Siapa kau?

Dari arah lain, Kenzo terlihat melewati area locker, satu tangannya stay cool di saku celananya, dan satu tangannya lagi membawa sebuah cup kopi. Entahlah semenjak dia melupakan gamenya, kini sebuah kopi selalu menjadi teman baik di segala situasi, baik di kala santai maupun di kala gundah, segelas kopi selalu menenangkan pikirannya, namun tidak dengan saat ini, sepertinya kopinya itu harus terbuang sia-sia dikala matanya melihat sesuatu yang menjengkelkan di depannya. "Aisst," dia langsung berjalan cepat, dengan sengaja menabrak punggung seseorang di depannya yang tengah bersiap akan menyerang temannya.

Brug... Crash... Cup kopi itu tumpah, bahkan cairan keruh itu sampai membasahi punggung orang di depannya, "Jir, kenapa menghalangi jalan hah? lagi-lagi kopi gue tumpah," decak nya dengan menyeringai tipis, dia yang menabrak, dia yang sengaja menjatuhkan kopi nya, dia juga yang marah-marah, sungguh peringatan yang sempurna agar kelima anggota Black Swan itu tidak bertingkah sesukanya.

"Ken?" Raymond sampai kaget, sesaat bisa bernapas lega, kedatangan Kenzo sukses menarik perhatian kelima lelaki ini sampai membatalkan penyerangnya, tapi walau begitu bagaimana dengan nasib mereka selanjutnya.

Austin yang jadi korban sampai menggeram dan langsung menoleh ke belakang, "Aisst, dasar junior kurang ajar." tatapannya begitu dingin, dia teramat kesal terlebih punggungnya terasa begitu lengket karena cairan kopi itu.

"Kenapa? kau yang menghalangi jalan, membuat uang jajan ku keluar sia-sia," Kenzo lagi-lagi menyeringai tanpa dosa, bahkan alasan konyolnya itu membuat Austin semakin melebarkan matanya. Dia pun langsung memberi isyarat pada Raymond untuk mendekat ke arah nya. "Kau tidak apa-apa?" bisik nya setelah Raymond berdiri tegak di sampingnya.

Raymond langsung memberi isyarat kalau dia tidak apa-apa, tapi terlebih dari itu, bagaimana sekarang? Kelima lelaki ini sudah terlihat begitu marah pada mereka.

Situasi sampai semakin tegang, Dominic benar-benar di buat geram oleh junior itu, "Kalian sudah latihan dengan cukup keras kan?" ucapnya menyeringai pada keempat rekannya, buktikan kalau salah beras Kenzo berani mengusik mereka, kali ini junior itu pasti tidak akan baik-baik saja. "Sekalipun kau merengek, gue tidak akan melepaskan mu, Kenzo." ancam nya. Dia langsung menggerakkan tangan memberi isyarat kepada keempat rekannya untuk maju sama-sama.

"Ken!" Raymond mulai memanggil lelaki itu, dia sudah tahu bagaimana buas nya mereka, mungkin dia bisa berjaga-jaga, tapi bagaimana dengan temannya ini, terlebih dia tidak mungkin totalitas melawan mereka, agar tidak memancing kecurigaan. "Kau yakin bisa memang?" bisik nya lagi sambil mengambil posisi. Kelima orang itu mengelilingi mereka, dia pun langsung merapatkan tubuhnya membuat posisi mereka saling membelakangi.

"Tenang lah, cukup keras kan kepalan tangan mu, dan pukul sesukanya, bila perlu gerakan kaki mu juga." Kenzo sendiri mulai mengambil aba-aba, dia sadar akan pergerakan Raymond, postur tubuhnya yang tengah berjaga-jaga sudah memperlihatkan kalau lelaki ini tidak selemah dugaannya, membuat dia bisa percaya diri bisa lepas dengan mudah dari kelima lelaki ini, walau mungkin mereka akan sedikit terluka.

"Hajar!" Alfred yang mengawali perkelahian, sasarannya adalah Kenzo, dia langsung sekeras mungkin memukul lelaki ini.

"Tidak semudah itu," Kenzo menyeringai, dia sudah tahu pergerakan Alfred, cara berkelahi lelaki itu bahkan sudah bisa ia baca, "Skill mu cukup bagus." ucapnya berusaha mengecoh, detik selanjutnya kakinya langsung bergerak menendang kaki lelaki itu.

Settt....Duk..... Mengenai sasaran, Alfred lengah sampai membungkuk menahan rasa sakit dikakinya, detik selanjutnya Dominic yang maju dan langsung menghajar Kenzo dari belakang. Dukk....

"Argh, sial." Pukulan itu sukses membuat punggung Kenzo serasa remuk. Tapi detik selanjutnya rasa sakit itu terbalaskan, saat Dominic tersungkur di depannya. Raymond rupanya telah menendang lelaki itu dengan cukup keras.

"Sorry, kaki ku kebablasan, Ken." Raymond sampai menyeringai kuda, padahal dia tidak ingin memperlihatkan kemampuan bela dirinya, tapi si ketua Black Swan itu bermain curang dari belakang, membuat dia ingin membalasnya. "Kau tidak apa-apa kan?" tanyanya memastikan keadaan Kenzo.

Ingat tertawa tapi harus menahan sakit, Kenzo hanya tersenyum simpul menanggapi temannya itu, dan kembali berdiri tegak sambil meregangkan punggungnya, "Kau lumayan juga ya, tau gini gue gak akan bela-belain numpahin kopi gue." ucapnya sambil kembali mengambil aba-aba, lengah sedikit saja bisa bahaya.

"Gue tidak sehebat itu, hanya hoki saja." Raymond hanya tersenyum kikuk, benar-benar berlagak polos, seolah itu hanya sebuah kebetulan.

"Argh." Dominic sendiri kembali bangun, "Kalian lihat apa hah. Hajar Bodoh!" Bisa-bisanya keempat rekannya itu malah berdiam diri, melihatnya yang sudah kesakitan.

Pergulatan kembali di mulai, suara pukulan semakin mendominasi, lima lawan dua, pemandangan yang indah di pandang mata, bahkan karena suara ricuh itu sampai memancing mahasiswa lain hingga berkerumun di sana, bukan untuk membantu, bukan untuk melerai, semua mahasiswa yang berkerumun hanya berperan sebagai penonton sejati, tidak sedikit dari mereka yang memuji kemampuan Kenzo dan Raymond yang masih bisa melawan anggota Black Swan, bahkan di antara lima anggota itu sudah ada yang tumbang.

"Kak Dominic, hentikan!" Suara Agahta tiba-tiba terdengar begitu nyaring, dia langsung menghampiri sang Kakak, "Ada apa ini? Kenapa menyerang nya?" ucapnya heran, bukan karena apa-apa, sebenarnya dia sedang mencari perhatian Kenzo saja. Kalau dia bisa meredam kemarahan sang Kakak pasti Kenzo akan sedikit bersimpati pada nya. "Kenzo teman ku." ucapnya lagi.

Kenzo yang mendengar itu sampai bergidik, teman dari mananya, membuatnya jadi muak, "Cabut, Ray!" ajaknya tanpa basa-basi, mau adu jotos pun mendadak tidak mood. Terserah wanita itu sudah datang beranggapan bak pahlawan, tapi baginya wanita itu hanya cabe-cabean.

"Kenapa? Apa ada yang terluka?" Raymond sampai keheranan karena di tarik paksa pergi dari sana. Padahal Agahta sudah membantu melerai mereka, seharusnya mereka akan baik-baik saja.

"Gak terluka, hanya saja muak ada mala petaka." cibirnya kesal, bahkan tangannya langsung merangkul leher Raymond seolah berkata jangan banyak bicara ayo pergi saja, dia sudah tidak sabar ingin melihat hasil informasi yang Mario kirimkan tadi.

Kedua lelaki itu benar-benar pergi, tertinggal Dominic, keempat rekannya berserta Agatha.

"Kau bilang lelaki itu teman mu? Dia bajingan Agahta." Dominic kesal sendiri, bisa-bisanya adiknya itu datang menghancurkan perkelahian mereka, terlebih kenapa mengaggap lelaki itu temannya, sungguh menjengkelkan, padahal dia sudah ingin melihat seorang Kenzo bertekuk lutut di hadapan nya, kini lelaki itu malah pergi begitu saja. "Ayo pergi!" ajaknya pada ke empat rekannya itu, mereka harus segera sampai basecamp, luka Austin cukup parah, Kenzo benar-benar menargetkan playboy itu sudah tahu kalau diantara mereka berempat Austin lah yang paling lemah.

Agahta sendiri hanya bisa gigit jari, di marahi Kakaknya iya, mendapat simpati dari Kenzo tidak, "Sungguh menjengkelkan. Aku hanya ingin dekat dengan Kenzo, kenapa susah sekali."

...***...

"Nih, sepertinya kau membutuhkan nya untuk mengobati memar-memar mu!" Setelah mengolesi memar-memar nya, Raymond langsung memberi salep itu pada Kenzo, patut di kagumi, walau punggung Kenzo terkena pukulan Dominic yang begitu keras, teman barunya yang entah siapa dia ternyata begitu kuat juga, bahkan masih bisa menjatuhkan lawan dan menahan banyak serangan.

"Tidak perlu," jawab Kenzo singkat, dia punya obat alami tidak lain kecupan sang istri, bagaimana tidak, setiap kali dia terluka Tiara selalu kalang kabut dan itulah saat nya dia meminta sang istri mengecup setiap bagian lukanya. Modus kelas tinggi selalu dia lakoni.

Raymond kembali di buat kagum, bahkan Kenzo tidak ada lelah-lelah nya, setelah sampai ruangan pun yang lelaki itu pikirkan bukan luka, melainkan langsung membuka laptopnya entah sedang mengerjakan apa, "Dia terlihat serius sekali." Tidak ingin mengganggu, dia pun memilih mengerjakan tugasnya sendiri. Dia mendapatkan tugas dari sang Mommy untuk mencari informasi tentang Oskar company.

Sesaat suasana hening, Kenzo fokus dengan lingk yang Mario kirimkan, saat lingk itu iya klik, muncullah berbagai data yang mengagetkan nya, "Herbert company!" kaget bukan main, Id itu rupanya berasal dari perusahaan Herbert, dan yang dia tahu Herbert adalah marga Dominic, dan sudah pasti itu adalah perusahaan Ayahnya si ketua Black Swan itu. Bahkan setelah ia scroll ke bawah matanya lebih kaget lagi, histori ID itu bukan hanya di perusahaan sang Aunty, bahkan ada beberapa perusahaan yang juga pernah di jelajahi oleh akun ini.

"Ini gila, berarti percakapan waktu itu bukan main-main. Mereka mengincar perusahaan Aunty." Tangan Kenzo sampai mengepal sempurna, dia butuh Tiara, butuh sosok yang akan akan membantunya. Masalah kali ini cukup di luar dugaan, dia benar-benar langsung menghubungi Tiara, persetan hubungan mereka akan di ketahui Raymond, lelaki itu sepertinya bisa menyimpan rahasia. "Tapi setelah penolakan kerja sama waktu itu, perusahaan mereka tidak pernah datang lagi, apa sebenarnya yang mereka rencanakan." Kenzo sampai memijat pelipisnya, dia masih membutuhkan banyak informasi untuk memperjelas semuanya.

Pikiran Kenzo tiba-tiba terbuyarka, suara ponsel Raymond tiba-tiba terdengar memecah konsentrasi nya. Ingin mengabaikan tapi percakapan itu terdengar jelas di kuping nya.

"Apa Mom?* Raymond mulai berbicara, rupanya Mommy nya itu sudah menunggu penelusuran nya mengenai perusahaan yang kemungkinan besar sasaran baru target mereka. "Perusahaan Oskar company tidak terlalu mencolok, Mom. Tidak terlalu banyak informasi yang bisa kudapatkan." ucapnya memberikan jawaban.

Kenzo yang mendengar itu, sontak naik pitam, dia sedang kesal karena informasi yang dia dapatkan dari Mario masih penuh teka teki, dan kini Raymond tiba-tiba membicarakan perusahaan sang Aunty, membuatnya malah mencurigai lelaki ini, "Untuk apa kau mencari tahu informasi tentang Oskar company?" tanpa basa-basi dia langsung bertanya.

Raymond sampai terkejut, terlebih Kenzo menatapnya dengan tatapan tajam, "Aisst, aku lupa kalau ada Kenzo, dia pasti mendengar nya." Dia sampai bingung harus memberi alasan, tidak mungkin kalau memberi tahu semuanya.

"Jawab, kenapa kau mencari informasi tentang Oskar company?" Kenzo sampai meninggikan suaranya karena tidak ada jawaban, bahkan dia langsung berdiri menghampiri lelaki itu, "Jawab!"

"Tenang Ken," Raymond sampai bingung kenapa Kenzo bisa semarah itu, ingin bicara tapi terhenti karena Kenzo kembali bicara.

"Apa mungkin kau sebenarnya antek-anteknya Herbert?" Tangan Kenzo sampai bergerak mencekam kerah kemeja lelaki ini, bicaralah! Jangan membuatnya kecewa padahal dia sudah menganggap lelaki ini orang baik. "Kenapa masih diam hah?"

Raymond sampai tertegun, bukan karena apa-apa, dia hanya kaget karena Kenzo juga mengenal sosok Herbert, "Sebenarnya kau siapa?" Dia malah berbalik bertanya karena penasaran siapa Kenzo sebenarnya.

"Aisst," Kenzo malah kesal, kini tangannya benar-benar bergerak ingin memukul lelaki ini, tidak ada toleransi, jika pertanyaan nya dibalas dengan pertanyaan maka akhirnya tangan lah yang bicara.

Cklek.... Pintu ruangan terbuka, bersamaan dengan masuknya Tiara kedalam sana, dia sontak sampai terkejut dengan pemandangan yang dia lihat, "Kenzo, apa yang kau lakukan?" Dia lekas menutup pintu dan menghampiri suaminya itu, melepaskan cengkraman tangannya, dan bertanya apa yang terjadi.

"Kalian saling kenal?" Raymond lagi-lagi di buat terperangah, bahkan dia tidak sadar kalau Kenzo akan kembali memukulnya.

"Ken, hentikan!" Tiara kembali mencegah tangan itu. Bicarakan lah dulu sebelum main kekerasan. "Sebenarnya ada apa?" tanyanya heran, bukannya tadi saat di kelas kedua lelaki itu terlihat baik-baik saja.

"Dia sangat mencurigakan, bahkan dia tengah menelusuri informasi tentang Oskar company." Kenzo menjawab sambil menatap Raymond dengan begitu sinis. Kesal sendiri karena lelaki itu masih diam saja.

Tidak ingin memperkeruh suasana, Raymond pun langsung mengeluarkan sebuah kartu nama, "Ini kartu nama Mommy ku. Aku bagian dari anggota kepolisian, karena beberapa alasan kami harus mendapatkan informasi tentang Oskar company demi memperlancar penyelidikan." Terpaksa harus menguak siapa dirinya karena dia pun sebenarnya penasaran siapa Kenzo kenapa bisa kenal dengan Herbert, bahkan sampai mengira kalau dia juga antek-anteknya.

Terpopuler

Comments

Moch Iqbal Firdaus

Moch Iqbal Firdaus

lanjut Thor upnya,

2022-08-17

0

Dede Tasuah

Dede Tasuah

ayo Kenzo jujur sama Raymond siapa kamu....dan kamu bisa bekerjasama dengan dia tuk melawan ayahnya Dominic
tambah lagi ka upnya 😁😁😁

2022-08-16

0

Arif Widia

Arif Widia

KEREN KENSO SUDAH ADA 3 ANGOTA 4 SAMA MOMY RAY.

2022-08-16

0

lihat semua
Episodes
1 Keluarga Aunty Naura.
2 Harus terpisah.
3 Anggota Black Swan
4 Percakapan mencurigakan.
5 Akibat huru hara.
6 Sebuah tameng.
7 Target satu, pesuruh baru.
8 Siapa wanita itu?
9 Satu VS Lima
10 Kau berulah, Aku bertingkah.
11 Berusaha menguak informasi.
12 Sebuah acting.
13 Kecolongan.
14 Berjaga-jaga.
15 Kakak sepupu palsu.
16 Berbeda kelompok.
17 Siapa kau?
18 Kerja sama.
19 Berusaha masuk anggota Black Swan.
20 Kekecewaan.
21 Kau permainkan sepupuku, akan ku permainkan adik mu.
22 Jangan mengecewakan ku.
23 Butuh penjelasan.
24 Menanam saham.
25 Titik terang.
26 Kalung yang sama.
27 Lampu hijau.
28 Amarah.
29 Renzela menghilang.
30 Trik licik, Herbert.
31 Pria Asing.
32 Mendapatkan tanda tangan.
33 Ancaman baru.
34 Sinyal ponsel.
35 Lelaki misterius.
36 Rencana makan malam.
37 Saling memanfaatkan.
38 Hotel mewah.
39 Kecolongan.
40 Permainan.
41 Pertolongan.
42 Rasa Terima kasih,
43 Menyeimbangkan kekuatan.
44 Istirahat nya Anggota Black Swan.
45 Perintah Daddy.
46 Meminta bantuan Alberto.
47 Sandiwara
48 Ajakan Dominic.
49 Renzela dalam bahaya.
50 Ketakutan.
51 Akan menjelaskan.
52 Tamparan.
53 Surat perjanjian.
54 Persiapan tugas kampus.
55 Pengumuman update.
56 Sebuah Buku.
57 Obat-obatan.
58 Durian runtuh.
59 Berhati-hati.
60 Keroyokan.
61 Akan pulang.
62 Terjebak.
63 Karena Renzela.
64 Kecelakaan
65 Kalian mulai, kita layani.
66 Aku baik-baik saja.
67 Hati yang terluka.
68 Bersitegang.
69 Hubungan Darah.
70 Surat wasiat.
71 Mulai terbuka.
72 Kegelisahan.
73 Hampir putus asa.
74 Saran yang tidak masuk akal.
75 Kriteria yang pas.
76 Membujuk Renzela.
77 Seleksi awal.
78 Akhirnya memutuskan memilih calon suami.
79 Ibu dari anak-anakku.
80 Kisah tentang Renzela sudah hadir
81 Negosiasi.
82 Orang-orang memuakkan.
83 Sogokan yang sempurna.
84 Keuntungan satu Miliar.
85 Bagi hasil saham.
86 Membutuhkan Karyawan Baru
87 Pelamar Kerja.
88 Rencana Tiara.
89 Menggemparkan kantor.
90 Masuk perangkap.
91 Gara-gara Seblak.
92 Di kira Settingan.
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Keluarga Aunty Naura.
2
Harus terpisah.
3
Anggota Black Swan
4
Percakapan mencurigakan.
5
Akibat huru hara.
6
Sebuah tameng.
7
Target satu, pesuruh baru.
8
Siapa wanita itu?
9
Satu VS Lima
10
Kau berulah, Aku bertingkah.
11
Berusaha menguak informasi.
12
Sebuah acting.
13
Kecolongan.
14
Berjaga-jaga.
15
Kakak sepupu palsu.
16
Berbeda kelompok.
17
Siapa kau?
18
Kerja sama.
19
Berusaha masuk anggota Black Swan.
20
Kekecewaan.
21
Kau permainkan sepupuku, akan ku permainkan adik mu.
22
Jangan mengecewakan ku.
23
Butuh penjelasan.
24
Menanam saham.
25
Titik terang.
26
Kalung yang sama.
27
Lampu hijau.
28
Amarah.
29
Renzela menghilang.
30
Trik licik, Herbert.
31
Pria Asing.
32
Mendapatkan tanda tangan.
33
Ancaman baru.
34
Sinyal ponsel.
35
Lelaki misterius.
36
Rencana makan malam.
37
Saling memanfaatkan.
38
Hotel mewah.
39
Kecolongan.
40
Permainan.
41
Pertolongan.
42
Rasa Terima kasih,
43
Menyeimbangkan kekuatan.
44
Istirahat nya Anggota Black Swan.
45
Perintah Daddy.
46
Meminta bantuan Alberto.
47
Sandiwara
48
Ajakan Dominic.
49
Renzela dalam bahaya.
50
Ketakutan.
51
Akan menjelaskan.
52
Tamparan.
53
Surat perjanjian.
54
Persiapan tugas kampus.
55
Pengumuman update.
56
Sebuah Buku.
57
Obat-obatan.
58
Durian runtuh.
59
Berhati-hati.
60
Keroyokan.
61
Akan pulang.
62
Terjebak.
63
Karena Renzela.
64
Kecelakaan
65
Kalian mulai, kita layani.
66
Aku baik-baik saja.
67
Hati yang terluka.
68
Bersitegang.
69
Hubungan Darah.
70
Surat wasiat.
71
Mulai terbuka.
72
Kegelisahan.
73
Hampir putus asa.
74
Saran yang tidak masuk akal.
75
Kriteria yang pas.
76
Membujuk Renzela.
77
Seleksi awal.
78
Akhirnya memutuskan memilih calon suami.
79
Ibu dari anak-anakku.
80
Kisah tentang Renzela sudah hadir
81
Negosiasi.
82
Orang-orang memuakkan.
83
Sogokan yang sempurna.
84
Keuntungan satu Miliar.
85
Bagi hasil saham.
86
Membutuhkan Karyawan Baru
87
Pelamar Kerja.
88
Rencana Tiara.
89
Menggemparkan kantor.
90
Masuk perangkap.
91
Gara-gara Seblak.
92
Di kira Settingan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!