kena amukan nya karena telat memberi tahu nya." gumamnya dengan sedikit was-was.
...***...
Bibir Agahta sampai tersenyum lebar, hampir tidak percaya Kenzo benar-benar datang untuk menolongnya. "Terima kasih," ucapnya dengan suara begitu lembut.
"Tidak apa-apa, kau juga pernah membantu ku waktu itu. Anggap saja ini balasan nya." Kenzo hanya berusaha acting dengan sempurna, jujur kalau saja ini bukan dari bagian rencananya dia enggan sekali mendekati wanita ini, "Apa ada yang terluka?" ucapnya lagi berusaha terlihat natural.
"Oh God, ternyata tidak sia-sia waktu itu aku memarahi Kakak untuk tidak menyerangnya, dia jadi peduli pada ku." Bukan hanya tersenyum senang, Agahta sampai bersorak dalam hati, perasaannya sampai berbunga-bunga mendapatkan perhatian Kenzo, "Tidak, hanya sedikit terkejut saja karena wanita itu tiba-tiba menjambak rambut ku," jawabnya dengan raut wajah sedih. Ini kesempatan dia untuk bisa lebih dekat dengan lelaki ini dan menarik perhatian nya.
"Sebelumnya aku tidak tahu kalau kau adiknya Dominic," Kenzo kembali bersandiwara, dia akan berusaha karena sepertinya Agahta adalah jalan yang lebih mudah untuk bisa menyelusup masuk ke anggota mereka, "Kita bisa berteman baik kan?" tutur nya lagi.
"Tentu." Tanpa di minta pun itu yang Agatha inginkan, "Ayo berteman baik!" ucapnya lagi begitu antusias.
"Agahta, Gue duluan!" Grace yang ada di antara mereka sampai tersenyum kecil, dari kemarin inilah yang Agahta inginkan, dan sekarang lelaki ini sendiri yang menginginkan lebih dekat dengan nya. "Kekuasaan Dominic memang tidak bisa di ragukan." gumamnya sambil menatap Agahta, dengan penuh arti. Dan setelahnya dia langsung melirik lelaki yang katanya bernama Kenzo dan langsung menepuk pundaknya, "Hei! tolong antarkan Agahta ketempat Kakaknya, dan pastikan dia selamat." tuturnya berusaha mendekatkan mereka. Dia pun benar-benar langsung pergi mengajak teman nya yang tadi.
Agahta kembali menyeringai senang, Grace memang selalu tahu apa yang harus di lakukan, bahkan begitu peka membiarkan mereka berdua saja. "Jika kau ada urusan tidak apa-apa kok, aku bisa ke sana sendiri." ucapnya menarik ulur.
Kenzo sendiri hanya tersenyum dalam hati, itulah yang dia inginkan, dan sekarang malah di beri jalan, "Apa Kakak mu tidak akan marah? Aku sempat mengusiknya mungkin dia tidak akan mengizinkan aku dekat dengan adiknya." timpalnya tidak kalah basa-basi. Dia akan berusaha untuk terlihat natural, seolah tidak ada alasan tersembunyi saat dia mendekati wanita ini.
"Tidak apa-apa kok," Agahta kembali bicara dengan begitu antusias. Iya, Kakaknya memang sempat membenci Kenzo bahkan mengatainya bajingan, tapi baginya lelaki ini tidak seburuk itu, dia saja bahkan di tolong oleh nya, "Aku bisa membujuk Kakak." timpalnya lagi dengan tersenyum manis.
"Dasar bodoh." Kenzo hanya bisa membatin, mimpi apa coba dia semalam sampai harus berurusan dengan wanita ini, walau kesal dan jijik, dia harus terlihat biasa saja, "Baiklah ayo!"
Sementara itu keadaan di depan gerbang kampus, mobil Dominic terlihat baru memasuki area itu menuju sebuah parkiran, sepanjang perjalanan dia sampai tidak hentinya memasang senyum, bagaimana tidak akhirnya dia bisa perlahan menarik Renzela dalam genggamannya. "Kita sudah sampai." ucapnya setelah dia sampai di parkiran, bahkan dengan sigap dia langsung turun dan membukakan pintu mobil Renzela. "Ayo turun!"
Renzela sendiri sampai celingukan mengitari keadaan kampus yang begitu luas, jujur dia merasa terkesima karena baru pertama kalinya dia keluar rumah apalagi sampai di ajak jalan-jalan oleh kekasihnya ini, namun ada sesuatu yang mengganjal di hatinya tapi entah apa, rasa gelisah nya tertutup dengan rasa senangnya. "Terima kasih." tuturnya menerima uluran tangan Dominic, tangan lelaki itu bahkan langsung menggenggamnya dengan begitu hangat dan langsung menuntun masuk ke dalam. "Keadaan kampus terlihat sepi, apa sudah tidak ada kegiatan?" ucapnya bertanya. Mereka sudah berjalan cukup jauh dari parkiran tadi tapi hanya beberapa mahasiswa yang dia temui.
"Iya, karena ini akhir pekan kebanyakan mahasiswa menghabiskan waktu nya untuk liburan memanfaatkan waktu luang mereka." Dominic menjawab dengan senang hati, tangan yang awalnya menggenggam tangan Renzela kini terlepas dan berpindah melingkar di pinggang wanita itu, dan memeluknya dari samping. "Tidak keberadaan kan jika seperti ini?" ucapnya berusaha untuk tidak membuat wanita itu terkejut dengan segala tingkahnya. Dia tidak akan membuat wanita ini tidak nyaman, bisa-bisa wanita ini akan kembali terlepas dari genggamannya.
Renzela hanya tersenyum, dan mengangguk, Dominic adalah kekasihnya, mungkin wajar jika memperlakukan nya seperti itu, terlebih dia sendiri mulai nyaman berada di samping lelaki ini.
Keadaan di basecamp, Alfred dan Arthur terlihat sedang bermain dart board, keduanya sedang berlomba untuk menancapkan anak panahnya tepat pada sasaran, sedangkan Austin dan Alex terlihat sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing, jika Austin sibuk dengan layar komputer, lain lagi dengan Alex, lelaki itu terlihat sedang sibuk dengan buku-bukunya yang sedang dia baca.
"Tin, apa kau tidak bisa dapatkan foto si Kenzo?" Alfred tiba-tiba bicara pada Austin, saat dia melemparkan anak panah itu tiba-tiba dia malah mengingat junior kurang ajar itu, "Carikan lah satu, biar ku pasang foto itu di dart board untuk ku jadikan sasaran." cibirnya kesal. Jika saja di depannya sebuah foto Kenzo dia pasti akan lebih bersemangat lagi melemparkan anak panah nya.
Arthur yang mendengar itu sampai tersenyum kecil, "Sudahlah, gak pakai foto pun tidak apa, anggap saja yang kau lempar itu adalah bajingan itu." timpalnya sambil melemparkan anak panah nya. "Haha, gue memang." soraknya saat jumlah anak panah yang dia lempar lebih banyak yang mengenai sasaran.
"Aisst," Alfred sampai mengendus kesal. Dan langsung di hibur Alex.
"Wajarlah kalau Arthur yang menang, dia kan jago nembak. Anak gangster di lawan." timpal Alex menyeringai.
Austin tidak kalah bersuara membantu Alfred sang panutannya, "Tenang Al, besok gue cari tahu biodatanya si Kenzo di data mahasiswa kampus, gue print foto nya biar Lo lebih semangat."
Saat keempat lelaki tengah melempar canda, terdengar suara pintu basecamp terbaru bersamaan dengan langkah Agahta di ikuti Kenzo di belakangnya.
"Panjang umur ya, baru juga dibicarakan." Alfred menggeram kesal, kenapa Kenzo tiba-tiba masuk basecamp mereka terlebih kenapa bersama Agahta, "Heh Agahta, kenapa kau bisa bersama bajingan ini hah?" ucapnya langsung bertanya.
Kenzo yang melihat reaksi kaget keempat anggota Black Swan itu hanya bisa menyeringai dalam hati, dia tidak akan banyak bicara karena dia bisa menebak Agahta akan membelanya.
Agahta sendiri sampai cemberut, belum juga dia sepenuhnya masuk ke dalam pertanyaan itu sudah membuatnya kesal. "Ayolah, Kenzo baik. Dia temanku." sewotnya tidak terima. Bahkan dia langsung menatap keempat bawahan Kakaknya dengan begitu kesal. "Dia tidak seburuk yang kalian kira, bahkan Kenzo barusan menyelamatkan ku dari amukan Tiara, tau." jelasnya lagi dengan begitu tegas.
"Tidak apa-apa, Agahta. Toh aku kesini hanya untuk mengantarkan mu saja dan memastikan kau baik-baik saja." Iya, sepertinya ini waktu yang tepat untuk Kenzo bersandiwara, terlihatlah seperti yang sedang ditindas agar Agahta semakin membelanya dan keempat lelaki itu bisa mengubah sudut pandang terhadap nya.
"Maaf ya, Ken. Mereka memang suka begitu. Jangan mempedulikan omongan mereka." Agahta langsung bicara, ketar-ketir sendiri, dia baru saja mendapatkan perhatian Kenzo, tapi keempat rekan kakaknya malah mengacaukan semuanya. "Jangan pergi dulu, setidaknya tunggulah Kakak " ucapnya sambil mencegah pergerakan Kenzo, membuat lelaki itu masih berdiri di tempatnya. Dia akan berusaha membujuk sang Kakak dan keempat rekannya itu untuk tidak lagi membenci Kenzo.
Keempat lelaki yang sedari tadi ada di dalam pun tidak mau banyak bicara tidak ingin melayani kekesalan Agahta, ucapnya mereka tidak akan mempan biar Dominic sendiri yang memberi saran.
Tidak lama yang diharapkan muncul, pintu basecamp perlahan terbuka memperlihatkan Dominic bersama Renzela yang sedari tadi ada dalam rangkulan.
Sontak semua yang ada di dalam langsung membelalakkan mata, terutama Kenzo, lelaki itu sampai hampir tidak percaya dengan apa yang dia lihat, namun tidak bisa mengelak karena jelas wanita yang ada dalam pelukan bajingan Dominic itu benar-benar Renzela sepupunya.
"Renzela!" Matanya langsung melebar sempurna karena kesal, teramat kesal lagi dia tak bisa gegabah menegur dan mengakui Renzela di depan mereka, bisa-bisa rencananya kacau balau, dia hanya bisa menegur wanita itu lewat tatapan mata. "Kau membuatku kecewa, Renzela." tidak habis pikir, bahkan dadanya serasa sesak menahan kekesalan setelah melihat fakta kalau Renzela berhubungan dengan bajingan ini, "Sialan." bahkan amarahnya sudah hampir memuncak, rasanya dia ingin langsung memukuli Dominic dan mematahkan tangannya karena berani menyentuh adik sepupunya, tapi apalah daya dia harus tetap bersandiwara demi melancarkan tujuannya.
"Kak Kenzo!" Renzela tidak kalah kaget, dia langsung melepaskan rangkulan Dominic dan menjauhkan tubuhnya, bahkan dia langsung tertunduk malu, pantesan dari tadi perasaan nya begitu gelisah, sekarang baru sadar kalau Kakak sepupunya juga berkuliah di sini. "Kak Kenzo pasti marah besar pada ku." Dia bahkan sampai bingung harus bagaimana sekarang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Sutria Wati
semangat Thor up terus yg banyak biar aq y GK penasaran terus. baca y☺️☺️☺️☺️
2022-08-20
0
Anisnikmah
semakin terbuka ya
2022-08-20
0
Anggiiee Makerhan
Semangat thorr, jangan lama2 UP nya
2022-08-20
0