Brak.....
Pintu basecamp geng Black Swan terbuka dengan begitu keras, terlihat Dominic memasuki ruangan itu dengan penuh amarah, "Ada apa ini?" tanyanya tanpa basa-basi.
Austin dan Arthur yang tengah di obati Alex langsung menoleh dengan raut wajah pasi, bukan hanya karena menahan rasa sakit, mereka berdua merasa malu pada ketuanya itu.
"Mereka hanya memar-memar, nyawa mereka masih aman, Do." Alex yang menimpali dengan tawa. Walau kedua tangannya terus bergerak lihai mengobati kedua rekannya itu, bibirnya dari tadi tidak henti-hentinya meledek mereka, "Padahal kalian berdua, masa kalah begitu saja." timpal nya lagi.
Dominic sampai mengeraskan rahangnya kesal, "Dasar bodoh." decak nya geram, dan perlahan duduk di kursi kekuasaannya. Kalau kejadian ini sampai di ketahui mahasiswa lain, jatuhlah citra mereka.
"Sorry, Do." Austin yang lebih malu, terlebih keadaannya yang lebih parah, jemari tangan nya saja sampai tidak bisa di gerakan karena ulah junior itu. "Kita hanya lengah karena merasa dia anak baru, gue yakin lain kali bisa mengalahkan nya." tuturnya lagi mencari alasan.
"Diam, bodoh!" Bukannya mendengarkan alasan Austin, Dominic semakin geram, cap nya saja playboy, giliran menghajar orang teman satunya ini memang paling lemah, "Di mana Alfred? Seharusnya kalau ada apa-apa hubungi dia, setidaknya kita tidak akan di buat malu," matanya sampai terus mengitari ruangan mencari sosok si jagoan huru hara, dia lebih mempercayai Alfred dalam hal hajar menghajar orang.
Tidak ada yang menjawab, Austin, Alex dan Arthur terbungkam melihat kemarahan Dominic, terlebih tidak ada yang tahu di mana satu rekannya itu.
"Di mana dia?" Dominic sampai kembali bertanya dengan nada suara yang lebih tinggi.
"Dari tadi malam, Agahta terus menghubungi nya, mungkin sekarang pun dia sedang bersama adik mu." Alex yang menjawab, badannya beranjak bangun menuju sebuah kulkas dan mengambil sebotol minuman dari sana, "Minumlah! Tenangkan dirimu, sepertinya kau marah bukan hanya karena hal ini." tuturnya memberi nasehat. Dia sebagai pakar kesehatan bisa menebak, kalau kekesalan Dominic bukan karena kekalahan Austin dan Arthur saja, ada masalah lain yang tengah menumpuk di kepalanya.
"Aisst." Tidak bisa mengelak, tangan Dominic langsung menyambar botol minuman itu dan meneguknya dengan kasar, "Siapa nama lelaki itu?" tanyanya penasaran, siapa mahasiswa baru itu sampai punya nyali tinggi mengusik anggota nya.
Lagi-lagi tiga laki-laki terdiam tidak mampu menjawab, si junior itu anak baru, dari ketiga lelaki itu mana ada yang tahu siapa namanya.
"Aisst, dasar tidak berguna." Dominic kembali berdecak, matanya kini langsung tertuju pada Austin, "Kau masih ingat rupanya, kan?" tanyanya memastikan. Setelah Austin mengangguk, dia kembali memberikan perintah, "Cari tahu namanya, seharusnya data nya sudah tercantum di daftar mahasiswa baru, kan!" titahnya dengan begitu tegas.
Austin sang pakar komputer kembali berwajah pasi, bukan karena dia tidak bisa melacak biodata junior itu, hanya saja semua jemari tangannya di buat mati rasa sampai tidak bisa bergerak, bagaimana dia bisa mengutak-atik komputer. "Minggu depan, kalau kau mengandalkan ku, aku bisa melacak informasi nya minggu depan." ucapnya menyeringai kuda.
Dominic sampai mengelus dada, sejak kapan anak buahnya bisa jadi sebodoh ini, "Potong saja tangan lo sekalian." omel nya kesal, tidak perlu mencari tahu informasi junior itu, tunjukkan saja orangnya dia yang akan tanya langsung siapa namanya.
Arthur sendiri sampai di buat jengkel melihat ekspresi bodoh seorang Austin, kalau mau menolak perintah bicara saja, kenapa malah memberi tempo waktu yang cukup lama, "Kena marah lagi kan, mampus lo." bisik nya dengan penuh ledekan. Gayanya saja tadi menawarkan bantuan, pas turun lapangan langsung menjungkal.
Sementara itu, Tiara terlihat berjalan menuju sebuah ruangan untuk mengikuti mata kuliah pertamanya, langkahnya sedikit lemas, bahkan raut wajahnya sedikit cemberut, karena kemauan Kenzo untuk menyembunyikan hubungan mereka akhirnya dia harus berjalan seorang diri, belum punya teman belum mengenal siapapun, bahkan dengan Kenzo yang notabene nya adalah suaminya dia juga harus pura-pura tidak mengenalinya.
"Dasar menyebalkan, kalau saja dia tidak mencari masalah, mungkin kita bisa belajar dengan tenang." gumamnya terus komat-kamit, sudah mereka tidur terpisah, dan sekarang saat di kampus pun harus pura-pura tidak kenal, lalu kapan mereka bisa bersama.
"Akhirnya kita bertemu lagi."
Suara seorang wanita tiba-tiba terdengar, Tiara yang kaget sampai refleks menoleh ke sumber suara, "Agahta?" matanya sampai mendelik kesal, mood nya sedang tidak baik mau apalagi wanita ini kembali menghampirinya dengan tiba-tiba.
"Heh, jangan pura-pura tidak melihat ku, ya." Agahta kembali di buat geram, wanita itu malah menyelonong pergi tanpa mempedulikan nya. "Kak Alfred, cepat keluar!" titahnya pada teman Kakak nya itu, dia harus menundukkan wanita itu dengan membawa sosok Alfred di belakangnya.
"Heh, kau!" Alfred langsung bicara, bahkan suaranya terdengar menggema bak sebuah bass music.
"Aisst, dasar anak TK, dia benar-benar melapor pada Kakaknya." perasaan Tiara sedikit gelisah, namun mau tidak mau dia pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. "Loh, bukan Kakaknya ya?" ucapnya malah keceplosan. Ternyata lelaki yang membantu anak TK itu bukan Dominic seperti sosok yang dia lihat di forum kampus kemarin. "Ada apa?" tanyanya tanpa ekspresi.
"Heh, kau sombong sekali, ya." Agahta kembali geram, yang dia harapan bukan seperti ini, dia membawa Alfred agar wanita itu bisa menciut ketakutan, tapi ini malah terlihat biasa saja.
"Aku tidak sombong, hanya kau nya saja yang merasa tidak mampu menghadapi ku seorang diri sampai membawa tameng." timpal Tiara dengan begitu percaya diri, entah keberanian dari mana, kata-kata itu keluar dengan sendirinya. "Sebenarnya kalian mau apa?"
Alfred sampai tersenyum tipis, sudah beribu-ribu kali melabrak orang mau lelaki atau perempuan, baru kali ini dia melihat respon yang begitu menarik dari lawannya, "Aku hanya ingin tahu siapa namamu?" tanyanya sambil melangkah mendekati wanita itu dan mengulurkan tangannya. "Alfred,"
"Kak Alfred." Agahta hanya bisa protes dalam hati, bukannya tadi sudah dia bilang harus memberi pelajaran, kenapa malah mau kenalan, "Argh, dasar menyebalkan."
Tiara sampai di buat heran, apa ini definisi berkenalan dulu baru menghajar, kenapa tidak sesuai ekspektasi, "Tiara," dari pada mengusik lelaki ini dia pun menerima uluran tangan itu, dan memperkenalkan diri. Dan detik selanjutnya langsung melepaskan uluran tangannya.
"Ingat! Alfred. Bukan tameng." jelas Alfred kembali bicara. Dia pun langsung berlaju pergi meninggalkan dua wanita itu.
"Loh, hanya begitu saja." Antara senang dan heran. Dia langsung menatap Agahta, "Apa sudah selesai, aku bisa pergi kan?" ucapnya dengan santai. Perkataannya saja seolah bertanya, padahal dia pergi begitu saja.
Di sudut lain, Kenzo yang sedari tadi membuntuti Tiara hanya bisa tersenyum kecil, awalnya tadi dia akan mendekat saat melihat sosok Alfred, takut istrinya kenapa-kenapa, tapi niatnya dia urungkan karena istrinya itu malah melawan dengan begitu elegan, "Dia kan pandai bicara." gumamnya sambil melangkahkan kaki kembali mengikuti sang istri. Tapi di pikir-pikir bisa bahaya, bagaimana kalau malah banyak lelaki lain yang tertarik oleh pesona istrinya. Bahkan Alfred saja malah berkenalan dengan sang istri.
"Aisst," Dia pun langsung mempercepat langkahnya, dia harus memastikan saat di ruangan kelas mata kuliah nanti, tidak ada lelaki yang mendekati sang istri. "Memang lebih susah menjaga dia, dari pada berkelahi,"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Arif Widia
KENZO DAN TIARA , BUAT MEREKA BERDUA BISA MEMBONGKAR KEJAHATAN OMNYA JUGA ,DGAN BERGABUNG DGAN GENG MAFIA, DAN DOMONIC MIKIR KLAU MAU MAIN" SAMA SEPUPUN KENZO.
2022-08-16
0
azril arviansyah
lanjut terus thor upnya
2022-08-06
0
💛⃟🤎🏠⃟ᴛᴇᴀᴍ ɢͩᴇͥɴͩᴀᷲᴘͪ🥑⃟𝐐⃟❦
Mudah²an aja kenzo ma tiara bisa mengatasi gang campusnya dgn terkendali, selamat, sehat sentosa 💪💪💪💪💪
Lanjut thorr 🙏👍💪😍
2022-08-05
0