"Kakak sepupu?" Dominic sampai kembali mengulang kata itu, menatap punggung Renzela yang sudah berjalan ke luar dengan penuh heran, yang dia tahu Bernard tidak mempunyai sodara, kenapa sekarang tiba-tiba ada seorang sepupu yang menelepon gadis itu, "Si Arthur memang tidak becus mencari informasi." umpatnya sambil melangkahkan kakinya mengikuti Renzela, dia harus menunggu gadis itu dan membawanya lagi ke dalam.
"Lex, cepat keluar! bila perlu bawa obat bius sekalian, aku sudah membawa Renzela tapi gadis itu malah kembali keluar," titahnya pada Alex setelah dia melakukan panggilan telepon pada lelaki itu, dia sudah kesal, jika Renzela tetap menolak dia benar-benar harus bergerak paksa. "Cepat!"
"Sama anak SMA saja kau kalah, Do. Masa gak bisa ngajak dia masuk." Alex sampai menyeringai penuh ledekan, walau begitu dia langsung beranjak berdiri, untung segala sesuatu yang Dominic minta satu tersedia, karena properti itu memang sudah di siapkan sejak awal. "Gue keluar sekarang."
Sementara itu keadaan luar, Renzela langsung mengangkat panggilan itu, "Apa Kak?" hatinya sudah harap-harap cemas, dia harus memutar otak untuk mencari alasan; alasan untuk pergi dari sana dan alasan menyembunyikan fakta dari Kakak sepupunya itu kalau dia sedang berada di sebuah Bar, terlebih dengan pacarnya. "Ayolah Renzela berpikir," Dia tidak ingin menyinggung kedua lelaki itu, tidak ingin memancing amarah Kenzo takut di paksa putus, dan tidak ingin pula menyinggung perasaan Dominic karena bagaimanapun lelaki itu ada sisi baiknya saat dia memanfaatkan nya untuk mengantar jemput nya ke sekolah.
"Kau di mana?" Kenzo langsung bertanya, suara suasana di sekitar Renzela sampai terdengar masuk di ponselnya. Membuatnya penasaran apa yang tengah di lakukan adik sepupunya itu, "Jangan bilang kau sedang jalan dengan pacar mu itu, Renzela." suaranya sampai semakin tegas, karena mengkhawatirkan Renzela dia sampai lupa maksud awalnya menghubungi gadis ini.
Renzela sampai bergidik, dia sempat berpikir apakah Kakak sepupunya itu punya mata batin, kenapa tebakannya selalu saja benar, dia pun langsung melihat sekitar, untuk mencari alasan, "Bagaimana ya apa aku jujur saja, tapi kalau Kak Kenzo tahu dan langsung ke sini memarahi Dominic bagaimana? aku masih membutuhkan tumpangannya kalau ke sekolah." batinnya malah komat kamit, bahkan dia sempat-sempatnya berpikir tidak mau putus karena membutuhkan tumpangan Dominic dan memanfaatkan nya.
"Renzela! Kenapa tidak bicara. Kau di mana hah?" Kenzo kembali bicara, tingkah adik sepupunya itu sangatlah mencurigakan membuatnya kepikiran. "Jangan berpikir untuk berbohong karena aku bisa dengan mudah melacak lokasi mu." ucapnya lagi.
Renzela sampai menghela nafas, "Tidak, kak. Aku baru pulang sekolah, dan harus mengerjakan tugas sekolah bersama teman-teman." jawabnya mencari alasan, bukan tidak ingin berkata jujur, dia hanya kasihan pada Kenzo, jika Kakak sepupunya tahu posisinya sekarang, dia pasti akan langsung bergerak menyusulnya. "Aku harus bisa menjaga diri sendiri agar tidak menyusahkan Kak Kenzo." batinnya sambil menoleh ke arah pintu masuk Bar. Dia akan berusaha sendiri untuk tidak masuk lagi ke tempat itu, tanpa mengecewakan Dominic, dan tidak mau membuat Kakak sepupunya gelisah mengkhawatirkan nya.
"Kak, teman-teman ku sudah menunggu, sudah dulu ya." Tanpa mendengar jawaban Kenzo, Renzela langsung mengakhiri panggilannya.
Di sudut lain di area yang sama, terlihat sebuah mobil berhenti di dekat area Bar, seorang wanita paruh baya berseragam kepolisian mulai menghentikan laju mobilnya sambil melihat keadaan, "Ray, kau yakin mereka di sekitaran sini?" tanya wanita itu pada putranya yang duduk persis di bangku mobil depan disebelahnya. Misi nya kali ini cukup susah sampai dia harus meminta bantuan putranya.
"Seharusnya di sekitar sini, Mom. Tadi aku melihat mobil mereka menuju arah sini. Kalau tidak salah Bar ini yang selalu menjadi tempat tongkrongan mereka." timpal pemuda itu. Dia langsung bersiap untuk turun, menjadi putra dari seorang petugas kepolisian membuatnya harus ikut turun tangan membantu sang Mommy, terlebih target-target nya cukup lihai dalam menyembunyikan kesalahan. "Aku turun di sini," ucapnya sambil membuka pintu.
"Hati-hati, sayang. Jangan bergerak gegabah. Kau hanya perlu memata-matai mereka saja!" titah wanita paruh baya itu, dan kembali melajukan mobilnya untuk menghilangkan kecurigaan.
Sedangkan Pemuda itu sendiri mulai melangkahkan kakinya, merapihkan jaket beserta topinya agar wajahnya tidak terlalu terekspose sepenuhnya. Hendak melangkah menuju pintu Bar tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat ada suara wanita memanggilnya.
"Hai, Kak. Maaf, apa aku bisa meminta bantuan Kakak?" Renzela langsung menghampiri pemuda itu, persetan lelaki ini siapa, yang penting dia membutuhkan bantuan nya, "Ini mendesak, Kak. Aku mohon, hanya sebentar kok!" rengek nya lagi memohon.
Pemuda itu sampai di buat heran, ada apa dengan gadis berseragam SMA ini, "Kau kenapa, apa yang harus ku bantu?" ucap lelaki itu. Walau sedikit heran karena begitu tiba-tiba, itulah memang tugasnya membantu orang.
"Jadilah Kakak sepupuku," Renzela bahkan langsung menarik jaket lelaki itu, tidak ada waktu untuk menjelaskan, keburu Dominic keluar Bar. "Hanya sebentar kok," ucapnya lagi tanpa dosa.
"Hah?" Pemuda itu sampai dibuat menohok, terkejut bukan main, mimpi apa dia semalam sampai tidak ada hujan tidak ada angin di minta menjadi Kakak sepupu oleh seorang gadis SMA, terlebih kenapa dia di tarik-tarik, tidak di tarik pun dia memang akan masuk ke dalam. "Hei, apa yang kau lakukan?" Situasi macam apa ini, dia malah semakin kebingungan.
"Itu, dia. Ku mohon, jadilah Kakak sepupuku di depannya, dan langsung bawa aku pergi dari sini!" ucap Renzela lagi sedikit menjelaskan, baginya tidak apa terlihat aneh di depan orang yang tidak di kenal dari pada mengecewakan pasangan nya.
Pemuda itu sampai tidak punya kesempatan untuk bicara dan menolak, gadis SMA ini benar-benar menariknya ke hadapan lelaki yang wanita itu tunjuk, "Dominic!" terkejut bukan main, ini lebih mengejutkan lagi dari pada saat wanita ini meminta dia menjadi Kakak sepupunya. "Kenapa wanita ini bisa berurusan dengan nya?" Dia sampai menundukkan wajahnya agar Dominic tidak bisa melihat jelas wajahnya. Situasi yang benar-benar mengejutkan, tapi sepertinya akan berkahir menguntungkan.
Dominic yang melihat kedatangan Renzela bersama seorang lelaki sampai terkejut, "Siapa, dia?" ucapnya langsung bertanya, bahkan dia langsung memberi kode pada Alex untuk menghentikan rencananya, Renzela datang dengan seorang lelaki, mereka tidak boleh gegabah, apalagi sampai membius nya.
"Ini Kakak sepupuku, ada urusan mendesak jadi dia langsung menjemput ku, maaf aku harus segera pulang." Raut wajah Renzela sampai terlihat meyakinkan, dia benar-benar harus pergi dari Bar ini, dan semoga saja Dominic tidak kecewa padanya, terlebih mencurigai sandiwaranya. "Sekali lagi maaf, ya. Setelah sampai di rumah nanti ku hubungi lagi." ucapnya lagi sambil tersenyum manis pada pacarnya itu. Ingin langsung beranjak pergi, tapi lelaki yang sedari tadi berdiri di sampingnya malah sama-sama berpamitan melengkapi sandiwaranya.
"Maaf telah mengganggu acara nya, Saya harus mengajak nya pulang."
Renzela sampai terkejut, lelaki ini benar-benar membantunya, bahkan sandiwaranya begitu sempurna sampai berbungkuk berpamitan pada Dominic.
"Iya, tidak apa-apa. Pulanglah dengan selamat." Dominic hanya bisa mengendus dalam hati, ini memang kesalahan rekannya yang tidak bisa menguak informasi dengan benar sampai tidak pernah tahu kalau Renzela mempunyai Kakak sepupu seorang lelaki, membuatnya harus bergerak lebih berhati-hati. Bisa-bisa tingkahnya malah di curigai.
Renzela dan pemuda itu benar-benar sudah pergi keluar, jika tadi Renzela yang menarik pemuda itu, sekarang keadaannya terbalik, pemuda itu langsung berjalan cepat menarik tangan Renzela untuk menjauh dari area Bar bahkan langsung menuju tempat sepi untuk menyelesaikan kebingungan yang tengah terjadi.
"Siapa kau, dan apa hubungan mu dengan lelaki itu?" tanya lelaki itu penasaran. Sekarang tidak penting membahas tentang sepupu palsu, yang lebih penasaran siapa wanita ini dan apa hubungannya dengan Dominic.
Renzela sampai menyeringai malu, inilah saatnya dia menjelaskan semuanya, "Terima kasih atas bantuan Kakak, dan maaf. Aku Renzela!" Dia langsung mengulurkan tangannya memperkenalkan diri, dia bisa menebak kalau lelaki ini pasti orang baik karena tadi mau membantunya tanpa mengetahui situasi nya.
"Raymond!" Raymond ikut memperkenalkan diri dan menerima uluran tangan gadis SMA ini, tidak habis pikir kenapa gadis ini begitu polos, bagaimana jika dia orang jahat, budaknya membantu, gadis ini malah akan terkena masalah, "Apa kau tidak sadar apa yang barusan itu sangatlah beresiko, bagaimana kalau orang yang kau mintai tolong orang jahat dan malah berbalik menyakiti mu?" ucapnya memberi nasehat.
Renzela sampai tersenyum kikuk, dia tahu itu, tapi apa yang dia lakukan tidak gegabah, "Tadi tanpa sengaja aku melihat Kak Raymond turun dari mobil, dan aku lihat orang yang di dalam mobil itu mengenakan pakaian polisi, jadi aku yakin Kakak pasti orang baik." ucapnya dengan begitu polos.
Raymond sampai menghela nafas, ada-ada saja gadis ini, "Lalu siapa lelaki yang tadi, kenapa kau meminta ku menjadi Kakak sepupu mu untuk menghindari nya?" tanyanya penasaran. Dia bukan tidak tahu siapa Dominic, karena memang mereka lah targetnya, tapi dia penasaran ada hubungan apa gadis ini dengan lelaki itu.
"Dia pacar ku, dari tadi aku terus di ajaknya ke Bar itu karena mau menemui teman-teman nya, tapi aku tidak bisa karena takut Kakak sepupuku bakalan marah kalau aku ada di sana." Renzela kembali menjelaskan, salah dia sendiri telah memanfaatkan lelaki ini jadi dia harus menceritakan semuanya.
"Pacar?" Raymond sampai di buat heran, seorang Dominic yang dia kenal mungkinkah memiliki seorang pacar. "Apa mungkin mereka sudah bergerak kembali dan mulai mencari target lagi?" batinnya bertanya-tanya, sepertinya wanita ini yang akan menjadi sumber informasi nya sekarang. "Apa aku boleh tahu kau dari keluarga mana?"
Renzela sesaat terdiam, ini tidak ada sangkut pautnya dengan masalah dia ingin menghindari Dominic, tapi kenapa lelaki itu malah bertanya hal itu, "Sepertinya pertanyaan itu tidak harus ku jawab."
Raymond sampai tersenyum kecil, walau terlihat polos tetapi wanita ini cukup berhati-hati juga, "Anggap saja itu sebuah kompensasi karena kau telah memanfaatkan ku, Renzela." ucapnya masih kukuh, dia benar-benar harus tahu dari keluarga mana wanita ini, untuk mempermudah penyelidikan nya.
"Oskar company, aku putri dari pemilik perusahaan itu." Iya, mau tidak mau Renzela harus menjawab, toh walau di sebutkan pun, lelaki ini mana tahu perusahaan sang Ayah, perusahaan keluarga nya tidak sebesar perusahaan lain sampai di ketahui banyak orang. "Sudah kan, apa aku boleh pergi sekarang?"
"Tunggu, karena aku sudah terlanjur menjadi Kakak sepupu palsu mu, aku harus memastikan kau sampai rumah," Raymond langsung mengambil ponselnya untuk memesan taksi, dan setelah itu dia langsung mengirimi chat pada Mommy nya.
💬 Mom, aku sudah mendapatkan informasi, sepertinya Pak Herbert mulai melancarkan aksinya lagi, aku melihat putranya berhubungan dengan seorang wanita yang kemungkinan itu adalah putri dari pemilik perusahaan yang akan menjadi target mereka."
...☘️☘️☘️...
Hayoh, masih ingat nama Raymond kan? Kali ini sosok nya mulai terkuak dan muncul kepermukaan.
Apa ada yang bisa menebak bagaimana peran Raymond di sini?
Coba tuliskan sudut pandang kalian di kolam komentar ya☺️
To be continued......
💞💕💕💕💕💕💕💕💕💕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
princess
detektif mugkin
2022-08-16
0
Arif Widia
Ternyata sahabat kenzo anak polisi,...keren thor
2022-08-16
0
Shinta
moga renzela segera tau rencana Dominic , uhhh ternyata Babang Kenzo memilih teman yg tepat yaitu Babang Reymond 🥰💪💪💪
2022-08-14
0