"Kak, Alfred." Agahta terus saja memanggil lelaki itu, yang awalnya ingin masuk kelas mendadak jadi tidak mood, dia harus memberi perhitungan pada lelaki yang merupakan anak buah Kakaknya itu, "Kak Alfred, tunggu!" panggil nya lagi semakin keras karena Alfred tidak mengindahkan panggilannya.
Kuping Alfred sampai berdengung, bisa-bisanya Dominic mempunyai seorang adik yang cerewet seperti gadis ini, "Apa?" mau tidak mau dia pun berhenti.
"Aku meminta bantuan Kak Alfred agar wanita itu bisa tunduk menuruti perintah ku, kenapa Kakak malah diam saja dan malah berkenalan dengan nya." omelnya tidak terima. Dia sampai berdecak pinggang, buat apa punya anak buah preman kampus kalau tidak bisa di andalkan.
"Heh, Agahta!" Ingin geram, tapi wanita ini adik atasannya, "Aku tidak turun tangan justru karena kasihan pada mu," ucapnya berusaha menyadarkan gadis ini, apa Agahta masih belum sadar kalau Tiara sudah memandangnya sebagai wanita lemah, "Bahkan bukan hanya kau, harga diriku sama-sama di pertaruhkan, kalau aku malah bermain kekerasan untuk membantu mu," ucapnya lagi menjelaskan, bahkan Tiara saja mengatainya sebuah tameng.
Agahta langsung cemberut, sebenarnya dia sendiri masih mengingat perkataan Tiara, yang mengatainya anak TK, tapi tetap saja dia ingin melihat wanita itu terluka, "Lalu aku harus bagaimana untuk membalaskan rasa kesal ku pada wanita itu?" tanyanya mencari saran.
"Wanita itu berbeda, kalau ingin membuatnya tunduk, jangan menggunakan otot, tapi menggunakan otak!" Alfred sampai menggerakkan telunjuk nya menekan kening Agahta, kalau mau memberi perhitungan jangan setengah-setengah, lakukan sepenuhnya bila perlu jadilah iblis agar rencananya sempurna.
"Maksudnya?"
"Aisst," Alfred sampai di buat geram, sepertinya kelicikan Dominic tidak tertular pada adiknya. "Hubungi, Grace! Dia bisa membantu mu." titahnya dan langsung berlaju pergi. Terus meladeni Agahta dia bisa-bisa cepat tua, karena bawaannya ingin terus marah-marah.
Agahta hanya diam melihat lelaki itu pergi, setelahnya dia baru sadar kalau dia tidak boleh bolos jam mata kuliah pagi ini, "Iya, mungkin aku bisa menemui Kak Grace setelah ini."
Sementara itu di dalam kelas, mata kuliah pertama sudah mau di mulai, para mahasiswa sudah mulai memasuki ruangan, dan memilih mencari tempat duduk yang nyaman.
Begitupun dengan Tiara, wanita itu berjalan perlahan memasuki ruangan, matanya celingukan sana sini mencari tempat, dia ingin duduk paling depan agar materi yang dosen nanti sampaikan bisa ia dengar lebih jelas, tapi sayang kursi di depan sudah hampir terisi penuh, terlebih para lelaki yang mendominasi. "Huh, gara-gara si anak TK tadi jadi kehabisan tempat duduk kan," umpatnya kesal. Saat ia mau melangkah tiba-tiba dibuat kaget karena Kenzo sudah ada di sampingnya bahkan secepat kilat tangan lelaki itu menyentuh punggungnya.
"Ikuti aku!" Kenzo berbisik dan berlaju pergi. Wajahnya terlihat datar, bahkan semua orang yang melihat tidak akan ada yang mengira kalau mereka saling kenal bahkan mempunyai hubungan sepesial.
Tiara langsung melangkah sambil bersorak dalam hati, lisannya saja yang bilang ingin pura-pura tidak saling mengenal, tapi hati lelaki itu selalu terikat sampai terus memperhatikannya, "Terima kasih suamiku." hatinya sudah tersenyum senang, terlebih Kenzo sudah duduk di bangku paling depan dan menyingkirkan salah satu mahasiswa agar pindah tempat kebelakang.
"Pintar sekali, bahkan dia sengaja memilih tempat duduk paling tepi agar aku tidak bersebelahan dengan laki-laki lain." gumamnya lagi sambil perlahan menuju kursi kosong itu.
Supaya terlihat natural, Kenzo langsung mengajak bicara mahasiswa di sebelah kanannya agar kehadiran Tiara tidak memancing perhatian orang itu. "Halo, bisa berkenalan?" ucapnya basa-basi. Sungguh kalau bukan karena Tiara dia enggan sekali bicara. "Kenzo," ucapnya memperkenalkan diri.
Lelaki itu sampai kaget, padahal tadi ekspresi yang namanya Kenzo ini terlihat begitu sangar saat meminta mahasiswa lain pindah ke belakang, tapi lelaki ini malah mengajaknya berkenalan, dia pun langsung menerima uluran tangan Kenzo dan memperkenalkan dirinya, "Raymond," ucapnya dengan senyuman.
Kenzo sesaat tertegun, ternyata lelaki ini lumayan ramah juga, sosok Raymond malah mengingatnya pada Devan dan Reno, apa kabarnya teman Mabar nya itu. Saat masa-masa SMA dia selalu mengandalkan mereka untuk menjadi pesuruh nya, sekarang dia merasa kehilangan terlebih dia hanya seorang diri tanpa mempunyai teman untuk di perbudak.
"Sepertinya aku harus mencari teman," Tiba-tiba Kenzo mempunyai ide yang menarik, tangannya langsung mengambil sebuah pensil dan pura-pura ia jatuhkan di bawah lelaki ini, "Sorry, pensil ku jatuh di bawah mu Ray, bisakah kau mengambilkan nya?" pintanya berusaha mengetes.
"Iya, tunggu sebentar!" Tanpa penolakan dan rasa terpaksa, Raymond langsung berbungkuk mengambil pensil Kenzo yang berada persis di samping kakinya. "Ini," ucapnya mengembalikan pensil itu.
Kenzo sampai tersenyum kecil, "Target satu, sepertinya dia bisa diandalkan." batinnya sudah menemukan sasaran. Kalau dia bisa lebih dekat dengan Raymond, sepertinya lelaki ini bisa ia jadikan pesuruh nya.
Tiara yang sedari tadi sudah duduk hanya bisa mengelus dada, kejahilan suaminya memang tidak ada dua. "Seharusnya dia menjadi artis saja, dia pasti akan mendapatkan nominasi aktor paling baik, karena tampang dan acting nya," gumamnya dengan menahan tawa. Bahkan setelah puas mengerjai rekan di sampingnya, dan terus mengajaknya berbincang, tangan suaminya itu sudah bergerak menyentuh punggung tangan nya di bawah sana. "Dasar!"
Kenzo sesaat melirik Tiara, dia berasa sedang kucing-kucingan dengan keadaan seperti ini, bahkan dia harus memasang wajah datar saat menatap wajah sang istri, tapi itu tidak apa asal keadaan Tiara baik-baik saja. "Kau baik-baik saja, kan?" bisik nya memastikan,
Belum juga ada respon dari Tiara, terlihat sosok Agahta memasuki ruangan, membuat Tiara refleks menjauhkan tangannya, sehingga tangan Kenzo terlepas begitu saja.
Kenzo sampai kaget dan melihat situasi, "Wanita yang tadi!" batinnya dan kembali melirik sang istri, dia belum tahu kenapa karena Tiara belum bercerita ada masalah apa dengan wanita itu.
Agahta sendiri masih celingukan mencari tempat, karena dia datang paling akhir, dia kehabisan kursi depan, "Aisst, membosankan sekali." tidak terima duduk paling belakang, matanya langsung memilih target untuk dia usir ke belakang, dan kini matanya langsung tertuju pada Tiara, dan lelaki yang ada di samping wanita menyebabkan itu, "Wah, tampan sekali." matanya sampai terkesima, hanya di pandangan pertama saja dia sudah terpesona. "Sepertinya aku harus duduk di samping lelaki itu," batinnya dan langsung melangkah.
Merasa tidak bisa mengusir Tiara, Agahta pun memilih menghampiri mahasiswa yang duduk di samping kanan si tampan itu, "Aku ingin duduk di sini, pindah sana!" titahnya tanpa basa-basi.
Raymond yang menjadi sasaran langsung menatap wanita itu, dia tahu itu Agahta dan dia tidak ingin terkena masalah, dia memilih mengikuti kemauan nya, tapi saat mau berdiri pergerakan nya terhenti, karena Kenzo menarik tas nya.
"Tetap duduk di sini!" titah Kenzo dengan tegas, dia bahkan memasang wajah dingin, tanpa menggubris wanita yang ingin duduk di samping nya. "Abaikan saja!" ucapnya lagi, membuat Raymond benar-benar diam di tempatnya.
Agahta sampai merasa terabaikan, "Hei, kau bisa kan mengalah pada wanita, pindah ke belakang sana!" titahnya nya lagi sambil menatap Raymond dengan kesal.
Malah Kenzo yang geram membuatnya ingin mengusir wanita itu, "Pergi!" titahnya dengan begitu datar, bahkan dia langsung menatap wanita itu dengan penuh kekesalan.
Agahta sampai bergidik, bahkan aura lelaki itu lebih menakutkan dari pada aura Kakaknya sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Diana Silaen
MANTAAP
2024-02-21
0
Arif Widia
KEREN...
2022-08-16
0
azril arviansyah
jangan cuma sedikit dong thor upnya
2022-08-06
0