Kau berulah, Aku bertingkah.

Seluruh badan Kenzo sudah terasa remuk, ujung bibirnya saja terlihat lecet sampai mengeluarkan sedikit darah, dia memang kalah jumlah, tapi setidaknya tiga di antara lima orang itu sudah berhasil ia tumbangkan sampai tidak bisa bergerak lagi.

"Apa sebenarnya mau kalian?" Kenzo berusaha berdiri tegak, menatap Alfred dan Dominic yang sepertinya masih belum puas menghajar nya, di antara lima anggota Black Swan, kedua laki-laki ini memang yang paling kuat sampai dia pun kewalahan menghadapinya. "Kenapa harus bermain kekerasan." lanjutnya lagi berusaha meredam suasana, jika terus bermain otot, dia benar-benar akan kalah.

Dominic dan Alfred sama-sama terengah-engah, berusaha mengatur nafas mengembalikan energinya, sungguh mengejutkan, Kenzo yang seorang diri masih terlihat kuat padahal mereka berlima sudah mengeroyok nya bersamaan, dan pada akhirnya malah ketiga rekan mereka yang terjungkal.

"Kau masih bertanya, padahal jelas kau sendiri yang terlebih dahulu mengusik kami." Dominic sampai geram. Tidak bisa di pungkiri, harga diri mereka jatuh. Dia benar-benar harus menyingkirkan lelaki ini agar kedepannya tidak lagi membuat masalah dengan anggota nya. "Aku harus memberi mu pelajaran agar kau tidak lagi berulah, Kenzo." ancaman nya lagi.

Kenzo hanya menyeringai tipis, dia benar-benar harus memutar otak, fisik nya sudah lemah, jika dia harus kembali menerima serangan dua lelaki itu dia pasti akan terkapar seperti tiga orang yang sudah dia tumbangkan. "Aku bertingkah karena teman kalian yang cari masalah," ucapnya menarik ulur. Dia harus bicara dulu untuk meregangkan otot-otot nya takut kedua lelaki itu kembali menyerangnya. "Dan lagi, bukankah yang berulah itu kalian, bukan hanya di kampus, kalian bahkan menargetkan sebuah perusahaan, dan kau sendiri menjebak putri dari pengusaha yang akan menjadi target kalian." Tidak ada cara lain, dia harus membahas itu untuk bisa menggertak mereka. Walau dia tidak tahu pasti, setidaknya itu bisa sedikit menakut-nakuti. "Jadi seharusnya kalianlah yang harus di beri pelajaran." tegasnya lagi.

Austin yang mendengar itu sampai tersentak, sesuai dugaan, Kenzo benar-benar mendengarkan percakapan mereka tempo lalu. Dan itu pasti akan membuat Dominic semakin marah pada mereka karena mereka tidak bisa di percaya.

Dominic sendiri sampai mengepalkan tangannya geram, sejauh mana lelaki ini tahu informasi tentang mereka. Tapi walau begitu dia harus terlihat biasa saja agar bocornya informasi itu pada Kenzo tidak berakhir menjadi masalah. "Itu urusan kita, kau tidak perlu ikut campur, kau hanya perlu bersiap menerima penderitaan karena telah berhadapan dengan kita." ancam nya dengan langkah lebih maju semakin mendekat ke arah Kenzo.

"Sial," Kenzo sampai harus kembali berjaga-jaga, Dominic terlalu kebal, gertakan nya sampai tidak mempan. Sepertinya dia benar-benar harus menguras seluruh tenaganya untuk kembali adu jotos dengan mereka.

Tiba-tiba ponsel di saku switer nya malah berbunyi menandakan sebuah panggilan masuk dan itu semakin memperkeruh suasana, suara itu malah memancing perhatian Dominic, membuat lelaki itu malah menargetkan benda pipih itu untuk mengerjainya.

"Alfred, ringkus dia. Aku akan mengambil ponselnya, sepertinya ini akan lebih menyenangkan."

Alfred sampai bergetar cepat, tubuh atletisnya yang kuat sampai tidak kesusahan kalau hanya meringkus tubuh yang sudah melemah. "Diam, bodoh!" decak nya karena Kenzo terus meronta.

"Argh, sial." Tubuh Kenzo sudah sangat lemah, dia diam teringkus, hanya bisa melihat pergerakan Dominic yang mengambil ponselnya.

"Wah-wah, siapa ini?" Berasa mendapatkan harta karun, Dominic menyeringai licik melihat panggilan masuk dari 'Istri ku❤️'. Dia memang tidak tahu siapa nama yang tercantum dalam panggilan itu karena menggunakan bahasa Indonesia, tapi dia bisa menafsirkan kalau itu panggilan dari seorang yang sepesial bagi Kenzo karena ada tanda hati di sebelah nama itu. Terlebih begitu banyak chat masuk dari nama yang sama. "Lihat ini, sepertinya orang yang kau sayang sedang mengkhawatirkan mu." ucapnya sambil menunjukan layar ponsel yang masih berdering itu di hadapan Kenzo.

"Tiara," Perasaan Kenzo semakin tidak enak, sudah pasti Tiara akan khawatir dan menghubungi nya karena dia tidak membalas chat nya, tapi bagaimana kalau Dominic yang mengangkatnya. "Argh, kenapa lagi cengkraman bajingan ini keras sekali." Terus meronta pun tidak ada tanda-tanda dia akan lepas dari pegangannya.

Melihat Kenzo yang sedang berusaha untuk kembali mengambil ponselnya membuat Dominic menyeringai senang, "Tenang lah! Biar aku yang mengangkatnya untuk mu." ucapnya sudah tersenyum puas. Seketika dia langsung berpikir, sepertinya orang ini akan menjadi titik lemah Kenzo agar dia bisa membuat lelaki itu bertekuk lutut, dan bersedia menjadi budaknya. "Aku penasaran siapa dia, sepertinya dia bisa menjadi pengganti untuk kita hajar." ancam nya dengan penuh kemenangan.

Kenzo sedari tadi terus membuatnya kesal bahkan telah membabi buta menghajar ketiga temannya, maka lelaki itu harus membayar dengan setimpal.

"Buruan, Do! Angka saja, kita jadikan dia mangsa, sepertinya akan lebih seru!" Alfred ikut menimpali. Mereka sama-sama menyeringai senang, sebelumnya mereka tidak pernah sesenang ini saat mengerjai orang.

Namun tiba-tiba.

Setttt.... Duk... Bugh...

Amarah Kenzo sudah meluap, kakinya sekeras mungkin menginjak kaki Alfred sampai pegangannya terlepas, refleks menyikut perut lelaki itu dan berbalik meninjunya dengan begitu keras, bahkan bukan hanya tangan, kakinya juga bergerak menendang burung di dalam sangkar beserta kedua telur nya membuat lelaki itu terjungkal kesakitan.

"Argh, bajingan sialan." Alfred hanya bisa mengumpat.

Namun, Kenzo tidak mempedulikan itu, kini dia berbalik menatap Dominic dengan begitu tajam, secepat kilat ingin mengambil ponselnya sebelum Dominic mengangkat panggilan dari Tiara. Tapi Dominic dengan cepat menjauhkan itu bahkan langsung mengangkat panggilan nya.

"Wah-wah, kau sampai semarah itu," Dominic sampai di buat kagum, seorang Alfred sampai terkapar hanya dengan beberapa detik saja. "Aku jadi semakin ingin melukai siapapun itu yang dekat dengan mu." lanjutnya lagi dengan sudut bibir yang terangkat bak sebuah ancaman. Dia bahkan langsung mendekatkan ponsel itu memastikan suara di seberang telepon itu.

"Jangan macam-macam lo, anj*ng?" Amarah Kenzo sudah naik pitam. Tidak masalah jika dia yang terluka, tapi jika sudah ada yang berani mengusik Tiara, dia benar-benar akan murka. Dia langsung meraih kemeja Dominic menariknya dengan keras sebelum lelaki itu mendengar suara Tiara, bahkan bukan hanya itu, tangannya dengan keras meninjau wajah Dominic membuat lelaki itu melepaskan ponselnya dan langsung terjatuh di lantai.

"Kenzo sialan, berani sekali kau hah!" Dominic sampai marah, ingin melepas cengkraman tangan Kenzo tapi lelaki itu malah kembali memukulnya dengan begitu keras membuatnya sampai tersungkur jatuh. "Kau akan menyesal karena berani melawan kita, Kenzo." ancam nya geram. Tangannya langsung menyentuh pipinya yang terasa begitu nyeri dan setelah itu perlahan berdiri.

Kenzo yang mendengar ancaman itu hanya menyeringai tipis, kakinya langsung bergerak mendorong tubuh Dominic yang hendak berdiri, "Dengar anj*ng! sejauh apa kau mengusik hidup ku, sejauh itu pula aku akan mengusik hidup kalian. Ingat! Aku tahu rencana kalian, aku bisa saja menguak itu, jika kalian macam-macam." ucapnya berbalik mengancam. Setelah kembali mengambil ponselnya dia langsung pergi meninggalkan semua

Kenzo benar-benar pergi, langsung memeriksa ponselnya, layarnya sampai retak karena terbentur lantai, tapi masih menyala bahkan panggilan dari Tiara masih ada.

"Kenzo, Kenzo!" Suara Tiara di balik ponsel sampai terdengar.

"Iya." Kenzo kini mendekatkan ponsel itu di telinganya, mendengar suara Tiara membuatnya bernapas lega, tadi dia begitu marah, sampai lupa diri. Dia begitu takut anggota Black Swan bisa mengetahui identitas orang terdekatnya, dan berakhir menyakiti Tiara dan mempersulitnya. Untung saja dia masih punya tenaga untuk melawan kedua lelaki itu.

"Apa yang terjadi?" Suara Tiara bahkan terdengar gelisah, samar-samar tadi dia mendengar percakapan suaminya yang terdengar seperti sedang bertengkar dan marah-marah. "Kau tidak apa-apa kan?"

Kaki yang tadinya sedang berjalan langsung terhenti, Dia tidak baik-baik saja, dia begitu lelah, tubuhnya terasa begitu remuk, tapi dia tidak bisa mengatakan itu pada sang istri, "Aku ingin memeluk mu," lirihnya dengan begitu paruh. Dia sampai menyandarkan punggungnya di dinding lorong asrama dan terkulai merosot ke lantai. Penampilannya bahkan begitu acak-acakan, topi yang tadi menempel di kepala sudah terjatuh entah sejak kapan, memar-memar merah bahkan bertebaran di beberapa bagian tubuhnya. Dia ingin istirahat sejenak. Kalau Tiara ada di sampingnya, dia ingin sekali memeluknya.

"Kenzo, kau kenapa?" Tiara semakin gelisah, suara suaminya terdengar lemas dia benar-benar tidak tenang. "Kau di mana, apa aku harus menghampiri mu?"

"Bodoh, mau apa kau kemari, aku di asrama, aku tidak apa-apa." Sudut bibir Kenzo sampai terangkat. Mendengar suara Tiara rupanya bisa mengurangi rasa lelahnya, "Kenapa belum tidur?"

"Aku mengkhawatirkan mu, kau tidak membalas chat ku. Bukannya kau akan mengabari ku kalau sudah sampai kamar,"

"Tadi ada beberapa lebah yang menyengat ku saat mau kembali ke asrama, jadi aku tidak memeriksa ponsel." Malah bicara ngelantur, dia tidak bisa bilang kalau dia telah di serang.

"Tersengat lebah? Kenapa bisa? Kau kan bisa menghindari."

Kenzo malah tersenyum, percaya saja dia bodohi, "Cepat tidur, besok temui aku di perpustakaan!" pintanya masih dengan suara lemas.

Tiara yang sadar akan keadaan sang suami sampai tidak tega, walau tidak tahu kenapa sebenarnya. "Tidak, aku akan menemanimu sampai kau tidur."

Kenzo lagi-lagi tersenyum, karena itu yang dia harapan, ingin terus mendengar suara wanita itu. "Kalau itu mau mu," merasa tidak sendiri, dia pun kembali berdiri. Dia harus segera sampai ke kamar asramanya untuk merebahkan tubuhnya yang terasa lemas. "Tiara," panggilnya sambil mulai melangkah.

"Iya." Tiara langsung sigap, panggilan suaminya terdengar begitu serius.

"Ingat! Jangan sampai ada yang tahu tentang hubungan kita." pintanya dengan begitu serius. Bertahanlah dengan keadaan seperti ini sebelum dia mengendalikan keadaan.

"Iya, aku akan mengingat itu."

"Tiara!" Lagi-lagi Kenzo memanggil dengan begitu serius, Tiara diseberang sana langsung menjawab panggilannya. "Cium!" pintanya dengan tersenyum kecil. Bak menjadi gila, berkat Tiara rasa lelahnya benar-benar sirna.

Tiara sampai tersenyum kecil, suaminya ini kenapa si, tadi tiba-tiba terdengar begitu lemas, terkadang nama bicaranya terdengar begitu serius, sekarang malah seperti anak kecil yang meminta jatah, membuatnya menjadi gemas mendengarnya.

"Iya sini, muach." Meladeni keinginan sang suami, Tiara benar-benar mengirimkan ciuman jarak jauh dari ponselnya.

Kenzo sampai tersenyum kecil, dia benar-benar seperti orang gila, "Oh, ya. Bagaimana Mario, apa kau sudah bisa menghubungi nya?" tanyanya lagi baru ke ingatan.

"Aku baru dapat nomor ponsel barunya dari Azzura, mungkin besok kita bisa menghubungi nya." Tiara langsung menjawab, tadi dia mengira chat memang ingin membahas tentang hal ini.

"Iya, kita hubungi dia besok. Mungkin dia bisa membantu melacak ID yang sudah meretas IP perusahaan Aunty."

.

Terpopuler

Comments

Anisnikmah

Anisnikmah

yang kuat

2022-08-10

0

Rosslian ainun

Rosslian ainun

nextt thor next

semangat Up bnyak" thorr

2022-08-10

0

Shinta

Shinta

yeyyy Kenzo menang..😘🥰💪💪

2022-08-10

0

lihat semua
Episodes
1 Keluarga Aunty Naura.
2 Harus terpisah.
3 Anggota Black Swan
4 Percakapan mencurigakan.
5 Akibat huru hara.
6 Sebuah tameng.
7 Target satu, pesuruh baru.
8 Siapa wanita itu?
9 Satu VS Lima
10 Kau berulah, Aku bertingkah.
11 Berusaha menguak informasi.
12 Sebuah acting.
13 Kecolongan.
14 Berjaga-jaga.
15 Kakak sepupu palsu.
16 Berbeda kelompok.
17 Siapa kau?
18 Kerja sama.
19 Berusaha masuk anggota Black Swan.
20 Kekecewaan.
21 Kau permainkan sepupuku, akan ku permainkan adik mu.
22 Jangan mengecewakan ku.
23 Butuh penjelasan.
24 Menanam saham.
25 Titik terang.
26 Kalung yang sama.
27 Lampu hijau.
28 Amarah.
29 Renzela menghilang.
30 Trik licik, Herbert.
31 Pria Asing.
32 Mendapatkan tanda tangan.
33 Ancaman baru.
34 Sinyal ponsel.
35 Lelaki misterius.
36 Rencana makan malam.
37 Saling memanfaatkan.
38 Hotel mewah.
39 Kecolongan.
40 Permainan.
41 Pertolongan.
42 Rasa Terima kasih,
43 Menyeimbangkan kekuatan.
44 Istirahat nya Anggota Black Swan.
45 Perintah Daddy.
46 Meminta bantuan Alberto.
47 Sandiwara
48 Ajakan Dominic.
49 Renzela dalam bahaya.
50 Ketakutan.
51 Akan menjelaskan.
52 Tamparan.
53 Surat perjanjian.
54 Persiapan tugas kampus.
55 Pengumuman update.
56 Sebuah Buku.
57 Obat-obatan.
58 Durian runtuh.
59 Berhati-hati.
60 Keroyokan.
61 Akan pulang.
62 Terjebak.
63 Karena Renzela.
64 Kecelakaan
65 Kalian mulai, kita layani.
66 Aku baik-baik saja.
67 Hati yang terluka.
68 Bersitegang.
69 Hubungan Darah.
70 Surat wasiat.
71 Mulai terbuka.
72 Kegelisahan.
73 Hampir putus asa.
74 Saran yang tidak masuk akal.
75 Kriteria yang pas.
76 Membujuk Renzela.
77 Seleksi awal.
78 Akhirnya memutuskan memilih calon suami.
79 Ibu dari anak-anakku.
80 Kisah tentang Renzela sudah hadir
81 Negosiasi.
82 Orang-orang memuakkan.
83 Sogokan yang sempurna.
84 Keuntungan satu Miliar.
85 Bagi hasil saham.
86 Membutuhkan Karyawan Baru
87 Pelamar Kerja.
88 Rencana Tiara.
89 Menggemparkan kantor.
90 Masuk perangkap.
91 Gara-gara Seblak.
92 Di kira Settingan.
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Keluarga Aunty Naura.
2
Harus terpisah.
3
Anggota Black Swan
4
Percakapan mencurigakan.
5
Akibat huru hara.
6
Sebuah tameng.
7
Target satu, pesuruh baru.
8
Siapa wanita itu?
9
Satu VS Lima
10
Kau berulah, Aku bertingkah.
11
Berusaha menguak informasi.
12
Sebuah acting.
13
Kecolongan.
14
Berjaga-jaga.
15
Kakak sepupu palsu.
16
Berbeda kelompok.
17
Siapa kau?
18
Kerja sama.
19
Berusaha masuk anggota Black Swan.
20
Kekecewaan.
21
Kau permainkan sepupuku, akan ku permainkan adik mu.
22
Jangan mengecewakan ku.
23
Butuh penjelasan.
24
Menanam saham.
25
Titik terang.
26
Kalung yang sama.
27
Lampu hijau.
28
Amarah.
29
Renzela menghilang.
30
Trik licik, Herbert.
31
Pria Asing.
32
Mendapatkan tanda tangan.
33
Ancaman baru.
34
Sinyal ponsel.
35
Lelaki misterius.
36
Rencana makan malam.
37
Saling memanfaatkan.
38
Hotel mewah.
39
Kecolongan.
40
Permainan.
41
Pertolongan.
42
Rasa Terima kasih,
43
Menyeimbangkan kekuatan.
44
Istirahat nya Anggota Black Swan.
45
Perintah Daddy.
46
Meminta bantuan Alberto.
47
Sandiwara
48
Ajakan Dominic.
49
Renzela dalam bahaya.
50
Ketakutan.
51
Akan menjelaskan.
52
Tamparan.
53
Surat perjanjian.
54
Persiapan tugas kampus.
55
Pengumuman update.
56
Sebuah Buku.
57
Obat-obatan.
58
Durian runtuh.
59
Berhati-hati.
60
Keroyokan.
61
Akan pulang.
62
Terjebak.
63
Karena Renzela.
64
Kecelakaan
65
Kalian mulai, kita layani.
66
Aku baik-baik saja.
67
Hati yang terluka.
68
Bersitegang.
69
Hubungan Darah.
70
Surat wasiat.
71
Mulai terbuka.
72
Kegelisahan.
73
Hampir putus asa.
74
Saran yang tidak masuk akal.
75
Kriteria yang pas.
76
Membujuk Renzela.
77
Seleksi awal.
78
Akhirnya memutuskan memilih calon suami.
79
Ibu dari anak-anakku.
80
Kisah tentang Renzela sudah hadir
81
Negosiasi.
82
Orang-orang memuakkan.
83
Sogokan yang sempurna.
84
Keuntungan satu Miliar.
85
Bagi hasil saham.
86
Membutuhkan Karyawan Baru
87
Pelamar Kerja.
88
Rencana Tiara.
89
Menggemparkan kantor.
90
Masuk perangkap.
91
Gara-gara Seblak.
92
Di kira Settingan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!