Sebuah acting.

💬 "Ken, kau di mana?"

Sebuah chat sudah terkirim, Tiara dari tadi sudah berada di sekitaran perpustakaan belum masuk kedalam karena Kenzo belum juga menjawab chat dari nya. "Dia di mana coba?" gumamnya lagi sambil menengok sana sini, semalam Kenzo menyuruh menemui nya di perpustakaan tapi tidak tahu lelaki itu ada di arah mana, terlebih perpustakaan kampus sangatlah luas.

💬 "Aku sudah di depan perpus, kau di mana?" tanyanya dalam sebuah chat yang dia kirim.

Sambil menunggu jawaban, Tiara pun melangkah melihat keadaan, rupanya perpus kampus memang sangat luas, melihat dari luar luasnya hampir sama besar dengan kediaman rumah Arya; pamannya.

Tiara terus mengitari sekeliling, sesekali memeriksa ponselnya berharap Kenzo sudah menjawab chat nya, tapi tidak ada, lelaki itu belum juga membalas entah sedang apa? "Apa ku telepon saja?" dari pada menunggu lama dia pun melakukan panggilan tapi tiba-tiba ia urungkan saat ada suara yang memanggil namanya dari belakang.

"Hei, Tiara!"

Suara seorang lelaki terdengar, berharap itu sosok Kenzo, namun yang dia lihat malah Alfred dan keempat temannya.

"Astaga, Alfred!" Tiara sampai tersentak kaget, terlebih di area sana hanya ada dia seorang. Mereka berlima tidak akan macam-macam kan. "Mau apa mereka ke arah sini?"

Bukan hanya Tiara yang kaget, keempat rekan Alfred sampai saling menatap heran, terutama Dominic, sejak kapan seorang Alfred menyapa wanita terlebih dulu, terlebih wanita itu terlihat asing di mata mereka.

"Siapa dia, kau mengenalnya?" tanya Dominic sampai menatap Tiara dengan tatapan dingin. Wajahnya memang cukup cantik, tapi tetap saja wanita itu orang asing.

"Dia Tiara, bukannya aku sudah menceritakannya kemarin, dia wanita yang membuat adik mu merengek uring-uringan." jawab Alfred menyeringai, entah keberuntungan apa kini dia di pertemukan lagi dengan wanita ini. "Dia cukup menarik kan?" ucapnya lagi dengan senyuman penuh arti.

Austin sang penggemar wanita seketika langsung melebarkan mata, "Wih, wanita cantik, nih. Pantesan Agahta begitu kesal padanya, jelas adik mu merasa tersaingi, Do." timpal nya, bukan maksud merendahkan Agahta, dari auranya saja wanita yang di panggil Tiara itu terlihat berbeda.

"Apa kita kerjain saja sekarang?" Arthur yang antusias, sudah lama kan mereka tidak pernah mengerjai wanita. Terlebih katanya wanita itu begitu berani saat menghadapi Agahta, pasti akan lebih seru jika mengerjainya.

Alex sang pakar kesehatan sama-sama melihat Tiara dengan begitu dalam, menatap dari ujung rambut sampai ujung kaki tak terlewati, "Udah gak Virgin dia, sepertinya anak nakal." celetuknya tanpa dosa. Sontak keempat rekannya langsung menatapnya.

"Kau serius, apa seorang Dokter bisa menerawang wanita Virgin atau tidak nya?" Austin sampai tercengang, walau dia seorang playboy dia memang tidak pernah bermain ranjang, sekalipun bermain wanita dia hanya sebatas ciuman, dan bermain tangan.

"Bukan menerawang, hanya bisa membaca postur tubuhnya saja." timpal Alex dengan begitu santai, bahkan dia pernah mengalaminya sendiri saat berpacaran dengan Grace, sebelum dan sesudah dia mengambil keperawanan nya, wanita itu terlihat berbeda.

Alfred sendiri sampai tersenyum tipis, "Kalau begitu berarti Tiara mudah di rayu." ucapnya sambil menepuk pundak Dominic. Seolah berkata, kenapa tidak bermain dengan wanita yang tengah mengusik adiknya saja dari pada bermain dengan Renzela yang tidak mudah di dekati. "Lo, mau? Gue bisa meminta nomor ponselnya." ucapnya menawarkan. Dia yang paling tahu kalau Dominic ketuanya itu paling suka bermain ranjang.

"Terserah," timpal Dominic tak acuh, orang itu hanya wanita asing, asalkan wanita itu tidak melukai adiknya itu tidak apa, dia paling benci berurusan dengan wanita kecuali jika dia punya alasan tersembunyi.

Alfred kini mendekat, begitupun dengan keempat rekannya, mendengar cerita kalau Tiara wanita yang berani merendahkan Agahta mereka jadi penasaran seperti apa wanita itu.

"Sendirian saja?" ucap Alfred basa-basi, matanya langsung tertuju pada ponsel yang sedari tadi di genggaman wanita itu.

Tiara yang sadar akan tatapan itu sontak langsung menyimpan ponsel itu ke dalam tas nya. "Iya, aku hanya sedang lewat ingin masuk kelas, permisi!" Situasi mulai tidak enak, dia memilih untuk pergi, jika malah masuk perpustakaan dia akan lebih terancam, terlebih kalau di dalam tidak ada orang.

"Hei, mau ke mana? Kenapa buru-buru sekali!" Arthur secepat mungkin menarik tas Tiara, enak saja mau pergi begitu saja. "Kenapa tidak berbincang dulu, kau tidak mungkin tidak tahu siapa kita kan?" ucapnya dengan menyeringai membuat wanita itu benar-benar berhenti, dan kembali berbalik menatap mereka.

"Thur, jangan terlalu kasar lah," Alfred sampai tersenyum kecil, si anak gangster ini memang tidak pernah bisa bersabar jika ingin mengerjai orang, "Dia wanita." ucapnya lagi masih dengan menatap Tiara. Seolah menolong, tapi dia hanya ingin mengambil keuntungan saja.

"Bisa minta nomor ponsel mu, sepertinya kita akan sering bertemu!" pintanya to the poin.

Tiara hanya bisa berjaga-jaga sambil memundurkan tubuhnya, "Maaf Kak, aku harus segera masuk kelas!" Dia tidak bisa meladeni mereka, terlebih kenapa meminta nomor ponsel, dia lebih tidak bisa memberikannya.

"Wah, kau menolak?" Arthur yang mudah emosi sampai kesal sendiri, so jual mahal sekali wanita ini. "Atau kau lebih suka kita menyentuh mu!" cibirnya sambil menggerakkan tangan ingin menyentuh tangan Tiara tapi wanita itu dengan cepat menepis tangan nya dengan begitu keras.

"Bisakah jaga sikap anda!" Tiara sampai menyentak lelaki itu dan menatapnya tajam. Jangan mentang-mentang mereka mempunyai kekuasaan bisa bertingkah seenaknya.

"Wah-wah, ternyata galak sekali, seorang Arthur saja sampai di tolak oleh nya," Austin ikut bicara. Dia kira wanita ini murahan seperti mahasiswi lainnya yang akan dengan senang hati jika mereka dekati. Bahkan wanita ini menolak permintaan Alfred, padahal biasanya wanita sendiri yang menghampiri preman kampus itu untuk di akui teman dekat lelaki itu. "Dia tidak nakal, Lex." bisik nya sambil menepuk pundak Alex, tebakan rekan satunya ini ternyata melenceng, wanita itu tidak murahan seperti yang tadi mereka bayangkan.

Dominic sampai tersenyum kecil, "Bukannya ini lebih menarik." timpal nya dengan menyeringai tipis. Dia langsung melangkahkan kakinya semakin dekat menghampiri Tiara berusaha menggoda wanita itu. "Kau merasa tidak nyaman kan di sini?" tanyanya mulai bicara, rupanya wanita ini lebih cantik kalau di lihat dari dekat, "Pergi sana!" ucapnya dengan senyuman penuh arti.

Tiara sampai bergidik takut, mau apa lelaki ini, "Kenzo," dia sampai memundurkan tubuhnya. Berhitung dalam hati dan setelah mencapai tiga dia benar-benar melangkah pergi untuk berlari sekencang-kencangnya. Namun bukannya berlari tiba-tiba,

Brug....

"Aww," Tubuh Tiara menabrak seseorang, bahkan sebuah kopi yang orang itu bawa sampai terjatuh ke lantai dan tumpah mengenai sepatunya.

"Apa kau tidak punya mata? Kau menjatuhkan kopi ku, bodoh!"

Tiara langsung menoleh, dia kenal suara itu, tapi suaranya terdengar begitu kesal bahkan tatapan matanya terlihat begitu dingin. "Kenzo!" Setelah harap-harap cemas akhirnya dia bisa bernapas lega. Untung yang dia tabrak adalah suaminya. Walau sedikit kesal, acting lelaki itu begitu sempurna, sampai membuatnya takut melihat tatapan matanya.

"Minggir! apa kau akan tetap diam menghalangi jalan." Kenzo kembali bicara dengan begitu dingin. Sungguh demi apa, sebenarnya dia tidak tega bersikap begitu pada Tiara, terlebih bagaimana keadaannya setelah ketumpahan kopi, apa keadaannya baik-baik saja. Tadi setelah dia dari kantin dan mendapati sang istri telah di goda kelima anggota Black Swan ini dia begitu kesal. Makanya dia secepat mungkin menghampiri nya, tidak tahu kalau Tiara akan berlari.

Tapi beruntung, dengan adanya tragedi tabrakan itu, Tiara punya alasan untuk kabur dan pergi dari sana dengan selamat tanpa di curigai kalau mereka memiliki hubungan dekat.

"Aisst, kau lagi!" Dominic sampai menatap Kenzo dengan kesal. Bisa-bisanya lelaki ini terus berbuat ulah dan mengusiknya. Mereka jadi kehilangan momen untuk mengerjai Tiara kan.

"Kenapa? Gara-gara kalian kopi gue tumpah, bangsat." Decak nya geram. Pura-pura saja marah karena kopi, padahal dia marah setenang mati karena mereka berani menggoda sang istri. "Aisst, harus beli lagi kan?" umpatnya sambil menendang cup kopi yang tergeletak di lantai, dan langsung berlaju pergi. Cari alasan saja menghindari dari mereka, dia sudah malas ada jotos, dan lebih baik menyusul Tiara dan memastikan keadaannya.

Alfred sampai di buat geram, Tiara yang menjatuhkan kopi nya kenapa marah-marah pada mereka, "Dasar junior sialan, gue benar-benar ingin menghajar nya." decak nya ingin menyusul Kenzo tapi langkah terhenti karena Alex mencegah pergerakan nya.

"Sudahlah! Gue malas terkenal pukulan nya lagi, kita pergi saja."

...----------------...

"Kau tidak apa-apa? maaf sayang!" Bak anak kecil yang merengek telah membuat kesalahan, Kenzo langsung menunduk di pangkuan sang istri. Rasa bersalahnya makin menjadi. Setelah menyusul Tiara dan mengajak nya ketempat sepi dia baru sadar kalau kopinya sudah membuat sepatu Tiara tidak berupa lagi. Bahkan tadi dia sampai membentak nya dengan begitu keras. "Kopi nya tidak panas kan?" tanyanya lagi memastikan.

Tiara sampai tertawa kecil, dan mengelus kepala itu, "Tidak apa-apa, justru aku senang kau datang di waktu yang tepat." ucapnya sambil mengangkat kepala itu, dan mengecup keningnya. "Bangun sini!" pintanya menyuruh Kenzo duduk di samping nya, dia langsung mengitari ruangan yang mereka tempati. Sekarang dia baru sadar kenapa bisa Kenzo menemukan ruangan ini bahkan punya kunci ruangannya. "Tadi kita masuk perpus kan, kenapa kau tahu ruangan ini?"

"Katanya ini ruangan tidak terpakai, Raymond yang memberikan kuncinya." jawab Kenzo dengan tersenyum kecil. Dia langsung duduk di samping sang istri dan memeluknya.

Tiara sampai kaget, baru juga kemarin berkenalan dengan lelaki itu suaminya sudah melak sebuah ruangan. "Kok bisa?" tanyanya penasaran, tapi bukannya menjawab suaminya itu malah bertingkah, mengecup nya sana sini, bahkan kini menggigit lehernya dengan penuh sensual, "Ken, jangan meninggalkan jejak." ucapnya lagi berusaha protes. Dia yang akan risih kalau ada mahasiswa lain yang melihat bekas kecupan itu.

"Biarkan saja, biar seluruh orang tahu, kalau kau sudah ada yang punya, Tiara."

Terpopuler

Comments

Diana Silaen

Diana Silaen

gayanya doang anak geng bisanya bikin onar

2024-02-21

0

Dede Tasuah

Dede Tasuah

semoga geng black swan tunduk sama Kenzo😄😄

2022-08-12

0

Erna Fadhilah

Erna Fadhilah

semoga kenzo sama tiara aman,, malah jadi ketua geng🤭🤭🤭

2022-08-12

0

lihat semua
Episodes
1 Keluarga Aunty Naura.
2 Harus terpisah.
3 Anggota Black Swan
4 Percakapan mencurigakan.
5 Akibat huru hara.
6 Sebuah tameng.
7 Target satu, pesuruh baru.
8 Siapa wanita itu?
9 Satu VS Lima
10 Kau berulah, Aku bertingkah.
11 Berusaha menguak informasi.
12 Sebuah acting.
13 Kecolongan.
14 Berjaga-jaga.
15 Kakak sepupu palsu.
16 Berbeda kelompok.
17 Siapa kau?
18 Kerja sama.
19 Berusaha masuk anggota Black Swan.
20 Kekecewaan.
21 Kau permainkan sepupuku, akan ku permainkan adik mu.
22 Jangan mengecewakan ku.
23 Butuh penjelasan.
24 Menanam saham.
25 Titik terang.
26 Kalung yang sama.
27 Lampu hijau.
28 Amarah.
29 Renzela menghilang.
30 Trik licik, Herbert.
31 Pria Asing.
32 Mendapatkan tanda tangan.
33 Ancaman baru.
34 Sinyal ponsel.
35 Lelaki misterius.
36 Rencana makan malam.
37 Saling memanfaatkan.
38 Hotel mewah.
39 Kecolongan.
40 Permainan.
41 Pertolongan.
42 Rasa Terima kasih,
43 Menyeimbangkan kekuatan.
44 Istirahat nya Anggota Black Swan.
45 Perintah Daddy.
46 Meminta bantuan Alberto.
47 Sandiwara
48 Ajakan Dominic.
49 Renzela dalam bahaya.
50 Ketakutan.
51 Akan menjelaskan.
52 Tamparan.
53 Surat perjanjian.
54 Persiapan tugas kampus.
55 Pengumuman update.
56 Sebuah Buku.
57 Obat-obatan.
58 Durian runtuh.
59 Berhati-hati.
60 Keroyokan.
61 Akan pulang.
62 Terjebak.
63 Karena Renzela.
64 Kecelakaan
65 Kalian mulai, kita layani.
66 Aku baik-baik saja.
67 Hati yang terluka.
68 Bersitegang.
69 Hubungan Darah.
70 Surat wasiat.
71 Mulai terbuka.
72 Kegelisahan.
73 Hampir putus asa.
74 Saran yang tidak masuk akal.
75 Kriteria yang pas.
76 Membujuk Renzela.
77 Seleksi awal.
78 Akhirnya memutuskan memilih calon suami.
79 Ibu dari anak-anakku.
80 Kisah tentang Renzela sudah hadir
81 Negosiasi.
82 Orang-orang memuakkan.
83 Sogokan yang sempurna.
84 Keuntungan satu Miliar.
85 Bagi hasil saham.
86 Membutuhkan Karyawan Baru
87 Pelamar Kerja.
88 Rencana Tiara.
89 Menggemparkan kantor.
90 Masuk perangkap.
91 Gara-gara Seblak.
92 Di kira Settingan.
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Keluarga Aunty Naura.
2
Harus terpisah.
3
Anggota Black Swan
4
Percakapan mencurigakan.
5
Akibat huru hara.
6
Sebuah tameng.
7
Target satu, pesuruh baru.
8
Siapa wanita itu?
9
Satu VS Lima
10
Kau berulah, Aku bertingkah.
11
Berusaha menguak informasi.
12
Sebuah acting.
13
Kecolongan.
14
Berjaga-jaga.
15
Kakak sepupu palsu.
16
Berbeda kelompok.
17
Siapa kau?
18
Kerja sama.
19
Berusaha masuk anggota Black Swan.
20
Kekecewaan.
21
Kau permainkan sepupuku, akan ku permainkan adik mu.
22
Jangan mengecewakan ku.
23
Butuh penjelasan.
24
Menanam saham.
25
Titik terang.
26
Kalung yang sama.
27
Lampu hijau.
28
Amarah.
29
Renzela menghilang.
30
Trik licik, Herbert.
31
Pria Asing.
32
Mendapatkan tanda tangan.
33
Ancaman baru.
34
Sinyal ponsel.
35
Lelaki misterius.
36
Rencana makan malam.
37
Saling memanfaatkan.
38
Hotel mewah.
39
Kecolongan.
40
Permainan.
41
Pertolongan.
42
Rasa Terima kasih,
43
Menyeimbangkan kekuatan.
44
Istirahat nya Anggota Black Swan.
45
Perintah Daddy.
46
Meminta bantuan Alberto.
47
Sandiwara
48
Ajakan Dominic.
49
Renzela dalam bahaya.
50
Ketakutan.
51
Akan menjelaskan.
52
Tamparan.
53
Surat perjanjian.
54
Persiapan tugas kampus.
55
Pengumuman update.
56
Sebuah Buku.
57
Obat-obatan.
58
Durian runtuh.
59
Berhati-hati.
60
Keroyokan.
61
Akan pulang.
62
Terjebak.
63
Karena Renzela.
64
Kecelakaan
65
Kalian mulai, kita layani.
66
Aku baik-baik saja.
67
Hati yang terluka.
68
Bersitegang.
69
Hubungan Darah.
70
Surat wasiat.
71
Mulai terbuka.
72
Kegelisahan.
73
Hampir putus asa.
74
Saran yang tidak masuk akal.
75
Kriteria yang pas.
76
Membujuk Renzela.
77
Seleksi awal.
78
Akhirnya memutuskan memilih calon suami.
79
Ibu dari anak-anakku.
80
Kisah tentang Renzela sudah hadir
81
Negosiasi.
82
Orang-orang memuakkan.
83
Sogokan yang sempurna.
84
Keuntungan satu Miliar.
85
Bagi hasil saham.
86
Membutuhkan Karyawan Baru
87
Pelamar Kerja.
88
Rencana Tiara.
89
Menggemparkan kantor.
90
Masuk perangkap.
91
Gara-gara Seblak.
92
Di kira Settingan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!