Hening, sesaat tidak ada yang bicara, Raymond hanya menatap Kenzo dan Tiara tanpa kata, terkejut bukan main setelah mengetahui fakta kalau mereka ternyata pasangan suami istri, dan merupakan keponakan dari pemilik Oskar company.
Iya setelah memberi tahu kalau Raymond bagian anggota kepolisian, Kenzo tidak banyak bicara, selain memberitahu tentang siapa dia dan Tiara, lelaki itu hanya memperlihatkan layar leptop nya yang berisi jejak jejak Herbert di beberapa perusahaan, termasuk Oskar company.
"Gila, kita tidak pernah mendapatkan bukti kejahatan Herbert karena mereka selalu bergerak rapi, tapi Kenzo bisa mendapatkan jejak digital mereka dengan mudah." Raymond sampai mengusap kasar wajahnya, membatin dengan begitu kagum pada sosok Kenzo, bahkan bukan hanya karena itu, fakta kalau kedua orang ini suami istri membuatnya langsung mengelus dada dan memalingkan muka.
Tidak sadarkan kalau Raymond ada di sana, kedua insan itu seperti punya dunia sendiri. Tiara begitu khawatir melihat memar-memar di tubuh Kenzo sedangkan lelaki itu sendiri terus menuntun tangan istrinya untuk mengolesi memar-memar nya tanpa ada yang terlewat sedikitpun dengan salep yang tadi Raymond tawarkan.
"Di depan anggota Black Swan bahkan di depan ku pun dia terlihat menakutkan dan begitu sangar, tapi didepan istrinya terlihat begitu jinak." umpatnya sambil kembali menatap layar laptop Kenzo untuk kembali mengamati bukti-bukti itu, suatu hal yang menguntungkan, ini merupakan informasi kuat agar dia dan sang Mommy bisa lebih mudah menarik Herbert dan rekan-rekannya ke balik jeruji besi.
Setelah semua luka terobati, mata Kenzo kini kembali menatap Raymond, kesal sendiri, kenapa lelaki itu hanya diam saja setelah mendapatkan informasi yang dia berikan,
"Bicara bodoh, apa sekarang yang akan kalian lakukan?" ucapnya tiba-tiba bersuara, dia sudah menceritakan semuanya tentang dirinya dan Tiara, kenapa sekarang lelaki itu diam saja, bukankah menentramkan kejahatan adalah tugas mereka. Katakan lah sesuatu, "Sebenarnya siapa Herbert, dari bukit itu menunjukkan bukan hanya Oskar company, melainkan ada beberapa perusahaan lain yang pernah di hack oleh mereka." tanyanya butuh penjelasan,
Tiara yang melihat ekspresi Kenzo yang kembali marah sampai langsung memegang tangan nya, "Ken!" lirihnya berusaha meredam emosi sang suami.
Raymond sampai kaget, tatapan Kenzo bagai tusukan pedang, tapi anehnya itu tidak berlaku pada wanita yang tengah duduk di samping nya, "Herbert adalah penjahat ulum di perusahaan, kami mendapatkan laporan itu dari korban-korbannya. Tapi sayang, penjahat itu masih bisa berkeliaran karena belum ada bukti yang sagnifikn. Terlebih lelaki itu begitu licik bahkan punya sekutu yang sama-sama liciknya." Dia berusaha menjelaskan, kasus ini sudah bertahun-tahun mereka dalami, dan sialnya mereka selalu kecolongan, tahu-tahu sudah ada sebuah perusahaan yang jatuh bangkrut, dan pada akhirnya di akuisisi oleh Herbert company. "Sekalipun ada bukti ini, kita masih belum bisa bergerak langsung menangkapnya, bukti ini masih lemah." keluh nya.
Kenzo sendiri sesaat terdiam, mendengar kata sekutu membuatnya langsung mengingat perusahaan yang baru-baru ini bekerja sama dengan Oskar company, "Apa Harold company juga bagian dari mereka?" tanyanya memastikan. Setelah ID Herbert ketahuan terdeteksi oleh nya, mereka memang tidak ada lagi pergerakan, bahkan tidak pernah datang lagi ke perusahaan untuk kembali menawarkan kerjasama, tapi tiba-tiba malah ada Harold company yang memeras perusahaan sang Aunty dengan berkedok investasi dalam sebuah kerja sama.
"Iya, Harold adalah bagian dari mereka. Austin adalah putra pemilik perusahaan itu." jelas Raymond.
Kenzo sampai mengepalkan tangannya kesal, bisa-bisanya kini perusahaan sang Aunty jadi target mereka, dan sialnya Uncle nya begitu bodoh sampai dengan mudah masuk perangkap, "Argh." Kesal sendiri, coba saja Aunty Naura bisa sedikit membuka mata dan tidak terlalu mencintai suaminya itu, dia tidak akan kesusahan seperti ini. Dan warisan sang Kakak pun tidak akan terpakai sia-sia karena di gunakan sesukanya oleh orang-orang tidak bertanggung jawab.
"Herbert adalah dalangnya Ken, tidak tahu apa yang akan mereka lakukan, tapi jika lelaki itu sudah memerintahkan antek-anteknya untuk bergerak, kau harus lebih waspada." Raymond bisa mengerti posisi yang Kenzo alami, dia hanya bisa memberi gambaran, agar semuanya bisa teratasi dengan sedikit lebih mudah, dan pergerakan Kenzo pun tidak disadari oleh Herbert dan rekan-rekannya. "Menyelusup masuk ke bagian anggota mereka adalah jalan yang terbaik." ucapnya memberi saran.
Kepolisian tidak bisa bertindak lebih, kasus ini sudah di ranah privasi perusahaan, tidak tahu pergerakan licik apa yang akan Herbert lakukan, hanya perusahaan itu sendiri yang harus lebih waspada, dan berusahalah mencari sebuah bukti agar kepolisian bisa meringkus mereka dengan mudah.
"Masuk anggota mereka?" Kenzo sampai kembali mengulang kata itu.
"Iya, Orang-orang licik harus di hadapi dengan cara licik dan halus, Ken." ucap Raymond lagi, dia yakin Kenzo mengerti apa maksud ucapannya, terlebih dari segala sisi itu pasti akan menguntungkan untuk lelaki itu, "Mohon kerjasamanya!" ucapnya lagi. Dia butuh informasi, dan kepolisian pun akan berusaha yang terbaik agar kasus memanipulasi sebuah perusahaan tidak terjadi lagi.
...***...
Di belahan dunia yang berbeda, Mario tengah merebahkan tubuhnya di tempat tidur, seharian di depan komputer rasanya membuatnya cukup lelah, namun walaupun begitu tidak menyulutkan semangat untuk menstalking media sosial Renzela, seperti apa yang Kenzo perintah, dia harus mendekati adik sepupunya itu.
"Cantik si," bibirnya bergumam, matanya terus melihat setiap foto yang selalu gadis itu posting di medsos nya, "Tapi masa iya harus menarik perhatian nya, dia bukan tipe ku." ada sedikit penyesalan, karena yang dia harapan bukan gadis kecil seperti Renzela, melainkan wanita-wanita yang sudah dewasa. "Setidaknya kaya Tiara gitu, ini mah malah kayak Ade sendiri." gumamnya lagi.
Puas melihat foto-foto gadis itu kini dia mulai melihat nomor kontak Renzela yang Kenzo berikan, "Dari pada kena amukan si Kenzo, coba saja lah." Tidak ada pilihan lain, dia akan mencoba menghubungi gadis itu dan memperkenalkan dirinya sesuai apa yang Kenzo harapkan.
...***...
Sementara itu. Bel pulang sekolah dari tadi sudah berbunyi, murid-murid SMA sudah pada berhamburan keluar menuju rumah masing-masing, tapi tidak dengan Renzela, gadis itu masih duduk di bangku pak satpam menunggu jemputan, "Dominic kemana si?" Dia terus memperhatikan ponselnya, tidak ada balasan chat, tidak ada telepon balik, pacarnya itu begitu susah untuk di hubungi, padahal biasanya selalu menjemput ke sini.
"Gak telepon orang rumah, Dek. Ini sudah semakin sore." Pak satpam sampai kasihan melihatnya. Terlebih dia harus segera menutup gerbang sekolah.
Renzela sesaat terdiam, "Kalau bukan Dominic memang tidak pernah ada yang menjemput ku ke sekolah." gumamnya merasa sedih. Bahkan Bernard yang merupakan Ayahnya saja tidak pernah sekalipun menjemputnya, paling kalau ada jemputan pun pasti sopir yang di suruhan Pami nya itu, "Sepertinya aku harus telpon Papi untuk memeriahkan supir untuk menjemput ku."
Renzela pun melakukan panggilan, tidak membutuhkan waktu lama suara sang Papi terdengar di balik teleponnya, "Pi!" dia memanggil nya lirih, sudah satu minggu papinya di luar kota, dan selama itu pula dia tidak pernah bercengkrama dengan nya.
"Apa, Nak?"
"Tolong suruh sopir menjemput ku ke-" Perkataan Renzela terpotong, kuping nya sampai melebar sempurna tatkala mendengar suara seorang perempuan di balik ponselnya.
"Mas, hotel ini pelayanan nya sangat bagus apa lain kali kita kesini lagi?"
Renzela sampai terperangah, dia tidak tuli, dia bisa dengan jelas mendengar itu, dan jelas kalau suara wanita itu ada di sekitar Papinya. "Pi, Papi di mana? Itu siapa?" Dia memang masih anak SMA, tapi pikiran jelek nya bisa menebak apa yang tengah di lakukan Papinya. "Pi?" tanyanya lagi karena sang Ayah masih diam. Jangan bilang Papi nya itu berhubungan dengan wanita lain di belakang sang Mami.
"Papi sedang bekerja sayang, kita ada meeting di sebuah hotel bersama rekan Papi yang lainnya. Yang barusan bicara adalah istri nya teman Papi." Bernard menjawab cepat dengan senyuman, setelah menjawab permintaan putrinya untuk di kirimkan jemputan dia pun langsung berpamitan, "Sudah dulu ya, Nak. Papi harus meeting dulu."
Tidak ada kesempatan untuk bicara, "Istri teman Papi?" Renzela sampai menahan sakit saat panggilan itu benar-benar berkahir, dia tidak bodoh, terdengar jelas kalau di sana tidak ada suara lain selain suara sang Papi dan suara seorang wanita, prasangka buruknya semakin kuat, bagaimana tidak, ada suara seorang wanita lain di samping sang Papi, siapapun pasti akan berpikir yang tidak-tidak. "Positive thinking saja Renzela, Papi sedang bekerja." Hanya bisa menenangkan diri sendiri, tapi tetap saja, hatinya lemah, dia sampai menundukkan kepala, semoga saja yang ada dalam pikiran buruknya tidak pernah terjadi. "Papi tidak mungkin sejahat itu, menduakan mami."
Sebuah mobil terlihat berhenti di depan gerbang sekolah, terlihat Dominic keluar dari sana dan bergegas menuju Renzela yang terlihat sedang menundukkan kepala, "Dia kenapa?" Terus melangkah, sampai kini sudah berdiri di depan wanita itu. "Maaf aku terlambat!"
Mendengar suara yang tidak asing membuat Renzela langsung mengangkat kepalanya, waktu yang pas, di saat pikiran nya sedang kacau, pacarnya itu kini ada di depan matanya. "Dominic!" tanpa sadar dia langsung berdiri dan memeluk lelaki itu. Dia butuh ketenangan, dia butuh sandaran, putri mana yang tidak akan merasakan sakit saat merindukan sosok Ayah tapi Ayahnya malah mengabaikannya, bahkan memergoki suara seorang wanita lain di sekitar Ayah nya itu. "Papi tidak mungkin sejahat itu," lagi-lagi mengulang kata itu, hatinya sakit tapi berusaha sekeras mungkin menepis prasangka buruknya nya itu.
Dominic sampai tertegun kaget saat tubuh kecil itu menempel sempurna di tubuhnya, padahal biasanya wanita ini tidak pernah mau kalau dia menyentuhnya, "Dia nangis!" bahkan lebih kaget lagi saat dia merasakan tetesan air mata wanita ini yang mengenai pakaiannya. "Kenapa?" tujuannya memang membuat wanita ini menangis dan terluka, tapi kenapa tubuhnya tidak sejalan dengan tujuan hatinya, tangannya bahkan tidak tega melihat wanita ini menangis sampai bergerak lembut mengelus-elus rambut nya. "Jangan menangis, tadi ada sedikit kendala di kampus jadi terlambat menjemput mu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Siti Nuliya
raymond perlu cerita ttg renzela di bar itu kan. lanjutttt
2022-08-18
0
Dian
ayo Mario tlp Renzela
2022-08-17
0
azril arviansyah
lanjut
2022-08-17
0