"Katakan, mau apa Ibu menemui ku?" Nada suara Dominic terdengar begitu dingin, berdiri dengan jarak tiga meter dari arah wanita paruh baya itu seolah menunjukkan rasa keterpaksaan saat menemui nya. "Cepat, aku harus segera kembali!"
Wanita yang di panggil Ibu itu sampai memasang mimik sedih, "Apa harus ada alasan jika seorang ibu ingin menemui anaknya. Ibu merindukan anak-anak ibu." lirihnya dengan begitu kelu. Rasanya dia ingin sekali memeluk Dominic, tapi putranya kini malah seperti sosok asing yang begitu jauh untuk dia gapai.
Bukannya merasa iba, Dominic melah jijik mendengar nya, "Rindu?" berasa hanya mendengar angin lalu, dia sampai tersenyum ketir, "Saat meninggalkan rumah, bukannya Ibu sudah tidak menganggap kita sebagai anak ibu lagi." ucapnya sambil mengepalkan tangannya geram. Sungguh kalau wanita itu bukan sosok ibu kandung yang pernah membesarkan nya dia tidak ingin menemuinya.
"Dominic, Ibu minta maaf." Suara wanita itu sampai bergetar, putranya itu tetap saja bersikap dingin seperti biasanya. "Ibu mohon jangan seperti ini pada, Ibu. Ibu mengakui kalau ibu salah, maknanya Ibu ingin memperbaiki hubungan kita."
Bukannya tersentuh, Dominic malah semakin geram. "Kalau Ibu hanya mau bicara omong kosong, aku kembali." ucapnya dengan begitu dingin dan berlaju pergi. Rasa kesal, sedih, kekecewaan bercampur aduk menumpuk di dalam dada membuatnya tidak bisa terus di sana. "Argh, lihat saja, aku benar-benar akan menghancurkan semuanya." batinnya geram.
Wanita itu sampai terkulai lemas, tangannya langsung bergerak menyentuh dadanya yang terasa sesak, dia hanya bisa meneteskan air mata saat punggung putranya sudah menghilang dari pelupuk matanya, "Maafkan Ibu, Dominic." bibirnya hanya bisa berucap pilu, sungguh sangat menyakitkan saat putranya tidak menganggap keberadaannya.
"Mas, batalkan saja pesanan makanannya, kembali ke sini! aku ingin segera pulang." ucap wanita itu pada seseorang yang baru saja dia hubungi, dia langsung menyeret kakinya yang terasa lemas untuk segera keluar dari area asrama.
Sementara itu Kenzo sudah sampai di sekitaran asrama putri, masih berdiri tegak memastikan Tiara masuk ke dalam asrama dengan aman, dia bahkan langsung mengangkat tangan membalas lambaian tangan sang istri yang pamit masuk ke dalam, "Iya, masuk sana, good night sayang!" masih bicara padahal jelas Tiara tidak akan mendengarnya karena jarak mereka sangat jauh. Sungguh malang harus kembali terpisah, dia sampai tidak sabar menunggu akhir pekan agar bisa menghabiskan malam bersama.
Kenzo kembali, langkah demi langkah terlewati, saat ingin memasuki wilayah asrama putra dia malah berpapasan dengan wanita yang tadi bersama Uncle nya, "Loh! wanita yang tadi." dia sampai kaget, terlebih raut wajah wanita paruh baya itu terlihat begitu sedih. "Sebenarnya dia siapanya Uncle, Aunty tidak pernah bercerita apapun." gumamnya penasaran. Dia sempat berpikir, haruskah dia menghentikan wanita itu dan bertanya. Tapi melihat waktu yang sudah malam, semua angannya ia urungkan, biar nanti setelah pulang ke rumah dia akan bertanya pada Aunty Naura.
Di sisi lain, Dominic kembali menghampiri keempat temannya, walau perasaan nya sedang kacau dia harus terlihat biasa saja di depan mereka, "Anak itu belum kembali?" ucapnya langsung bertanya.
"Belum," Alex yang menjawab, menatap Dominic dengan heran, lelaki itu pergi begitu saja dan kembali dengan sendirinya. "Dari mana, Do?" tanyanya penasaran. Saat pergi seperti ada urusan penting, tapi ternyata tidak membutuhkan waktu lama.
"Toilet." jawab Dominic siangka. Mood yang tadinya sedang buruk tiba-tiba menyeringai tipis saat ada sosok mahasiswa yang berjalan mendekat ke arah mereka, "Apa dia orang yang menghajar kalian." ucapnya berusaha menebak. Dari gaya penampilan dan tampangnya saja dia bisa langsung menebak kalau lelaki itu orang yang sedang mereka tunggu.
"Iya, panjang umur dia." Austin sama-sama menyeringai, akhirnya ada masa dia akan membalas lukanya.
"Aisst." Kenzo yang melihat kelima lelaki itu sampai kaget, "Wah, kalah jumlah." batinnya hanya bisa mengumpat. Pintar sekali anggota Black Swan itu dalam memilih waktu dan tempat, dia sampai tidak punya celah untuk menghindar, dan suasana gelap malam hari pun ikut mendukung sampai orang di sekitar tidak ada yang menyadarinya.
"Wah-wah. Hebat sekali ya. Seorang mahasiswa baru bisa seenaknya keluyuran malam." Alfred yang berdiri di posisi paling depan sampai bertepuk tangan. Bak sedang menangkap seekor tikus yang sedang mencuri keju, rasanya dia ingin langsung mencincang dan membuangnya.
"Dari mana saja kau, hah? Jangan bilang setelah melukai teman kami kau langsung mencari Ibu mu untuk meminta pertolongan." cibir Alex menimpali dengan ledekan.
Austin dan Arthur yang menjadi korban, sama sama menyeringai penuh ledekan, senyumannya itu seolah bicara, habislah riwayat lelaki ini sekarang.
Kenzo sendiri hanya diam tak bergeming, dia harus tenang agar bisa melawan mereka walau kemungkinan menang sangat tipis karena harus satu VS lima.
"Bicara, bang*at! kenapa diam saja?" Alfred garam, bisa-bisanya lelaki itu masih berdiri tegak tanpa memperlihatkan rasa takut sama sekali. "Apa kau tidak tahu siapa kami sampai berani mencari masalah." decak nya lagi.
Dominic sampai menyeringai tipis, "Santai bro, jangan langsung menakutinya, bukannya kita harus berkenalan dulu dengan nya." ucapnya sambil menepuk pundak Alfred, mulai melangkah maju mendekati lelaki itu. Jujur dia semakin penasaran, siapa nama lelaki ini, sampai bisa setenang itu walau dalam keadaan seperti ini,
"Kau lumayan tampan juga ya," ucapnya sambil memperhatikan penampilan mahasiswa baru itu, celana jeans hitam, switer hitam, tas punggung hitam, bahkan topi nya pun berwarna hitam, sungguh kesan yang elegan di matanya. "Dominic!" ucapnya memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan.
Kenzo sampai berjaga-jaga, apa lelaki ini benar-benar ingin berkenalan? Atau hanya tujuan semata untuk membuatnya lengah. Tapi jika tidak di terima pun, kesan dia akan lebih terlihat menantang dan sudah pasti itu akan membahayakan nya, "Kenzo." timpal nya menerima uluran tangan itu.
Benar saja, detik selanjutnya tangan sebelah kiri Dominic sudah melayang dan hampir mengenai wajahnya kalau saja dia lengah. "Apa seperti ini cara berkenalan?" ucapnya dengan begitu datar, terlebih kenapa Dominic belum juga melepaskan uluran tangannya.
"Wah, kau benar-benar tangguh juga." Dominic sampai menyeringai licik, uluran tangannya langsung ia perkuat mencekam telapak tangan Kenzo dengan begitu keras, menariknya cepat dan langsung meninjau perut lelaki itu.
Settt.... Buk....
"Argh," Kenzo sampai terbatuk-batuk, menatap tajam lelaki itu, pertarungan yang licik, tangannya sampai mengepal keras karena geram. "Sial."
"Kenapa, masih kurang?" Dominic sampai menyeringai senang, ternyata lelaki itu tidak sejago yang dia kira, " Giliran kalian!" titahnya sambil menggerakkan kedua tangannya menyuruh keempat temannya maju mengelilingi mahasiswa baru ini, perlihatkan padanya siapa yang tengah dia usik. "Pelan-pelan saja biar dia merasakan sakit yang lebih lama." titahnya lagi dengan menyeringai. Dia langsung menyilang kan tangannya di dada, menatap remeh lelaki itu.
"Apa keroyokan memang keahlian kalian?" Kenzo langsung berjaga-jaga, sungguh situasi yang memuakkan terlebih perutnya terasa sakit akibat pukulan Dominic. "Kali ini aku tidak akan lengah," gumamnya berusaha menyakinkan diri, kaki kanannya langsung ia gerakkan sedikit maju ke depan untuk menyeimbangkan tubuhnya, dia langsung melihat titik vital lawan-lawannya, dan bersiap menangkis lawan yang akan bergerak ke arah mana. Kuncinya hanya satu, dia harus bergerak cepat untuk menyerang dan bertahan.
"Agrh, banyak bacot lo," Tangan Alfred sudah gatal, dia yang maju lebih awal dan mulai melayangkan tangan memukul murid baru itu.
Setttt.... Buk...
Setttt.... Buk...
Hanya suara pukulan yang terdengar, saat tangan Alfred bergerak cepat menuju sasaran, Kenzo pun tidak kalah cepat bergerak menangkis semua pukul itu, bahkan saat matanya melirik Alex yang bergerak di belakangnya kakinya langsung bergerak cepat memutar posisi untuk menghindar dan secepat mungkin melawan nya,
Setttt..... Duk....
Bak menendang bola, kaki Kenzo bergerak cepat terhuyung ke atas mendarat pas mengenai lengan Alex yang hendak memukulnya. Sepatu mahal Kenzo lumayan keras juga sampai membuat lelaki itu terjungkal, "Sorry, kaki ku terpeleset." ucapnya dengan menyeringai.
Austin dan Arthur yang melihat langsung bergerak cepat menyerang Kenzo bersamaan. "Habis, Kau!" Pukulan mereka sudah melayang tapi hanya berbenturan dengan angin.
Settt....
Lagi-lagi melesat, Kenzo benar-benar bergerak cepat, bahkan kembali menyerang mereka, membuat suasana perkelahian mereka menjadi semakin sengit.
Dominic yang hanya melihat sampai terkejut, kenapa bisa tiga temannya memiliki luka yang lebih parah dari pada mahasiswa baru itu. "Benar-benar tidak bisa di remahkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Ogi Galuh Anjani Ni Luh
aku yang tadinya tegang langsung ngakak baca ini 🤣🤣 semoga Kenzo menang 🙏
semangat thor
2022-11-17
0
Arif Widia
KENSO BUAT MEREKA MENARIKMU SEBAGAI AGOTA MAFIA, BONGKAR KEJAHATAN OMMU,
2022-08-16
0
Anisnikmah
hebat ya Kenzo.. do. itu wanita dari keluarga nya uncle atau malahan istrinya/kekasihnya makanya do dengan ayahnya mencoba mengambil dgn pendekatan ranzela karena kebencian
2022-08-10
1