Kenzo langsung menyandarkan kepalanya di sofa ruangan itu, bahkan satu tangannya langsung memijat pelipisnya, bisa-bisanya di hari pertama dia survey ke kantor, malah sebuah masalah yang dia dapati. "Argh, sungguh memusingkan," Di kampus habis babak belur gara-gara anggota Black Swan, ekh saat di kantor dibuat pusing oleh Uncle Bernard.
"Tolong ambilkan kopi!" pintanya pada salah satu ketiga lelaki itu, dia butuh merilekskan pikiran nya, dan seperti biasa sebuah kopi akan menenangkan otaknya. "Kembalilah ke tempat kerja masing-masing!" titahnya pada dua bawahan nya yang masih ada di sana. Marah-marah pun percuma, semuanya sudah terjadi. Sekarang hanya perlu menunggu Uncle nya kembali untuk melakukan diskusi.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tiara ikut duduk di samping Kenzo, dia tahu ini merupakan beban berat, mereka harus bertanggung jawab besar, menata pemasukan dan pengeluaran keuangan perusahaan agar perusahaan bisa beroperasi lebih baik, dan tentunya dengan keuntungan yang lebih besar, tapi sayang, kuasa masih ada di tangan Uncle Bernard sampai mereka tidak bisa bertindak sesukanya.
"Entahlah, kita lihat nanti saat sudah bertemu dengan Uncle." Kenzo yang awalnya menyandarkan punggungnya di sofa kini berpindah haluan memilih merebahkan tubuhnya dan menjatuhkan kepala di pangkuan Tiara, beralaskan bantal paha sang istri memang lebih nyaman. Fakta tentang sebuah pengeluaran uang perusahaan yang tidak stabil membuatnya pusing, ada banyak pertanyaannya yang ingin ia lontarkan pada Uncle nya, tapi sayang lelaki itu malah tidak ada.
"Harold company, nama itu kenapa terasa tidak asing," ucapnya lagi tiba-tiba.
Dari hasil penelusuran yang Mario cari, ID yang meretas perusahaan ini berasal dari perusahaan besar, meski belum terlacak semua data-data nya tapi dia bisa menafsirkan kalau ID itu milik perusahaan yang mengajukan kerja sama minggu lalu yang tidak di setujui Uncle nya. Tapi kenapa sekarang malah tiba-tiba ada sebuah perusahaan lain yang mengajukan kerja sama, dan parahnya Uncle nya itu malah menyetujui itu.
"Haruskah kita menyuruh Mario untuk kembali mencari informasi tentang perusahaan itu?" ucapnya lagi meminta pendapat Tiara. Harold company perusahaan IT, mereka bergerak di dunia Maya, karena berbeda haluan, sedikit kemungkinan perusahaan itu ada sangkut pautnya dengan perusahaan yang kemarin. Tapi tetap saja mereka harus berjaga-jaga. Terlebih kenapa Harold company mematok harga begitu tinggi sebagai transaksi kerja sama.
"Coba saja, kita lihat, mungkin di surat kontrak ataupun kartu nama perusahaan mereka ada salah satu akun mereka," Tiara ikut memberi saran, jika meretas informasi untuk kebaikan kenapa harus di ragukan, toh apa yang di inginkan suaminya tidak berniat untuk merugikan.
"Padahal aku belum membayar hasil tugasnya yang kemarin, sekarang malah harus meminta bantuannya lagi," ucap Kenzo sambil mengambil ponsel untuk menghubungi Mario, dia harus menghubungi lelaki itu sekarang agar permintaannya tidak terlalu mendadak dan merepotkan nya.
"Emang kau menjanjikan apa padanya?" Tiara sampai penasaran, tidak dengan uang sepuluh juta seperti waktu membayar sebuah foto kan.
Bukannya menjawab, Kenzo malah menyeringai, bahkan dia tidak menjawab pertanyaan Tiara karena sambungan telepon nya sudah terangkat, sampai suara Mario sudah terdengar jelas di balik ponselnya.
"Mau apa lagi sekarang, minta bantuan lagi? ogah Gue, yang kemarin juga belum dibayar," cecar Mario di sebrang sana.
Kenzo sampai menahan tawa, "Iya-iya, Gue akan kasih nomer Renzela, tapi bereskan dulu tugas yang kemarin, apa sudah ada titik terang?" tanyanya memastikan. Kerja Mario sangat bagus, dia malah senang kalau lelaki ini dekat dengan sepupunya.
"Sudah, bahkan gue menemukan histori ID ini, Ken. Dan hasilnya sangat mengejutkan." timpal Mario mulai bicara dengan mode serius, dia sendiri begitu terkejut, teman satunya ini benar-benar harus lebih berhati-hati, terlebih sedang berada di luar negeri, segala kemungkinan pun bisa terjadi. "Setelah semuanya kelar, nanti ku kirimkan lingk bio nya." timpal nya lagi.
Kenzo sesaat terdiam, dia jadi tidak tega jika harus kembali meminta bantuan Mario, lebih baik bereskan dulu masalah ini, setelah itu baru mencari tahu tentang Harold company, "Thanks, gue tunggu informasi nya."
"Jangan thanks-thanks doang lah, mana bayaran nya!" cecar Mario lagi, enak saja bayaran nya hanya sebuah ucapan saja.
Kenzo sampai terkekeh, sambil menatap sang istri, seolah berkata inilah bayaran yang dia janjikan. "Iya, ni gue langsung kirimkan nomor Renzela, dan berusahalah! gue berharap besar Lo bisa menarik hatinya," ucapnya penuh harap, dia bukan mau memaksa perasaan Mario, hanya saja dia tidak rela kalau Renzela berpacaran dengan lelaki asing terlebih ini di luar negeri, karena sejujurnya setelah menyelesaikan kuliahnya di Landon, dia ingin sekali kembali membawa Sang Aunty dan Renzela kembali ke Indonesia. "Dia sudah punya pacar, tapi berusahalah ambil hatinya!" titahnya lagi.
Mario di sebrang sana sampai terbatuk-batuk, "Apa sudah punya pacar?" kaget setengah mati, bisa-bisanya Kenzo menyuruhnya menjadi perusak hubungan orang, "Kau gila, Ken? Masa iya nyuruh gue jadi pebinior. Ogah Gue, takut kena azab, kayak di sinetron-sinetron." tolaknya tidak bisa, sudah harus LDR-AN, ekh ternyata malah merusak hubungan orang.
"Aisst," Kenzo sampai berdecak, teman satunya ini memang ada-ada saja, "Terlalu banyak nonton sinetron Lo, tidak akan terkena azab, orang mereka masih pacaran," timpalnya kesal. Kalau melanggar etika dia juga tidak akan pernah menyuruhnya. "Berusahalah, gue percaya pada Lo!" ucapnya lagi dan langsung mengakhiri panggilannya, kalau terus di layani pembicaraan mereka akan semakin sana-sini.
Tiara hanya diam, dengan tangan bergerak lembut mengelus-elus rambut Kenzo, percakapan kedua lelaki itu memang selalu heboh, dia jadi berpikir, akan seperti apa kedua lelaki ini kalau sampai di persatukan dalam hubungan keluarga.
"Kenapa, apa keberatan jika aku mendekatkan Mario dengan Renzela?" Kenzo sampai bertanya karena heran melihat ekspresi Tiara yang diam seribu bahasa.
"Tidak keberadaan, justru lebih baik, bukan hanya bisa menjalin hubungan kekeluargaan yang baik, kalian juga bisa menjadi partner kerja yang baik."
Tangan Tiara terus mengelus kepala Kenzo, setelah membahas Renzela dia malah kembali mengingat nama Jovanika yang tadi di bahasa nya, "Ken, apa kau tanya saja pada Renzela, mungkin dia tahu siapa itu Jovanika, seperti nama wanita." ucapnya mulai mencurigai sesuatu. Jika itu memang seorang wanita, apa mungkin itu wanita yang waktu malam itu saat di asrama kampus.
"Iya, biar aku coba hubungi Renzela."
...***...
Di ruangan VIP sebuah bar, Alfred, Alex, Austin dan Arthur terlihat duduk di sana, bukan hanya sedang bercanda ria, ke empat lelaki ini sedang meneguk win yang sedari tadi sudah mereka pesan.
"Apa Dominic masih di jalan?" Alfred mulai bicara, walau rasanya terasa aneh harus berpesta pora di siang bolong seperti ini dia mau saja karena ada kabar gembira.
"Iya, katanya dia berhasil membujuk Renzela ikut kesini." Arthur menimpali, tangannya kini kembali mengambil segelas win bagiannya dan meneguknya dengan perlahan.
"Wih, kita benar-benar berpesta?" Austin sampai menyeringai, dia yang lebih penasaran seperti apa sosok Renzela. Wanita kebal, yang tidak tergoda dengan pesona Dominic sampai ketuanya itu mendapat penolakan saat ingin mencium nya. "Jadi penasaran, apa dia juga sebodoh Ayahnya yang mudah di tipu." ucapnya lagi dengan tertawa puas.
Alfred yang mendengar itu sama-sama menyeringai, "Pak Bernard tidak bodoh, Tin. Hanya Ayah mu saja yang licik, membuat umpan yang bagus untuk mencuri perhatian nya, dan setelah umpan nya termakan, kalian langsung mematok harga tinggi agar perusahaan Bernard kelayaban dan kehabisan modal. Dan setelah itu rencana terakhir kita akan di mulai." timpal nya memperlengkap pembicaraan mereka.
Iya, tujuan mereka berkumpul di sini memang untuk merayakan keberhasilan rencana awal mereka untuk melumpuhkan targetnya.
"Apa itu?" Kini Arthur yang bicara, menatap heran pada Alex yang sedang memasukkan sebuah serbuk pada segelas minuman yang ada di depannya, "Apa kau sakiti?" tanyanya lagi.
"Sehat lah, ini untuk Renzela, wanita itu pasti tidak akan bisa meneguk win, makanya aku siapkan ini." Alex menjawab dengan begitu santai, bahkan langsung mengucek minuman itu sampai serbuk itu tercampur rata, "Obat ini akan menghilangkan kesadaran nya." ucapnya lagi dengan tersenyum penuh arti. Sontak ketiga rekannya itu langsung meneguk win nya sudah bisa membayangkan apa yang terjadi.
Sementara itu keadaan di luar Bar, Renzela terus saja celingukan sana sini, "Dominic, apa kita akan masuk ke dalam?" Dia sedikit ragu, walau tidak pernah menginjakkan kaki ke tempat seperti ini tapi dia tahu ini sebuah Bar. Rasanya dia ingin kembali tapi Dominic terus saja menggenggam tangan nya, dan menuntunnya masuk ke dalam.
"Jangan takut, ada aku, aku hanya ingin menemui teman-teman ku sebentar saja." ucap Dominic dengan begitu santai. Dia sudah sangat susuh membujuk Renzela ikut dengannya, masa setelah sampai di tempat yang dia tuju, wanita itu tidak masuk ke dalam.
"Tapi ini kan...." ucapan Renzela sampai terhenti, dia hampir tidak percaya kalau dia benar-benar menginjakkan kaki di tempat seperti ini. "Akh, aku pasti bakal kena marah Kak Kenzo kalau dia tahu aku ada di tempat seperti ini.
"Ini tidak semenakutkan yang kau bayangkan Renzela, jangan gugup. Ayo kearah sini," Dominic kembali bicara, ingin mengajak Renzela masuk tapi wanita itu langsung mengeluarkan ponselnya karena ada sebuah panggilan di sana.
"Kak Kenzo," Antara senang dan takut melihat panggilan masuk itu, Renzela takut kalau Kenzo memarahinya kalau ketahuan ada di sini, tapi juga senang karena punya alasan untuk pergi dari sana.
"Siapa?" Dominic sampai mengendus dalam hati, selangkah lagi mau masuk tapi wanita itu malah berhenti tidak menuruti kemauan nya.
"Maaf, Dominic. Aku harus menerima telepon dari kakak sepupu ku." pamitnya dan langsung berbalik berjalan keluar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Anisnikmah
Raymond itu lho tiba2 seperti teman baik gitu menyembunyikan identitas aslinya gitu
2022-08-14
0
Rosslian ainun
aduhh renzela kamu Akan masuk kandang buaya
2022-08-13
0
Rosslian ainun
nextt
2022-08-13
0